Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab Penutup


__ADS_3

Kehilangan Yang Tidak Pernah Disesali


“Nyonya, Tuan! Tidak mau bangun dan hanya diam!” jawab Leni sambil menangis.


Leni merasa Megan tak akan lama lagi bertahan. Ia melihat Megan begitu kesakitan, tapi setiap kali ia meminta wanita itu ke rumah sakit, Megan hanya menggeleng. Dari pagi setelah kepergian Alza, ia sama sekali tidak bicara. Hanya Leni yang tahu betapa kerasnya Megan, saat napasnya sesak, tapi tetap menolak dokter. Padahal, dokter pun memaksanya untuk bisa bertahan lebih lama dan dipasangi alat-alat bantu di ICU.


Namun, wanita itu menyimpan gunting di bawah tempat tidur. Ia mengancam akan melenyapkan nyawanya sendiri kalau semua orang berusaha membawanya ke rumah sakit.


Melihat keadaan Megan yang terbaring lemah di atas tempat tidur, Alza pun terenyuh hatinya. Ia mendekat, memeluk dan menciumi seluruh wajah istrinya. Saat itu karena terlalu kuat mengusap kepala, wig yang biasa dipakai untuk penutup rambut yang sudah rontok dan biasa di pakai Megan, pun terlepas begitu saja membuatnya terkejut.


Mengetahuinya, pria itu semakin gusar dan bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi.


Leni yang melihat semuanya pun merasa tak berdaya. Ia pun mengatakan semuanya dari awal sampai akhir, apalagi, ia melihat jika bibir Megan sudah tidak bergerak lagi. Artinya wanita itu tidak akan melarangnya bercerita tentang apa yang dialaminya dan disembunyikan dari suaminya selama ini.


Alza menyalahkan dirinya sendiri, namun ia pun tak berdaya. Ia kecewa karena selama ini begitu percaya pada istrinya dan tidak perhatian lebih jauh lagi. Namun, ia tidak bisa mengembalikan semuanya, karena walaupun ia berusaha sekuat mungkin sekarang keadaan Megan sudah berada di titik akhir.


Sampai keesokan harinya, Megan tetap seperti itu. Kata dokter, sebenarnya kalau sekarang Megan berada di ruang ICU maka bisa disebut dalam keadaan kritis mereka tidak akan tahu apakah Megan bisa berhasil melalui keadaan itu atau tidak. Namun karena Medan menolak untuk dirawat di rumah sakit mereka hanya bisa menunggu.


Sementara itu Leni merahasiakan keadaan Megan dari Isabel. Ia meminta Rumina untuk menjemputnya dan belajar di rumahnya sendiri.


Isabel dan Rumina belajar dan bermain seperti biasanya hingga sore hari.


Baik Leni maupun Alza, tidak mengatakan apa pun yang terjadi kepada Rumina dan Isabel tentang keadaan yang sebenarnya di rumah utama.


Namun, di saat yang sama, Isabela sangat rewel dan meminta untuk bertemu dengan ibunya. Ini agak tidak biasa. Padahal, saat itu Rumina tidak bisa menghubungi siapa pun untuk diminta tolong membawa gadis kecil itu pulang ke rumahnya sendiri. Telepon Alza, Rey dan Leni, tidak bisa di hubungi.


Akhirnya dengan terpaksa, ia membawa sendiri Isabela pulang dengan memesan taxi. Namun, begitu ia hampir tiba di rumah, justru gadis kecil itu sudah tidur.


Setelah turun dan membayar taxi, Rumina menggendongnya ke kamar dan ia sedikit terkejut saat melihat pintu yang menghubungkan kamar Isabel dan kedua orang tuanya terbuka. Gadis itu berniat iseng untuk melihat keadaan di dalam sana. Ia mendengar suara isak tangis Alza.


Rumina heran, sebab dari tadi pagi saat ia menjemput Isabela, semuanya baik-baik saja. Dari pintu itu, ia melihat sosok Alza yang membelakanginya, sedang memangku Megan dengan mesra.


Rumina menyesal telah melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Ia melihat sendiri, meski dari belakang, tapi ia tahu pasti apa yang terjadi.


Malam itu, Megan pergi dengan damai, kepalanya yang tidak lagi ditumbuhi rambut terkulai di pangkuan Alza—suaminya.

__ADS_1


“Megan, kamu sudah pergi, tapi masih saja menggodaku!” Alza bicara sambil mencium pipi tirus istrinya yang sudah menjadi mayat.


Mendengar ucapan itu, Rumina berbalik pergi, sambil berkata dalam hati, “Sadarlah, Rumi! Kau tidak akan pernah mendapatkan cinta dari seorang pria, sebesar cinta Tuan Alza pada istrinya.!”


Rumina berbalik dan menidurkan Isabel ke tempat tidurnya, sambil berpikir jika selama ini--walaupun ia sudah sering bergelut dengan Alza--laki-laki itu tidak pernah spontan mengatakan perasaannya.


“Mami ...!” gumam Isabel lirih dan matanya tiba-tiba terbuka.


Rumina tidak tahu, mami yang mana yang ingin ditemuinya saat itu.


“Mami ada di kamar!” sahut Rumina lembut, “Apa kamu mau bertemu Mami sekarang?”


Isabel mengangguk dan saat itu juga hati Rumina seperti tercabik-cabik, ia mengerti bagaimana perasaan anak ini saat kehilangan ibunya. Walaupun Megan bukan ibunya, tetapi ia juga merasa bahwa wanita itu sudah sangat baik tentu saja ia ikut kehilangan.


Benar saja, ketika Isabella melihat ibunya yang sudah tak bernyawa dan berada di pangkuan Alza, ia menolak untuk percaya.


Alza mengatakan hal yang terjadi, maka anak itu pun menangis sekuat tenaga, sampai ia terduduk di lantai dan berteriak memanggil maminya. Biar bagaimanapun Isabel sudah berusia tujuh tahun. Ia sangat mengerti tentang apa itu kematian karena di masanya ia sudah menyaksikan dua kehilangan sebelumnya yaitu, kakek dan neneknya. Lalu, sekarang ia harus menyaksikan ibunya sendiri yang meninggal dunia.


Megan di makamkan keesokan harinya dan sejak saat itu Rumina tidak lepas dari Isabel, ia mendampingi anak itu dengan sabar dan menenangkannya dengan sangat baik. Ia berperan menjadi pendamping yang sesungguhnya bagi anak sambungnya. Ia mengerti bagaimana rasanya kehilangan seperti yang dirasakan Isabel.


Namun, sejak pemakaman berakhir, Alza justru tidak muncul di mana pun, pria itu seperti hilang ditelan bumi. Bahkan, saat Rumina mencari informasi ke kantor Robinson demi memuaskan kerinduan dirinya dan Isabel Alza tidak ada di sana, tidak ada informasi apa pun tentang CEO dari perusahaan itu.


Dan yang lebih parah lagi, Rumina mengetahui jika Alena sedang bersama dengan Austin, bagaimana bisa iya percaya. Laki-laki itu mengakui bahwa, ia sudah lama berpacaran dengan sekretaris pribadi Alza.


“Lalu, bagaimana dengan Kakakku? Apa kamu mencampakkannya?” tanya Rumina.


“Tidak! Aku bersamanya kalau di Mayore! Jangan kuatir! Aku masih baik padanya, karena aku berjanji tidak akan meninggalkannya, tapi aku sama sekali tidak berjanji kalau aku tidak memiliki wanita lain selain dirinya!”


Hati Rumina semakin sakit, sepekan yang lalu suaminya pergi meninggalkannya dan sekarang ia tahu kakaknya telah dikhianati oleh laki-laki yang sangat dijaganya.


Saat itu Austin bercerita kepada Rumina bagaimana pertemuannya dengan Aqila, lalu mengatakan apa yang menjadi penyebab wanita itu begitu posesif.


“Jadi, jangan paksa aku dengan sesuatu yang aku sendiri tidak menyukainya, aku dulu terpaksa agar ia tidak bunuh diri di jembatan dan mati di jalan Raya dengan sia-sia, tapi wanita yang sesungguhnya aku cintai adalah Alena!”


Mendengar ucapan Austin itu, Rumina tidak berdaya Ia pun pergi dari Robinson begitu saja, sambil menggandeng Isabel di tangannya. Ia memang merasa prihatin, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa pada rumah tangga kakaknya. Selama Akila tidak mengetahui perselingkuhan itu dan Austin tetap melakukan hak Akila, maka itu sudah jauh lebih baik.

__ADS_1


Rumina memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya di Mayore, untuk menghibur diri. Ia berkata jujur kali ini apalagi sulit menghubungi kedua orang tuanya itu hingga tidak ada jalan lain selain kembali di rumah masa kecilnya.


Ia membicarakan semuanya secara terbuka dengan Leni dan ia pun siap membawanya, kalau Leni tidak percaya untuk melepas Isabel begitu saja. Ia sudah bersabar kali ini bahkan sudah hampir satu bulan Alzaa tidak kembali. Jadi, untuk apa Ia tetap ada di sana kecuali untuk Isabella. Selama bekerja, ia tidak bisa bebas pergi ke mana-mana. Ia menggunakan kesempatan ini untuk menengok kedua orang tuanya.


Namun, begitu terkejut Rumina dan Isabel saat mereka sudah bersiap ke Bandara dengan menggunakan taxi. Tiba-tiba Alza muncul di hadapan mereka dengan penampilan yang berbeda.


Pria itu tidak rapi dan wajahnya pun dibiarkan ditumbuhi bulu-bulu.


“Papi ...!” teriak Isabel, sambil berlari memeluk ayahnya, mereka saat itu sedang berdiri di samping kendaraan yang siap membawa Mereka pergi.


Leni Leni tersenyum sedangkan Rumina menitipkan air mata terharu Ia tidak menyangka jika suaminya akhirnya kembali juga.


Alza melangkah mendekati Rumina dan memluknya erat dengan Isabel di tangannya.


“Maafkan aku! Aku pergi untuk menenangkan diriku sendiri, tanpa memberitahumu!” kata Alza di telinga istrinya yang sebenarnya sangat ia rindukan. Tapi, ia tidak bisa menemui wanita itu selama rasa bersalah pada Megan masih bercokol di hatinya. Ya, karena itulah ia pergi ke suatu tempat, yang semua orang tidak tahu. Ia bersembunyi di villanya sendiri, yang dibangun oleh kakaknya di tepi pantai, ujung paling barat kota Gilead.


“Ya aku sudah menduganya, karena kau begitu kehilangan Megan, aku pun percaya ... aku juga kehilangan wanita seperti dia! Dia wanita hebat yang luar biasa, maaf aku tidak bisa mengatakan apa pun waktu itu karena kau begitu larut dalam kesedihan!” kata Rumina, seraya menatap suaminya penuh arti.


“Baiklah, sudahlah jangan ingatkan aku lagi!" Bagi Alza, setelah mengetahui semua yang disembunyikan oleh Megan, maka kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang tidak perlu disesali sebab memang seperti itulah yang diinginkannya. Istrinya akan menderita lebih lama kalau Tuhan menunda kematiannya lebih lama.


"Apa kamu akan pergi ke rumah orang tuamu?” katanya lagi.


“Ya! Kami sudah siap hendak ke Mayore!"


“Hmm ... aku ikut, aku akan melamarmu secara resmi dan kita akan menyelenggarakan pernikahan kita dengan pesta, apa kamu setuju?”


“Tentu saja!”


“Hore! Mami, kita mau pesta!” teriak Isabel.


Mereka bertiga saling melemparkan senyum bahagia.


TAMAT


😇 Terima kasih sudah membaca ceritaku semoga bisa menghibur! Happy Ending, kan, ya?

__ADS_1


Jangan lupa baca ceritaku yang lain ya ... terima kasih atas dukungan kalian selama ini, salam dariku, El Geisya Tin 😊


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2