Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 35


__ADS_3

Di Kamar Rumina


Di sana ada sofa yang cukup besar dan ruangannya juga cukup luas. Jadi, kalau pria itu mau tidur di sana pun tidak masalah.


“Kamu mau tidur di sini? Kamu lapar? Atau kamu mau dibuatkan kopi?” Rumina bertanya secara beruntun.


Alza mendongak mengalihkan mukanya dari layar gawai di tangannya. Ia tertarik melihat tampilan Rumina yang baru sekali ia lihat dalam kondisi yang sama. Namun, tidak ada reaksi apa pun dari dirinya. Ia menyimpulkan jika hanya bersentuhan dengan Rumina saja baru timbul hasrat normal, sebagai laki-laki seperti sebelumnya.


“Aku sudah makan dan tidak mau minum kopi, aku hanya mau dirimu, apa kau mau?”


Rumina diam dan mereka saling bertatapan cukup lama berdiri mendekatkan kepalanya, pada Rumina hingga nafasnya terasa di permukaan kulit wajah masing-masing. Melihat gelagat gadis itu yang tiba-tiba diam dan punggungnya menjadi kaku, pria itu menyeringai dan semakin mendekatkan wajahnya hingga kulit mereka bersentuhan.


“Bukankah kamu bilang kamu istriku juga?” bisiknya di telinga Rumina. Ia sengaja melakukannya, sambil menggerakkan tangan.


Rumina mengernyitkan dahinya saa tangan Alza melingkari pinggang, membuatnya merinding dan tiba-tiba ia seperti tersadar jika sudah mengundang hasrat pria itu. Bagaimana bisa, padahal Ia sama sekali tidak menggoda.


Alza membopong tubuh Rumina ke dalam kamar, membaringkannya dengan perlahan. Setelah itu dengan tangan yang gemetar ia melucuti pakaian gadis itu satu persatu, demikian juga dengan pakaiannya sendiri.


“Aku tidak akan memaksamu kalau kau memang tidak mau!” katanya sambil berbisik. Ini adalah pertama kalinya setelah tiga tahun yang lalu hingga ia merasa seperti baru pertama kali melakukannya pada seorang wanita. Bahkan ia merasa dirinya sendiri gugup, padahal aku minta itu ada dalam kendalinya.


Rumina mengangguk dan berkata dengan suara yang gemetar pula, “Lakukanlah dengan perlahan, ini untuk yang pertama kali bagiku!”


Alza mengangguk.


Malam itu suasana di luar tampak sepi, tapi tidak benar langit yang ramai oleh bintang.


Setelah malam itu, Alza benar-benar bersyukur dengan kehadiran Rumina. Tanpa ia sadari cinta benar-benar bersemayam di hatinya secara perlahan-lahan.


Sebenarnya apa yang terjadi pada Alza dan Rumina, sesuai dengan harapan Megan. Tentu saja wanita itu memiliki seseorang yang bisa menyampaikan informasi apa pun hingga ia mengerti, saat seseorang di sana mengatakan padanya bahwa, lampu kamar rumah itu tetap menyala sampai pagi, sementara semua penerbangan di ruangan lainnya mati. Ada bayangan dua manusia di kamar itu selintas, setelah itu tidak tampak apa-apa lagi.


Tiba-tiba ia merasa begitu tenang. Walaupun Alza merahasiakan keadaannya, tetapi ia tahu pasti jika laki-laki itu memang tidak pernah melakukannya dengan wanita lain. Baru kali ini dengan Rumina.


Megan meneteskan air mata, cintanya begitu besar pada Alza dan ia berbisik untuk dirinya sendiri, “Ahk ... aku bisa pergi kali ini!”

__ADS_1


$$$$$$$$$$$


Sepekan kemudian di rumah Rumina, gadis itu sedang bersama suaminya untuk menumpahkan kerinduan yang akhir-akhir ini sering mereka lakukan. Padahal setiap hari bertemu, kerinduan itu bukan kerinduan jiwa melainkan kerinduan fisik.


Halo, ada apa?” tanya Alza lembut dengan ponsel di telinganya. Sejak tadi, ia membiarkan ponselnya berbunyi. Ia duduk di samping tempat tidur.


Alza Ayesar, pria berbadan proporsional dan bermata coklat itu, melirik ke arah Rumina, perempuan yang baru saja bergelung bersamanya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita sebatas dada. Sementara itu, ia mendengar seseorang di seberang sana bicara.


“Hmm... baiklah, tunggu sebentar lagi, ya? Aku akan segera ke sana!” katanya lagi.


Sejenak kemudian hening.


“Iya, aku bersama Mina!” Alza kembali berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari Rumina.


Mina, gadis yang biasa ia dipanggil demikian, menoleh, tatapannya bertemu dengan wajah laki-laki yang sedang tersenyum ke arahnya.


Ia pun bertanya, “Siapa? Megan atau Alena?” Dengan wajah cemberut, lalu membelakangi Alza. Sementara itu, pria itu baru saja mengakhiri teleponnya.


“Megan, dia menyuruhku cepat pulang ...!” jawab Alza sambil beringsut dan merebahkan dirinya kembali di sisi Rumina.


“Terus, kalau itu Alena?”


“Alena? Aku tidak akan sudi melepaskanmu!” kata Rumina seraya bergeser menarik tangan Alza dan memeluknya.


Keberadaan Alena bagi rumah tangga barunya seperti duri yang mengganggu sebab wanita itu tidak akan membiarkan wanita yang bersama Alza hidup dengan tenang. Berbeda dengan Megan, istri pertama suaminya itu, sudah tak berdaya dan hanya bisa duduk di kursi roda. Wanita itulah alasan pernikahannya.


Rumina mencintai Alza dan rela mengorbankan nyawanya, asalkan ia bisa memadu kasih kapan pun ia mau dengan pria itu. Ia mengakui keinginannya begitu naif, hanya demi mendapatkan cinta sejatinya. Namun, ia juga manusia berhati yang tidak rela jika Megan membutuhkan Alza.


“Hmm... Apa tidak apa-apa, aku pergi sekarang?” kata pria itu sambil melingkarkan tangannya di perut Rumina dan mencium tengkuknya.


Rumina menggelinjang karena merasa geli. Suaminya yang baru ia nikahi secara siri paling tahu bagian sensitifnya. Apalagi saat diendus seperti itu, dia bisa merinding cukup lama. Bahkan, sekarang Alza seperti sengaja mengembuskan nafas hangatnya di kulit bagian belakang leher yang memang sensitif bagi wanita, tapi ia suka.


“Sudah, ah! Pergi sana, kasian Megan menunggumu!” Rumina berkata sambil menjauhkan kepalanya dari bibir Alza.

__ADS_1


“Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal sekarang? Padahal aku pikir kau mau mengulanginya lagi!” Alza menjawab dengan wajah sendu.


“Mungkin kamu yang mau mengulanginya lagi, bukan aku!”


“Ya sudah, kalau begitu aku akan pulang saja!”


“Pergilah! Sudah aku bilang, kan? Aku akan mengizinkanmu pulang kalau itu Megan yang meminta, tapi jangan harap aku akan membiarkanmu begitu saja kalau Alena yang meminta!”


Alza tersenyum lebar, seraya melanjutkan keinginan yang tiba-tiba muncul dan kembali merapatkan tubuhnya pada gadis yang selalu membuatnya gemes itu. Tangan kekar Alza kembali bermain di atas dada lalu mengulum bibir Rumina dengan lahap.


Gadis itu tidak bisa menolak pesona dan hasrat Alza yang begitu kuat.


Mereka pun mengulangi perjamuan tubuh yang baru saja selesai beberapa jam yang lalu, sebelum mereka tertidur. Mereka terbangun karena mendengar suara ponsel yang terus berdering.


Nyanyian hasrat dua insan bertemu pada satu wadah bagaikan anak panah dan busur hingga menjadi kesatuan irama yang menghanyutkan dan melenakan rasa. Setelah mereka selesai, Alza beranjak meninggalkan tempat tidur dan memakai pakaiannya kembali.


Ia mencium kening Rumina, gadis sederhana yang baru ditemuinya beberapa bulan saja, tapi sudah bisa membuatnya jatuh cinta.


“Aku pergi dulu!” kata Alza setelah selesai berpakaian. Ia melangkah ke luar pintu kamar yang biasa ia gunakan memadu kasih dengan istrinya.


Saat ini ia berada di rumah Rumina yang kecil dan berdiri di ujung jalan Losely, kota Gillead pusatnya provinsi Jawarasen. Rumah itu dekat dengan tempat mereka bekerja dalam satu perusahaan yang sama.


Meskipun mereka telah mengalami kejadian yang tidak mengenakan, yang penting sekarang mereka saling mencintai. Itu saja sudah cukup. Adapun, masalah yang menyusul dalam pernikahan mereka, selama ini masih bisa diatasi karena biasanya terkait masalah Megan atau Alena.


“Oke! Sampaikan salamku pada Megan!”


Ucapan Rumina seketika membuat Alza menghentikan langkahnya dan tangannya mengeras saat memutar pegangan pintu. Sesaat sebelum berangkat bekerja, wanita itu tersenyum sangat aneh padanya dan tatapan matanya pun tidak biasa.


“Alza, kalau aku sudah mati nanti, apakah kamu masih mencintaiku?” pertanyaan yang aneh itu terus saja mengganggu pikirannya. Ia sudah berusaha melupakannya dengan bergelut di balik selimut Rumina. Namun, ia tak sanggup melenyapkan bayangan saat Megan memandang dengan tatapan aneh pada dirinya.


Sesampainya di rumah, Alza benar-benar terkejut dengan kepanikan Leni yang menyambutnya di ruang tamu.


“Ada apa?” tanya Alza sambil melepaskan dasinya dan terus berjalan ke arah kamarnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


Masih penasaran?😊


__ADS_2