
Mencintai Tidak Harus Memiliki
“Ya, Bu Alena, ada apa ya?” Rumina balik bertanya, “Apa Anda sengaja menunggu saya di sini?” Saat bicara Rumina menelisik penampilan Alena yang masih sama dengan saat mereka bertemu tadi pagi.
Alena tersenyum hambar, sambil menoleh pada sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari mereka.
“Apa Rey yang mengantarmu?” ia balik bertanya.
Rumina mengangguk melihat arah yang sama. Rey masih bertahan diposiisnya tanpa berbuat turun, padahal rasa penasaran seperti ingin berteriak di otaknya.
“Apa kau dari rumah Tuan Alza?” tanya Alena lagi dan Rumina kembali mengangguk.
“Apa kau sudah berkenalan dengan istrinya? Bagaimana Megan menurutmu?”
“Apa Iibu menunggu saya di sini hanya ingin bertanya soal itu?”
“Ya, tapi jangan salah paham, aku tidak akan marah dan hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu soal Megan saja!”
“Begitu melihatnya, aku kasihan, tapi kemudian aku salut! Dia wanita hebat yang—kalau boleh memilih maka tidak seharusnya ia mendapatkan nasib yang begitu, tapi hidup manusia tidak ada yang sempurna bukan? Bahkan orang kaya raya sekalipun ternyata tidak bahagia!” Rumina teringat saat wanita itu menampar pipinya.
“Apa kau diminta untuk meninggalkan pekerjaanmu olehnya?”
“Maaf, Bu Alena! Saya rasa ini adalah urusan pribadi. Jadi, apa pantas kita membicarakannya?”
“Jawab saja pertanyaanku!”
“Maaf saya tidak bisa, karena apa yang terjadi pada saya di rumah Tuan Alza, bukanlah urusan Anda!”
“Ya, aku tahu, tapi jawabanmu akan mempengaruhi pendirian dan masa depanku!”
“Kenapa?”
Alena diam sebentar, ia melihat ke langit yang gelap tanpa bintang. Sepertinya besok akan segera turun hujan. Tidak adanya bintang di langit menandakan ada awan tebal yang menutupinya.
Alena merasa miris, saat teringat nasibnya beberapa tahun yang lalu, ketika ia diajak untuk berjumpa dengan Megan yang ingin bertemu. Awalnya iya sangat takut dipecat karena Megan marah. Setelah tahu kalau dirinya jatuh cinta pada suaminya. Semua karena ada desas-desus di kantor yang mengabarkan kedekatannya dengan Alza. Bukan hanya dirinya, beberapa wanita yang terlihat dekat dengan pria itu pun pasti dia akan dipertemukan dengan istrinya.
“Aku mencintai Alza, sangat ...,” katanya lirih, “Dan, selama Megan belum menjatuhkan pilihannya, maka aku akan setia mendampinginya sebagai sekretaris tanpa mencintai pria lain!”
Rumina tertegun, tidak menyangka kalau wanita di hadapannya itu akan mengakui perasaannya secara jujur begitu cepat, padahal mereka baru kenal beberapa jam yang lalu.
Takut kehilangan, perasaan yang biasanya membuat orang sering bertindak irasional, gegabah dan tidak tahu malu.
__ADS_1
Walaupun, urusan hati Alena di luar kendalinya, tapi mau tidak mau Rumina harus mendengarkan pengakuan itu. Mengingat keputusannya yang rela meninggalkan karier, berkaitan dengan wanita yang sekarang sedang bicara.
Sementara soal apa yang terjadi di balik kepasrahannya, Alena dan siapa pun tidak perlu tahu.
“Dulu, Megan pernah memintaku untuk meninggalkan pekerjaan kalau aku memang mencintai Alza ... entah kenapa dia begitu aku juga tidak tahu, tapi aku menolak! Menjadi sekretaris adalah, impian terbesarku! Kalau kau mau menerima permintaannya, maka aku salut padamu dan aku akan mendukung kalau kamu-lah yang akan menggantikan posisinya kelak di sisi Tuan Alza!”
“Apa kau bercanda? Itu tidak mungkin!”
“Apa kau punya masalah dengan Tuan sebelum kalian bertemu di sini?”
“Aku sebagai pegawainya di cabang ketiga, tidak lebih ... aku pun tidak pernah bermasalah dengan pekerjaan!”
Alena mengangguk, “Aku pikir kau pernah menyinggungnya!”
“Entahlah, kalau soal itu ... mungkin ada perbuatan atau perkataanku yang menyinggungnya, tapi aku tidak tahu!”
“Baiklah, kalau kau ditawari hal yang sama seperti aku oleh Megan, maka terimalah, dia mencari wanita yang mencintai Tuan Alza dan mau menjadi ibu rumah tangga saja!”
“Apa kau menilaiku mencintai Tuan Alza?”
“Aku rasa semua wanita seperti kita pasti menyukainya!”
“Ya, aku tahu perasaan seperti itu wajar dimiliki siapa saja ... seperti perasaan memiliki idola, iya, kan?”
“Ya! Soal permintaan Megan! Akan aku pertimbangan saranmu nanti ...,” kata Rumina sambil berbalik dan melangkah ke pintu gerbang asrama. Ia tidak perlu berbasa-basi lagi pada Alena, karena setelah pelatihan berakhir pun mereka tidak akan bertemu lagi
“Bauklah, kalau begitu aku bisa bebas mencintai orang lain!”
Rumina hanya mengendikkan bahunya, “Terserah!” katanya. Apa pun yang akan dilakukan Alena ia tidak harus peduli.
Sambil berjalan masuk, ia berpikir tentang apa yang mereka dibicarakan barusan. Sungguh penantian yang sia-sia bagi wanita secantik Alena. Selama hampir tujuh tahun menjaga cintanya pada Alza tapi justru menyerahkannya pada wanita lain yang baru saja muncul dalam hidupnya.
Namun pergantian orang di sekitar, setiap hari selalu bertemu dengan orang yang baru pun hal yang biasa, dan jika perasaan seseorang berubah juga termasuk hal yang biasa pula.
Cinta Alena benar-benar tulus pada pujaan hatinya. Ia memilih tidak memaksakan diri dan cukup bahagia karena melihat orang yang dicintainya bahagia.
Rumina pikir ungkapan itu hanya ada di masa lalu, cinta tak harus memiliki. Namun, setelah melihat Alena sekarang ia mengerti jika kondisilah yang membuat seseorang mengambil keputusan untuk mencintai seseorang hanya dalam hati. Semula ia pikir Alena akan marah atau menjadikan dirinya sebagai rival, ternyata ia salah, wanita itu justru mendukung hubungannya dengan Alza.
Rumina menganggap Alena dan Megan adalah, dua wanita yang aneh, karena menyodorkan wanita lain pada Alza—orang yang dicintainya pada wanita lain. Apa mereka tidak punya rasa cemburu? Padahal kelihatannya Alza sama sekali tidak mencintainya.
Gadis itu tidak akan menjalin hubungan tanpa cinta karena lebih baik jadi teman saja.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, semua temannya mengajaknya bicara tapi ia sudah sangat lelah, hingga memilih untuk langsung tidur setelah mencuci kaki dan mukanya. Ia mengabaikan para wanita yang berisik mempertanyakan di mana dirinya menghilang seusai acara.
$$$$$$$$$$$$$
Alena berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya sesaat setelah Rumina berlaku dari hadapannya.
Tiba-tiba Rey menghadangnya setelah keluar dengan cepat tanpa menutup pintu mobil.
“Tunggu!” katanya, sambil mencekal pergelangan tangan Alena yang melewati dirinya begitu saja seolah dirinya tidak ada.
“Rey! Lepas!” serunya sambil menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Rey.
“Apa yang kau inginkan! Ini sudah malam, Rey! Aku mau pulang, menyingkirlah!” katanya lagi.
Saat ini posisi Rey menghalangi antara dirinya dan mobil hingga ia butuh usaha kalau ingin segera pergi dari sana.
“Apa kau masih mau bertahan dengan Tuan Alza, walau dia tidak mencintaimu dari dulu? Jadilah pacarku, Alena ... sepertinya sudah ada Rumi yang akan menggantikan Megan nantinya!”
“Bukan urusanmu! Rey, bukankah aku sudah sering bilang, berhenti menggangguku, aku juga tidak akan memilihmu walaupun, Tuan Alza membenciku!”
“Kau naif sekali, ,Alena! Bukankah sudah kubilang cintaku lebih besar padamu, daripada cinta Alza pada Megan!”
“Sudahlah, Rei, aku juga bilang aku lebih tua darimu! Dan aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria yang lebih muda karena tidak mungkin aku bermanja-manja dengan anak kecil!”
“Alena aku bukan anak kecil!”
“Terserah! Tapi bayangkan saja berapa perbedaan umur kita, Rey!”
“Hampir lima tahun dan aku tidak peduli!”
Alena mendorong Rei dari hadapannya hingga ia bisa mencapai mobil. Ia segera membuka pintu untuk mengendarainya. Namun, sebelum itu ia menoleh pada laki-laki yang masih menatap, sambil bersedekap dada dan wajahnya penuh rasa kecewa.
“Tawarkan cintamu pada Rumi kalau memang dia menolak untuk menuruti keinginan Megan nanti!”
Setelah berkata seperti itu ia segera menutup pintunya dan menekan gas, lalu pergi meninggalkan Rei yang termangu seorang diri.
Rei mengalihkan pandangannya antara mobil Alena yang terus menjauh dan asrama yang sudah mulai sepi. Ia berpikir sendiri dengan heran, kenapa ia menyukai semua wanita yang dekat dengan Alza. Laki-laki itu teringat saat pertama kali melihat Rumina, ia sangat terkesan, dan terpesona padanya. Namun, setelah mengetahui kejadian sebelumnya di rumah Rumina waktu itu, ia kemudian mengubur perasaannya rapat-rapat. Padahal ia berniat menjadikan gadis itu sebagai pengganti Alena.
“Ada apa dengan diriku ya Tuhan!” keluhnya sambi melangkah dan mengendarai mobilnya pergi.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1