Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 12


__ADS_3

Dibohongi Alta


Rumina mengirim pesan itu setiap kali ia sudah pulang dari kantor.


“Hallo Tuan Alza, selamat malam!”


“Tuan, Saya harap Anda baik-baik saja dan saya masih memiliki tawaran yang sama, katakan saja bila sewaktu-waktu Anda membutuhkan, maka saya akan siap selalu kapan pun itu!” tulisnya.


Namun, setiap kali Rumina mengirimkannya pada Alza, maka setiap kali itu pula pesan yang terbaca tidak pernah mendapatkan jawabannya. Ia tidak tahu kalau pesannya selalu dibaca oleh adalah, Megan—istrinya. Wanita itu akan mengabaikan, lalu menghapusnya.


Megan menitikkan air mata setiap kali membaca pesan yang tampak begitu tulus. Bahkan, ia hapal tulisan itu di ponsel suaminya. Ia tidak sabar untuk melihat bagaimana sosok perempuan bernama Rumina, yang pernah di ceritakan Alza.


$$$$$$$$$$$$


Rumina pergi meninggalkan rumah kontrakannya yang berada di dekat perusahaan tempatnya bekerja, ia menuju stasiun kereta bawah tanah. Di sana sudah menunggu empat orang temannya sesama peserta pelatihan yang akan berangkat menuju Gillead, ibukota Jawarasen.


Di tengah jalan menuju stasiun, ia menelepon kedua orang tuanya untuk berpamitan sekaligus meminta restu atas keberangkatannya.


Ia menghubungi nomor rumah yang biasa digunakan ayah dan ibunya kalau menelepon ke sanak saudara.


“Hallo, Bu!” kata Rumina, begitu telepon mereka tersambung.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara napas seseorang dari seberang.


“Ayah, Ibu, aku akan pergi pelatihan hari ini ke Jawarasen, itu impian terbesarku, Bu! Dan aku bisa bertemu langsung dengan Tuan Alza! Doakan aku ya, Bu!” kata Rumina dengan suara yang bergetar menahan emosinya.


“Oh! Jadi, begitu? Kamu mau pergi ke sana? Kapan kamu pulang?” kata sebuah suara yang terdengar bukan suara Ayah atau ibunya.


“Kau, Austin?” tanya Rumina.


“Ya! Ini aku, kau akan naik kereta atau pesawat? Tunggu, aku akan mengantarmu!”


“Tidak perlu, lupakan sa—“


“Aku tahu kamu tinggal di mana Rumina!”


“Austin! Kumohon, jauhi aku! Kau sudah membuatku hampir mati!”


“Itu bukan salah kita!”

__ADS_1


“Aku tidak peduli padamu! Di mana Ayah dan Ibu?”


“Jangan kuatir, Ayah dan Ibumu sehat! Mereka pergi dengan Akila, aku tidak tahu mereka ke mana!”


Di seberang telepon itu, terdengar Austin menarik napas dan mengembuskannya sambil merokok.


Rumina memutuskan telepon secara sepihak. Ia kesal pada kakak iparnya, sekaligus lega karena kedua orang tuanya baik-baik saja. Ia berharap ayah dan ibunya tetap sehat dan bahagia hidup dengan Akila, yang sangat merindukan kasih sayang. Ia yakin kakaknya itu akan mengurus kedua orang tua mereka dengan baik.


Selama di perjalanan, Austin terus mengganggu dengan melakukan beberapa kali panggilan dan pesan yang berbau tidak baik pada Rumina. Ia mengungkapkan betapa gadis itu lebih menarik dari pada Akila. Ia pun menyesal telah bertemu dengan kakaknya lebih dulu, seandainya ia menemukan Rumina, maka ia akan menikahinya.


Perjalanan yang harus ia tempuh bersama rombongannya, masih sekitar empat jam menggunakan kereta dan satu jam menggunakan bis. Mengingat waktu selama itu dan Rumina tidak ingin menghabiskan energinya, maka ia mematikan ponsel dan memilih untuk tidur.


Temannya yang lain semuanya adalah pria dan hanya Rumina yang wanita. Walaupun, ia perempuan sendirian, tapi ia merasa jika semua temannya bersikap baik dan melindungi. Mereka membawakan tasnya, menunjukkan jalan, dan juga membelikan gadis itu makanan dan minuman. Bahkan, mereka berebut untuk menjadi sandaran, saat melihat gadis itu terlihat mengantuk.


“Sudahlah, kalian istirahat juga, jangan mengurusku! Nanti kita sampai sana masih harus membersihkan mess tempat tinggal kita, kan?” kata Rumina sambil mendorong salah satu teman prianya yang menyodorkan bahunya untuk di jadikan sandarannya.


“Oh, tidak masalah. Kamu akan jadi ratu kami nanti, tidak usah membersihkannya! Biar kami saja!” kata pria berkaca mata itu.


Rumina tersenyum lebar, ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kalian terlalu baik, aku sama seperti kalian, peserta latihan juga!”


“Ya, ya, aku tahu! Tapi aku baru tahu kalau ada gadis secantik kamu di laboratorium! Kenapa mereka menyembunyikannya selama ini?”


Mereka tertawa bersama. Suasana di gerbong itu menjadi ramai dengan kelakar dan obrolan mereka, tentang berbagai pengalaman selama bekerja. Berbagi suka duka bertahun-tahun menghadapi berbagai tugas di divisi masing-masing. Rumina tidak mengantuk lagi, tapi ia juga tidak tahu kalau sebenarnya Alza menghubungi ponselnya karena ia mematikannya.


Sementara itu, di kediaman keluarga besar Robinson Ayares, Alza tampak mengepalkan tangannya di atas meja. Ia menyimpan telepon genggam setelah tidak berhasil menghubungi Rumina beberapa kali.


Ia mendapat informasi tentang keberangkatan rombongan pelatihan dari Rey. Ia baru tahu juga kalau selama ini setiap peserta berangkat dengan menggunakan kerta apa. Padahal anggaran pengeluaran yang ia baca dan dilaporkan kepadanya adalah, peserta yang berangkat menggunakan pesawat dan masing-masing mendapat fasilitas kelas bisnis.


“Jadi, apa setiap kali pelatihan seperti ini? Dan, kamu baru melaporkannya padaku?” katanya, sambil menatap beberapa orang yang duduk melingkar di sekitar meja panjang di ruangan rapat keluarga.


Beberapa tetua menatap Alza dengan tatapan menyelidik.


“Apa yang terjadi?” kata salah satu dari mereka, “Apa kamu tidak bisa membuktikan kesalahan Alta?”


“Bisa! Aku tidak akan membiarkan dia menjabat lagi di perusahaan itu! Dia perusak kepercayaan kalian, apa kalian masih percaya padanya?” kata Alza.


“Baiklah! Kalau kamu yakin kalau mereka bisa menjadi saksi atas kecurangan Alta, maka kita akan rapat lagi siapa yang akan menggantikan anak itu nanti!”


Para petinggi keluarga sekaligus perusahaan itu, akhirnya pergi meninggalkan Alza dan Rey sendiri.

__ADS_1


“Kenapa gadis itu tidak mengangkat telepon saat aku membutuhkannya?” katanya geram dan menggerakkan giginya. “Dia bilang siap sedia saat aku membutuhkannya!”


Rey menunduk, tak mengerti harus berbuat apa.


Megan datang dengan kursi roda elektrik dan mendekati Alza.


“Apa kamu sudah berhasil menghubungi dia, Sayang?” tanyanya.


Alza menggeleng dan mengulurkan tangan dan memberikan ponselnya agar Megan menyambutnya.


“Bawa saja, kalau kamu butuh! Aku tidak masalah, kok!”


“Apa kamu yakin?”


“Euum ...!” Megan mengangguk sambil tersenyum.


Alza berdiri sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku bagian dalam jasnya.


“Ayo pergi!” katanya pada Rey.


“Baik, Tuan!” Rey segera membungkuk pada Megan dan berlari menuju mobil, membelokkannya dan menghampiri Alza.


Megan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan kembali membawa kursi roda ke dalam kamarnya. Ia melihat wajah anak perempuan yang manis, sedang tidur di tempat tidur dengan nyaman.


Alza menatap pemandangan di luar jendela dengan tennag. Mobilnya berjalan kecepatan tinggi menembus keramaian menuju kantor Robinson Botanica. Meski hatinya kesal, ia tetap bisa mengendalikan diri dengan baik. Ia sudah terlatih menghadapi hal-hal semacam ini selama bertahun-tahun. Pria itu baru menyadari kalau Alta telah membohonginya selama ini.


Tak lama kemudian, mobil berhenti di tempat parkir khusus yang disediakan untuk para petinggi perusahaan


“Kalau dia sudah datang, bawa dia padaku dan, suruh dia menunggu di mobil!” Alza berkata, sambil melepaskan dasi dan jasnya lalu melemparnya sembarangan di dalam mobil. Lalu, ia keluar tanpa menunggu Rey membukakan pintu untuknya.


“Baik, Tuan!”


Sesampainya di kantor, Alza menyibukkan diri sambil menunggu kabar kedatangan para peserta pelatihan. Ia kembali mencoba menghubungi Rumina.


Kali ini tersambung, dan gadis itu segera menerima panggilan setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


“Hallo, Tuan!” suara Rumina rendah, ia menahannya agar tidak terdengar teman lainnya.


“Kamu masih di mana?”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2