
Dokumen Pernikahan
“Permainan Apa?” Rumina berkata heran, lalu mendorong Alza agar menjauh dari dirinya sekuat tenaga. Ia tidak ingin ada orang lain yang memergoki mereka dalam satu kamar dengan keadaan yang tergolong intim. Padahal mereka tidak terlalu akrab.
“Akh!” teriak Rumina.
Di saat ia mendorong, secara bersamaan tangannya ditarik oleh Alza hingga ia terjerembap ke dalam pelukan pria itu.
“Menikahlah denganku!” kata Alza.
Rumina mendongak melihat wajah Alza dengan jantung berdebar, ia tak percaya dengan apa yang diucapkannya.
Ini pertama kalinya mereka berpelukan. Namun, karena sungkan, ia melepaskan diri dari pelukannya dengan segera.
Menikah dengan sang majikan dan menjadi istri bonekanya?
Ia tidak sudi menjadi salah satu dari sekian banyak wanita yang dijadikan pelampiasannya.
“Aku tidak mau!” jawab Rumina ketus.
Mendengar jawaban itu, Alza memalingkan muka, lalu ia mendorong tubuh Rumina perlahan hingga menjauh, sedangkan ia berbalik, melangkah mendekati pintu dan membukanya.
“Pikirkan lagi!” katanya, setelah itu ia pergi ke kamarnya sendiri, saraya menyembunyikan wajahnya yang pucat, karena khawatir gadis itu berpikir buruk.
Saat berada di kamarnya, Alza sibuk meredam berbagai emosi yang muncul secara bersamaan di benaknya. Ada sedikit rasa gembira yang dominan, bukan karena miliknya yang kembali normal saja, melainkan rasa senang yang sulit digambarkan.
Ia hampir tidak pernah merasakan kegembiraan inu sejak lama, atau tepatnya sejak kecelakaan yang di alami Megan. Awalnya rasa seperti ini mulai muncul saat melihat Isabel tawa riang sewaktu bermain dan belajar dengan Rumina. Namun, sekarang perasaan itu semakin jelas saja.
Bisa jadi penyebabnya adalah stress yang berkepanjangan.
__ADS_1
Ada bagian otak pada manusia yang disebut amigdala, terletak di tengah lobus otak besar. Ukurannya hanya sebesar kacang almon. Ia berfungsi secara global mengatur emosional manusia. Dalam kondisi tertentu atau emosional dan stress yang tinggi, bisa mempengaruhi fungsi satu organ tubuh. Hal ini juga yang mengakibatkan timbulnya beberapa penyakit dalam tubuh.
Bagian otak yang disebut amigdala, tempatnya mengatur stress, rasa takut, cemas, ketegangan, sedih, bahagia dan sebagainya. Kalau bagian ini terganggu, akan menyebabkan trauma karena amigdala bersinggungan dengan beberapa bagian otak lain, salah satunya adalah bisolateral yang mengatur respon anggota badan manusia.
Jadi, wajar bila Alza mengalami kelemahan pada miliknya akibat kecelakaan istrinya. Pada saat itu ia melihat langsung bagaimana kondisi tubuh Megan yang mendapat banyak luka. Bahkan, sempat koma selama beberapa hari di rumah sakit.
Alza sempat stress memikirkan Megan yang hampir tiada. Perasaannya waktu itu sangat cemas luar biasa dan takut kehilangan istri satu-satunya yang ia cintai dengan sepenuh jiwa.
Setelah kepergian Alza, Rumina menutup pintu dan menguncinya. Lalu, ia memilih tidur dan mengabaikan apa yang terjadi padanya barusan. Meskipun, jantungnya masih terus berdebar, ia berusaha menenangkan diri.
Saat merasakan pelukan Alza tadi, ia sempat merasakan sesuatu sehingga ia merinding sekaligus takut akan apa yang bisa dilakukan pria itu padanya.
Keesokan harinya, Rumuna memilih menghindari pertemuan dengan Alza dan juga Megan, dari pagi sampai sore. Ia tidak tahu kenapa dua orang itu memintanya untuk menikah. Lagi pula ia tidak ingin kedua orang itu membahas soal yang sama lagi dengannya.
Bukan seperti itu perjanjiannya, dan tidak ada di kontrak kerjanya bahwa ia harus menjadi istri Alza.
Rumina tampaknya sukses menghindari dua orang itu, sampai sore.
Melihat Rey berdiri di dekatnya, Rumina melotot dan berkata, “Ini masih jam kantor, kenapa kamu kemari? Pergi! Jangan ganggu kami!”
Rey diam dan menatap Rumina datar, gadis itu terlihat kesal dengan kehadirannya. Dikarenakan ia termasuk orang yang membicarakan pernikahannya.
Usia Rumina sudah matang untuk menikah, tapi ia tidak mau kalau menjadi istri dari seorang suami yang mencintai wanita lain.
“Aku Cuma mau kasih ini!” kata Rey lembut sambil duduk di samping Rumina. Lalu, menyerahkan sebuah dokumen.
“Apa ini?” Rumina bertanya sambil melihat ke arah sebuah map yang ditaruh Rey di atas pangkuannya itu. Namun, ia tak menyentuhnya.
“Ini surat nikah, kamu tinggal tanda tangani saja!”
“Surat nikah, siapa yang mau menikah?”
__ADS_1
“Kamu dan Tuan Alza!”
“Haha!” Rumina tertawa. Ia tidak menyangka kalau pria itu serius dan terlalu buru-buru.
“Kamu tidak harus menerimanya sekarang, baca saja semuanya dengan teliti, kalau sudah kamu pikirkan, baru tanda tangan!” kata Rey sambil menghela napas berat.
Setelah itu, ia beranjak dan pergi dari sana tanpa berkata-kata lagi.
Rumina mengabaikan dokumen itu di atas kursi teras samping dekat kolam renang. Ia kembali konsentrasi untuk menyelesaikan tugasnya bersama Isabel. Setelah selesai berhitung, hari sudah menjelang malam. Ia pun memandikan gadis kecil itu sekaligus, membersihkan dirinya sendiri. Mereka makan malam bersama begitu selesai mandi.
Rumina sama sekali melupakan soal map di kursi, sedangkan Ia terus saja bersama Isabel. Dua wanita muda itu tengah melihat acara kartun di televisi, sambil menikmati camilan manis sebagai makanan penutup. Tanpa disadari sepasang mata terus saja mengamati aktivitas mereka.
Sampai malam tiba, acara kartun sudah habis dan Isabel mulai mengantuk. Ia tidak menanyakan ibunya sama sekali, padahal sepanjang siang ini Megan tidak keluar dari kamar. Gadis itu terlalu asik bermain dengan asisiten sekaligus gurunya.
Rumina mengajak Isabel tidur di kamarnya sendiri. Saat ia sedang melangkah dengan Isabel dalam gendongannya, tiba-tiba Alza menghadang di depannya.
Pria itu berkata dengan suara rendah, “Temui aku di ruang kerja kalau Isabel sudah tidur!”
Rumina tidak menjawab, dan Alza pergi setelah menyampaikan maksudnya.
Perempuan itu memasuki kamar dan menidurkan Isabel setelah Alza berlalu. Ia terus bicara pada anak kecil itu tentang menjadi anak baik dan rajin belajar. Ia pun berpesan agar mau sekolah dan mencari ilmu lebih banyak.
“Aku dengar tadi suara Papi! Mana dia?” tanya Isabel saat Rumina menyelimutinya. Matanya sudah hampir terkatup.
Rumina menghela napas kesel saat mengingat kejadian tadi, di mana Alza membiarkannya menggendong Isabel. Padahal pria itu tahu kalau anaknya sudah mengantuk. Sebagai seorang ayah, seharusnya Alza mengambil Isabel dari gendongannya dan menidurkan anak itu dengan penuh kasih sayang. Apalagi Isabel adalah anak semata wayangnya. Namun, pria justru mengabaikannya, lalu pergi begitu saja.
“Ada di ruang kerjanya!” kata Rumina.
“Mami ... aku mau Papi!”
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️