
Permintaan Terakhirku
Megan diam saja saat mendengar sanggahan dari Rumina.
Sementara Rumina sedang berpikir, saat tadi pagi, ia melihat Alza bersikap begitu manis pada Megan, sebelum pergi ke kantor. Pria itu menggendong istrinya ke meja makan dan melayaninya sarapan. Setelah selesai, ia kembali menggendong wanitanya ke kamar.
Saat itu juga Rumina kembali menepis rasa cemburu yang selalu hadir dihatinya setiap kali melihat kemesraan mereka. Ia sudah membuang jauh-jauh rasa suka pada Alza dan menganggap pria itu hanyalah majikan tempatnya bekerja. Tidak lebih. Semakin ia mengharapkan Alza, ia seperti menggenggam bara api di tangannya, semakin kuat ia menggenggam, maka semakin dalam pula luka di kulitnya. Jadi, lebih baik ia melepaskan perasaannya secara perlahan.
Meskipun, sebelumnya ia rela melemparkan diri demi memuaskan Alza, tapi sekarang ia tidak lagi berselera untuk menggodanya. Rumina selalu melihat adegan mesra yang diberikan laki-laki itu pada istrinya. Ia pun menjadi pesimis dan sadar diri. Sekuat apa pun ia berusaha atau berkata jujur soal cinta, ia tak akan bisa mendapatkan perhatiannya.
Namun, ucapan Megan barusan, terdengar seperti lelucon di telinganya. Ia mengibaskan tangan sambil duduk di sisi Isabel dan mengarahkannya pada video lainnya.
“Aku mau bicara kalau Isabela sudah tidur nanti!” kata Megan sambil menggerakkan kursi rodanya dan berlalu pergi.
“Ya!” jawab Rumina singkat dan acuh tak acuh.
Dua jam berlalu setelah itu, Rumina baru muncul dengan perasaan enggan. Isabella sudah tidur nyenyak di kamarnya.
Rumina duduk di sofa dekat televisi di kamar majikannya, sementara Megan berbaring di tempat tidur. Ia baru pindah duduk di sisinys, setelah Medan memintanya untuk mendekat.
Megan menunjukkan amplop besar berwarna coklat di hadapan Rumina dan memintanya untuk membaca.
Dalam dokumen itu ada beberapa hal yang dimengerti oleh Rumina, karena ia pernah mempelajari istilah-istilah dalam ilmu kedokteran sebelumnya. Namun, ada sedikit yang tidak dimengerti. Meskipun begitu, ia bisa menarik sebuah kesimpulan tentang kondisi majikannya. Ia menatap Megan sambil mengerutkan alisnya cukup dalam.
“Apa maksudmu memberitahuku tentang semua ini?” tanyanya heran.
“Kalau kau sudah membaca semuanya, pasti kau mengerti maksudku, kan?” Megan balik bertanya.
__ADS_1
“Aku membaca dan mengerti, tapi aku tidak tahu maksudmu!”
“Seharusnya kau tahu bahwa aku sebenarnya sekarat, karena itu aku memintamu untuk menjadi Mami bagi Isabel!”
Rumina tersenyum masam sambil memalingkan muka sejenak, lalu kembali menatap Megan dan berkata, “Menjadi Mami untuk Isabella berarti menjadi istri untuk suamimu? Begitu?”
“Ya, tentu saja! Aku tahu kau menyukai suamiku dan apa yang kamu inginkan dengan suamiku di hotel Moyore waktu itu!”
“Apa kamu bercanda? Kamu pikir aku bisa mendapatkan hatinya? Setelah semua yang aku lihat selama ini, Nyonya ... dia begitu mencintaimu dia tidak bisa mencintai wanita lain, aku tahu itu!”
“Ceritakan bagaimana pertemuanmu pertama kali dengan Alza!”
Megan hanya ingin mendengar sedikit cerita romantis dari sisi orang lain dengan suaminya. Sementara Rumina tidak tertarik untuk bercerita. Pada awalnya ia hanya menyukai Alza seperti rasa suka dari seorang penggemar pada artis idolanya.
“Aku tidak ingin membicarakannya, bukankah kamu sudah tahu semuanya tentang diriku?” kata Rumina mencoba mengelak.
“Itu tidak penting! Memangnya aku bisa apa? Walaupun, aku mencintainya dan pernah berusaha untuk menggodanya, dia tidak sedikit pun tergoda ... aku heran kenapa dulu dia menyewa hotel itu dan ada aku di dalamnya?”
“Aku yang memaksanya!”
Rumina menggelengkan kepala, ia heran dengan semua yang dikatakan Megan sebab biasanya seorang wanita akan sangat cemburu pada pasangan yang dicintainya. Atau bila ada wanita lain bersama suaminya. Misalnya saja Akila yang selalu saja salah paham dengan Austin dan dirinya. Padahal Ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kakak iparnya.
“Kamu sengaja melemparkan suamimu untuk menjadi pria murahan hanya karena kau putus asa? Yang bener saja!”
Megan diam saja, hingga Rumina melanjutkan ucapannya.
“Kau tahu, banyak wanita di luar sana yang patah tulang seperti dirimu, tapi mereka tetap berkarya, ada yang tidak bisa berdiri lagi tapi mereka tidak putus asa! Bahkan, banyak wanita di luar sana yang sekarat tapi mereka tetap melakukan hal yang terbaik untuk keluarganya? Lagi pula, mana ada wanita yang menyerahkan suaminya sendiri untuk menikah lagi?”
__ADS_1
Itu mustahil.
“Kau pikir aku putus asa? Kamu tahu semua produk baru yang diluncurkan perusahaan dalam kurun waktu tiga tahun ini? Aku yang menciptakan formulanya. Bahkan, satu produk pupuk cair yang menjadi andalan pabrik sekarang adalah, penemuanku juga!”
Rumina tercengang, ia pikir Megan tidak berjuang. Bahkan, menyerahkan suaminya sendiri untuk dinikahi oleh wanita lain.
Megan sebenarnya mengakui ucapan Rumina jika ia tidak pernah rela kalau suaminya mencintai wanita lain atau sebaliknya. Namun, ia tidak berdaya dan ada Isabel di antara mereka yang membutuhkan seseorang ibu dan menyayanginya. Ia pikir jika seseorang bisa menyayangi Isabel sepenuh hatinya, sudah dipastikan dia akan berbakti pada suaminya pula.
Megan tidak akan bisa menahan nyawanya untuk melayang kapan saja, oleh karena itu ia sudah berdamai dengan keadaan dan hatinya sendiri di mana ia tidak bisa memiliki apa pun lagi di dunia ini.
“Ini permintaan terakhirku menikahlah dengan suamiku!” kata Megan sungguh-sungguh.
“Jadi, kau tidak akan cemburu kalau aku dekat-dekat dengannya atau bermesraan, seperti kau bermesraan di depanku?” Rumina berkata sambil tersenyum kecut.
“Alza tidak akan melakukan hal itu di depanku!” bantah Megan.
“Ya, ya, baiklah kalau begitu terserah padamu saja!” Rumina kembali menyeringai.
“Kenapa, apa kau tidak mencintai suamiku lagi?”
“Tidak!” Rumina menarik napas dalam, saat bicara, “Yaa ... setelah aku mengetahui betapa cintanya dia padamu, dan setiap hari kalian berdua bermesraan di depanku, aku jadi tahu diri ... aku sudah melemparkan semua perasaanku entah ke mana!” kata Rumina sambil berdiri dan ia keluar kamar itu tanpa menoleh lagi.
Setelah kepergian Rumina, Megan terbatuk-batuk dan Leni yang ada di dekatnya langsung menghampiri serta memberikan dua lembar tisu.
“Nyonya—“ katanya hampir menangis, ia melihat tisu yang terdapat bercak darah segar dari mulut Megan, “Nyonya, kau sudah berterus terang pada Rumi, sekarang berterus teranglah pada Tuan Alza!” kata Leni sambil membuang tisu dari genggaman Megan ke tempat sampah.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Tetap semangat! Salam dariku, El Geisya.😊 Dan jangan lupa like!