
Tanpa Riasan Dan Busana
Dua orang itu saling tatap dalam diam, keadaan canggung. Namun beberapa detik kemudian mereka melangkah lebih dekat.
Ruang tengah tempat mereka bertemu, sama saja dengan tempat umum, banyak pasang mata yang melihat, entah di mana mereka bersembunyi. Jadi, Rumina tetap harus menjaga diri. Rumah itu luas dan sepi, para asisten hanya boleh berada di sana kalau diperlukan saja, tapi siapa yang bisa menjamin kalau mereka tidak mengintip.
“Aku sudah membaca dan menandatangani surat lamaranmu, tapi aku punya syarat dan Nyonya sudah setuju!” katanya langsung pada Alza tanpa basa-basi sebelumnya.
“Apa kamu terbiasa blak-blakan seperti ini?” tanya Alza.
Rumina tidak menanggapi dan hanya mengangkat kedua bahunya.
Mereka kemudian pergi ke ruang kerja, masuk tanpa menutup kembali pintunya.
“Baca saja syaratnya, semoga Tuan juga setuju!” kata Rumina sambil menunjukkan berkas yang sudah ia tandatangani.
“Jangan panggil Tuan kalau kamu sudah menyanggupi!” Alza berkata sambil memeriksa berkasnya. Ia mengerutkan alis saat membaca persyaratan dari calon istri keduanya itu.
Pantas saja Megan langsung setuju, ini terlalu mudah. Wanita itu sama sekali tidak meminta salah satu cabang dari perusahaannya.
“Ya, ya, terserah Anda mau di panggil apa!”
“Panggil namaku saja!”
“Baik!”
Suasana hening saat Alza masih membaca tulisan tangan Rumina pada selembar kertas yang ia selipkan di atas dokumen.
__ADS_1
“Gimana, Anda setuju, kan?”
“Kenapa kamu tidak mau tinggal di sini?”
“Sebaiknya pikirkan perasaan Megan kalau kamu memang serius mau menikah denganku, kita tidak mungkin tinggal satu rumah lagi!”
Pada dasarnya Rumina memikirkan perasaan istrinya.
“Pernikahan ini dia yang minta!” Alza merasa tidak bersalah.
“Oh, jadi kamu nggak mau? Ya sudah tolak saja!”
“Aku tidak bisa menolak apa pun permintaannya!”
“Ya sudah, kalau begitu, aku permisi!” Rumina berkata sambil berjalan menuju pintu.
“Siapkan dirimu besok kita akan mendaftarkan pernikahan ke kantor sipil!” kata Alza seraya duduk di kursinya.
Keesokan harinya, setelah sarapan mereka berdua pergi ke kantor catatan sipil, dalam satu mobil. Seperti biasa, Rey yang menjadi sopirnya.
Megan melepas kepergian suami dan Rumina dengan senyuman. Ia menatap mobil yang menjauh dengan pandangan kosong. Isabel ikut dalam gendongan ibu asuhnya karena ia tidak mau ditinggal.
Dalam hatinya ada dua rasa yang sedang bertarung, antara merelakannya dan takut kehilangan. Ia menjadi wanita paling bodoh yang menikahkan suaminya sendiri dengan wanita lain. Namun, di lain sisi ia tidak ingin egois dengan dirinya sendiri. Toh dalam waktu dekat ia akan meninggalkan dunia ini.
Megan memberi isyarat pada Leni untuk membantunya kembali ke kamar dan tidur. Ia sudah lelah duduk. Semakin lama semakin berkurang saja kemampuannya berpura-pura. Biasanya kalau Alza sudah pergi, ia masih kuat duduk selama satu atau dua jam sambil menemani anaknya. Namun sekarang tidak lagi, ia pun segera memejamkan mata setelah Leni menyelimutinya.
Sementara di mobil. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan itu karena mereka sudah pernah berada dalam satu mobil sebelumnya. Apalagi sekarang ada Isabel, yang terus berceloteh sepanjang jalan dan Rumina menjelaskannya dengan gamblang. Ada kehangatan di hati Alza menyaksikan secara langsung keakraban anak dan calon istrinya.
__ADS_1
Rumina di sisi lain, tidak pernah menganggap serius pernikahannya. Ia merasa tidak pantas, hanya palampiasan, dan membahagiakan Megan karena kasihan. Alza tidak mencintainya. Apalagi ia sering melihat Pria itu bersama Alena, hubungan mereka di kantor, sangat tidak biasa. Mungkin masih banyak wanita lain lagi selain dirinya. Menikah dengan majikannya adalah sebuah pekerjaan saja.
Rumina berdiri kaku, sambil menggandeng tangan Isabel di samping Alza. Dua laki-laki yang mencatat dan menjadi saksi pernikahan mereka, menatapnya dengan heran. Mungkin, dirinya adalah mempelai wanita paling sederhana yang datang ke sana untuk mendaftar. Biasanya para pengantin datang dengan pakaian terbaik mereka. Walaupun, sederhana, setidak-tidaknya memakai riasan dan semacamnya. Namun, dirinya tidak, Alza dan Megan tidak menyinggung soal pakaian. Ia datang dengan memakai kemeja dan celana panjang jeans biru miliknya yang sudah sering dipakai.
Setelah selesai, kini sesi pemotretan. Rumina mengulas senyum masam dan menoleh pada Alza yang berdiri diam di sebelahnya.
“Apa kamu nggak merasa pernikahan kita ini aneh?”
“Apa maksudmu?”
Rumina tidak menjawab dan kembali tersenyum masam, ia sadar tidak berhak untuk bertanya karena dirinya bukanlah istri sesungguhnya. Ini hanya syarat agar Megan bahagia.
“Apa Anda mau mengganti pakaian dulu, Nona? Kami punya beberapa set yang bisa di sewa untuk pengantin yang datang mendadak!”
Rumina menoleh pada seorang perempuan yang berdiri sambil memegang sapu dan menonton pemotretan. Saat itu mereka sedang mengambil gambar untuk di pasang pada buku nikah karena mereka tidak memiliki foto setengah badan.
“Biasanya, yang datang mendadak tidak pakai baju pengantin itu karena mereka tahu wanitanya hamil duluan ...!” kata wanita yang bertugas menjaga kebersihan itu lagi.
“Tidak perlu!” kata Rumina tegas.
Setelah selesai foto, mereka tinggal menunggu hasil dari cetak buku resminya sepekan kemudian.
Sekarang, mereka sudah kembali ke mobil, dua manusia yang sekarang sudah resmi menikah itu bersyukur Isabel tidak rewel dan tidak banyak bertanya.
“Aku heran, apakah harus melihat orang lain menderita baru bisa mati dengan tenang?” gumam Rumina sambil melihat ke luar jendela.
Walaupun, nada bicaranya lirih, tapi Alza masih bisa mendengar.. Pria itu mengerutkan alisnya cukup dalam, sambil mencerna ucapan Rumina barusan.
__ADS_1
“Siapa yang akan mati dengan tenang?” tanyanya
❤️❤️❤️❤️