Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 8


__ADS_3

Seseorang Yang Membuatnya Mampu Bertahan


Sementara itu di ruang laboratorium, Ryco dan Mark menggoda Rumina. Mereka sudah menikmati sarapan pagi yang dibuatnya.


“Kenapa kamu diam di sini, tidak mau menyambut Bos, seperti pegawai lain?” tanya Ryco.


Rumina menggelengkan kepala, “Aku bisa bertemu dengan dia bulan depan!” katanya.


“Kau yakin akan terpilih?”


“Ya, hanya aku dari devisi kita, kan? Semua sudah pernah kebagian!” Katanya.


Ryco mengangguk “Semoga Kau beruntung, Rumi!”


“Kau juga, Rik!”


“Sepertinya aku pasti rindu panggilan itu kalau aku pensiun nanti!”


“Kau bisa saja!”


“Ayo! Nanti aku traktir kau makan siang!”


“Aku tidak sabar menunggunya!”


Mereka bekerja kembali. Tidak seperti biasanya, Rumina mengabaikan hiruk pikuk di luar, yang menandakan rombongan Alza dan para petinggi perusahaan sudah datang.


Rumina biasanya menjadi salah satu yang antusias, walau hanya melihat pria itu dari balik kaca. Ia tidak mungkin menunjukkan diri dengan pakaian laboratorium di luar sana. Walaupun, ia tidak bertugas tapi ia pun tidak mengambil barisan di antara pegawai yang menyambut kedatangan Alza. Ia merasa cukup melihat wajah tampan itu dari jauh saja.


Namun, ia sudah puas melihatnya tadi malam, bahkan mereka sudah beberapa kali saling bertatapan.


Saat berangkat ke kantor tadi, Rumina ingin melihat sekali lagi, untuk berpamitan, tapi pria itu masih tidur. Ia tidak mungkin membangunkannya, yang ia lakukan hanya memasak dengan penuh cinta. Meski ia tidak tahu apakah makanannya bisa diterima dengan baik atau tidak.


Tadi pagi setelah selesai membereskan meja serta ruangan, ia menulis satu pesan singkat melalui salah satu aplikasi chat di ponselnya pada Alza. Ia mengucapkan terima kasih dan siap melayani kapan saja pria itu membutuhkan dirinya.

__ADS_1


Sementara itu Alza sudah selesai melakukan pemeriksaan pada semua pembukuan kantor dan melihat beberapa lokasi yang mengalami sedikit masalah. Jika semua dalam keadaan baik, maka ia tidak akan meninjau lokasi, dan cukup hanya cukup memeriksa laporan saja.


Ia melakukan interaksi serta pembicaraan dengan beberapa penanggung jawab dalam satu ruangan yang tertutup.


“Kau tidak perlu melakukan tinjauan tiap bulan juga tidak masalah! Jangan ragukan kemampuanku!” Kata Alta Tehraner, dialah sepupu tertua yang sombong di mata Alza.


Ia selalu tidak suka kalau Alza terlalu terlihat dalam urusan pekerjaan di bawah tanggung jawabnya.


Inilah yang menyebabkan Alza tidak menyukai kunjungan di kantor cabang ketiga.


“Alta! Kalau bukan keinginan Kakek dan sudah menjadi kebiasaan turun temurun, aku juga tidak mau melakukannya! Aku sudah cukup sibuk membina semua relasi yang ada! Dan, setiap kali kunjungan ke sini, setidaknya ada tiga pertemuan yang aku tunda!”


“CK! Kau banyak alasan, kau punya kuasa untuk tidak datang! Jadi, jangan mengeluh, itu sudah jadi tanggung jawabmu!”


“Aku tidak mengeluh, aku lebih berkuasa dan lebih berhak untuk datang!” Alza menyahutnya ketus.


Semua orang yang ada di sana sudah terbiasa dengan perdebatan antara dua saudara itu. Namun, mereka tahu, harus berada di pihak siapa mereka berdiri.


“Kalau aku tidak pintar, aku tidak akan jadi pimpinanmu!”


“Kau pikir aku tidak bisa?”


“Ya, ya kau bisa! Oh ya, berikan padaku data peserta bulan depan!”


“Kau tidak perlu memeriksa mereka, aku sudah menyeleksi dengan baik!”


“Apa kau yakin tidak memasukkan pegawai yang senang mabuk seperti bulan kemarin?”


Alta diam dan menyunggingkan senyum masam, mengingat masalah sebulan yang lalu. Di mana ada peserta pelatihan yang kedapatan sedang mabuk di kantor. Padahal orang yang mendapatkan keberuntungan adalah para pegawai yang berprestasi.


“Itu tidak akan terulang lagi! Dulu, dia pegawai yang baik dan sudah lebih dari lima tahun bekerja di sini!”


Alta mencari sebuah dokumen di antara dokumen yang menumpuk di atas meja.

__ADS_1


Saat ini mereka duduk saling berhadapan di ruangan rapat, di mana sang Direktur utama, hanya memasukinya sebulan sekali.


Alta menyerahkan sebuah map kuning dan Alza menerima dengan ekspresi datar. Ia membuka dan membaca beberapa nama yang tertera di sana.


“Apa kau sekarang punya masalah dengan para bawahan, kenapa tiba-tiba tertarik soal pelatihan bulanan?” Alta bertanya soal perubahan sikap Alza.


Ia terlihat heran sebab selama ini saudara sepupunya itu tidak pernah peduli, siapa yang ia kirimkan ke kantor pusat Robinson Botanica.


“Bukan urusamu!” jawab Alza datar.


“Semua yang ada di kantor ini jadi urusanku, Alza!” seru Alta geram.


Alza meletakkan dokumen dengan keras ke atas meja hingga berserakan, seorang sekretaris membereskan dengan cekatan.


“Sudah aku bilang aku tidak ingin kesalahanmu terulang lagi!” kata Alza sambil berdiri. Ia sudah merekam sedikit data tentang Rumina saat membaca dokumen itu tadi.


Alta mencibir dan menyandarkan badannya, ia berkata, “Kalau kau sudah puas dengan semua laporan bulan ini, pergilah! Atau—“


Alta memutus ucapannya dan ia ikut berdiri sejajar dengan Alza dan berbisik di telinganya, “Kalau kau mau, aku bisa memberimu tempat untuk bersantai dan ditemani seorang wanita cantik, aku jamin layanannya luar biasa!”


Alza menyeringai, “Kalau begitu, berarti kau sering merasakannya?” katanya sambil menarik napas panjang, “Kalau wanita itu bekasmu, jangan kira aku akan sudi menerimanya!”


“Jangan sok jual mahal dan menahan diri, aku tahu batas kekuatan seorang laki-laki! Megan tidak bisa melayanimu dan kau masih setia padanya? Kau laki-laki paling naif sedunia!”


Alza tidak menjawab, ejekan seperti ini sudah sering dilontarkan beberapa saudaranya.


Namun, mana ada di antara mereka yang tahu kalau yang membuatnya mampu bertahan hanyalah Isabel. Gadis itu yang membuatnya tidak akan bisa berselingkuh dari sang ibu.


“Iya, Tuan! Mampirlah sekali-kali di Moda Barclub! Kami akan membelikan anggur terbaik untukmu!” kata yang lain.


“Nanti saja, kalian pergilah! Rapat kita selesai!” kata Alza sambil melangkah pergi ke ruangannya sendiri.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2