Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 28


__ADS_3

"Aku rasa itu ide yang bagus. Kita bisa pakai villa milik Kakek," ucap Xavier yang malah menyetujui permintaan Jacob barusan.


Jelas hal ini membuat Jane langsung menoleh ke arah Xavier dengan tatapan mendelik. Xavier yang tak sengaja bertemu pandang dengan istrinya pun merasa bingung dengan reaksi wanita ini.


“A-ada apa Vanessa? Kenapa … kamu melotot seperti itu?” tanyanya heran.


“Xavier, sepertinya kita perlu bicara terlebih dahulu,” sahut Jane yang merasa tak tenang dengan hal ini.


Dia benar-benar tidak bisa menyetujui jika Xavier langsung mengiyakan permintaan pria yang sudah menjebaknya.


Jane pun langsung bangkit dari kursinya. Dia tidak perduli dengan keberadaan Jacob yang masih ada di ruang makan yang sama dengan mereka.


Xavier tentu merasa bingung. Dia tak enak hati dengan Jacob melihat sikap istrinya yang lagi-lagi mulai aneh dengan segala ketakutannya.


Tapi Xavier tentu tidak bisa membiarkan istrinya begitu saja. Dia tetap harus mengikuti keinginan Vanessa, supaya hubungan rumah tangganya tetap baik-baik saja.


“Mm, maaf Jacob. Aku harus bicara dengan Vanessa terlebih dahulu,” ujar Xavier meminta ijin.


Jacob mengangguk. Dia sebenarnya berat hati melihat tingkah Vanessa yang lagi-lagi seolah tahu rencananya nanti.


Namun, Jacob sengaja membiarkannya. Yang terpenting Xavier sudah menyetujuinya terlebih dahulu.


Xavier kemudian membuntuti istrinya, yang sedang melangkah masuk ke dalam kamar.


“Ada apa sebenarnya, Sayang? Kenapa kamu bersikap seperti itu?” tanya Xavier sembari menutup pintu kamar supaya obrolan mereka tidak didengar oleh Jacob.


“Kenapa kamu langsung menyetujuinya? Bukankah aku sudah bilang, Jacob itu ingin merugikanmu! Dia hanya ingin melakukan hal-hal yang bisa menjebakmu!” sahut Jane dengan penuh penegasan.

__ADS_1


Wanita ini sangat ingin membuat Xavier tersadar dengan sikap buruk Jacob. Tapi sayangnya, Xavier tetap saja menepis tuduhan itu.


“Hey, sudahlah. Kita sudah selesai membahas itu. Jacob itu sepupuku. Lagi pula, idenya bagus. Kita bisa liburan di villa milik Kakek, dan … menikmati malam berbeda di sana,” ucap pria ini yang langsung mendekat dan memeluk tubuh istrinya.


Namun Jane yang merasa terganggu dengan keputusan Xavier, langsung menghindar dan menepis pelukan pria tersebut.


“Xavier! Ayolah! Serius sedikit. Aku sedang tidak ingin bercanda!” sentak Jane dengan tatapan serius.


“Vanessa! Aku juga serius. Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat lagi. Kamu ajak saja Alexa. Kita bisa berlibur bersama dengannya di sana. Semakin ramai, maka pikiranmu tidak lagi terfokus dengan Jacob dan tuduhanmu itu,” ucap Xavier tegas, dan memilih ke luar dari kamarnya.


Xavier tetap ingin melakukan acara liburan tersebut. Dia merasa butuh suasana baru dan ingin istrinya tidak lagi mencurigai saudara sepupunya itu.


Namun sayangnya, Jane yang berada dalam tubuh Vanessa, masih saja mencurigai ide Jacob. Dia yakin jika hal ini bisa saja menjadi salah satu niat jahat pria itu kembali.


***


Mau tak mau, akhirnya Jane mengikuti keinginan Xavier. Dia terpaksa melakukannya, karena belum bisa membuktikan tuduhannya terkait perilaku sepupu dari suaminya itu.


Sayang, saat mereka berempat berkumpul, Jacob dan Alexa malah tidak memperlihatkan sisi gelapnya sama sekali. Mereka berdua nampak begitu lihai bersandiwara dengan tingkah ramahnya. Hal ini malah membuat Jane jadi semakin muak.


‘Cih! Harusnya aku tidak usah mengabulkan keinginan Xavier! Apa dia bodoh?! Sudah aku jelaskan jika sepupunya ini brengsek, masih saja tidak percaya! Ditambah malah menyuruhku mengajak Alexa. Benar-benar membuatku ingin muntah melihat sikap mereka berdua,’ gerutu Jane dalam hatinya.


Memang, Jane terpaksa untuk melakukan hal ini karena tak ingin jika dirinya semakin melawan Xavier, malah membuat suaminya dari Vanessa itu semakin tak percaya padanya.


Meski dia juga malah jadi jengkel sendiri dengan hal ini, tapi Jane berusaha untuk berpikir positif supaya tak terus menyalahkan keadaan sekarang.


‘Sudahlah, sebaiknya aku fokus saja memperhatikan tingkah mereka. Akan aku buktikan pada Xavier, jika mereka berdua memanglah orang-orang jahat yang tidak berperasaan!’ tegasnya meyakinkan diri sendiri.

__ADS_1


Jane kemudian terus memperhatikan sikap kedua orang tersebut. Mereka masih saja bersikap baik dan ramah kepada Xavier maupun pada dirinya. Seolah mereka bukanlah orang yang patut untuk dibenci.


Hal ini benar-benar membuat Jane merasa semakin terusik. Dia yang tadinya ingin memanfaatkan momen untuk mengawasi gerak-gerik Alexa dan Jacob, nyatanya tak juga menemukan rencana maupun sikap jahat kedua orang ini.


“Sial! Sebenarnya apa yang mereka rencanakan saat ini? Aku yakin mereka tidak mungkin hanya ingin haha hihi saja di sini,” gumam Jane yang berbisik sendiri ketika berada di dapur.


Namun tiba-tiba saja terdengar suara Alexa yang menyelanya. “Vanessa? Ada apa? Kenapa berbicara sendiri di sini?” tanyanya sambil mendekati Jane.


Jantung Jane benar-benar ingin copot karena terkejut dengan kedatangan Alexa yang tiba-tiba muncul mendekatinya itu.


Jane pun jadi takut sendiri, jika Alexa tadi mendengar ucapan perlahannya, yang baru saja diucapkannya.


“Hm? Mmm … Tidak. Tidak ada,” sahut Jane dengan sikap jadi salah tingkah.


“Apa kamu ingin menyiapkan bahan makanan ini? Sudah, biar aku saja. Lagi pula, para pria di luar sana sudah mulai memanggang. Kamu sebaiknya duduk manis saja. Aku yang akan membawa ini semua. Ini pasti berat jika kamu yang membawanya,” ucap Alexa yang menawarkan diri untuk membantu dan mengambil beberapa bahan makanan yang ada di meja dapur dekat mereka.


Tapi Jane langsung menolaknya terang-terangan. “Sudah, biar aku saja. Tidak apa-apa. Ini bukan hal yang berat untukku,” sanggahnya yang merasa tak ingin dibantu oleh wanita tersebut.


Jane merasa yakin, jika Alexa pasti punya maksud tersembunyi dalam sikap baiknya barusan. Dia tentu tidak ingin kecolongan lagi membiarkan wanita ini mencelakainya.


“Vanessa. Ini berat. Sudah, biar aku saja. Kalau tidak, kamu bawa minuman kaleng ini saja. Setidaknya itu lebih ringan,” sahut Alexa kembali dan langsung pergi meninggalkannya.


Jane mengerutkan keningnya, sambil menatap Alexa dengan tatapan bingung. Dia masih merasa heran apa yang membuat wanita ini begitu baik padanya.


Tak lama Alexa berhenti sejenak dan tersenyum menatap seseorang. Jane pun mengikuti arah pandangan mata sahabat Vanessa tersebut.


Nampak sosok Xavier yang juga tersenyum pada Alexa. Pria itu terlihat senang ketika menatap Alexa yang sedang memandangnya. Melihat pemandangan ini, entah mengapa Jane jadi kepanasan sendiri.

__ADS_1


‘Apa maksudnya ini? Apa mungkin … mereka … sudah berselingkuh di belakang Vanessa?’ batin Jane semakin tak suka dengan keadaan yang saat ini ada di hadapannya.


Bersambung…


__ADS_2