
Tidak Mau Bangun
Sementara itu di Robinson, Alza baru saja selesai rapat dengan pertinggi perusahaan. Mereka membicarakan proyek yang sudah harus dikerjakan bulan depan. Pria itu hendak istirahat di ruang kerjanya, dengan duduk di sofa seorang diri. Menyandarkan tubuhnya sambil mengendurkan dasi dan matanya terpejam.
Alena tiba-tiba masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu, karena seperti itu kebiasaannya. Begitu ia melihat Alza yang tengah bersantai, ia mengunci pintunya dan mendekati bosnya.
Ia selalu menggunakan kesempatan seperti itu untuk bersenang-senang dengan Alza. Ia menikmati setiap kebersamaan mereka di mana pun.
Alena membungkuk sampai wajah mereka berdekatan, lalu mengulurkan tangan, “Biar kubantu!” katanya, sambil membuka kancing kemeja Alza satu persatu.
Alza tidak menolak dan membiarkan Alena melakukan keinginannya.
Setelah berhasil membuka tiga kancing kemeja, gadis itu duduk di pangkuan Alza dan melingkarkan kedua lengan dilehernya. Lalu mencium keningnya lembut.
“Masih butuh bantuan yang lain lagi? Hmm ...?” tanyanya sambil membelai rahang Alza yang terlihat mengeras, “Kamu kelihatan sedikit lelah, apa mau kopi?”
Alza menggelengkan kepalanya dan diam, pikirannya tertuju pada seseorang, ia kesulitan untuk beradaptasi di rumah sejak ada Rumina yang begitu menyita perhatiannya tanpa di minta. Gadis itu mengesankannya dengan mengajarkan banyak hal pada Isabel—anaknya. Bahkan, ia bersikap seperti seorang ibu yang sesungguhnya.
“Kalau tidak mau kopi, apa kamu mau mencoba lagi?”
“Apa pekerjaanmu sudah beres?” tanya Alza sambil meraba bagian depan Alena dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan gadis itu padanya. Tiga kancing kemeja Alena terbuka dan memperlihatkan pemandangan indah di sana.
Alena tampak berbinar wajahnya, ia jarang mendapatkan Alza merespon walau ia menggodanya setiap kali mereka hanya berdua saja.
“Tidak masalah menunda pekerjaanku demi kamu!” katanya sambil menempelkan keningnya.
Melihat Alza diam, Alena pun mencium bibir pria itu sementara satu tangannya bergerilya ke arah paha yang tengah menopang dirinya.
Alza membalas Alena hingga ciuman mereka sedikit memanas. Laki-laki itu terus menggerakkan tangannya ke beberapa bagian tubuh gadis di atas pangkuannya, dengan penuh semangat.
Alena memejamkan mata menikmati setiap sentuhan pria dipujaannya, ia selalu berharap lebih dan lebih, bila mereka sudah begitu.
__ADS_1
Kalau bukan syarat dari Megan yang terlalu berat baginya, maka ia sudah menjadi nyonya Robinson sejak lama. Lalu, bisa berbuat lebih banyak demi pria itu. Namun, karena ia bukan siapa-siapa, maka hanya bisa memuaskan diri di kantor saja.
Ia menyesal mengapa Megan begitu keras kepala padahal tidak bisa apa-apa. Namun, ia masih bisa bermesraan walau tidak menjadi apa yang ia inginkan.
Tiba-tiba Alza menghentikan ciumannya.
“Apa kamu akan melakukannya sekarang juga? Ayolah!” kata Alena manja, dan menatap Alza penuh damba dengan tangan yang tak mau diam, membangkitkan sesuatu.
Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan dengan kecewa, “Sepertinya belum bisa ... dia tidak mau bangun! Kamu tahu, kan? Kita sudah sering mencobanya?” katanya sambil menghentikan gerakan tangan Alena.
Mendengar ucapan itu, Alena kembali kecewa, ia bangkit dari pangkuan Alza dan merapikan pakaiannya. Wajahnya sedikit masam, tapi ia tetap tersenyum, ia sudah sampai di ubun-ubun tapi terpaksa harus puas hanya sekedar mencium. Mungkin ia harus mencari pelepasan dengan laki-laki lain.
Alza benar-benar tidak bisa diharapkan, ia terlihat gagah dan kuat, keren dan cool seolah susah ditaklukkan di atas ranjang hingga ia bisa mereguk kepuasan berulang-ulang bersamanya. Namun, di dalamnya ternyata tidak seperti yang terlihat oleh mata. Ia tak lebih dari lelaki payah--yang setelah mendapatkan pemanasan hebat saja, tapi miliknya tetap lunglai tak bertenaga.
“Baiklah, mari kita coba lagi lain waktu, mungkin kamu terlalu lelah! Sekarang, istirahatlah!” kata Alena lembut sambil mengusap pipi Alza dan memberinya ciuman.
“Terima kasih!” kata Alza tak kalah lembutnya.
“Untuk apa? Sudah kubilang tidak perlu berterima kasih, aku juga bersenang-senang dengan bibirmu!”
“Oh! Soal itu, jangan khawatir ... selama kamu juga tidak menyebarkan apa yang sudah aku lakukan! Kita impas!”
Alza mengangguk. Alena memang perlu menjaga rahasianya dan begitu juga sebaliknya. Ia yang lebih dulu menawarkan dan memberanikan diri menjadi wanita penggoda untuk membangkitkan gairah bosnya. Namun, sekeras apa pun ia mencoba, termasuk memberinya obat dan melakukan terapi, tetap tidak bisa.
Semua bermula sejak peristiwa kecelakaan yang membuat Megan lumpuh dan hanya bisa duduk di kursi roda. Padahal Alza merasa baik-baik saja dan tidak trauma, tapi setelah itu miliknya pun menjadi tak berdaya.
Ia baru tahu beberapa hari sesudah istrinya dinyatakan koma. Seorang pria normal biasanya akan merasakan ketegangan di pagi hari, tapi sejak saat itu tidak lagi.
Dari sanalah, ia mulai memancing Alena agar mau bersama dan memastikan kemampuannya. Dan, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
Alena yang menyadari kenyataan bahwa, Megan tak bisa melayani suaminya lagi, dengan senang hati menerima ajakan Alza. Namun, siapa yang menduga kalau ternyata sampai saat ini pun mereka tidak pernah berhasil melakukanya.
__ADS_1
Setelah Alena pergi, Alza tertidur di sofa, ia benar-benar terlihat lelah.
Sementara itu, Alena pergi ke sebuah kamar hotel, di mana ia memanggil seseorang untuk menemaninya tidur dan memusakan diri.
“Apa? Kamu sudah mencoba sampai seperti itu tapi dia tidak juga berdiri?” sebuah suara seorang pria, yang diselingi suara khas wanita yang tengah memadu cinta.
“Ya! Makanya aku butuh kamu! Ahk!” sahut Alena sambil terengah-engah.
“Hmm ... aneh!”
“Aku tak peduli! Ayo ganti posisi!”
“Oke!”
“Ingat! Ini hanya antara kita saja!”
“Jangan khawatir, kalau bukan karena itu, kamu tidak mau sama aku!”
“Hmm ....!”
Suara mereka bersahutan riang, mengambil sebuah rasa dalam diri yang meminta untuk dikeluarkan. Bersentuhan kulit dengan kulit, peluh dengan peluh, bibir dengan bibir. Kegiatan mengeluarkan kenikmatan itu selayaknya dilakukan oleh mereka yang saling mencintai dan menghargai sebuah hubungan. Namun, dua insan dalam kamar itu tidak memedulikan.
Sampai sore hari menjelang malam Alza masih tertidur di ruangannya, dan kalau bukan Rey yang datang menjemput, maka ia bisa tertidur sampai malam hari di sana.
Pria itu tersenyum miring sebelum membangunkan Alza, ia menggelengkan kepalanya, sambil melipat kedua tangannya ke depan dada. Lalu, baru memanggil bosnya.
“Tuan Alza! Bangun! Sudah malam!” kata Rey.
“Oh! Aku ketiduran, apa sudah malam?”
“Ya!”
__ADS_1
Saat itu Alza melihat ponselnya dan ada banyak sekali panggilan dari istrinya.
❤️❤️❤️❤️