Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 24


__ADS_3

Vanessa memohon agar suaminya itu bisa segera pulang sekarang juga. Xavier pun menutup panggilannya dan bergegas pulang.


Sementara itu Jacob mencari keberadaan Vanessa yang telah berlari keluar rumah. Tapi sayangnya dia tak juga menemukan sosok wanita tersebut.


"Sial! Di mana dia sebenarnya? Dia tidak mungkin pergi dengan kakinya saja kan? Tuan Putri seperti dia pasti tidak akan mungkin bisa berjalan jauh,” gumam Jacob sambil menyebarkan pandangannya di area taman.


Jane benar-benar sangat pintar bersembunyi. Dia memilih lokasi sembunyi yang berada di luar jangkauan pandang orang.


“Aku yakin dia masih dalam pengaruh obat itu. Dia tidak mungkin bisa ke mana-mana dengan tubuh yang terangsang. Bisa gawat kalau dia sembarangan menemukan orang,” oceh pria ini yang masih saja berjalan mendekati pintu gerbang.


Dia lalu menemui penjaga gerbang rumah ini dan menanyakan tentang keberadaan Vanessa yang pasti akan melewati tempat ini jika keluar dari rumahnya.


“Apa kalian melihat Vanessa?” tanyanya dengan peluh yang keluar banyak, dan nafas yang terdengar ngos-ngosan.


“Tidak, tadi hanya Tuan Xavier yang keluar dengan mobil. Ada apa memangnya Tuan? Apa … Nyonya Vanessa tidak ada di dalam rumah?” tanya penjaga itu balik.


Jacob hanya menggelengkan kepala. Dia kemudian kembali menyebarkan pandangan matanya ke sekitar, demi menemukan Vanessa kembali.


“Mungkin dia sedang di kamar. Saya dengar, Nyonya Vanessa jarang keluar kamar. Jadi dia pasti saat ini dia ada di dalam kamarnya,” ucap pria tersebut memberikan penjelasannya.


Jacob pun hanya mengangguk dan memilih langsung pergi dari para penjaga itu. Dia tentu tidak ingin dicurigai oleh orang-orang rumah ini, karena sedang mencari-cari Vanessa.


Saat Jacob berbalik arah untuk kembali ke dalam rumah, di perjalanan saat dia sedang menyusuri taman yang ada di rumah ini, Jacob terus saja menyebarkan pandangannya.


Dia yakin betul jika wanita itu tadi keluar dari rumah, dan tak mungkin berada di dalam kamar.


Niat penuh ingin menemukan Vanessa, Jacob bahkan sengaja blusukan ke rerumputan yang nampak rimbun di taman ini.


Dia betul-betul berharap Vanessa bisa segera ketemu, dan ditangkap oleh tangannya sendiri.


Jane yang melihat keberadaan Jacob dari celah-celah tanaman ini, berusaha untuk semakin menundukan kepalanya.


Jarak mereka cukup dekat, membuat Jane harus semakin hati-hati supaya tidak ketahuan oleh pria itu.

__ADS_1


Hanya saja, saat ini tubuhnya terasa begitu panas. Jane bisa merasakan ada sensasi aneh yang terjadi pada dirinya. Rasanya ingin mendesah, bahkan tubuhnya pun terasa benar-benar ingin meledak.


‘Tidak! Jangan mengeluarkan suara! Aku mohon, bertahanlah!’ batin Jane sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Karena tak juga menemukan wujud Vanessa di area luar rumah ini, Jacob pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.


Dia berusaha mencari Vanessa di area sekitar tempat tadi terakhir kali mereka bertemu. Tapi tetap saja pria ini tidak menemukannya.


“Sial! Ke mana dia sebenernya? Tidak mungkin dia menghilang begitu saja. Dia tidak mungkin kabur jauh! Argh! Aku harus segera menemukannya. Ini adalah kesempatan yang sudah kutunggu-tunggu! Tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja,” oceh pria ini sambil melangkahkan kakinya ke sana kemari, mencari keberadaan Vanessa di berbagai ruangan yang ada di rumah ini.


Jane benar-benar merasa tak tahan lagi dengan dirinya sendiri. Saat dia melihat Jacob yang sudah masuk ke dalam rumah, Jane berusaha untuk membebaskan dirinya sendiri dari tempat persembunyiannya ini.


Tak berapa lama kemudian, mobil Xavier kembali. Pintu gerbang mulai terbuka lagi.


Jane yang melihat hal ini, segera bergegas bangkit dari posisinya. Tapi tubuhnya terlalu lemas, membuatnya terjatuh, ketika berhasil keluar dari tempat persembunyiannya.


Sopir Xavier yang melihat keadaan Vanessa pun langsung menghentikan mobilnya. “Nyonya Vanessa?!” teriaknya.


Xavier pun melihat keadaan istrinya itu. Dia bergegas turun dari mobil, dan langsung menghampiri Vanessa yang terjatuh itu.


"Xavier … tolong aku … aku mohon … tolong aku," pinta wanita ini dengan suara terengah-engah.


Dia lalu berusaha mencengkram kemeja Xavier. Rasanya ingin sekali membuka baju pria ini dan menempelkan tubuh mereka.


Entah mengapa Jane menginginkan tubuh pria ini, dia juga tidak tahu. Tapi rasanya benar-benar tersiksa. Membuatnya panas dingin tak karuan.


Xavier jelas bingung dengan sikap istrinya. Dia kemudian memilih untuk merangkulkan tangan wanita ini ke pundaknya dan berniat untuk segera menggendongnya masuk ke dalam mobil.


“Cepat jalankan mobilnya segera! Kita ke rumah sakit sekarang juga!” titah Xavier pada supirnya. Namun Jane langsung menolaknya.


“Tidak, tidak! Jangan! Aku tidak perlu … sshhh … ahh … aku tidak … perlu … ke rumah sakit. Aku hanya perlu … kamu … di kamar … sekarang juga,” ucap wanita ini sambil berusaha menahan desahannya.


Jane terus saja mencengkram pakaian Xavier. Dia juga tak paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, sampai ingin melepaskan pakaian pria di sampingnya itu.

__ADS_1


Mendengar ******* dan ucapan wanita ini, Xavier dan supirnya pun jadi terdiam. Mereka mematung dan sama-sama tercengang.


Xavier tidak menyangka jika Vanessa akan berkata hal demikian. Dia bahkan takut jika dirinya malah jadi salah paham mengartikan ucapan wanita ini barusan.


Supirnya pun jadi merasa tak enak sendiri karena mendengar ******* majikannya itu. Dia lalu melirik ke arah kaca tengah, mengintip keadaan majikannya yang duduk di kursi belakang.


“Ja-jadi … gimana, Pak?” tanyanya ragu.


Xavier yang sempat terdiam menatap Vanessa dan berpikiran hal macam-macam, kini menoleh menatap supirnya.


Dia tetap saja bingung menjawab. Seolah otaknya tak dapat digunakan untuk berpikir dengan baik.


“Xavier … aku mohoon … bantu aku … aku kepanasan … aku sudah tidak tahan lagi.” Vanessa nampak menggeliat sambil menarik pakaian Xavier, dan terus mendesak menempelkan tubunya.


Hal ini jelas membuat hasrat terpendam Xavier kembali muncul. Dia merasa tertantang dengan keadaan Vanessa yang dianggapnya sedang menggodanya.


Meski Xavier menantikan istrinya meminta hal yang seperti ini, tapi nyatanya Xavier tetap saja merasa berdebar tak karuan.


“Tu-tuan? Apa … kita kembali ke rumah saja?” tanya sang sopir membuyarkan lamunan Xavier kembali. Segera Xavier menganggukan kepala.


“Cepat. Antarkan aku kembali ke rumah,” ucapnya dengan suara yang terdengar canggung.


Akhirnya mobil kembali melaju menuju ke rumah yang jaraknya cukup jauh dari gerbang utama.


Xavier lalu segera menggendong istrinya yang sudah penuh keringat. Dia lalu langsung membawanya menuju ke kamar yang ada di lantai atas.


Jacob yang sedang mencari-cari keberadaan Vanessa, merasa terkejut melihat Xavier yang kembali ke dalam rumah ini sambil menggendong Vanessa.


Dia lalu berusaha mengejar sambil memanggil nama sepupunya itu. “Xavier! Ada apa?! Apa Vanessa baik-baik saja??” teriak Jacob yang berlari mendekat ke arah Xavier.


“Tidak apa. Biar Vanessa aku yang urus. Beri kami privasi,” timpal Xavier yang kemudian memilih untuk langsung ke dalam kamarnya.


Melihat Xavier yang buru-buru seperti itu, Jacob pun langsung menghentikan langkahnya. Dia merasa tercengang, dan jadi panik sendiri.

__ADS_1


“Sial! Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak boleh membiarkan mereka berduaan!” gumam Jacob dengan perasaan kesal.


Bersambung…


__ADS_2