
Dapur Yang Tidak Pernah Disentuh
Rey memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Alza, memberitahukan bahwa Rumina tidur di kamarnya.
Pesan itu di baca, tapi tidak dibalas. Menandakan kalau Alza belum tidur dan tidak mempermasalahkan tindakannya.
Keesokan hari di pagi buta, waktu masih menunjukkan pukul 06.00 Rey dan Alza belum bangun. Sementara itu, tanpa sepengetahuan keduanya, Rumina pergi ke luar apartemen. Ia lapar dan ingin memasak sesuatu. Tentu tidak ada restoran yang buka sepagi itu.
Lingkungan apartemen yang dekat dengan kantor, sudah seperti lingkungannya sendiri. Bahkan, ia hafal tempat yang menjual beberapa barang kebutuhan dapur dan bahan makanan. Ia memilih beberapa sayuran, ikan dan buah segar yang ada di sana.
“Rumi, kau belanja sepagi ini? Apa ada masalah dengan Ibu dan Ayahmu?” tanya penjual sayur yang menjadi langganannya. Di tempat itulah ia belanja sepulang kerja untuk di bawa pulang dan di masak esok harinya.
“Tidak ada, Paman! Mereka baik-baik saja! Kau ingat ini hari apa? Aku akan membuat kudapan seperti biasa!”
Pria tua itu menepuk jidatnya. Ia hafal kebiasaan Rumina yang sering membuat camilan untuk rekan kerjanya setiap hari Senin, sebagai ungkapan rasa syukur, karena ia dilahirkan di hari itu.
“Lalu, apa kau akan memasaknya di kantor?”
Romina berpikir sejenak lalu mengangguk dan menjawab, “ Ah, iya!” sambil tersenyum gugup ia tidak ingin ketahuan berbohong kalau ia akan memasak di apartemen sang Bos.
“Nah, ini untukmu! Tidak usah bayar, ini gratis!” kata penjaga toko memberikan sebuah kubis segar seberat satu kilo gram untuk gadis itu.
Gadis itu tersenyum lebar, “Aku akan membuat capcay kubis dengan ini, apa Paman mau?” katanya.
“Tidak usah repot-repot!”
Setelah selesai dan membayar sebagian barang belanjaannya, Rumina kembali ke apartemen. Ia mulai memasak, setelah membersihkan beberapa perabot dapur yang cukup lama tidak terpakai. Selebihnya, semua ruang di apartemen itu sudah bersih.
Ia mengerjakan semuanya dengan senang dan, sambil bersenandung. Walaupun, ia tidak tahu apa kesukaan Alza ataupun Rey, tapi ia tetap membuat kudapan dan sarapan seperti yang biasa ia buat untuk teman-teman di kantor. Selama ini mereka tidak pernah protes tapi justru memuji masakannya.
Rumina mengiris halus semua bahan seperti kubis, wortel, jamur. Lalu, ditumis dengan saus, kecap asin, minyak wijen dan pada hitam. Tidak lupa ia campur dengan kacang polong sebagai pelengkap. itu capcay spesial buatannya.
Ada juga olahan ikan layang dengan bumbu kuning, nasi putih yang dimasak dengan bawang dan garam. Ia juga membuat camilan dari kulit pangsit yang digoreng dan diisi dengan sisa bahan sayuran. Agar lebih enak semua sisa sayur tadi dicampur dengan ayam suwir. Tambahan makanan lain yang jadienynya adalah omelet dengan isi daun bayam. Ia pun merebs jagung rebus yang di iris-iris bulat. Ia menyusun dengan rapi di atas meja.
__ADS_1
Alza bangun tepat jam delapan, langsung mencium bau makanan yang menggugah selera, tapi mengabaikannya karena ia pikir, tetangga sebelah yang sedang memasak.
Ia biasa melakukan pemeriksaan sekitar jam sepuluh. Jadi, ia baru akan berangkat ke kantor setelah selesai sarapan di restoran yang menjadi langganannya.
Ia segera mandi dan mengganti pakaian. Setelah rapi, ia keluar kamar sebelum jam sembilan atau tepat sekitar pukul 08.45 pagi. Tak lupa ia memakai jam tangan bermerek lainnya yang tersedia di apartemen itu.
“Selamat pagi, Tuan!” Rey menyambutnya dengan senyuman yang sedikit aneh, pria itu duduk di depan meja makan dengan piring kosong di depannya.
Ia merasa surprise ketika bangun tadi, lambat-lamat ia mendengar suara seseorang sibuk di dapur. Ia pun terpaksa bangun untuk memastikan siapa yang ada di sana. Lalu, ia melihat semua yang dilakukan Rumina pada dapur yang tidak pernah disentuh setiap kali berkunjung ke sana.
Namun Ia tetap pura-pura tertidur sampai akhirnya Rumina masuk ke kamar. Dan, ketika keluar gadis itu sudah berpakaian rapi karena hendak pergi bekerja.
Begitu mengetahui Rey sudah bangun Rumina mengatakan hal-hal manis dan menceritakan alasannya memasak.
“Rey, aku berterima kasih padamu karena mau membantu, sampaikan juga rasa terima kasihku pada Tuan Alza. Aku memasak sarapan untuk kalian berdua, semoga kalian suka. Maaf aku tidak tahu apa kesukaanmu dan Tuan! Jadi, aku memasak makanan kesukaanku saja!” kata Rumina setelah selesai bercerita.
“Kau mau berangkat bekerja?” tanya Rey sambil membenahi posisi duduknya.
“Katakan saja langsung padanya!”
“Baiklah! Aku pergi dulu!”
Alza mengerutkan alis melihat sopir dan makanan yang ada di meja.
Ia pun bertanya, “Tumben kamu masak?” Ia duduk di hadapan Rey, “Kau lancang sekali makan tanpa menungguku?”
Rey menunjukkan piring kosong tanda ia belum makan.
“Gadis itu yang memasak untuk kita, Tuan! Bukan aku!"
Rey lalu bercerita kalau Rumina sudah membeli beberapa bahan makanan di toko sekitar apartemen dan memasak untuk mereka sebagai rasa syukur. Apalagi kalau ia berhasil melihat wajah Alza setiap Senin akhir bulan. Maka ia akan kembali memasak keesokan harinya.
Gadis itu sudah biasa dengan lingkungan kantor, hingga ia bisa menyiapkan semua masakannya. Walaupun sederhana, tapi terlihat enak. Alza melihat semuanya.
__ADS_1
Alza mengisi piring kosong yang sudah disiapkan oleh Rumina dengan beberapa makanan, lalu mencicipi sedikit.
“Ini tidak buruk!” Alza bergumam sambil mendengar cerita Rey.
Rey juga makan setelah Alza, ia juga merasa cocok dengan rasanya.
Sambil berbincang, mereka menghabiskan makanan itu tanpa sisa.
“Apa Tuan akan membiarkan gadis itu tinggal di sini?” Rey bertanya sambil mengusap mulut dengan tisu. Ia sudah selesai.
Alza mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Saat bangun tidur pun ia tidak ingat kalau ada seorang gadis yang malam itu tinggal di apartemen. Ternyata bau masakan itu berasal dari dapurnya.
“Kau tahu, siapa namanya?” tanya Alza setelah meneguk air mineral yang juga sudah disiapkan oleh Rumina, “Dia pernah bilang, tapi aku pikir tidak penting!”
“Oh, saya juga lupa tidak bertanya!”
Alza terlihat kesal.
“Sebentar, akan saya tanyakan pada Mark!” kata Rey, sambil mengirimkan pesan pada salah satu pegawai penting perusahaan.
Setelah beberapa saat.
“Namanya Rumina Ayes, Tuan!”
“Masukkan dia ke daftar!”
“Memang dia masuk sebagai peserta, Tuan!”
Alza mengangguk, nama belakang mereka sedikit mirip.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1