Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 29


__ADS_3

Masih Memikirkan Dia


“Rey?” tanya Rumina sambil beranjak dari posisinya.


“Ya. Aku. Ayo ikut!” kata Rey lagi.


“Mau ke mana? Aku tidak mau!” kata Rumina menolak ajakan pria itu.


“Sudah kubilang ada yang akan aku bicarakan denganmu!”


“Bicara saja di sini!” kata Rumina kesal, padahal ia masih memikirkan dirinya sendiri dan dirinya--seseorang yang berhasil mengusik hatinya.


Rey menatap wanita yang ada di hadapannya, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan kesal. Ia tidak mungkin memaksa saat Rumina tidak mau mengikuti. Padahal, ia hanya mau memastikan jika tebakannya benar bahwa, gadis menyukai dan ingin menikah dengan Alza.


Ada sesuatu yang membuatnya penasaran, oleh karena itu ia mengajak Rumina bicara. Semua karena pengakuan Leni yang baru saja didengarnya.


Rey sudah biasa keluar masuk rumah besar itu dan secara tidak sengaja bertemu dengan Leni di ruang makan tadi. Ia baru saja mengambil minuman kaleng yang ada di lemari pendingin.


Ia begitu terkejut saat melihat Leni yang keluar dari kamar Megan, sambil mengusap air mata. Tentu saja ia curiga hingga bertanya tentang apa yang terjadi pada majikannya. Leni mengatakan semuanya karena sudah tidak kuat menyimpan rahasia majikannya lagi seorang diri. Ia butuh teman untuk berbagi dan Rey adalah orang yang tepat karena mereka sama-sama setia pada keluarga Robinson sejak lama.


Rey yang awalnya tidak percaya, pun akhirnya paham setelah Leni menunjukkan foto tentang hasil tes Megan di ponselnya. Wanita itu sengaja memotret lembaran kertas itu untuk berjaga-jaga. Lalu, pria itu pun berjanji akan menjaga rahasia yang disimpan Megan, sampai wanita itu mengatakannya sendiri pada suaminya.


Rey masih berdiri berhadapan dengan Rumuna di samping kolam renang itu dan saling memalingkan muka.


Lalu, Rumina kembali duduk di posisinya, kakinya tetap di tekuk dan tubuhnya bersandar di kursi malas di pinggir kolam renang itu. Ia malas meladeni Rey, karena hati dan pikirannya sedang sibuk meredam keputusasaannya. Sedikit lagi ia akan benar-benar rela melepas cintanya. Rasanya tidak ada wanita lain yang bakal mendapatkan cinta Alza sebesar cinta pria itu pada istrinya.


Rumina merasa tidak salah dalam mencintai, bahkan, dulu ia masih berharap bisa tidur dengan Alza sebagai bentuk kesungguhannya membalas jasa. Apalagi, mereka pernah berada dalam satu kamar, walau karena keterpaksaan. Namun, sekarang ia tidak berharap apa pun lagi padanya, setelah tahu bahwa, perbuatan Alza waktu itu kemungkinan karena terpaksa juga.


Tanpa diketahui Rumina, Alza memang datang ke hotel itu karena permintaan istrinya.


Kemudian, Rey duduk di samping gadis yang keras kepala itu, sambil menghela napsnya. Ia harus mengalah kalau tidak ingin membuat masalah. Asalkan rasa penasarannya terjawab saja itu sudah cukup.

__ADS_1


“Aku pikir kamu menyukai Tuan Alza, apa kamu mau seandainya jadi istrinya?”


“Bukan urusanmu! Apa hanya itu yang mau kamu katakan? Kalau tidak ada lagi, pergi sana!”


Rey menghela napas lagi dan berkata, “Kita sudah saling kenal, nggak ada salahnya jadi teman dan mengobrol.”


“Ya. Baiklah teman!” kata Rumina, ia tersenyum masam menanggapi ucapan itu.


Sejak bertemu dengan Rey, ia tak bisa seratus persen menganggapnya sebagai teman. Walaupun, pria itu baik dan bersikap hangat, tapi tetap saja ia adalah kaki tangan Alza. Tentu saja tidak bisa sembarangan bersikap padanya.


Akhirnya Rey mengungkapkan semua uneg-uneg dalam hatinya, kecuali tentang penyakit Megan. Penyakit yang bisa merenggut nyawa kapan saja dalam waktu dekat. Ia tidak berhak mengatakannya sebab ia sudah berjanji pada Leni untuk merahasiakan juga.


Rumina mendengar semua ucapan Rey tentang Alza, kepribadiannya, prinsip dan kelemahan istrinya, dengan baik. Sesekali ia mengangguk saja saat menanggapinya. Lalu, setelah Rey selesai bicara, Rumina pun mengatakan apa yang ia rasakan pada Alza.


“Aku dulu pernah mengenalnya selama beberapa lama hanya sekedar atasan dan bawahan, lalu sejak aku bertemu di kamar itu, aku pun berniat menyerahkan diri padanya, tapi sekarang tidak lagi!”


“Kau tidak ingin menjadi kekasih atau istri Tuan Alza?” Rey mengulangi pertanyaannya.


“Apa kamu bercanda? Apa laki-laki seperti dia bisa mencintai wanita lain, selain Megan? Aku pikir tidak! Aku tidak mau menjadi istri bonekanya!”


Rey tidak mencegahnya masuk rumah karena ia sudah bisa menyimpulkan apa yang ada dalam pikiran Rumina. Walaupun, kehidupan mereka--Rumina, Alza dan Megan, bukanlah urusannya, tapi ia tetap prihatin.


Setelah itu, Rey pergi meninggalkan rumah besar dan pergi ke rumahnya sendiri.


Di kamarnya, Rumina baru saja merebahkan diri setelah berganti pakaian, lalu menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Namun, baru saja hendak menutup mata, ia mendengar suara pintu di ketuk dari luar. Gadis itu segera beranjak untuk membukakan pintu, tanpa menaruh curiga dan bertanya siapa yang datang sebab biasanya hanya Leni yang mengganggunya untuk sekedar mengobrol tentang perkembangan Isabela atau memintanya memijit punggung.


“Ada ap—“ ucapan Rumina terputus, saat ia membuka pintu. Ia begitu terkejut melihat Alza berdiri di depannya dengan penampilan yang berbeda. Pria itu memakai baju tidur jubah panjang berwarna abu-abu gelap dengan bahan yang lembut, dan hanya terikat dengan satu tali saja.


Selama berada di rumah besar, Rumina tidak pernah melihat Alza memakai panjamas, membuat pria itu semakin memesona di matanya.


Rumina mengutuk perasaannya sendiri yang kembali tergoda padahal sudah susah payah meredam segala sesuatu yang berhubungan dengan Alza di benaknya. Sekarang, ia kembali menghkayal menjadi pengantin dan memikirkan pria yang ada di hadapannya itu lagi

__ADS_1


“Tuan!” pekik Rumuna tertahann, ia segera menoleh ke kanan dan kekiri karena khawatir akan ketahuan oleh orang lain kalau majikan laki-lakinya berada di kamarnya. Ia takut terjadi salah paham.


Alza tidak berkata apa-apa dan mendorong Rumina masuk kembali ke kamar dan menutup pintu setelah ia sendiri berada di dalam.


“Apa yang sudah kamu katakan pada Megan?” katanya sambil melangkah mendekati Rumina, membuat gadis itu pun mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur dinding.


“Apa maksud Anda?”


“Apa kamu membujuknya agar aku menukahimu?”


“Apa? Aku ti—“


“Kau seharusnya bersyukur aku tidak membuat hukuman yang berat padamu! Tapi kamu justru menjilat istriku? Hah!”


Rumina merasa dirinya difitnah sebagai penjilat. Tentu saja ia marah karena tidak pernah melakukan apa yang baru saja Alza tuduhkan itu.


“Apa maksud Anda? Aku tidak pernah men—“


“Jangan berusaha mengelak!” bentaj Alza dengan memutuskan ucapan Rumina. Ia kembali melangkah mendekati Rumina.


Dan, ia kembali berkata, “Aku sudah membuatmu tetap nyaman di sini dan tetap mendapatkan gaji seorang pegawai, tapi ini balasanmu?”


Alza menjilat bibirnya sendiri, saat bicara karena tiba-tiba saja ia merasa gelisah dan keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori di kulitnya. Secara bersamaan, badannya pun menghangat. Gadis itu seperti magnet yang memaksnya untuk terus mendekat dan membuatnya semakin penasaran. Hal seperti ini pernah ia rasakan saat pertama kali mereka saling berdekatan.


Alza seolah menjadi linglung hingga tubuhnya benar-benar menempel dengan Rumina yang sudah tidak bisa ke mana-mana karena terbentur dinding. Mereka benar-benar tersudut di sebelah ada lemari pakaian dan sebelah lagi adalah tempat pembaringan.


Rumina diam mematung dengan perasaan semakin takut dan waspada. Ia harus menjaga diri di rumah majikannya.


Alza justru terkejut dengan reaksi tubuh selanjutnya, dan jantungnya seperti melompat keluar. Berdekatan dengan Rumina secara tiba-tiba membuat miliknya menegang di dalam sana. Ia mengernyitkan dahi, karena khawatir tidak bisa menjaga diri hingga ia kembali berkata, “Baiklah! Akan aku ikuti permainanmu!”


“Permainan Apa?” Rumina berkata dengan cepat sambil mendorong Alza menjauh sekuat tenaga.

__ADS_1


“Akh!”


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2