
Melihat tingkah Vanessa yang seperti ini, sontak saja membuat Nyonya Lawson merasa heran. ‘Kenapa dia jadi seperti ini? Bukannya, dia biasanya takut denganku? Bisa-bisanya dia sok dekat denganku. Apa gara-gara dia sudah menikahi Xavier sekarang ini? Makanya dia bersikap seperti ini?’ batinnya bertanya-tanya.
Alexa yang mengira jika Vanessa akan ketakutan kini juga ikut tercengang. Dia tidak menyangka jika Vanessa malah bisa bersikap santai bahkan menunjukan sikap ramah pada mertuanya.
‘Ke-kenapa dia … bersikap seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?’ Alexa pun menganga karena tak percaya dengan sikap sahabatnya saat ini.
“Oh, iya, Ma. Waktu kemarin hari pernikahanku, kue-kuenya dari Mama kan? Ah! Itu enak sekali! Aku mau dong, Ma, belajar bikin kue pastry seperti itu. Xavier ternyata sangat suka kue buatan Mama. Jadi aku ingin membuatkan untuknya juga,” ucap Jane yang mengingat kembali obrolan saat hari pernikahannya waktu itu dengan Xavier.
Jane memang tahu jika Nyonya Lawson suka sekali membuat kue. Dan untung saja ketika hari pernikahannya, Xavier sempat membahas bahwa hidangan kue-kue di hari indahnya itu merupakan buatan ibunya sendiri.
Meski Nyonya Lawson tidak menyukai Vanessa, tapi dia tentu tidak ingin merusak hari istimewa putra kesayangannya sendiri. Dia juga tidak ingin mengecewakan para tamu undangannya dengan hidangan yang tak pantas. Oleh sebab itu, Nyonya Lawson berinisiatif memberikan hidangan buatannya sendiri.
Hanya saja, mendengar Vanessa mengatakan hal ini, malah membuat Nyonya Lawson jadi semakin bingung. Padahal dia sudah berusaha diam-diam melakukannya, karena tidak ingin menantunya itu kegeeran.
‘Ah, ini pasti Xavier yang sengaja cerita sama istrinya. Buat apa juga sih dia cerita-cerita begitu?’ ujar Nyonya Lawson dalam batinnya. Wanita ini masih saja menatap ke arah Vanessa dengan tatapan menelisik.
Jane celingukan menatap ke arah sekitarnya. Terlihat beberapa bahan kue yang tertata di area dapur dan juga di area meja makan. Hal ini menandakan jika Nyonya Lawson berniat untuk membuat kue.
“Mama lagi mau bikin kue? Wah! Kebetulan sekali. Mama bisa berbagi resep denganku kan? Aku ingin sekali mencoba membuat kue! Sekalian oleh-oleh untuk Xavier nanti," ucap Jane dengan suara yang terdengar begitu antusias.
“Cih! Bicara apa kamu itu? Memangnya kamu bisa memasak? Kamu itu kan hanya Tuan Putri yang tidak pernah bekerja apa-apa. Sebaiknya kamu tidak usah sok akrab denganku!” cibir Nyonya Lawson yang kemudian memilih untuk segera pergi menghindari menantunya.
Jane jelas tak ingin menyerah begitu saja. Dia sengaja mengejar Nyonya Lawson, dan berusaha untuk tetap membujuknya. “Bagaimana jika Anda mengujiku terlebih dahulu?” Tiba-tiba Jane mengatakan hal ini untuk menghentikan langkah Nyonya Lawson.
Nyonya Lawson pun mengernyitkan keningnya, sambil menatap bingung Vanessa. “Maksudmu?” tanyanya heran.
Jane kemudian menatap ke arah meja makan. Dia lalu sengaja melangkahkan kakinya mendekati sana. “Aku akan membuat adonan dasar pastry. Setidaknya, Mama bisa menilai keterampilanku dari hal dasar ini kan? Aku yakin kue buatanku bisa mengikuti jejak Mama,” ujar Jane dengan percaya diri.
__ADS_1
Hal ini benar-benar membuat Alexa merasa keheranan. ‘Ada apa dengan Vanessa? Kenapa dia … dia bisa percaya diri seperti itu?’ batinnya terus saja bertanya-tanya sendiri.
Karena tak mendapatkan jawaban dari Nyonya Lawson, Jane pun kini sengaja menyiapkan adonannya yang ingin dia buat. Nyonya Lawson sebenarnya ingin memarahi menantunya itu karena berani menyentuh barang-barang miliknya. Namun dia langsung menghentikan langkahnya sendiri.
‘Sebaiknya aku lihat dulu hasil kerjanya. Aku yakin dia hanya membual saja. Jika dia hanya mengacau, lihat saja, aku akan membuatnya menyerah dan menceraikan Xavier segera!’ tegasnya dalam batin.
Nyatanya, selama Vanessa membuat kue, dia terlihat begitu lihai seperti sudah terbiasa melakukannya. Jelas saja, Jane memanglah ahli dalam bidang ini.
Sejujurnya, di kehidupannya yang sebenarnya, Jane memanglah suka membantu Nyonya Lawson untuk membuat kue. Bahkan dia termasuk pelayan yang dekat dengan wanita paruh baya tersebut, karena keterampilannya itu.
Jane bahkan mudah paham serta selalu mendengarkan arahan Nyonya Lawson. Hal ini membuat Nyonya Lawson sangat menyukai sikap Jane yang tak patah semangat dan selalu ingin belajar.
Tapi kali ini Jane berada di dalam tubuh Vanessa. Bahkan Nyonya Lawson sendiri menyangsikan ucapan menantunya yang dirasa hanya omong kosong. Namun melihat keahlian menantunya saat ini, Nyonya Lawson malah jadi merasa semakin penasaran sendiri.
Tanpa sadar, Nyonya Lawson pun mulai menjejerkan diri di sebelah Vanessa. Lalu dia pun mulai memberi arahan, untuk mengajari menantunya.
Semakin lama, mereka berdua terlihat semakin akrab. Bahkan Nyonya Lawson terlihat seolah sudah tidak ingat dengan amukannya ataupun rasa tak sukanya pada menantunya itu.
“Apa-apaan dia? Kenapa mereka jadi akrab seperti itu? Bukan ini rencanaku!” gerutu Alexa yang menatap keakraban mereka dari ruang tengah. Dia menatap tajam ke arah Vanessa, sambil melipat tangannya di depan dada. Rasanya benar-benar kesal melihat hal ini.
Jane yang sedang tersenyum karena asik mengobrol sambil menguleni adonan, kini tak sengaja menatap ke arah Alexa berdiri menatapnya. Lalu tiba-tiba saja, bayangan ingatan yang dimiliki Vanessa kembali muncul dalam benaknya.
Terlihat bagaimana wajah Nyonya Lawson yang marah-marah padanya. Bahkan semakin lama, caciannya semakin menusuk ke dalam relung hati, membuat Vanessa merasa sesak di dadanya.
‘Ada apa ini? Kenapa … ini terjadi lagi?’ ujar Jane dalam batinnya, sambil menelaah apa yang sedang terjadi saat ini.
Jane melihat bagaimana Alexa berusaha membujuk Nyonya Lawson supaya mau memaklumi sahabatnya itu. Hanya saja, kalimat wanita itu sebenarnya malah membuat Vanessa semakin lemah saja di hadapan ibu mertuanya.
__ADS_1
“Mama harus memaklumi Vanessa. Dia itu memang sejak kecil dimanja oleh keluarganya. Semua kebutuhannya selalu terpenuhi, sehingga dia tidak perlu turun tangan sendiri untuk melakukan hal-hal seperti ini, Ma,” ucap Alexa dalam ingatan Vanessa.
“Tapi paling tidak dia seharusnya bisa bekerja! Apa-apa tidak bisa! Terlalu bergantung dengan Xavier! Apa fungsinya punya dua tangan dan dua kaki? Apa itu hanya buat pajangan saja?!” Nyonya Lawson pun terus saja memojokan Vanessa.
“Sudah, sudah, Ma. Jangan seperti ini. Jangan paksa Vanessa untuk melakukan tugas rumah tangga. Bahkan Vanessa itu sulit membedakan gula dan garam. Jadi please, Mama sebaiknya memahami Vanessa ya? Dia kan istri Xavier, menantu Mama sendiri lho,” masih saja Alexa mengompori keadaan.
Nyonya Lawson terus saja menyentak. Dia tidak bisa menerima pembelaan Alexa dan malah semakin membuat Vanessa terpojok ketika mendengarnya.
Meski Nyonya Lawson merupakan orang kaya raya terpandang, tapi baginya, seorang wanita tetaplah harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Paling tidak bisa memasak untuk memastikan asupan bergizi suami dan anak-anaknya kelak.
“Dengar ya Vanessa. Jika kamu tidak bisa apa-apa menjadi seorang wanita, lebih baik kamu mati saja sana! Atau ceraikan segera Xavier! Jangan pernah kamu ganggu hidupnya lagi! Dasar wanita tidak berguna!” sentak Nyonya Lawson kembali.
Kalimat demi kalimat itu jelas membuat mental Vanessa kian terguncang. Dia merasa tertekan, karena ucapan ibu mertuanya itulah Vanessa jadi merasa bahwa dirinya adalah wanita dan istri yang gagal. Tak bisa melakukan apapun.
Jane bisa merasakan rasa trauma yang kembali muncul pada Vanessa. Ingatan dan rasa sakit itu menempel kuat di relung hatinya, seolah seperti permen karet yang terinjak oleh sepatu.
"Hei! Kenapa malah melamun?" senggol Nyonya Lawson membuyarkan lamunan Jane saat ini.
Jane pun jadi tersadar kembali. Dia mengerjapkan matanya, dan berusaha untuk mengalihkan pandangannya.
"Ah maaf, Ma. Tiba-tiba aku teringat sesuatu," jawab Jane yang menyadari keadaan saat ini.
"Kamu itu harus fokus. Jika tidak, kue buatanmu pasti akan hancur berantakan. Sebaiknya sekarang kita bentuk-bentuk adonannya. Lalu setelah itu, bisa segera dimasukan ke dalam oven," ucap Nyonya Lawson memberi peringatan.
Untungnya wanita ini tidak sampai marah-marah seperti dalam ingatan Vanessa. Dia bersikap lebih santai kepada menantunya karena merasa cukup tertarik dengan sikap Vanessa yang mulai berani mengambil inisiatif terlebih dahulu.
Jane pun kini berusaha melirik pelan ke arah Alexa kembali. Terlihat wanita itu masih memandangnya dengan tatapan sinis lalu tiba-tiba menyunggingkan senyuman iblisnya seolah sedang merencanakan sesuatu lagi. Hal ini jelas membuat Jane mendelik tak percaya.
__ADS_1
‘Kenapa Alexa bersikap seperti itu? Apa jangan-jangan … dia …’
Bersambung…