Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 31


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Xavier barusan, jelas membuat Alexa semakin salah tingkah. Dia pun langsung berusaha menyanggah perkataan tersebut.


“Apa-apaan, sih, Xavier? Jangan mengada-ada ya kamu! Pertanyaanmu itu tidak penting,” ujar Alexa dengan wajah paniknya.


“Hm? Memangnya, ada yang salah dengan pertanyaanku? Lagi pula, aku benar-benar mendukung kalian berdua jika memang kalian punya hubungan spesial,” sahut Xavier kembali sambil tersenyum menggoda Alexa dan Jacob.


“Hubungan spesial apanya? Kamu jangan bicara sembarangan ya. Aku tidak punya hubungan dengan Jacob!” sanggah Alexa kembali.


Sungguh Alexa benar-benar merasa kesal karena mendapat sindiran dari Xavier. Namun tidak dengan Jacob. Dia malah menanggapinya dengan senyuman singkat, sambil meraih roti yang ada di meja makan. Rara geli melihat sikap panik Alexa saat ini.


Bukannya diam, Xavier malah tertawa. Lalu ia kembali menggoda sahabat istrinya itu. “Hey, sudah. Mengaku saja. Semalam, kalian … melakukannya, kan? Bahkan suaramu itu terdengar begitu heboh, Alexa,” kekeh Xavier.


Hal ini jelas membuat Alexa semakin memerah wajahnya. Dia merasa sangat malu. Jacob pun sampai tersedak karena sindiran saudaranya barusan.


Alexa langsung mendelik menatap ke arah Jacob yang duduk bersebelahan dengannya. Ingin sekali dia mencekik pria di sampingnya itu, karena sudah membuatnya sampai malu seperti ini, di hadapan Xavier–pria incarannya.


Tahu jika Alexa kembali meradang, Jacob pun langsung menyanggah ucapan saudaranya itu. “Hey! Hentikan ucapanmu barusan. Melakukan apa maksudmu? Sembarangan saja kalau bicara,” ucapnya sambil menyeruput kopi.


“Sudahlah, akui saja. Lagi pula, kalian terlihat cocok,” timpal Jane yang sengaja ikut menimpalinya.


Sesungguhnya, Jane merasa senang, karena paling tidak dia sudah bisa membuat Xavier membuka mata bahwa Alexa dan Jacob punya hubungan. Dari kejadian ini, Jane berharap Xavier akan terus ingat dan tidak akan memilih Alexa sebagai pengganti istrinya.


Alexa yang tidak tahan dengan sindiran itu pun langsung berdiri dari posisinya. “Aku tidak ada apa-apa dengan Jacob! Jadi hentikan omong kosong kalian!” sentak wanita ini, terbawa emosi, lalu pergi meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.


***


"Aaargh! Kenapa mereka malah semakin memojokkanku?! Seharusnya aku sudah bisa menjatuhkan Vanesa, tapi kenapa justru semuanya berbalik padaku lagi?!" Alexa terus saja berteriak mengeluarkan umpatan-umpatannya di dalam kamar.


Dia merasa semakin kesal karena rencananya gagal lagi untuk kesekian kalinya. Di tambah Xavier justru malah terang-terangan mengatakan bahwa mendukung dirinya dan Jacob. Jelas hal ini membuat hati Alexa jadi semakin sakit mendengarnya.

__ADS_1


Alexa berdiri dari jendela balkon yang ada di kamar ini. Lalu ia pun melihat Xavier yang saat ini sedang berjalan bersama dengan Vanessa. Amarahnya pun memuncak kembali.


"Aku tidak akan membiarkanmu terus bersamanya! Aku harus bisa menjadi istri Xavier, apapun yang terjadi!" ucap Alexa dengan tekad kuatnya sambil memberikan tatapan perang ke arah Vanessa.


Bagaimanapun juga, Xavier adalah cinta pertama dan satu-satunya untuk Alexa. Karena hal itu, dia tidak bisa menerima kenyataan terkait hubungan Xavier dan Vanessa, yang merupakan sahabatnya sendiri.


Jacob yang dari tadi berdiri di depan pintu kamar Alexa, sempat mendengar teriakan wanita itu. Dia pun memutuskan untuk membuka pintu secara perlahan, untuk mengecek keadaan Alexa.


Tanpa disadari oleh Alexa, Jacob pun langsung mendekatinya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya lembut sambil memeluk pinggang wanita ini dari belakang. Jelas hal ini membuat Alexa terkejut bukan main.


“Apa-apaan sih kamu?! Lepaskan aku!” sentaknya, sambil berusaha melepaskan pelukan Jacob.


“Sudahlah. Jangan marah-marah terus. Kamu tidak akan bisa membuat mereka berpisah saat ini,” sahut pria ini, seolah menampar Alexa dengan kenyataan yang sebenarnya.


Alexa langsung berbalik dan menatap Jacob dengan penuh amarah. "Dasar brengsek! Itu semua karena kamu! Dasar bodoh! Rencanamu tidak ada yang berjalan dengan lancar!” ocehnya penuh kekesalan.


Plak!


Tamparan keras dari Alexa kini malah mendarat di pipi Jacob.


“Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu sudah mencicipi tubuhku! Seharusnya kamu menepati janjimu, untuk membuatku menjadi milik Xavier! Dasar pecundang! Bodoh aku percaya padamu!!” teriak wanita ini dengan emosi memuncak.


Saking kesalnya dengan hal ini, wajahnya pun sampai memerah, dan bibirnya gemetaran. Alexa benar-benar merasa kecewa dengan apa yang terjadi saat ini.


Tak ingin diremehkan seperti itu oleh wanita di hadapannya, Jacob yang terbawa emosi pun langsung mencekram rahang Alexa.


“Aku akan menepati janjiku, untuk membuatmu menjadi Nyonya Xavier. Dan jika hal itu terjadi, kamu harus tetap menjadi budak nafsuku, selama aku menginginkannya,” ancam pria ini dengan tatapan iblis, yang membuat Alexa bergidik tak mampu menjawab apa-apa lagi.


***

__ADS_1


Usai acara di puncak berakhir, mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Jacob pun masih menumpang di rumah Xavier, dan hal ini sebenarnya masih saja membuat Jane merasa tak nyaman.


‘Kenapa dia tidak pergi juga dari sini? Apa yang harus aku lakukan?’ batin Jane yang mengintip keberadaan Jacob dari balik pintu kamarnya.


Jacob yang saat ini sedang berada di ruang tengah, terlihat begitu serius berkutat dengan laptopnya. Dia seolah sedang bekerja dengan sungguh-sungguh.


Hanya saja, hal ini malah membuat rasa penasaran Jane semakin tinggi. Perasaannya tidak enak. “Dia sedang mengerjakan apa? Lagi pula, jika dia bekerja, kenapa tidak di kantor saja dengan Xavier?” gumamnya dengan perasaan sedikit kesal.


Tak lama, Jacob pun nampak mengangkat telpon dan menjauh pergi meninggalkan laptopnya. Karena masih merasa penasaran dengan apa yang dikerjakan oleh pria ini, Jane buru-buru keluar dari kamar, untuk menjawab rasa penasarannya itu.


Wanita ini segera mendekat ke arah tempat Jacob sebelumnya. Dia lalu memandangi layar laptop tersebut, dan mencoba memperhatikan pekerjaan sepupu suaminya itu.


Seolah seperti kerasukan, Jane pun kembali terbawa dalam ingatan Vanessa, yang pernah dialami oleh wanita ini sebelumnya. Keadaannya persis seperti saat ini.


Vanessa kemudian segera mengecek pekerjaan yang ada di laptop Jacob, karena merasa sangat penasaran. Dia pun paham jika apa yang terlihat saat ini merupakan laporan keuangan perusahaan. Hanya saja, saat Vanessa mengeceknya, dia menemukan kejanggalan.


“Ini kan … “ Vanessa tampak terkejut melihatnya. Bola matanya membulat, keningnya mengkerut, jantungnya merasa berdebar tak karuan saking kagetnya dengan apa yang baru saja dia temukan ini.


Jane bisa merasakan bahwa apa yang ditemukan oleh Vanessa ini adalah sesuatu yang tidak benar. Hanya saja, dia tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.


“Tidak … tidak mungkin dia setega ini. Jika memang dia melakukannya … aku … aku … paling tidak harus menyelamatkan Xavier!” ucap Vanessa dengan tegas dalam ingatan Jane, saat kejadian ini berlangsung.


Entah apa yang sebenarnya Vanessa temukan, Jane benar-benar tak paham. Dengan tubuh gemetaran, Vanessa buru-buru mencari flashdisk yang ada di sana, untuk mengcopy data yang baru saja dia temukan itu.


Tak lama, terdengar suara seseorang, yang mengagetkannya.


“Vanessa? Apa yang … sedang kamu lakukan?” tanya Jacob yang berdiri menatap wanita tersebut.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2