
"Toloooong!! Toloong!!” teriak wanita muda yang ternyata adalah Jane dalam masa lampau.
Dia berusaha membuka pintu mobil yang ringsek, berharap bisa menyelamatkan Vanessa di dalam mobil ini. Dengan sekuat tenaga, Jane pun akhirnya mampu membuka pintu yang sudah rusak itu.
“A-apa Anda … masih bisa bergerak? Pegang tanganku. Aku akan membantumu keluar Nyonya,” ucap Jane dengan suara bergetar karena rasa paniknya.
Vanessa yang sudah diselimuti darah, masih tidak dapat menggerakan tubuhnya. Dia hanya membuka kepalan tangannya, sambil memandangi benda yang ada di tangannya itu.
"Tolong … berikan ini … pada suamiku," ucap Vanesa yang wajahnya sudah berlumuran darah sambil flashdisk berisi bukti kejahatan Jacob.
Jane tidak paham apa maksud wanita ini. Tak ingin wanita yang berlumuran darah ini semakin parah keadaannya, Jane segera mengambil benda tersebut dan menarik Vanessa keluar dari dalam mobil.
Jane yang tadinya hanya mengendarai sepeda jelas merasa kebingungan. Bagaimana dia harus menyelamatkan wanita ini? Dia celingukan sambil berteriak meminta tolong, berharap ada yang mendengarnya.
Sayangnya, tidak ada seorang pun yang lewat di sana. Pemukiman penduduk masih cukup jauh, membuat orang-orang di sekitar tidak ada yang mengetahui keadaan ini.
Tak ingin membuang-buang waktu, Jane akhirnya memutuskan menggendong Vanessa dan berniat untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Paling tidak Vanessa bisa diselamatkan terlebih dahulu. Begitu pikir Jane saat ini.
“Bertahanlah … aku mohon bertahanlah sebentar,” ujarnya dengan pikiran kacau, benar-benar kalang kabut.
Segera Jane membopong Vanessa dengan hati-hati, lalu meletakan tubuh Vanessa di punggungnya. Dia pun langsung melangkahkan kakinya, pergi menjauh dari tempat ini, supaya segera sampai di tempat tujuan.
Sayangnya, saat Jane berusaha mempercepat langkahnya, tiba-tiba saja dia merasakan gendongannya semakin berat. Bahkan hal ini membuat Jane jadi merasa kesulitan untuk berlari, dan ia pun jadi lemas, terhuyung dan terjatuh karena tak mampu lagi menopang tubuh wanita sekarat ini.
Jane mencoba mengecek keadaan Vanessa. Tubuh wanita itu terlihat begitu lemas dan wajahnya sudah pucat pasi. Bibirnya nampak membiru, seolah nyawanya sudah di ujung tanduk.
“Ayolah, aku mohon bertahan sebentar lagi … aku akan membawamu pergi ke rumah sakit … jadi aku mohon bertahan …,” ucap Jane dengan suara gemetaran, dan air mata yang terurai.
Saat ini jelas Jane semakin panik melihat keadaan Vanessa. Apa lagi melihat darah yang terus saja mengalir deras dari kepala dan tangannya yang terluka.
__ADS_1
“Ayolah, Anda harus kuat … saya mohon …,” ucap Jane muda dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi.
Vanessa berusaha membuka matanya. Dia menatap lembut ke arah Jane, meski pandangannya kini kian buram, tak jelas karena begitu lemas kehabisan darah.
“Tinggalkan saja aku … bawa benda yang aku berikan tadi, kepada suamiku,” ujar Vanessa dengan suara sayup-sayup, berusaha mengerahkan sisa-sisa tenaganya.
Jane kemudian berusaha meraba-raba pakaian Vanessa, untuk menemukan ponsel wanita ini. Lalu ia pun segera menghubungi siapapun orang yang ada di kontak ponsel milik Vanessa. Namun sayangnya, panggilan tidak bisa dilakukan.
“Argh! Kenapa tidak ada sinyal di sini??” teriak wanita ini dengan perasaan kesal. Jane jelas merasa bingung. Dia ketakutan, sekaligus merasa panik dengan keadaan Vanessa yang semakin lemas saja.
Untungnya tak berapa lama ada mobil yang melintasi tempat ini. Orang yang mengendarainya pun segera menolong Vanessa dan Jane, untuk membawa korban kecelakaan ini menuju ke rumah sakit terdekat.
Selama perjalan, Jane yang masih memeluk Vanessa, terus berdoa, berharap keadaan wanita ini baik-baik saja. Meski dia tidak mengenal orang ini, tapi rasanya dia tidak bisa membiarkan Vanessa tewas begitu saja.
Sampai akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Vanessa pun langsung mendapatkan pertolongan karena keadaan yang semakin sekarat.
“Dokter … aku mohon tolong dia …” ujar Jane dengan tubuh yang gemetaran.
“Maaf … tapi korban sudah tidak bernyawa lagi. Dia … sudah tewas,” ucap sang dokter, membuat Jane terduduk lemas. Kepalanya terasa begitu sakit, perasaannya tak karuan.
“Apa Anda keluarga korban?” tanya sang suster yang dari tadi sebenarnya terus menanyakan hal ini pada Jane.
Jane yang masih merasa syok dan belum bisa menerima kenyataan, kini hanya menatap perawat itu dengan tatapan kosong, sambil menggelengkan kepala.
Hal ini jelas membuat bingung pihak rumah sakit. Mereka kemudian segera mengabari keluarga Vanessa, yang ada di kontak ponselnya.
Sedangkan Jane, yang seharusnya bertemu dengan Xavier untuk menyerahkan bukti dari Vanessa, kini malah memilih berjalan keluar dari tempat ini, tanpa berkata apa-apa lagi dengan tatapan kosongnya.
Jane kembali ke rumahnya. Dia terduduk di balik pintu rumah kumuh ini, lalu menangis sejadi-jadinya, mengingat kematian seseorang yang ada di dalam pelukannya tadi, sampai pingsang tak sadarkan diri.
__ADS_1
***
Kali ini sayup-sayup suara seseorang terdengar tidak begitu jelas di telinga Jane. Perlahan, Jane pun mencoba membuka kedua kelopak matanya. Nampak sesosok pria paruh baya yang sedang menghadapnya. Hanya saja, pandangan matanya masih terlihat buram, tak jelas.
Jane berusaha memejamkan matanya kembali sejenak, untuk memperjelas pandangannya. Saat kembali membuka matanya, Jane melihat seorang pria yang sedang mengalungkan jangkarnya di pundaknya.
“Nona? Apa Anda baik-baik saja?” tanya pria yang ternyata seorang nelayan itu.
Jane jelas bingung dengan keadaan ini. ‘Di mana aku? Siapa … orang ini?’ batinnya pun bertanya-tanya.
Pandangan matanya pun kini menyebar, memperhatikan sekelilingnya. Tempat ini dipenuhi peralatan melaut, bahkan Jane bisa mencium aroma laut yang melekat di ruangan ini.
“Si-siapan Anda? Di mana aku? Ke-kenapa … aku tiba-tiba ada di sini?” tanya Jane sambil berusaha membangkitkan tubuhnya. Namun Jane malah meringis kesakitan. Tubuhnya nyeri tak karuan, penuh luka.
“Tenang dulu Nona. Sebaiknya Anda berbaring saja. Tubuhmu … banyak luka,” ucap pria tersebut, yang ikut meringis, seolah merasakan apa yang sedang Jane rasakan.
“Sebenarnya … apa yang terjadi?” tanya Jane keheranan.
Jane jelas merasa tak paham dengan hal ini. Yang dia ingat, dirinya menangis usai melihat kematian Vanessa di hadapannya. Bahkan Jane pun jadi ingat, bahwa sebelum kejadian tersebut, dirinya berada di dalam tubuh Vanessa dan memainkan peran wanita tersebut.
“Saya juga tidak tahu apa yang terjadi pada Nona. Tapi, tadi saya menemukan Nona saat sedang melaut. Jangkar saya menangkap bungkusan karung, dan ketika saya angkat lalu saya buka, ternyata ada Anda … yang baru saja tenggelam,” ucap pria tersebut berusaha menjelaskan dengan suara lirihnya.
Jane benar-benar bingung dengan keadaan ini. Seingatnya, dia tidak sedang berada di dekat laut, apa lagi dikatakan tenggelam seperti barusan.
“Untungnya nafas Anda masih ada Nona. Tadinya saya pikir saya menemukan mayat, karena tubuh Anda yang … penuh dengan luka memar seperti ini,” tambah nelayan tersebut.
Jane yang masih bingung, berusaha mengingat-ingat kembali tentang luka yang ada di tubuhnya. Dia pun mengingat kembali keadaan apa yang membuatnya sampai seperti ini.
Sampai akhirnya, Jane pun menyadari sesuatu.
__ADS_1
‘A-apa mungkin … aku sudah kembali? Apa mungkin aku … selamat dari perbuatan Jacob??’ batin Jane dengan kesimpulan yang dia buat.
Bersambung…