Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 35


__ADS_3

Xavier bergegas pergi dari tempat Jane, sembari membawa bukti-bukti yang baru saja dia terima. Namun Jane langsung mencegahnya, dengan memegangi lengan pria ini.


“Tuan, apa yang akan Anda lakukan sekarang?” tanya Jane yang merasa khawatir dengan respon Xavier saat ini. Pria tersebut terlihat begitu emosional, dan hal ini membuat Jane takut atas tindakan yang akan diambil oleh Xavier selanjutnya.


“Lepaskan aku, Jane! Aku harus membunuh mereka segera!” teriak Xavier sambil menghempaskan lengan pelayannya itu.


Jane yang tidak ingin bosnya melakukan tindakan konyol pun kembali mencegahnya. “Tuan!! Jangan gegabah! Sebaiknya kita melaporkan mereka dulu ke petugas berwajib. Jangan kotori tanganmu dengan membunuh mereka,” ucap wanita ini dengan rasa ketakutannya.


“Aku tidak peduli, Jane!! Mereka telah membunuh istriku!! Bertahun-tahun aku mencari siapa dalang kecelakaan itu. Baru kali ini aku menemukan kebenarannya. Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi untuk menyingkirkan mereka! Mereka harus mati di tanganku! Aku yang akan membalaskan dendam Vanessa secara langsung!!” ujar Xavier yang segera pergi meninggalkan Jane.


Xavier tidak perduli dengan upaya Jane yang berusaha mencegahnya. Dia sudah gelap mata, tak sabar untuk membalas dendam yang sejak lama dia tunggu-tunggu.


Tanpa berpikir lama, Xavier langsung memasuki mobilnya dan hendak kembali ke kediamannya, untuk segera menemui Jacob dan Alexa yang masih berada di sana.


Jane pun akhirnya berusaha mengejar majikannya tersebut. Dia merasa perlu mendampingi Xavier, karena tak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada pria ini. Jane yakin, jika keputusan Xavier kali ini bisa memperburuk keadaan.


“Tuan, sebaiknya pikirkan dulu matang-matang. Jika Anda hendak membunuh mereka langsung, yang ada Anda akan menjadi tersangka dalam kasus ini. Ayolah, Tuan, kita atur strategi yang lebih matang dahulu untuk menghukum mereka,” ucap Jane yang berusaha membujuk majikannya.


Sayangnya, Xavier lagi-lagi tak perduli dengan ucapan Jane. Dia tidak menjawab sepatah kata pun untuk menanggapi masukan dari wanita yang duduk di sampingnya saat ini. Baginya, membunuh dengan tangannya langsung adalah keputusan terbaik. Xavier benar-benar ingin menyiksa kedua orang terdekatnya itu, yang ternyata sudah lama tega menipunya.


Hingga saat mereka berdua sampai di kediaman Xavier kembali, Xavier yang sudah penuh amarah pun segera memasuki rumah mewahnya tersebut. Dia mendobrak pintu rumahnya sendiri, lalu berteriak memanggil kedua orang yang dicarinya.


“Alexa! Jacob! Keluar kalian semua!” serunya sambil berjalan menuju ke ruang tengah.


Langkahnya lalu terhenti di ruangan ini. Pandangan matanya menyebar, memperhatikan sudut rumahnya, guna menemukan keberadaan istri keduanya dan juga saudara sepupunya itu.


Alexa yang merasa penasaran dengan panggilan Xavier yang begitu menggelar pun kini segera menghampirinya. “Sayang, kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?” tanyanya sambil melangkah mendekati Xavier.


Kedua bola mata Alexa membulat, terbelalak kaget ketika melihat ada sosok Jane di balik punggung suaminya. Dia pun jadi panik. Takut jika Jane ternyata sudah melaporkan tentang hubungannya dengan Jacob, dan sempat memergoki kemesraan mereka berdua.


“Sa-sayang? Ada apa ini? Ke-kenapa kamu bisa … bersama dengan Jane?” tanya Alexa terbata-bata. Dia berusaha meraih tangan Xavier tapi langsung ditepis oleh pria tersebut dengan begitu kasarnya.


Lalu kemudian …


PLAK!!


Tamparan keras tangan Xavier pun mendarat sempurna di pipi Alexa. Hal ini jelas membuatnya terkejut bukan main. Tanda bahwa Xavier pasti telah diberitahu oleh Jane, terkait rahasia yang harusnya tidak diketahui oleh mereka berdua.


“Sa … Sayang …? Ke-kenapa kamu …”


“Diam kamu, dasar wanita biadab!” teriak Xavier penuh amarah. Dia lalu menjambak rambut Alexa, hingga wajah wanita ini menghadapnya. “Aku tidak pernah menyangka kamu bisa sekejam itu padaku, apalagi pada sahabatmu sendiri …,” bisiknya kembali, sambil mendorong kepala Alexa, menjauh darinya.

__ADS_1


Tak berhenti di situ, nyatanya Xavier kembali mendekati Alexa. Dia melancarkan tamparannya kembali, berkali-kali, hingga membuat Alexa merasa ketakutan dan kesakitan.


“Ampun Xavier … hentikan ini … aku … aku tidak tahu apa maksudmu,” oceh Alexa yang masih saja berusaha untuk menutupi kesalahannya.


“Heh! Jangan pura-pura tidak tahu ya! Apa kamu lupa, jika kamu itu seorang pembunuh?! Kamu sudah merencanakan pembunuhan Vanessa untuk menyingkirkannya dalam kehidupanku!! Setega itu akal busukmu supaya kamu bisa menjadi pendampingku?! Benar-benar iblis!!” Xavier terus saja memaki Alexa sambil menampar wanita ini sampai pipinya memar.


Jane sengaja tidak mencegah perbuatan majikannya saat ini. Dia hanya menatap bagaimana Xavier menghukum Alexa dengan tangannya sendiri. Bagi Jane, Alexa memang pantas mendapatkan perlakuan buruk seperti sekarang. Bahkan seharusnya, wanita itu lebih berat hukumannya, mengingat bagaimana kejamnya dia dulu pada Vanessa.


Jacob yang baru datang dan melihat keributan ini jelas merasa terkejut. Dia yang tak paham apa yang sebenarnya terjadi, langsung berlari mendekat ke arah Alexa, untuk melindungi wanita tersebut.


“Hentikan Xavier!” teriak Jacob, sambil memegangi kedua lengan Xavier, berusaha menghentikan perbuatannya kali ini. “Sebenarnya ada apa denganmu?” tanyanya heran.


Xavier tersenyum sinis, mengangkat salah satu ujung bibirnya. “Cih! Dua manusia laknat ini, akhirnya memperlihatkan kenyataan yang sebenarnya. Aku tahu hubungan bejat kalian, dan aku akan membunuh kalian berdua, secara bersamaan,” ungkap Xavier sambil melayangkan tinjunya ke wajah saudara sepupunya.


Jelas terlihat dari sorot mata Xavier yang bersungguh-sungguh hendak membunuh Jacob dengan tangannya sendiri. Dia terus saja memukuli pria ini hingga babak belur, tak memberikan kesempatan untuk Jacob membalasnya.


Alexa yang melihat keadaan ini terus berteriak histeris. Dia sangat ketakutan, mengingat apa yang baru saja dikatakan Xavier dan juga sikapnya yang langsung berubah. Dia lalu segera meraih ponselnya dan berusaha untuk memanggil petugas kepolisian.


Jane yang melihat tindakan Xavier semakin menjadi-jadi, kini langsung menghampiri untuk memisahkan perkelahian itu. “Sudah hentikan, Tuan! Dia sudah babak belur,” ucap Jane sambil berusaha menarik tubuh Xavier.


Melihat keadaan ini, Jacob pun mengambil kesempatan untuk segera membalas pukulan Xavier yang sudah melukainya bertubi-tubi.


BUGH!!


“Hentikan!! Jacob hentikan!!” teriak Alexa dengan histeris.


Jane yang berada di dekat para pria ini pun kembali berusaha memisahkan. Namun ia malah ikut terkena hantaman siku Jacob. Alexa yang menyaksikannya pun kian panik. Tubuhnya bergetar ketakutan, dan tak dapat bergerak karena bingung dengan keadaan saat ini.


Sedangkan Xavier yang pandangannya kian samar, kini berusaha untuk meraih tangan Jacob dan menghentikan perbuatannya. “Aku tidak akan membiarkanmu … aku … akan membunuhmu …,” ucap Xavier dengan suara seraknya.


Mendengar ucapan ancaman dari mulut Xavier, Jacob jadi semakin panas. Dia jelas semakin tak terima jika sampai Xavier melakukan hal tersebut.


Dengan pikiran yang sudah dipenuhi amarah, Jacob membangkitkan diri dan mencari benda yang bisa dia gunakan untuk menghajar Xavier dan membuat keadaan pria tersebut menjadi lebih parah lagi dari sekarang ini.


Dia lalu mengambil pisau buah yang tergeletak di atas meja makan, dan dengan cepat kembali mendekati tubuh Xavier, lalu menusukan pisau tersebut ke perut saudaranya itu berkali-kali.


“Jacob hentikaaan!!” Jane dan Alexa berteriak bersamaan. Mereka terbelalak, merasa tak percaya saat melihat darah yang keluar dari tubuh Xavier kini bercucuran di atas lantai.


Jacob pun menyadari perbuatannya. Dia segera melepaskan tangannya dari pisau yang masih menancap di perut Xavier. Perasaannya kini jadi kian panik, tak menyangka akan melakukan hal seperti ini.


Saking ketakutannya, Jacob yang merasa panik kini langsung pergi meninggalkan tempat ini. Dia segera berlari, kabur untuk mengamankan diri.

__ADS_1


Alexa menghampiri Xavier sambil menangis histeris. Dia jelas semakin ketakutan, merasa begitu bersalah karena orang yang begitu diinginkan dan dicintainya itu, kini malah tergeletak tak berdaya bersimbah darah.


Sedangkan Jane yang berada di dekat Xavier pun jadi merasa bingung. Dia merasa tak terima karena sikap Jacob pada majikannya ini. ‘Tidak … aku tidak boleh membiarkan Jacob kabur!’ batinnya penuh kesal.


Jane pun akhirnya segera berdiri untuk mengejar Jacob yang hendak kabur. Dia tidak ingin penjahat itu bebas berkeliaran, setelah melakukan hal kejam terhadap majikannya.


“Berhenti kamu pembunuh!!” teriak Jane ketika berusaha mengejar Jacob.


Pria tersebut menoleh sejenak, “Ash! Sial!” gerutunya. Namun Jacob segera mempercepat langkahnya supaya tidak terkejar oleh Jane yang tiba-tiba berlari di belakangnya.


Untungnya tak lama polisi segera datang. Melihat seseorang yang berusaha kabur dan sedang dikejar, salah satu petugas pun langsung menembakan pelurunya ke udara, untuk memperingatkan Jacob supaya menghentikan langkahnya.


Sayangnya, peringatan itu tak diindahkan oleh pria ini. Dia terus saja kabur. Hingga akhirnya …


DOR!!


Polisi pun menembakan pelurunya, ke arah kaki Jacob, hingga membuat pria tersebut tak dapat berjalan lagi untuk kabur.


***


Beberapa bulan kemudian …


“Jane! Kenapa kamu lama sekali? Bukankah aku sudah bilang supaya kamu datang lebih pagi lagi!” teriak Xavier yang masih terbaring di tempat tidur pasien, mengomeli pelayannya.


“Maaf, Tuan. Tadi saya harus menyiapkan sarapan yang Tuan pesan dulu.”


“Tapi kan kamu bisa buat lebih pagi lagi! Aku sudah bosan di sini. Makanan di sini juga tidak enak. Hambar,” oceh pria ini lagi.


Jane pun segera menyiapkan bekal makanan yang sudah dibuatnya. Lalu melayani Xavier, dengan menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya. Diperlakukan manis seperti ini, Xavier pun jadi teringat dengan Vanessa, istri pertamanya yang sangat dia cintai.


“Jane … bagaimana kamu bisa mengenal Vanessa?” tanya Xavier dengan tatapan menerawang.


Jane menghentikan sejenak tindakannya. Dia menghela nafas, dan berusaha menjawab pertanyaan majikannya ini.


“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya pada Anda, Tuan? Apa, Anda lupa?”


“Iya, aku ingat ceritamu. Tapi … rasanya … seperti kamu begitu mengenal Vanessa. Padahal kamu baru bertemu dengannya, hanya sekali bukan?” Xavier menatap Jane dalam, seolah mengharapkan jawaban dari wanita di hadapannya ini.


Tanpa sadar, Jane mengusap pipi majikannya ini. Lalu ia pun berkata, “Entahlah … takdir membuatku sangat mengenalnya, dan juga mengenalmu, Tuan ….”


Jane tersenyum. Dia begitu cantik, membuat jantung Xavier berdebar tak karuan. Hingga tiba-tiba saja, Xavier meraih wajah Jane dan sengaja mendekatkannya ke arahnya. Lalu, ia pun mengecup lembut bibir wanita ini.

__ADS_1


“Jane … maukah kamu menikah denganku?” ucap pria ini dengan tatapan penuh permohonan.


-TAMAT-


__ADS_2