Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 9


__ADS_3

Proses Sebelum Dikemas


 


Setelah berada di ruangannya, Alza melihat jam di tangannya. Waktu pulang kantor masih lama, padahal ia ingin pulang bersama Rumina. Biasanya setelah peninjauan selesai dan tidak menemui masalah besar, ia akan kembali ke apartemen, lalu pulang setelah makan siang. Kali ini pun tugasnya memeriksa pembukuan sudah beres, tapi Ia memutuskan untuk tetap berada di sana sampai jam kantor usai.


Dia mengambil ponsel yang sejak bangun tidur ia abaikan. Ia melihat banyak pesan dan satu di antaranya, dari nomor yang tidak dikenal. Alza tertarik untuk membacanya dan ternyata itu pesan dari Rumina. Ia segera menyimpannya dengan nama yang sama.


Ia tersenyum membaca pesannya yang membuatnya senang, tapi apa yang bisa dilakukannya di sini. Walaupun gadis itu siap kapan pun pria itu membutuhkannya, tetap saja ia tak berdaya demi nama baik dan reputasinya.


“Tuan, terima kasih atas semua yang sudah Anda lakukan, saya tidak memiliki apa-apa untuk membalas kebaikan Anda, selain diri saya sendiri. Katakan saja, kapan pun Anda membutuhkan saya, kalau mampu pasti saya akan melakukannya untuk Anda!”


Tiba-tiba Alza merasa bahwa Rumina menggodanya. Namun, ia menangkap ucapan yang tulus dari wanita itu. Dan, ia tidak ingin mengerjainya untuk saat ini. Ia hanya ingin mengenalnya lebih jauh.


Alza bergerak cepat untuk menghubungi gadis itu dan mendengar suaranya. Seandainya mungkin, ia bisa memanggilnya ke ruangan. Namun, hal itu Paati akan membuat banyak orang curiga hingga ia mengurungkannya.


Ia tidak boleh berbuat kesalahan, hingga bisa menjadi celah yang membuat namanya buruk. Akan selalu ada orang yang mengambil kesempatan seperti itu untuk saling menjatuhkan.


Awalnya pemikiran bisnis hanyalah sebuah persaingan usaha. Namun, setelah berada di puncak seperti dirinya, maka segalanya menjadi sangat berharga meski hanya mempertahankan sebuah nama keluarga.


Keluarga Ayares pun demikian. Bahkan, sudah dua dekade belakangan, mereka hanya melakukan pernikahan antar kerabat dan saudara saja. Semua demi mempertahankan kekayaan agar tidak jatuh ke pihak ketiga. Kalaupun di antara anak cucu memilih untuk menikah di luar circle mereka, maka tidak mendapatkan warisan bisnis, selain yang diberikan kedua orang tuanya.


Alza sudah melakukan banyak usaha yang sulit dan perjuangan yang keras untuk bisa menapaki anak tangga satu persatu, hingga ia berhasil meraih kepemimpinan teratas di keluarganya.


Setelah sampai di titik ini, ia tidak boleh menyerah. Megan sudah jadi korban hingga setiap hari istrinya itu harus berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda. Tulang ekornya patah akibat kecelakaan yang ia alami, demi membantunya mengejar tender proyek mereka.


Mulai saat itu, ia tidak akan melibatkan keluarga intinya dalam hal bisnis, cukup dirinya saja. Keluarga adalah orang yang membuat dirinya berarti saat memperoleh keberhasilan. Sebab merekalah yang paling bahagia melihatnya sukses. Lalu, kalau keluarganya tidak ada, untuk apa semua miliknya.


Seseorang biasanya mulai merasakan kesepian ketika sudah berada di puncak kejayaan. Ia tidak akan bisa jadi dirinya sendiri lagi. Namun, ketika seseorang berada di bawah, ia tidak berdaya dalam menentukan nasib. Bahkan, mengambil keputusan saja sulit walau, untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu ia harus tetap menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Keluarga Robinson. Dengan demikian ia akan bebas menentukan nasibnya sendiri.


Perusahaan dan semua bisnisnya berada di bawah Naungan Robinson Corp. Nama itu di ambil dari kakeknya, Robinson Ayares.


Sementara itu di ruang laboratorium, Rumina sedang mencampurkan bahan kimia dalam satu botol. Ia tersentak ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sampai-sampai ia menjatuhkan bahan itu ke lantai. Ada sedikit asap yang mengepul ketika zat berbahaya itu menyentuh permukaan ubin.


“Hai Rumi! Kenapa? Berhati-hatilah kalau bekerja!” kata Mark perlahan, ia sedang duduk santai dengan ponselnya.


“Hehe! Ya, Maaf aku tidak biasa menerima panggilan di jam segini!”


“Mungkin itu penting, angkat saja!” kata Mark lagi.


Rumina berjongkok untuk membersihkan kekacauan yang ditimbulkannya.

__ADS_1


Ia pun menjawab, “Oke!”


Setelah selesai mengelap cairan yang tumpah dan membereskan alat es yang berjatuhan, ia berjalan ke bagian belakang ruangan. Lalu, membuka sarung tangan, baru mengambil ponselnya.


Namun saat ia sudah meraih benda itu di tangannya, panggilan berhenti. Ia melihat nama pemanggil ia itu dari sebuah nomor yang ia simpan dengan sangat hati-hati.


Tuan Alza ada bentuk hati sesudah namanya.


Gadis itu tersenyum dan melakukan panggilan ulang.


“Hallo!” katanya, setelah telepon mereka saling terhubung dengan cepat.


Rumina sedikit malu hingga ia menjauh dari Mark dan Ryco. Walaupun, mereka tidak akan peduli dengan apa yang akan ia bicarakan, tetapi ia peduli dengan dirinya sendiri dan Alza. Dengan kata lain ia harus menjaga nama baiknya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya orang di seberang, itu suara Alza.


Menurut Rumina, itu pertanyaan yang aneh, di jam sekarang tentu saja semua orang sedang bekerja.


“Saya sedang bekerja, Tuan!”


“Hmm ... Apa itu penting?”


“Tentu! Saya sedang tes bahan untuk produksi kedua, hari ini, Tuan!”


“Eum ... belum,” Rumina mulai merasa aneh, Alza terkesan tengah mengulur waktu tanpa membicarakan maksud sebenarnya. Namun, ia tetap melayani obrolan kaku itu.


“Apa kau melakukannya setiap hari?”


“Tentu saja, setiap akan memulai produksi dan adonan bahan baru, harus melalui tes uji coba, agar tetap sesuai standar pabrik kita. Tuan, apa Anda tertarik? Anda bisa mengunjungi ruangan kami sekali-kali!”


Sepertinya usul Rumina itu cukup bisa diterima akal. Buktinya, Alza segera mengangguk dan mengetukkan jarinya ke meja. Suaranya terdengar oleh Rumina di telepon. Gadis itu menangkap kegelisahannya.


Beberapa masalah mungkin bisa ditolerir dalam sebuah instansi jika terjadi hal ganjil pada diri pimpinannya. Namun, tidak dengan perusahaannya. Pastinya akan terlihat aneh kalau ia secara tiba-tiba mengunjungi Laboratorium. Padahal sudah bertahun-tahun ia dan para pendahulunya tidak melakukan kunjungan ke tempat itu.


Bagaimana mungkin sekarang ia akan mendatanginya dan apa keperluannya agar orang tidak curiga. Ia hanya ingin melihat Rumina sebelum kembali ke Jawarasen siang ini.


“Tuan, apa Anda tidak ingin bisa beramah-tamah dengan Ryko yang akan pensiun bulan ini?”


Alza diam sambil menarik napas dalam-dalam. Bahkan, embusan kasar dari mulutnya bisa terdengar Rumina.


“Tuan, atau ... eh, apa saya boleh menemui Anda di ruangan?”

__ADS_1


“Untuk apa ... aku akan pulang setelah makan siang!”


“Oh, jadi begitu, Tuan! Sebenarnya saya ingin bertemu Anda dulu!”


“Aku akan berkunjung ke sana!”


“Oh, ya? Saya bisa bertemu Anda? Syukurlah! Aku pikir tidak salah sekali-kali Anda sekedar melihat bagaimana kami mengetes bahan serta hasil produk, setiap kali memulai produksi sebelum barang dikemas? Bukankah semua harus sesuai standar baku yang ada di Robinson botanica?”


“Hmm.”


Walaupun, Alza sudah mengetahui setiap langkah dari produksi yang dilakukan pabriknya sebelum dikemas sampai tiba di konsumen, tapi ia tetap diam saja saat Ramina menjelaskannya.


Alza mematikan ponsel dan ia berjalan keluar pintu. Saat itu juga Rey datang mengunjunginya sambil membawa secangkir kopi.


“Anda mau ke mana, Tuan?”


“Aku baru akan memesan kopi!” kata Alza tanpa berbalik, ia tetap berdiri di depan pintu.


“Oh, tapi aku sudah membawa kopi, ayo! Minum saja di dalam!” Rey berkata sambil mengacungkan sebuah nama


“Aku tahu, pesan dua lagi! Ayo ke laboratorium!”


“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Tuan mau ke laboratorium, ada urusan apa di sana? Tuan, itu di luar kebiasaan!”


Rey membatin bahwa tuannya tidak perlu ke tempat yang berbau tidak enak itu. Ia hanya perlu memeriksa keuangan dan pembukaan kantor seperti biasa. Atau menangani masalah yang mungkin muncul seperti kebiasaan turun temurun sebelumnya.


“Apa tidak boleh?” jawab Alza singkat.


Rey kembali membatin, tentu bisa sekali-kali ke sana dengan tujuan melihat proses bahan produksi di tes sebelum dikemas.


“Sepertinya itu bagus juga, kenapa aku tidak terpikirkan sebelumnya?” gumam Rey sambil melangkah keluar dan menutup pintu.


Mereka berjalan beriringan, Rey mengikuti Alza sambil memegang cup kopi di satu tangan dan tangan lain memegang ponsel untuk memesan kopi melalui sebuah aplikasi.


Saat itu juga Rey mengingat tentang Rumina, di mana gadis itu bekerja menjadi asisten di laboratorium, “Ah, kenapa aku tidak menyadarinya?” pikirnya.


Mereka sampai di ruang laboratorium dengan perasaan lega. Semua pegawai ada di ruangan itu. Lalu, mereka menyambutnya dengan suka cita.


“Tuan Alza!”


 

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2