
Saat Jane sedang bergelut sendiri dengan perasaannya, tiba-tiba Xavier kembali membisikan sesuatu di telinganya. “Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku … akan melakukannya saat kamu yang meminta,” ucapnya sambil mengecup pipi Vanessa.
Jane semakin berdebar tak karuan. Bahkan wajahnya pun memerah karena perlakuan Xavier, yang masih saja dianggapnya sebagai majikannya.
Tak lama, Xavier melepaskan pelukannya. Dia lalu pergi menjauhi Vanessa, dan keluar dari kamar utama di mana istrinya itu berada.
Jane menghela nafas. Meski merasa lega karena debaran dadanya mulai mereda, tapi tetap saja ketika melihat Xavier pergi meninggalkan kamar ini, perasaan bersalah pun kembali menggelayuti hatinya.
“Maafkan aku … Tuan Muda …,” gumamnya dengan perasaan tak enak hati.
***
Keadaan di rumah ini masih sama saja selama beberapa hari. Jane yang berada di dalam tubuh Vanessa, masih belum bisa menyesuaikan diri untuk menjadi wanita ini seutuhnya.
Sedangkan Xavier yang memang merasa ada berubah dengan istrinya, kini memilih untuk lebih fokus terhadap pekerjaannya. Dia membiarkan Vanessa supaya lebih nyaman saat mereka hidup bersama.
__ADS_1
Jane yang melihat tidak ada kehangatan di rumah ini pun kian merasa bingung. ‘Sepertinya ini salah. Tidak seharusnya aku membuat Vanessa berubah. Bagaimanapun juga, Xavier adalah suaminya. Aku tidak boleh bersikap dingin terus pada Tuan Muda,’ batinnya masih saja berperang.
Selama di dalam kamar, Jane menimang-nimang kembali pemikirannya. Dia pun berusaha mengumpulkan keberaniannya, supaya mau melakukan hubungan suami istri yang seharusnya.
“Tenang, tenang … ini tubuh Vanessa. Istri Tuan Muda. Jadi, jika aku melakukan malam pertama dengannya, seharusnya aku tidak perlu merasa bersalah. Karena itu adalah hak dan kewajiban suami istri ini,” gumamnya meyakinkan diri.
Semakin memikirkan hal ini, Jane semakin berdebar saja jantungnya. Dia benar-benar merasa gugup, karena tak pernah melakukan hubungan suami istri sebelumnya.
Apalagi ini akan melakukannya dengan seseorang yang dianggapnya sebagai majikannya sendiri. Hal ini jelas membuat Jane kian pusing tak karuan.
Jane pun akhirnya memutuskan untuk mau melakukannya. Dia lalu keluar dari kamarnya, dan hendak menghampiri Xavier, memberi tahu keputusan yang sudah diambilnya.
Namun baru saja beberapa langkah Jane keluar dari dalam kamar, terdengar suara bel pintunya. Jane pun jadi bertanya-tanya, “Siapa malam-malam begini bertamu?”
Xavier yang kala itu berada di ruang tengah langsung menyambut tamu yang baru saja dipersilahkan masuk oleh pelayan rumah ini. Suara mereka berdua pun nampak akrab, membuat Jane jadi semakin ingin tahu siapa tamu yang datang itu.
__ADS_1
Jane pun kini melangkahkan kakinya mendekati ruang tengah. Dia ingin memastikan kembali tamu tersebut. Tapi, saat Jane melihatnya dari jarak yang lebih dekat, dia pun mendelik. Kaget bukan main.
“Ja-Jacob …,” gumam Jane yang mematung menatap pria tersebut.
Jacob dan Xavier pun berbarengan menoleh ke arah Vanessa. Lalu dengan ramah, Xavier mengundang istrinya untuk ikut bergabung bersama.
“Kemarilah Vanessa. Kita kedatangan tamu jauh,” ucap Xavier yang langsung berdiri mengajak istrinya mendekat ke arah mereka berdua.
Jacob pun ikut bangkit dari posisinya. Dia menatap Vanessa. Masih terlihat cantik, pikirnya.
Jane ragu untuk melangkah mendekati mereka. Tapi Xavier malah menarik tangan istrinya itu untuk segera mendekat. “Ayolah, jangan seperti itu,” ucapnya perlahan. Mau tak mau Jane akhirnya mengikuti Xavier untuk mendekat pada Jacob.
Jacob tersenyum, dan langsung menyapa istri dari sepupunya itu dengan sikap yang cukup ramah. “Hai, Vanessa. Lama tidak berjumpa. Maaf tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian,” ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
Mendengar nama Vanessa disebut, Jane pun menyadari perannya saat ini. Dia tentu tidak mungkin langsung melaporkan Xavier atas sikap buruk saudaranya itu, karena kini dia hidup di jaman yang berbeda.
__ADS_1
Bersambung…