Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 6


__ADS_3

Pergi dengan Alza


“Rumi..! Apa kau sudah pulang, Sayang?” terdengar suara parau ayahnya. Rumina hampir berbalik saat mendengar suara itu, tapi Akila segera berdiri dan mengacungkan pisau buah yang diambilnya dari atas meja.


“Kalau kau ingin ayahmu masih tetap hidup, cepat pergi dari sini!” katanya dengan suara rendah, berbisik di telinga adiknya.


Rumina diam membisu, seraya menatap kamar orang tuanya yang tertutup.


“Bukan Rumi, Ayah! Tapi aku, Akila!”


“Oh! Cepatlah tidur, Nak! Sudah malam!”


“Baik, Ayah!” teriak Akila lagi sambil menyeringai pada adiknya.


Rumina menahan tangisan dengan menutup mulut agar ayahnya yang terbangun itu tidak mendengar suaranya. Lalu, ia melangkah ke luar pintu untuk mendekati Rey.


Rey membawa Rumina ke dalam mobil, dan wanita itu kembali duduk di samping Alza. Rey duduk di kursi kemudi, pada saat yang sama ia menerima pesan. Pria itu melihat isi pesan dan menatap bos yang duduk di kursi belakang sambil tersenyum kikuk.


“Maafkan saya, Tuan! Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!” katanya. Dengan segera ia menyimpan kembali ponselnya, tetapi apa yang tertulis dalam pesan itu tidak akan ia lupakan seumur hidup.


("Kalau kau masih mau hidup lebih lama, maka jangan lagi menyentuh wanitaku, siapa pun dia!")


Dalam hati Rey mengutuk dirinya, tetapi ia tidak mungkin menolong Rumina tanpa menyentuhnya.


“Maafkan, Saya, Tuan!” kata Rey saat ia duduk di kursi kemudi. Ia memiringkan badannya sedikit ke belakang, sambil menunduk.


“Hmm,” sahut Alza.


Sementara Rumina tidak mengerti apa yang membuat Rey meminta maaf.


“Kita akan ke mana, Tuan?” tanya Rey sambil memutar mobilnya.


“Pulang ke rumah!” jawab Alza.

__ADS_1


“Rumah?” Rey balik bertanya, merasa heran.


“Hmm...,” gumam Alza.


Rey memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan waktu menunjukkan pukul 01.10 dini hari. Sedangkan perjalanan dari rumah itu sampai ke apartemen yang biasa ditinggali Alza, bisa mencapai 30 menit. Beruntung saat itu suasana jalanan sepi, hingga ia bisa menjalankan mobilnya tanpa hambatan berarti.


“Jam berapa biasanya kau pergi ke kantor?” tanya Alza dengan suara yang tenang, padahal hatinya sedang bergejolak.


Suaranya memecah kebisuan di antara mereka. Ia masih ingat beberapa kata yang diucapkan Rumina pada Akila, tentang bagaimana ia mendapatkan berlian dan uang. Pria itu benar-benar ingin melihat bagaimana perempuan yang duduk di sebelahnya itu menjilati sepatu dan kakinya.


“Saya berangkat dari rumah jam tujuh pagi, Tuan!”


Alza tidak berkomentar.


“Apa Tuan akan mengadakan kunjungan seperti biasa besok?”


“Hmm.”


“Kenapa Anda tidak pernah mengunjungi bagian Laboratorium?” tanya Rumina, membuat Alza menoleh. Sejenak tatapan mereka beradu, tetapi Rumina segera berpaling. Kalau lebih lama lagi bertatapan dengan pria itu, ia bisa kehilangan kendali, ingin sekali mengecap bibir tebalnya suatu saat nanti.


“Kau bekerja di bagian itu?” tanya Alza.


“Ya, saya asisten profesor Mark dan Ryco! Aku dengar Ryco sebentar lagi pensiun, apa itu benar?”


“Hmm.”


“Kalau memang benar dia akan pensiun, siapa penggantinya apakah itu Anda yang menentukan, Tuan?”


Alza diam sebab semua itu bukan urusannya, melainkan tanggung jawab kepala cabang. Ia membuang pandangannya ke jendela di sebelah, membuat Rumina menduga kalau pria itu tidak tertarik dengan perbincangan mereka.


Sementara itu, Rey yang mendengar pembicaraan dua penumpang di belakangnya pun mengerti. Jadi, kemungkinan yang menyebabkan Alza tidak menyentuh Rumina adalah karena wanita itu pegawai di perusahaannya. Sehingga tuannya memilih untuk membantu dengan suka rela. Semua alasan bisa ditebak, yaitu karena harga diri dan reputasi Alza secara pribadi.


Kurang dari 30 menit perjalanan telah berlalu dalam diam. Semua orang yang ada di kendaraan itu memilih untuk tidak berbicara satu sama lain, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Sesampainya di sebuah jalan yang sangat dikenal oleh Rumina, ia pun tersenyum gembira. Kemungkinan besar ia akan tetap bekerja esok hari karena rumah yang ditinggali Alza berada di kompleks apartemen yang sangat dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja.


Dalam hati ia bersyukur pada pertemuan mereka malam ini. Kalau bukan karena sikap dan kekejaman Akila, mungkin ia tidak akan pernah tahu tempat tinggal bosnya. Walaupun Alza hanya sebentar berada di sana, setidak-tidaknya itu adalah tempat yang dijadikan untuk beristirahat saat pria itu melakukan kunjungannya.


Alza turun dari mobil setelah Rey membukakan pintu. Pria itu berjalan lebih dulu tanpa melihat Rumina ataupun membantunya membawa koper. Demikian pula dengan sopir itu, yang terlihat enggan membantu. Ia hanya menurunkan koper dari bagasi dan membiarkan wanita itu membawanya sendiri.


Rumina tidak mengeluh, karena ia terbiasa melakukan segalanya sendiri. Tinggal bersama kedua orang tua yang tergantung pada dirinya, melatihnya untuk tidak tergantung pada orang lain. Setelah hampir satu jam, Rey keluar dari kamarnya setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang lebih santai. Ia hendak mengambil air minum yang ada di ruang tengah apartemen besar itu.


Ia terkejut melihat Rumina yang masih berdiri di tempat semula sejak masuk. Ia bukan orang yang cuek, tetapi ia tidak bisa berbuat lebih karena Alza telah mengancamnya.


“Kau masih berdiri di situ?” tanyanya.


Baik yang ditanya dan yang bertanya sama-sama bingung. Rumina bingung karena ia sekarang harus berada dalam satu rumah dengan dua pria asing itu.


“Maaf, kami tidak terbiasa menerima tamu, ya. Tuan biasanya cuma semalam di sini, atau kadang tidak menginap sama sekali!” Rey berkata sambil menarik koper Rumina ke kamarnya.


“Oh!” gumam Rumina.


"Kau tidur saja di kamarku! Biar aku yang tidur di sini, sebentar lagi sudah pagi," ujar Rey.


"Baik. Terima kasih," jawab Rumina.


“Sama-sama. Maaf ya, jangan sungkan!" kata Rey ramah. Meskipun sebenarnya ia khawatir kalau Alza marah lagi.


Rey segera minum dan merebahkan diri di sofa setelah Rumina masuk ke kamarnya.


"Tuan, bolehkah saya menggunakan kamar mandinya?" tanya Rumina, dengan kepala menyembul di pintu.


“Tentu saja boleh. Maaf ya, kamarku berantakan? Oh ya, panggil saja aku Rey! Jangan terlalu formal. Aku bukan Tuan Alza," ucap Rey.


Rumina hanya mengangguk tanpa menjawab. Entah apa yang akan terjadi besok.


Setelah Rumina masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat, Rey minum dan merebahkan diri di sofa.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya membiarkan gadis itu tidur di kamar saya, tapi demi Tuhan, saya tidak menyentuhnya," pikir Rey.


__ADS_2