
Jane yang mendengar pertanyaan Xavier barusan kini berusaha menjawab disela-sela langkahnya yang baru saja turun dari mobil.
"Aku hanya berkunjung saja. Sudah lama juga aku tidak mengunjunginya. Lagipula, mumpung Alexa juga ingin berkunjung. Dia mengajakku, jadi sekalian saja aku ikut dengannya,” ujar wanita ini dengan jujur.
“Tapi seharusnya kamu bilang padaku! Kamu kan tahu ….” Saat Xavier hendak menjelaskan ketakutannya, tiba-tiba Alexa menarik tangan Vanessa, membuat ponselnya jadi menjauh dari telinga wanita ini dan suara Xavier pun tak lagi terdengar olehnya.
“Ayo! Kita harus segera masuk! Aku sudah janjian dengan Mama, jadi tidak boleh terlambat satu menit pun!” ucap Alexa yang langsung menyeret tangan sahabatnya itu.
Hal ini jelas membuat Jane jadi bingung sendiri. “I-iya … tunggu bentar, Alexa, aku sedang bicara dengan Xavier di telepon.” Jane lalu berusaha memindahkan ponselnya ke tangan satunya, untuk kembali berbicara pada Xavier.
“Xavier, sudah dulu ya, ini Alexa tidak sabar ingin masuk. Jika kamu ingin menyusul, ke sini saja. Aku masuk duluan. Bye,” ujar Jane yang buru-buru menyudahi panggilannya.
Xavier pun jadi mematung. Dia merasa kian panik dan ketar-ketir sendiri mendengar Vanessa yang saat ini sedang berada di rumah orang tuanya. Xavier hanya merasa takut jika ibunya akan mengamuk saat bertemu dengan istrinya nanti.
Apalagi saat ini Vanessa malah nekat pergi sendiri mengunjungi ke rumah orang tuanya itu, padahal posisinya sedang tidak bersama dengannya.
Sesungguhnya, ibunya Xavier tidak setuju dengan hubungan antara putranya itu dengan Vanessa. Bahkan sebenarnya wanita tersebut menentang pernikahan mereka berdua.
Baginya, Vanessa bukanlah kriteria menantu idamannya. Vanessa dianggap terlalu seperti tuan putri, yang terlalu lemah lembut dan tidak bisa apa-apa. Terlihat begitu lemah di mata ibunya Xavier.
Jelas ibunya Xavier yang merupakan seorang pekerja keras, tidak menyukai sikap wanita yang dianggapnya tidak bisa apa-apa itu.
“Aku tidak bisa diam saja. Jika mereka dibiarkan bertemu, aku takut Vanessa akan menangis lagi karena sedih,” gumam Xavier yang memutuskan untuk segera pergi menyusul istrinya.
***
Pintu rumah mewah ini pun terbuka. Terlihat pelayan rumah ini yang menyambut kedatangan Vanessa dan Alexa.
__ADS_1
“Ah, Nona Alexa, Nona Vanessa,” ucap wanita yang terlihat renta itu dengan tatapan membulat terkejut. Apalagi saat memandang Vanessa, dia jadi merasa canggung sendiri, tak menyangka jika wanita itu berani untuk datang ke sini tanpa suaminya.
Wanita paruh baya ini adalah tetua pelayan di kediaman keluarga Xavier. Bagaimanapun juga, dia tahu apapun kisah di keluarga Xavier. Termasuk tentang Vanessa yang tidak disukai oleh pemilik rumah ini.
“Mama ada di dalam kan, Bi?” tanya Alexa dengan wajah yang nampak antusias, membuyarkan lamunan kepala pelayan ini.
“Ah, i-iya. Nyonya Besar ada di dalam. Ayo, silahkan masuk! Wah, sudah lama bibi tidak melihat kalian berdua,” sahutnya basa basi, sambil menyuruh keduanya untuk segera masuk rumah dengan sikap yang tetap terlihat ramah.
Alexa dan Vanessa pun hanya membalasnya dengan senyuman. Alexa kemudian sengaja merangkulkan tangannya di lengan Vanessa, bergelayut manja dengan sahabatnya itu.
“Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Mama,” ucapnya dengan senyuman sumringah, sengaja memamerkan rasa antusiasnya pada Vanessa.
Hingga akhirnya mereka berdua pun sampai di ruang tengah. Terlihat Nyonya Lawson yang sedang bersantai sambil membaca majalah di tangannya.
“Mama!” seru Alexa yang buru-buru mendekat ke arah wanita tersebut.
Nyonya Lawson pun jadi kaget sendiri mendengar teriakan Alexa barusan. Dia pun langsung mengangkat wajahnya dan tiba-tiba Alexa datang menghampirinya sambil merentangkan pelukan.
“Hih! Kamu itu mengagetkan Mama saja! Ke mana aja kamu ini? Sibuk sampai lupain Mama! Bahkan waktu Xavier menikah kamu juga sibuk sendiri sampai tidak sempat menemui Mama!” protesibunya Xavier sambil menampar pelan lengan Alexa berkali-kali.
Nyonya Lawson belum memperhatikan jika ada Vanessa yang ikut hadir di sini. Dia malah sibuk mengeratkan pelukannya dengan Alexa.
Keduanya terlihat begitu akrab, membuat Jane yang berdiri menatapnya jadi merasa bingung sendiri harus bersikap bagaimana untuk menghadapi orang tua Xavier ini.
“Maaf ya, Ma. Mama kan tahu aku tidak bisa diam saja. Apalagi, waktu itu hari yang sakral buat Xavier. Jadi aku harus mempersiapkan yang terbaik buatnya,” jelas Alexa yang masih bermanja-manja dengan wanita ini.
“Hais! Kamu itu! Harusnya kamu yang nikah sama Xavier! Malah kamu kasih sahabatmu yang lemot itu!” ceplos Nyonya Lawson begitu saja.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, jantung Jane terasa seperti dihujam sembilu. Dia jadi menyadari jika sesungguhnya orang tua Xavier tidak menyukai Vanessa, istri pertama pria tersebut.
Alexa yang mendengar hal ini sesungguhnya merasa senang dan ingin tertawa. Memang ini tujuannya. Dia memang sengaja mengajak Vanessa ke sini, supaya membuat wanita itu merasa tersudutkan, sakit hati karena serangan dari ocehan mertuanya sendiri.
Tapi tentu Alexa tak bisa menunjukan rasa senangnya itu. Dia sengaja memasang wajah canggung, sambil melirik ke arah Vanessa yang masih berdiri di hadapan mereka.
Pandangan mata Nyonya Lawson pun kini mengikuti lirikan mata Alexa, yang ternyata jatuh pada sosok Vanessa. Sontak wajah riangnya saat menyambut Alexa tadi tiba-tiba hilang, digantikan dengan wajah yang jelas-jelas tidak suka melihat kehadiran Vanessa.
"Kamu? Mau apa kamu kemari?!" teriak Nyonya Lawson marah dengan matanya yang mendelik.
Alexa jelas langsung memanfaatkan situasi ini untuk mengambil perhatian Nyonya Lawson kembali, sambil memamerkan kedekatannya dengan ibu dari Xavier.
“Mama, tenang dulu jangan marah-marah. Aku yang ajak Vanessa kemari. Lagipula, Vanessa bilang dia juga sudah lama belum mengunjungi Mama," ujar Alexa sambil menampilkan senyum manisnya dan bersikap manja dengan wanita paruh baya ini.
“Buat apa mengajak wanita tak berguna itu ke sini?! Alexa, kamu tahu sendiri kan, kalau Mama itu tidak suka dengan dia!” ucap Nyonya Lawson yang langsung berdiri sambil menunjuk ke arah Vanessa dan memandangnya dengan tatapan sinis.
“Ih, Mama. Vanessa kan sahabatku. Dia juga istri Xavier. Jadi wajarlah kalau aku ajak Vanessa,” Alexa lagi-lagi berusaha mengambil hati wanita ini, sambil berdiri memegangi lengannya.
“Aku tidak peduli! Menyingkir kamu Tuan Putri tidak berguna!! Jika aku tidak mengingat Xavier yang begitu menginginkanmu, sudah aku hancurkan pernikahan kalian kemarin!” tegasnya seolah sedang mengancam.
Jane jelas tidak menyangka jika ternyata Nyonya Lawson sangatlah tidak menyukai istri pertama anaknya. Padahal Jane merasa tidak ada yang salah dengannya saat ini. Pakaiannya rapi, dan dia juga bersikap diam, berusaha untuk sopan.
Hanya saja melihat wanita yang dia kenal sebagai Nyonya Besar ini mengamuk, membuat Jane jadi semakin ketar ketir saja. Bahkan tiba-tiba tangannya gemetaran. Jane bisa merasakan ketakutan yang begitu terasa pada tubuh Vanessa, sebagai reaksi dari sikap ibu mertuanya itu.
Merasa terusik dengan perasaan ini, Jane pun akhirnya berusaha memberanikan diri. Dia lalu melangkahkan kakinya maju, mendekati ibu mertuanya.
“Apa kabar, Ma? Maaf ya, Ma, baru bisa mampir,” ucapnya sambil meraih tangan ibu mertuanya lalu mencium pipi kanan kiri. Dia bahkan sengaja menampilkan senyuman terbaiknya, tak terlihat rasa takut sedikit pun seperti yang sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Melihat sikap Vanessa saat ini, jelas membuat Nyonya Lawson dan Alexa jadi tercengang. Mereka berdua tak percaya jika Vanessa bisa bersikap sesantai ini saat berhadapan dengan ibu mertuanya yang galak.
Bersambung…