
Bertemu Megan
“Apa yang mau kau lakukan sekarang?” Kata Alza sambil menatap mata gadis yang terlihat ketakutan di hadapannya. Setelah itu ia melepaskan dagu Rumina dengan kasar.
Dalam hati pria itu mencibir keberanian Rumina yang hanya sebesar biji jagung saja. Namun, saat berhadapan seperti itu ia merasakan badan si gadis yang bergetar di tangannya. Pada kondisi seperti ini saja ia sudah ketakutan apalagi kalau harus melakukan sesuatu untuk membalas budi seperti yang ia katakan sebelumnya. Padahal ia dengan penuh semangat menyerahkan diri seolah-olah mengerti balas budi seperti apa yang paling diinginkan oleh Alza.
“Maafkan, saya Tuan! Kalau salah, saya hanya bermaksud un—“
“Cukup!”
Alza memutus ucapan Rumina karena ia pikir wanita itu akan mengatakan hal yang sama lagi kalau ia bermaksud untuk membalas budi kebaikannya.
Sementara Rumina berpikir jika ia kemungkinan memang salah karena Alza tidak menginginkan balas budi seperti yang ada dalam pikirannya, ia hanya ingin memastikan saja sekarang, karena dia sudah mulai bisa berpikir jernih kalau ia memang tetap harus tutup mulut.
Ini seperti jalan yang dipilihkan Tuhan untuk Rumina ketika berada dalam masalah dan membutuhkan uang, kemudian dipertemukan dengan Alza. Laki-aki yang secara tidak sengaja atau hampir melukai harga dirinya sendiri. Apabila ia membocorkan rahasianya malam itu, maka nama baiknya akan selesai. Bahkan, jabatan pun bisa saja berakhir karena martabatnya sudah tercoreng.
Demi memikirkan hal itu hatinya sedikit melambung, dengan kata lain ia sudah menjadi salah satu orang yang berharga karena mengetahui satu rahasia dari bosnya.
“Baiklah kalau begitu turunkan Saya di sini, Anda tidak perlu mengantarkan saya!” kata Rumina lagi tanpa tahu malu padahal asramanya sudah terlewat cukup jauh.
Alza dan Rey, tidak memberinya tanggapan sedikit pun, mereka berdua kompak menutup mulut. Rasa penasaran Rumina memuncak, dengan jalan yang bukan arah menuju asrama. Gadis itu tentu tidak mengenal sama sekali lokasi di sekitarnya. Apalagi jalanan yang dilalui oleh mobil Alza dan sekarang membawa dirinya entah ke mana. Ia hanya bisa pasrah.
Selain berbeda kedudukan dan pangkat Rumina juga berbeda dalam strata sosial di masyarakat, dengan bos-nya itu. Dengan demikian, is merasa tidak berhak untuk mengutarakan apa yang dia inginkan. Lalu, sekarang justru terjebak dengan keputusannya sendiri. Baru saja ia merasa melambung namun sekarang ia merasa menjadi wanita paling bodoh di dunia.
Sebagai ungkapan penyesalan, ia mengetuk-ngetukkan keningnya ke jendela mobil.
“Berhenti!” Alza berkata sambil menarik kuncir rambut Rumina agar kepalanya menjauh dari jendela.
“Berisik!” katanya lagi.
“Maafkan saya, Tuan!”
__ADS_1
“Apa sekarang kamu menyesal?”
Rumina seketika heran dengan pertanyaan Alza, bagaimana pria itu bisa tahu perasaannya yang menyesal karena menyerahkan diri. Ia hampir saja menjawab secara panjang lebar bahwa, awalnya memang menyesal, tapi apa boleh buat karena itu sudah menjadi hak dari bosnya untuk melakukan apa pun terhadap dirinya. Sudah seharusnya ia maklum karena menjual diri demi berlian dan uang.
Namun belum sempat ia mengatakan semuanya, mobil yang ia naiki itu tiba-tiba saja berbelok dan berhenti di depan pintu gerbang yang terbuat dari kayu.
“Sudah terlambat!” kata Alza lagi sambil menyeringai.
Rumina pun membatalkan ucapannya sebab apa yang dilihat membuatnya tercengang. Itu bukan hotel atau tempat pertemuan.
Pintu gerbang kayu yang tinggi itu tampaknya cukup kokoh, karena yang membuka saja harus dibukakan oleh dua orang dari dalam. Dan, tampaklah di dalamnya sebuah rumah yang cukup mewah.
Alza turun dari mobilnya lebih dahulu setelah dibukakan pintunya oleh Rey. Rumina menyusul kemudian setelah Alza memerintahkan perempuan itu untuk mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dalam rumah, suasana rumah itu terkesan lebih mewah dari bagian luarnya.
Gadis itu tidak heran lagi dengan rumah orang-orang yang mempunyai harta dan kedudukan seperti bosnya, yang selalu saja tampak bagai istana. Dua orang pelayan menyambut dengan ramah serta mempersilahkan Rumina untuk duduk di beranda. Mereka seperti sudah sangat terlatih dan mengetahui bagaimana protokoler di dalam rumah itu harus dilakukan bila ada orang asing yang datang.
Sementara Alza sudah menghilang entah ke mana karena tidak terlihat lagi dari pandangan Rumina. Seandainya is harus tinggal di rumah itu mungkin akan tersesat kalau tidak ada yang menuntunnya.
“Silakan diminum, Nona! Sambil menunggu tuan dan nyonya!” kata pelayan itu ramah.
Rumina hanya mengangguk sambil tersenyum, ia sama sekali tidak berniat untuk mencicipi minuman dan makanan yang ada di hadapannya. Walaupun terlihat sangat enak.
Cukup lama ia menunggu sampai bosan, sebab pandangannya hanya berada di sekitar beranda dan beberapa lukisan orang-orang yang tidak dikenal di depannya. Namun dalam hati ia yakin bahwa, gambar orang-orang itu adalah keluarga Alza.
Rumina sedang melepaskan pandangan ke luar jendela ketika ia mendengar suara seseorang di sampingnya hingga ia pun terkejut dan menoleh.
“Hai!” kata suara itu sekali lagi.
Seketika Rumina berdiri dan menunduk hormat. Matanya bertumpu pada seseorang yang duduk di kursi roda dan Alza berada di belakang mendorong kursi itu. Otaknya berpikir dan menyimpulkan dengan tepat jika wanita yang duduk di kursi roda adalah, Megan istri bosnya.
Dua wanita itu saling bertukar pandangan untuk sesaat, lalu Rumina menunduk lagi.
__ADS_1
Megan wanita yang lembut dengan rambutnya yang indah bergelombang. Ia tersenyum manis pada Rumina. Hanya saja pipi dan tubuhnya terlihat sangat kurus dan pucat. Kelopak matanya pun begitu dalam. Seandainya ia tidak sakit, wanita itu akan sangat lebih cantik dari yang terlihat sekarang.
Pria itu memilih duduk di salah satu kursi yang ada di beranda dan kursi roda Megan ia letakkan di hadapannya. Menjadi penghalang antara dirinya dan Rumina.
“Apa dia wanita yang kau ceritakan itu?” Megan bertanya sambil menoleh pada Alza yang sudah duduk di sampingnya, pria yang ditanya pun mengangguk cepat.
Alza memberikan ponsel yang ada di saku bagian dalam jasnya kepada sang istri. Megan melakukan panggilan dan seketika tersambung dengan ponsel Rumina. Seperti itulah caranya memastikan jika yang ada di hadapannya adalah wanita yang sering sekali mengirimi suaminya pesan kalau ia akan menyerahkan diri.
Megan tertawa kecil.
“Ah, ya! Ternyata benar dia, aku kira dia tipe perempuan penggoda Sayang!” katanya setelah berhenti tertawa.
Alza tetap diam tatapannya tidak teralihkan dari Megan—istrinya.
“Terima kasih, Sayang! Kau sudah membawakannya padaku, kira-kira apa yang harus aku lakukan padanya?” tanya Megan kemudian.
“Pikirkan saja apa yang bakal menguntungkan untukmu!” kata Alza, hampir tanpa ekspresi setelah itu ia pun berlalu pergi.
Megan menoleh ke belakang sebentar, untuk memastikan Alza tidak terlihat lagi dan tidak ada orang yang bisa mengusiknya.
Kecuali dua pelayan yang tadi menyediakan minuman sejak tadi mereka tidak beranjak dari sana.
“Kamu! Berlutut!” kata Megan.
Kedua pelayan yang semula hanya berdiri pun bergerak dengan cepat, untuk memegang kedua bahu Rumina dan memaksanya untuk berlutut di hadapan Megan.
Plak!
Tiba-tiba terdengar suara keras dari pipi Rumina yang ditampar oleh Megan.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1