
Mengasuh Sesuatu Yang Indah
“Masuklah! Kalau mau menangis, jangan di sini!” Rey berkata sambil mengulurkan tisu.
Rumina menengok ke sumber suara dan melihat sapu tangan putih yang terulur di depannya, itu tidu dari Rey. Ia mengambil tanpa sungkan, lalu mengusap pipinya dari bekas air mata sambil berdiri.
“Maaf kalau mengganggumu!” katanya.
“Masuklah, ada Bibi Leni yang akan menunjukkan kamarmu dan menjelaskan apa yang harus kamu lakukan di sini,” Rey berkata sambil memberi isyarat dengan dagunya agar Rumina segera masuk ke dalam rumah itu.
Rumina mengangguk dan meninggalkan Rey masuk tanpa berkata apa-apa lagi sesudahnya. Ia mengikuti langkah seorang wanita yang dimaksud Rey--Bibi Leni namanya. Ia berumur sekitar 60 tahun dan sudah menjadi kepala pelayan di rumah besar itu selama lebih dari 20 tahun. Wajahnya serius dan tanpa banyak bicara membawa gadis itu memasuki sebuah kamar kecil di ujung lorong.
“Kamar ini memang kecil, tapi ada fasilitas lengkap di dalamnya!” kata Wanita itu sambil membuka lemari satu pintu yang kosong. Maksudnya adalah, ia mempersilakan Rumina, untuk menyimpan semua barang-barang yang diambil dari asrama di sana.
Pandangan juga melihat ke arah kamar mandi yang terletak di sampingnya. Ia sendiri yang membersihkan kamar itu, dengan harapan besar jika Rumina adalah wanita terakhir yang menjadi penghuninya.
“Baik bibi terima kasih!” kata Rumina sambil menyimpan koper kecil yang ia bawa dari Mayore. Ia berniat bermalam selama dua atau tiga hari saja, saat pelatihan. Jadi, barang bawaannya hanya sedikit sesuai keperluannya. Namun, saat menghadapi kenyataan kalau ia akan tinggal di sana dalam waktu yang tidak ditentukan, ia hanya bisa mengangkat bahunya pasrah.
Rumina menyimpan semua bajunya di lemari, setelah melihat bahwa tempat itu tampak sudah bersih. Ia bisa langsung menempati tanpa susah payah.
“Kalau kamu membutuhkan sesuatu bilang saja padaku aku akan membantumu kalau aku bisa!” kata Leni sambil duduk di sisi tempat tidur yang hanya cukup ditempati satu orang saja.
Rumina menatap wanita itu dengan tatapan aneh tapi tetap tersenyum, “Tidak perlu Bibi, karena aku bukan tamu di sini, tapi kedudukanku jauh lebih rendah darimu!” katanya sambil terus memindahkan barang dari kopernya.
Setelah menghela napas, Leni menjelaskan semua tugas Rumina dengan perlahan dan hati-hati sekali. Gadis itu diminta untuk mengasuh Isabel, sebagai pengajar juga sebagai teman. Tiga tugas utama itu harus bisa ia lakukan dengan baik. Selama ini seorang pengasuh saja tidak cukup, sebab sejak kecelakaan itu, Megan mengurangi semua kontak dengan orang asing pada anaknya.
Rumina mengerti dan menyanggupinya tanpa banyak bertanya. Bila Isabel tidur, maka ia harus membantu beberapa tugas lainnya, tapi hal itu pun disanggupinya. Tidak masalah sebab ia akan menjadi pengasuh seorang ciptaan Tuhan yang indah. Ya, Isabel sangat menggemaskan.
Leni keluar kamar dengan bernapas lega. Rumina tidak banyak protes, itu sudah menjadi nilai lebih.
Tidak boleh ada seorang wanita pun yang mengambil kesempatan, dengan mengambil hati Isabel, untuk menarik perhatian suaminya. Anak bukanlah alat, untuk mendapatkan cinta seorang pria. Pengasuh dan pelayannya yang terakhir pun diusir oleh Megan, setelah ia melihat mereka mengerlingkan mata pada Alza.
__ADS_1
Ia merasa mereka—para wanita itu, hanya tertarik pada suaminya, setelah mengetahui kekurangannya, tanpa menyayangi Isabel juga.
Semua wanita yang mendekati Isabel haruslah lulus ujian ketulusan dan ini menjadi rahasia antara Leni dan Megan saja.
Sebab sebelumnya, seorang pengasuh tidak sanggup untuk, menjadi pengajar dan teman hingga ia batal mendapatkan kontraknya. Oleh karena itulah Megan menyaring beberapa wanita yang kedapatan menyukai suaminya, untuk di uji di rumah, dan tidak ada satu pun di antara mereka yang lolos.
Mencintai suaminya, berarti harus satu paket dengan anaknya. Jadi, kalau Megan pergi nanti, ia tidak perlu khawatir bila Isabel berada di tangan wanita yang salah.
Namun, Alza pria yang tidak mudah tergoda. Bagi sebagian orang, sikapnya merupakan kelebihan. Biar bagaimanapun juga, memiliki pasangan yang setia hanya dengan satu pasangan saja adalah, kebahagiaan sesungguhnya. Namun, di lain sisi, sikapnya bisa menjadi kekurangan, apabila dihadapkan pada kenyataan bahwa, sang istri yang tidak bisa melayani tapi ia tidak mencari pelampiasan. Bisa jadi sebagian orang menilai jika ia pria yang memiliki kelainan.
Saat kejadian di Mayore, adalah karena Megan yang memaksanya untuk melampiaskan, dengan mencari wanita yang bersih. Alza mau menuruti setelah istrinya meyakinkan bahwa dirinya bukanlah wanita yang mudah cemburu. Apalagi ia tahu jika suaminya membutuhkan jiwa raga yang sehat.
Saat Rumina sudah mulai bekerja keesokan harinya, tubuhnya dalam keadaan segar dan ia cukup semangat mengenal lebih jauh dengan Isabel. Ia sama sekali tidak punya niat menggunakan segala kemampuannya untuk menjadi pengasuh seperti yang diinginkan Megan. Ia hanya perlu mengikuti hari nuraninya saja.
Segala sesuatu yang dipaksakan akan lebih sulit untuk dijalani sebab masa depan seseorang tidak pernah bisa ditebak bagaimana akhirnya suatu saat nanti. Jadi, agar lebih mudah, seseorang hanya perlu tahu diri dan tahu situasi.
Sebelum Isabel bangun, Leni memintanya membuat bubur dan wanita itu melihat kegesitan dan hasil masakan Rumina tidak buruk.
“Apa kamu biasa membuat bubur?” tanya Leni.
“Kalau Nona Isabel bangun nanti, suapi dia dan kamu harus bisa membujuknya!”
“Siapa yang akan membujuknya kalau ia tidak punya pengasuh?”
“Tidak banyak pengasuh yang bertahan karena Nyonya terlalu banyak menuntut, kuharap kamu mampu bertahan!”
“Ya, aku berharap begitu!”
“Aku tahu masalahmu di perusahaan, kalau kamu tidak sanggup, maka jangan salahkan Nyonya atau Tuan kalau mereka meminta kompensasi!”
Ucapan Leni bermaksud menguatkan Rumina agar tidak mudah menyerah.
__ADS_1
“Ah!” Rumina bergumam sambil memalingkan wajahnya, ia sebenarnya muak dengan para orang kaya yang selalu mengukur segalanya dengan uang.
“Apa kamu tidak punya pakaian lain selain baju kantor itu?”
“Tidak Bibi, aku punya pakaian lain tapi itu jas laboratorium, aku tidak yakin mau memakainya!”
Leni mengernyitkan alisnya, tapi ia paham kalau Rumina tidak memiliki banyak pakaian di lemarinya.
“Jangan pakai baju seperti itu, Tuan tidak suka!”
“Kenapa harus Tuan, bukankah aku bekerja untuk Nyonya?”
Leni tak menjawab, ia melirik jam tangannya dan memberi Rumina sebuah nampan.
“Bawa masakanmu ke kamar Nona, aku yang akan membawa untuk Tuan dan Nyonya!”
“Haa? Mereka akan makan bubur buatanku juga?”
“Ya! Aku pikir Tuan harus mencicipinya!”
Lagi-lagi ucapan Leni membuat Rumina heran, sebab sesuai perjanjian bahwa semua yang ia lakukan bukan atas nama dan demi Alza, melainkan untuk Megan dan putrinya.
Terserah!
Rumina berjalan ke lantai dua dengan hati-hati sambil membawa nampan di tangannya.
“Permisi, Nona Isabel! Apa kamu sudah bangun? Bolehkan aku masuk?” kata Rumina dengan nada manja seolah ia sedang bercanda dengan adiknya sendiri.
Isabel sudah berumur hampir enam tahun—itulah yang dijelaskan Leni pada Rumina. Padahal saat pertama kali mereka bertemu, anak itu seakan baru berumur antara empat atau lima tahun saja. Namun, di usianya itu, ia belum sekolah dan belum bisa banyak hal karena masa lalunya. Sang ibu terlalu protektif hingga menunda masa kanak-kanak berjalan dengan lambat.
“Ya! Masuklah!”
__ADS_1
Rumina tertegun sebentar. Suara itu ... seperti bukan suara anak umur tujuh tahunan.
❤️❤️❤️❤️