Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 20


__ADS_3

Melakukan Sebuah Kesalahan


Di ruangan rapat, sedang berlangsung acara penutupan pelatihan, sekaligus diakhiri dengan penghargaan bagi pegawai yang berprestasi.


Saat itu Alza masih menjadi pembicara. Ia menyampaikan materi terakhir berupa wejangan tentang bagaimana perjuangan dan pengalamannya dalam membesarkan perusahaan keluarga. Meskipun, ia bukanlah orang yang berjasa dalam mendirikan perusahaan pada awalnya, tapi lika-liku untuk sampai di titik sekarang itu tidak mudah.


Perusahaan yang sekarang berada di bawah pimpinannya itu, berkembang sangat baik. Bahkan, bisa dikatakan Robinson Botanica berada di puncak kejayaannya. Ia melebarkan sayap bukan hanya di bidang pertania dan obat-obatan saja, tapi juga mulai merambah pada bidang pertambangan.


Usaha yang terakhir adalah inisatif dan usahanya sendiri sebagai generasi penerus ke empat dalam keluarga.


Alza menyampaikan ceramahnya dengan tenang, sekaligus menjadi sentra utama dari semua materi yang di dapatkan semua peserta sebelumnya. Karena apa yang disampaikan Alza adalah motifasi sesungguhnya bagi para pegawai. Ia memberikan tips, pesan, serta saran mumpuni bagaimana bertahan, dan menjaga semangat dalam segala kondisi. Semua berasal dari cara sepak terjangnya dalam bertahan dan menghadapi semua pesaing dalam bisnis.


Sungguh, persaingan yang bagus dan wajar adalah, salah satu cara manusia bisa berkembang dengan baik di bidangnya.


Rumina memperhatikan semua yang di sampaikan Alza seperti memorifasi dirinya secara khusus. Sebab ia bakal menghadapi ujiannya nanti saat hidup bersama Megan di rumahnya. Ini akan lebih sulit dari sekedar bekerja di laboratorium, mencampur beberapa bahan kimia atau melakukan tes kelayakan pada produksi barang baru.


Mungkin ia akan lebih banyak mengalami pekerjaan mental dan hati dari pada fisik.


Beberapa kali pandangan Rumina beradu saat Alza bicara, sebab gadis itu duduk paling depan di antara beberapa peserta. Ruang rapat itu sudah di sulap sedemikian rupa hingga memudahkan para peserta untuk berinteraksi dengan pembicara.

__ADS_1


Alza pun terbawa emosi dan suasana saat penghargaan berlangsung. Kali ini ada yang berbeda karena ia ingin memberi penghargaan khusus pada peserta, karena kehadiran mereka kali ini, bisa membuka sebuah penggelapan uang yang dilakukan oleh beberapa oknum di kantor cabang.


“Saya akan memberikan reward secara khusus pada semua peserta pelatihan hari ini, di luar yang biasanya!” kata Alza, dan di sambut dengan riuh rendah suara tepuk tangan peserta.


Alena maju selangkah dan ia membagikan bingkisan kepada semua peserta, tak terkecuali Rumina. Semua bingkisan sudah ada nama penerima. Dua gadis itu saling melempar senyum, sambil mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih sekali lagi, tanpa kalian, mungkin penyelidikanku akan lebih lama lagi!” kata Alza seraya tersenyum, setelah itu ia duduk kembali sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Dua orang kemudian masuk membawa hadiah lain dari masing-masing divisi, dan di berikan sesuai prestasi masing-masing peserta. Ada yang mendapatkan ada juga yang tidak.


Rumina termasuk salah satu penerima dan Alena sebagai orang yang membawa hadiahnya. Sementara yang menyerahkan tentu pihak dari masing-masing kepala divisi yang ada.


“Maafkan saya!” kata Rumina kaget, ia berdiri kaku sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


“Anggap saja hadiahnya hilang!” kata Alza yang saat penyerahan ia hanya melihat dari tempat duduk.


“Rumi, apa kau baik-baik saja?” tanya Alena lembut. Rumina mengangguk, sambil menatap kepingan keramik yang berserakan di lantai.


Tak lama, petugas kebersihan datang untuk menyapu pecahan keramik itu sampai bersih.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu tanda tangani bukti penyerahan ini di sini!” Alena berkata sambil menuntun gadis itu ke meja, di mana ia harus membubuhkan tanda tangan. Hal itu dilakukan juga oleh peserta lain yang mendapat penghargaan.


Namun, lagi-lagi Rumina terkena naas, karena kegugupan sebelumnya, ia pun menumpahkan air minum Alza. Secara kebetulan gelasnya diletakkan di dekat dokumen tersebut, karena penandatanganan dilakukan di hadapan pimpinan tertinggi perusahaan itu.


“Akh!” pekik Rumina cukup keras, dan sontak menarik perhatian semua hadirin yang ada di sana.


“Kamu ceroboh sekali, itu dokumen penting!” kata Alza.


“Maafkan saya, Tuan!” kata Rumina sambil menunduk.


Alza berdiri dan membungkukkan badannya dengan bertumpu pada kedua tangannya di atas meja.


“Kamu harus mendapatkan hukuman untuk ini!” katanya sambil berlalu pergi, tapi sebelum sampai di pintu ruang rapat, ia menoleh pada Alena.


“Alena! Agendakan hukuman untuk dia!” katanya lagi.


“Baik, Tuan!” sahut Alena sambil mengangguk.


Setelah itu, Alena menuntun Rumina ke ruangannya. Sementara pembawa acara menutup pelatihan dengan tertib. Lalu, mempersilahkan seluruh peserta kembali ke asrama dan kembali ke kediaman mereka masing-masing.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2