Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 34


__ADS_3

Aku Hanya Asal Bicara


Walaupun, Rumina berbicara lirih, tapi Alza masih bisa mendengar. Pria itu mengerutkan alisnya cukup dalam, sambil mencerna ucapannya barusan.


“Siapa yang akan mati dengan tenang?” tanyanya heran.


Rumina seketika terkesiap dan dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, aku hanya asal bicara!”


Ia pun memalingkan pandangan ke luar jendela, melihat pemandangan yang jarang ia lihat sebelumnya. Rumah-rumah, pepohonan, jalanan dan pertokoan, semuanya berbeda dari tempatnya tinggal.


“Benarkah? Jangan main-main soal kata kematian!” kata Alza.


“Apa kamu takut mati?” tanya Rumina.


Alza diam sebentar, lalu ia membelokkan percakapan dengan memerintah Rey, untuk pergi ke rumah yang akan ditempati Rumina nanti.


Rumina menoleh pada suaminya itu dengan kesal, karena pertanyaannya tak terjawab. Apalagi, ia heran, secepat ini rumahnya dipersiapkan. Ia merasa Alza benar-benar membenci dirinya dan tidak ingin tinggal serumah lagi agar ia bebas bersama Megan.


Mobil mewah itu berhenti di sebuah halaman rumah mungil yang asri, terletak di jalan yang tidak begitu jauh dari Gedung Robinson berdiri. Hunian nyaman di antara bangunan megeh dan tinggi.


Rumina turun dari mobil, diikuti Isabel tanpa menunggu Rey membukakan pintu.


“Apa Megan tahu tempat ini?” katanya sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


“Hmm ...,” gumam Alza sambil membuka pintu rumah dengan anak kunci dari saku celana.


Rumina mengikuti langkah pria itu masuk, sambil menggandeng tangan Isabel.


“Rumah siapa ini, Papi?” tanya anak itu setelah memasuki rumah yang sudah dipenuhi dengan perlengkapannya.


Meskipun tidak banyak, tapi semua barang yang ada di sana terkesan mewah dan elegan. Rumah itu merupakan bangunan asli sebagaimana pertama kali dibeli, belum di beri tambahan apa pun.


“Ini rumah Mami!” kata Alza sambil berlutut di hadapan putrinya dan menyejajarnya.

__ADS_1


“Dengar, mulai sekarang, panggil dia Mami, karena dia Mamimu juga!” katanya lagi.


Isabela mendongak pada Rumina dan mengangguk setelah itu. Ia memang sudah sering salah memanggil nama. Tentunya ia tidak keberatan jika harus memanggilnya mami juga sesuai perintah ayahnya.


“Apa aku boleh tinggal di sini mulai malam ini?” tanya Rumina dengan sorot mata penuh harap. Ia ingin sendiri malam ini. Apalagi Alza memang tidak menginginkannya, untuk apa mengharapkan pria itu menyentuhnya.


Alza menatap gadis itu sebentar, lalu menjawab, “Ya, terserah saja!” dan ia pun berdiri kembali, setelah itu melangkah ke luar.


“Isabel, Sayang!” tanya Alza sebelum sampai di depan pintu rumah itu, “Apa kamu mau ikut Papi, atau tetap tinggal di sini?”


Rumina mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan Alza, kemungkinan ia di beri keringanan dalam mengasuh Isabel.


“Aku mau di sini!” kata anak itu tegas.


Anak itu sudah merasakan kalau lebih mengasyikkan bersama Rumina, dari pada di rumah tidak ada yang bisa di ajak bermain bersama. Ia begitu percaya bahwa Rumina tidak akan menyakitinya. Apalagi Mami barunya adalah asisten pribadinya. Pastinya mau saja meladeni keingintahuannya tentang sesuatu. Ibu kandungnya tidak bisa diandalkan untuk diajak bermain bersama, ia semakin lemah, buktinya ia sering melihatnya berbaring di tempat tidur dan enggan menemaninya.


Anak kecil itu tidak tahu apa yang salah dengan sang ibu, yang ia tahu wanita itu hanya berjalan dengan kursi roda, setelah tidak bertemu dengannya sekian lama.


“Baiklah, aku pergi. Rey akan mengirim makanan untuk kalian nanti!” kata Alza setelah mendapat jawaban tegas dari anaknya.


Rumina dan Isabel sibuk memeriksa semua bagian rumah mereka setelah kepergian Alza. Semua kebutuhan baik makanan dan pakaian pun ada, walau tidak banyak, tapi itu cukup untuk dua atau tiga hari lagi. Termasuk makanan, yang ternyata tersedia lengkap dalam pendingin dan lemari makanan di dapur.


Tidak perlu menunggu Rey, Rumina bisa memasak dengan bebas sesuai kreasi dan seleranya lagi.


Dua wanita muda itu begitu bersenang-senang dengan semua fasilitas yang ada. Mereka bisa lebih leluasa dalam mengekspresikan diri di dalamnya. Sampai mereka kelelahan dan tertidur.


$$$$$$$$$$$


Hari di mana setelah pernikahan itu, seolah menjadi awal kebebasan bagi Rumina dalam mengasuh Isabel. Namun, anak itu sering tidak mau pulang, hingga Megan dan Alza pun memperbolehkannya belajar dan mengembangkan diri di kediaman Rumina.


Isabel pulang ketika ia merindukan ibu dan pakaian gantinya tidak ada. Walaupun, menyukai Rumina, sebagai seorang anak ia tetap merindukan rumah dan kedua orang tuanya.


Bulan depan sesuai tahun ajaran baru, Rumina akan mendaftarkan anak itu langsung ke sekolah dasar. Semua sudah ia bicarakan dengan kedua orang tuanya. Kalau pun untuk pelajaran selanjutnya, ia bisa mengimbangi selama proses belajar di sekolah di mulai.

__ADS_1


Hari-hari berikutnya, jika Isabel sudah belajar, maka Rumina akan pulang dan Rey yang akan mengantarkannya atau bila pria itu sibuk, barulah ia memesan taxi. Kalau Isabel mau menginap, maka kedua orang tuanya pasti mengizinkannya lagi.


Namun, hari itu berbeda karena di mobil bukan Rey yang menjadi pengemudinya, melainkan Alza. Rumina sedikit terkejut setelah ia masuk.


“Apa Rey sakit?” tanya Rumina saat sudah di dalam mobil, ia heran mengapa Alza menggunakan mobil anak buahnya.


Pria itu menggeleng, sambil menekan pedal gas mobil dan kuda besi itu pun melaju dengan kecepatan tinggi.


“Kamu mau menginap di rumah sekarang?” tanya Rumina lagi.


Pria itu mengangguk. Megan yang memaksanya malam itu untuk tidur dengan Rumina. Ia tidak tahu dengan sikap istrinya yang terus memaksanya untuk mendekati gadis itu, padahal ia tidak tinggal di rumah Rumina karena menjaga perasaannya.


Sepanjang perjalanan hingga sampai di tujuan, mereka diam. Rumina sudah tahu apa artinya jika suaminya itu menginap. Ia sudah dewasa dan soal hubungan biologis, tentunya bisa. Ia siap sejak awal, benar-benar siap. Kalau dalam hal fisik, tapi tidak dengan hatinya, ia tahu Alza pun terluka jika melakukannya dengan terpaksa.


Sampai di rumah, Alza memarkirkan mobil dan mereka masuk secara beriringan. Ketika tiba di ruang tamu, Rumina menghentikan langkah dan memegang pergelangan tangan pria itu, ia sudah menggulung lengan kemejanya sampai siku. Dua kancing atas bajunya pun sudah dibukanya saat berjalan tadi.


“Kamu nggak perlu memaksakan diri kalau tidak mau menyentuhku! Aku tahu kamu mencintai Megan sampai tidak menganggap bahwa aku juga istrimu, kan?”


Alza diam dan menatap Rumina tajam, saat tangan mereka bersentuhan dan gadis itu menggenggamnya dengan cara seperti itu, langsung membangkitkan sesuatu dalam dirinya.


“Kalau begitu, lepaskan aku!” katanya sambil menepiskan tangan Rumina.


Gadis itu tersenyum masam, ia menyadari jika dugaannya benar, Alza membencinya.


“Baiklah!” Rumina mengangkat tangannya, bahkan tangan saja ia menolak untuk dipegang. Ia hampir menertawakan dirinya sendiri yang dulu berharap begitu besar untuk menjatuhkan diri dan cintanya pada pria itu.


Setelah itu, Rumina pergi ke kamarnya, membersihkan beberapa anggota tubuhnya dan mengganti pakaian tidur. Ia melakukan rutinitas sebelum tidur seperti memakai krim malam seperti biasanya, yang tidak biasa adalah keberadaan Alza di dalam rumahnya.


Kalau hanya Isabela, ia tidak akan merasa sungkan. Jadi, ia memakai piama yang longgar dan berwarna gelap, itu salah satu pakaian tidur yang ia bawa dari Morsela.


Rumina keluar kamar untuk memastikan di mana Alza akan tidur sebab seingatnya, kamar tamu tidak pernah ia bersihkan. Ia melihat pria itu tengah sibuk memainkan ponselnya di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang menonton televisi itu.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Apa kira-kira yang dilihat Rumina? 🤭🤔


__ADS_2