
Jane pun kini jadi menyadari bahwa sebenarnya Alexa memang tidak menyukai sahabatnya sendiri. Di balik ajakannya ke kediaman keluarga Xavier, Alexa pasti hanya ingin memojokan Vanessa di hadapan Nyonya Lawson.
'Jadi dia memang ingin membuat Vanessa semakin hancur karena kata-kata ibu mertuanya ini kan? Senyumannya itu … benar-benar mencurigakan!’ batin Jane dengan dugaannya.
Alexa terlihat mendengus kencang. Dia lalu baru menyadari tatapan Vanessa yang sedang menatapnya. Sontak, Alexa yang tadi membayangkan hal-hal kejam untuk mencelakai Vanessa, kini segera memasangkan senyumannya ke arah sahabatnya itu. Dia bahkan tak lupa melambaikan tangan dengan heboh, demi membuat Vanessa tak salah paham padanya.
“Vanessa? Bagaimana? Apa lancar?” tanyanya berusaha menyemangati sahabatnya itu.
Jane membalas senyumannya. Dia pun menganggukan kepalanya, sambil melanjutkan kegiatannya. ‘Sebaiknya kamu tidak usah berpura-pura lagi Alexa! Lihat saja! Aku akan menggagalkan semua rencana busukmu itu!’ batin Jane dengan begitu sinis.
Tekad Jane untuk membuktikan kelicikan Alexa pun semakin kuat. Dia yakin jika Alexa hanya ingin membuat mencelakakan Vanessa, atau membuatnya sengsara. Hal ini membuat Jane semakin yakin, untuk mencari bukti-bukti kejahatan Alexa lainnya.
***
Xavier yang merasa khawatir dengan keadaan Vanessa di rumah orang tuanya, kini segera bergegas pergi untuk menjemput istrinya. Dia bahkan terlihat terburu-buru saat meninggalkan kantornya.
Setelah mendapatkan telepon dari istrinya tadi, Xavier terus saja merasa panik. Dia takut jika ibunya kembali memaki istrinya bahkan sampai bersikap kasar untuk mengusirnya.
“Hais! Kenapa ini tidak jalan-jalan sih?!” seru Xavier sambil memukul setir mobilnya. Dia merasa jengkel karena saat dirinya sedang buru-buru, malah terjebak macet seperti ini.
Pikiran Xavier masih saja terpaku pada pertemuan Vanessa dengan ibunya. Semakin dipikirkan, Xavier merasa kian tak tenang saja terhadap keadaan mereka nantinya.
Xavier kemudian sengaja menelepon Vanessa kembali. Tapi sayangnya, panggilannya tak juga diangkat oleh wanita tersebut. Hal ini jelas membuat Xavier semakin tak karuan pikirannya.
“Aku harap Mama tidak bersikap berlebihan kepada Vanessa,” gumam Xavier yang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Xavier kemudian menancap gas kencang saat jalanan mulai terbuka. Dia sengaja mencari jalan alternatif, yang mampu membawanya segera menemui istri dan orang tuanya itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya, Xavier pun tiba di kediaman orang tuanya. Dia langsung turun di halam depan rumahnya, dan meninggalkan mobilnya begitu saja. Pria ini nampak tak sabar untuk menjemput istrinya, karena takut terjadi sesuatu pada Vanessa.
Saat Xavier masuk ke dalam rumah orang tuanya, tercium bau adonan roti yang sedang dipanggang. Xavier jadi menyadari jika saat ini pasti ibunya sedang memanggang kue di dapur. Dia lalu bergegas menuju ke sumber aroma sedap ini.
Betapa terkejutnya Xavier ketika mendapati Vanessa yang masakan. Xavier pun mendatangi sumber bau tersebut. Terkejutlah dia melihat pemandangan yang ada di dapur.
Vanessa tampak akrab dengan ibunya. Mereka terlihat sedang membuat kue bersama sambil bersenda gurau. Suasana ini cukup cukup asing bagi Xavier. Dia menganga, menatap pemandangan ini dengan sungguh-sungguh, sampai mengusap-ngusap matanya sendiri.
‘Aku tidak salah lihat kan ini?’ batinnya berusaha meyakinkan. Baik ibunya dan istrinya memang terlihat begitu akur. Melihat hal ini, hati Xavier merasa terenyuh. Dia tidak menyangka, akan melihat pemandangan yang hangat seperti ini.
Alexa yang ikut terlibat di dapur, masih saja merasa jengkel menatap kedekatan Nyonya Lawson dan juga Vanessa. Dari tadi dia merasa kesal karena perhatian Nyonya Lawson terus saja mengarah pada sahabatnya itu.
‘Apa-apaan sih ini?! Menyebalkan sekali!’ runtuknya dalam hati.
Alexa lalu mengalihkan pandangannya. Dia tak sengaja melihat Xavier yang terpaku menatap ke arah dapur. Sontak Alexa yang melihat pria ini pun langsung melambaikan tangannya, menyambut kedatangan pria ini.
“Xavier!! Kamu ternyata datang juga?!” seru wanita ini dengan begitu hebohnya.
“Aku sudah menikah dengan sahabatmu. Jadi sebaiknya kamu jaga sikap. Aku tidak mau Vanessa cemburu dan marah lagi padaku,” ucap pria ini setengah berbisik.
Sungguh hal ini terdengar konyol di telinga Alexa. Dia tidak menyangka jika akan ditolak seperti ini oleh pria yang sejak lama sudah menjadi teman dekatnya, bahkan merupakan pria incarannya.
Rasanya benar-benar tidak terima karena Xavier lebih mementingkan perasaan Vanessa di banding dengan perasaannya saat ini. ‘Benar-benar kelewatan!’ Alexa pun jadi semakin kesal dalam hatinya.
Wanita ini tersenyum canggung. Dia tak jadi memeluk Xavier dan merasa begitu kecewa dengan sikap pria yang dicintainya. “Ah, begitu. Maafkan aku,” sahutnya dengan wajah tak senang.
Karena terus saja dikecewakan dengan keadaan ini, Alexa pun memilih untuk segera berpamitan dari sini. Dia sudah tidak tahan lagi jika harus menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya ini.
__ADS_1
“Mm, masuklah. Aku ada acara setelah ini. Aku titip Vanessa ya. Sekalian pamitkan pada Mama nanti,” ucap Alexa yang terlihat buru-buru melepaskan apronnya dan bergegas mengambil tasnya yang terletak di atas kursi sofa.
Alexa langsung pergi begitu saja saat dia mengambil tasnya. Dia berusaha menahan diri supaya tidak meluapkan amarahnya di sini, sambil menahan tangisannya yang hampir pecah.
Xavier merasa bingung dengan sikap Alexa yang terkesan buru-buru ini. Namun dia tidak memperdulikan wanita tersebut, karena yang membuatnya penasaran saat ini adalah keakraban ibunya dan juga istrinya.
Mengingat pemandangan indah tersebut, Xavier pun segera mendekati mereka berdua yang masih sibuk di dapur. Pria ini lalu sengaja berhenti di depan meja saji, sambil memandang ke arah kedua wanita istimewanya.
“Kalian … sedang apa? Membicarakan apa? Sampai tertawa seperti itu? Bahkan sepertinya … kehadiranku tidak kalian sadari,” oceh pria ini berusaha menelisik.
Nyonya Lawson dan Vanessa pun berbarengan menatap ke arah Xavier. Mereka lalu saling berpandangan, dan tertawa kembali.
“Hey! Ada apa ini? Kenapa tidak ada yang ingin mengatakan padaku? Dan … Sayang? Kamu …” Belum juga Xavier selesai bertanya dengan rasa herannya pada istrinya, Nyonya Lawson langsung memotongnya.
“Ternyata Vanessa jago buat kue pastry! Bahkan dia sepertinya lebih jago dari Mama. Kamu kenapa nggak pernah bilang sama Mama sih? Kalau istrimu ini suka membuat kue juga?” sindir Nyonya Lawson, yang sengaja menggoda putranya.
Tentu Xavier tidak tahu juga tentang hal ini. Dia bahkan baru tahu kali ini, jika istrinya ternyata jago melakukan sesuatu. Tapi baru saja Xavier ingin menjelaskan rasa tidak tahunya itu, Vanessa tiba-tiba lebih dulu menjawabnya.
“Xavier memang tidak tahu hal ini, Ma. Mama tahu sendiri kan, aku selalu bersikap manja dengannya. Bahkan dengan keluargaku. Aku hanya mempelajari ini diam-diam. Supaya bisa ikut membantu Mama seperti ini,” ujar Jane yang sengaja merangkai kata-kata indah untuk mendapatkan perhatian wanita ini. Paling tidak, Nyonya Lawson mau menerima karangan ceritanya barusan.
Suara mesin pemanggang pun berbunyi, tanda kue mereka sudah matang. Nyonya Lawson dan Vanessa pun segera bergegas mengambilnya dari dalam oven.
Melihat kedekatan ini, sungguh membuat Xavier mampu menghela nafas lega. Dia tidak menyangka akan melihat kedekatan istri dan ibunya, padahal sebelumnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan mereka berdua.
***
Sepulangnya dari rumah Nyonya Lawson, Alexa kembali berteriak kesal. Dia merasa jengkel karena lagi-lagi rencananya untuk menjatuhkan Vanessa gagal.
__ADS_1
“Dasar wanita tidak tahu diri!! Perebut laki orang!! Munafik!!” teriaknya sambil membanting banting barang di dekatnya.
Bersambung…