
Kunjungan ke laboratorium
“Tuan Alza!” Rumina berseru paling keras, saat Alza berdiri di ambang pintu yang sudah di buka oleh Rey. Pintu hampir selalu tertutup dan itu adalah ruang yang paling tertutup di antara bagian lainnya.
Saat Alza keluar dari ruangan pribadinya dan berjalan menuju Laboratorium perusahaan, banyak pasang mata memandang heran. Namun, ada juga di antara mereka yang seperti melihat artis papan atas memasuki arena konser mereka.
Baik Ryco atau Mark, sama-sama menoleh ke arah Rumina dan Alza secara bergantian.
Gadis itu segera melepas kaca mata, rompi praktik dan mengambil bagian untuk menyambut Alza. Ia berdiri di samping Mark dan Ryco, hanya penutup rambut saja yang masih melekat di kepalanya.
Mark dan Ryco mempersilakan Aza duduk di sofa yang tadinya tadi. Dua pria berusia lanjut itu bukannya tidak mengenal sang pimpinan perusahaan, tapi mereka hanya tidak memiliki kepentingan saja. Bahkan, sebenarnya kedua orang itu berteman baik dengan ayahnya.
“Silakan duduk, Tuan!” kata Mark sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada Alza mereka bersalaman, begitu juga Ryco dan Rumina.
Alza bersandar di sofa yang semula ditempati oleh Mark dan Ryco, sambil menyilangkan kaki. Hanya ada satu sofa panjang di sana. Masing-masing orang menarik kursi kerjanya untuk duduk hingga membuat posisi secara melingkar, begitu pula dengan Rey pun berada di antara mereka.
“Jangan terlalu sungkan, Paman!” kata Alza sambil melirik Rumina.
Tak lama pesanan kopi datang, mereka ada lima orang tapi gelas kopi hanya ada empat. Pelayan menerima pesan dari Rey dan mengirimkan kopi mereka langsung ke Laboratorium.
“Ada apa kamu ke mari? Ini bukan tempat yang biasa dikunjungi sebab tidak pernah ada masalah di sini!” kata Mark membuka pembicaraan.
“Aku tahu! Tapi Paman Ryco mau pensiun.”
“Apa kamu bercanda? Itu masih lama!” kata Ryco sambil terkekeh.
“Kau bersikap seperti tidak akan melihatku lagi saja! Aku Cuma mau pensiun dan bukannya mau pergi ke pemakaman!” kata Ryco lagi.
“Aku hanya tidak ingin menyesal!” sahut Alza sambil menyesap kopi.
“Apa maksudnya?”
“Jangan sampai aku tidak pernah melihatmu di sini!”
“Jangan pura-pura peduli, ada apa?” tanya Ryco penasaran, ia sebagai orang tua merasa ada yang aneh, apalagi sebentar-sebentar Alza menjatuhkan pandangan pada Rumina.
“Tidak ada apa-apa!” lagi-lagi ia melirik pada Rumina, gadis itu tidak pernah melepaskan senyumnya. Dalam hati ia ingin bertanya kesungguhan pesan yang ia kirimkan tadi pagi dan melihat langsung bagaimana reaksinya.
Rumina terlihat begitu gembira karena impian terbesarnya terwujud. Bisa berinteraksi langsung dengan Alza saat kunjungan kerjanya. Mark dan Riko tahu itu mereka juga ikut senang untuk rekan yang bisa mewujudkan impiannya.
Ryco melirik Rumina dan menepuk bahunya sambil berkata, “Aku titip dia, jangan berikan atasan yang tidak sabar mengurusnya!”
“Ck! Aku tidak perlu diurus, Pak!” lirih Rumina.
Ia menunduk dan wajah yang memerah itu seketika kehilangan senyumnya. Ia sedikit sedih dengan perpisahannya dengan Ryco. Bekerja selama tiga tahun bersamanya bukan waktu yang singkat. Pria itulah yang mengajarkan banyak hal padanya.
Rumina menoleh pada Ryco setelah berhasil menguasai emosi.
__ADS_1
“Apa Anda belum tahu siapa penggantimu nanti, Pak?” kata Rumina.
Ryco menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tentu saja belum ... itu tergantung HRD dan Tuan Alta!”
“Lalu, bagaimana biasanya?” tanya Rumina.
“Biasanya akan diambil dari kantor pusat!” kali ini Mark yang bicara.
Rumina mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Rumi, hati-hatilah bekerja di sini kalau aku pergi, jangan menghabiskan bahan karena kau tumpahkan!”
Rumina mengerutkan alis seingatnya, selama tiga tahun bekerja di sana, ia hanya menumpahkan bahan sebanyak tiga kali saja. Pertama saat ia kikuk pertama kali bekerja, kedua saat ia sakit perut karena menstruasi dan yang ketiga tadi saat ponselnya berdering karena Alza menelepon dirinya.
“Baiklah, kurasa cukup!” kata Alza sambil berdiri.
“Tuan, mari makan siang bersama kami, aku berjanji mentraktir Rumi hari ini karena dia sudah sering membawakan sarapan. Ayolah! Anggap ini salam perpisahan,” kata Ryco.
Alza menoleh pada pria tua itu, dan mengangguk. Ke ikut sertaannya, membuat Rumina pun tersenyum bahagia. Siapa yang menyangka ia akan mendapatkan keberuntungan sebesar sekarang. Ia diselamatkan dari bahaya semalam, bisa berinteraksi di kantor dan berkesempatan makan siang bersama.
Ia berharap semua ini bukan mimpi, melainkan kebaikan dari Tuhan untuknya.
Rombongan kecil itu pergi ke restoran terdekat dari kantor, setelah waktu istirahat makan siang tiba. Sementara Rumina sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia melakukan tugas lebih cepat dan lebih baik karena Alza memperhatikannya. Semua sesuai permintaan Ryco dan Mark, sebagai satu kegiatan tambahan bagi sang pimpinan. Namun, atas persetujuannya juga hingga bersedia melihat pekerjaan Rumina, sambil menunggu waktu makan siang tiba.
Mereka makan siang dengan menu yang tergolong mewah, kesempatan bagi Ryco memberi kenangan yang baik untuk semua teman juga Alza dan Rey. Ia sengaja memesan semua makanan itu dengan suka rela.
Saat itu, Rumina duduk di antara Ryco dan Alza. Mereka sedang menikmati makanan yang mereka pilih sesuai selera.
Rumina tersenyum lebar, sambil mengangguk ekspresinya sangat polos. Ia meneguk air mineral sebelum bicara.
“Ya aku tahu, terima kasih!” katanya.
“Aku sengaja melakukan ini untukmu! Apa kau senang?”
Rumina mengangguk.
“Terina kasih, Pak, Anda sangat pengertian, semoga panjang umur dan diberkati!”
“Aamiin!”
Tentu saja di antara mereka tidak ada yang tahu kejadian tadi malam, antara Rumah dan Alza, kecuali Rey. Bahkan, tidak ada yang tahu kalau Rumina datang ke kantor dengan membawa koper yang cukup besar.
Alza menoleh pada Rumina dan Ryco, ia pun berkata, “Apa yang kalian bicarakan?”
“Dia berterima kasih padaku!” jawab Ryco.
Alza melirik Rumina sekilas. Ia sudah selesai makan dan mengusap mulutnya dengan tisu.
“Pasti kamu juga ingin berterima kasih padaku!” katanya.
__ADS_1
Rumina menoleh, menurutnya pria terhormat itu tidak tahu malu, tapi biar bagaimanapun juga, ia harus menghormatinya.
“Tentu, Tuan! Sebuah kehormatan bagi saya bisa makan siang dalam satu meja dengan Anda! Terima kasih sudah menerima ajakan Pak Ryco!”
“Hmm.”
Setelah makan siang selesai, semua orang kembali ke ruangannya masing-masing. Kecuali Rumina yang meminta izin sebentar tidak ke kantor, untuk mengambil foto bersama dengan Alza. Ryco mengizinkannya dan Rey yang mengambil foto mereka.
“Tunggalah di apartemenku!” kata Alza setelah selesai berfoto, wajahnya sama sekali tidak menampakkan senyum sama sekali.
“Maaf, Tuan! Saya tidak bisa terus menerus menerima kebaikan Anda. Saya berjanji akan membayar semua uang yang sudah Tuan berikan pada sa—“
“Tidak perlu!”
Perkataan Rumina terputus oleh ucapan Alza. Pria itu kemudian mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas. Senyum yang samar sekali.
“Jangan bilang kau akan mencicilnya!” Alza berkata sambil berdiri dan melangkah tenang ke luar restoran.
Rumina tercengang. Ia tidak menduga kalau Alza akan tahu apa yang akan ia katakan. Ia memang berniat membayar semua uang semalam dengan cara mencicilnya.
Rey dan Rumina ikut beranjak juga, lalu berbincang berdua di belakang Alza. Mereka memang pergi ke restoran dengan berjalan kaki.
“Jadi, kamu mau tinggal di mana?” tanya Rey sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Aku sudah membawa semua pakaianku dari apartemen Tuan dan aku akan mengontrak rumah di sekitar sini!”
“Kamu sudah mendapatkannya?”
Rumina mengangguk ragu. Ia menitipkan koper di pos penjaga gedung tadi sebelum masuk kantor. Ia berbohong, padahal belum mempunyai tempat tinggal.
“Baguslah kalau begitu!” ujar Rey datar.
“Apa benar Tuan tidak mau di bayar dengan cara mencicil? Dari mana aku bisa dapet uang sebanyak itu?”
“Apa kau gila? Sampai kapan kamu akan selesai menvicilnya? Uang sebanyak itu tidak bisa di bayar dengan uang gajimu selama satu tahun!”
“Tapi nggak mungkin kalau orang akan memberikan uang sebanyak itu dengan cuma-cuma!”
“Rumi! Lebih baik kau pikirkan cara yang pantas untuk menebusnya! Kau tidak akan mampu membayar dengan mencicil! Kau tahu maksudku, kan?”
“Aku tahu dia pria beristri, apa harus menjadi simpanannya?”
“Bisa saja, kenapa kamu tidak bilang padanya!”
Setelah berkata seperti itu, Rey bergegas mendampingi Bos besarnya. Apa yang ingin ia sampaikan pada Rumina sudah ia katakan. Ia hanya berharap Rumina mengerti dan menerima saran gilanya untuk menjadi istri simpanan Alza.
Dua pria itu menghilang di kejauhan sebab Rumina tidak melanjutkan langkah dan hanya menatap kepergian Alza dalam diam.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️