
Menyanggupi Syarat Pernikahan
“Baguslah! Apa kamu mencintainya?” tanya Megan sambil berusaha untuk duduk.
Rumina segera mematikan ponsel dan membantu wanita itu duduk bersandar di pangkal tempat tidur, yang berbentuk persegi dan sangat mewah. Ia merasa iba sekaligus heran dengan wanita yang, menanyakan pada wanita lain perihal perasaannya pada suaminya.
Ini sedikit tidak masuk akal. Akhirnya Rumina gagal menghubungi Alza, karena Megan meminta segelas air dan ia melayaninya, sambil mendengarkan wanita itu terus bicara tentang suaminya.
“Anda sebaiknya istirahat lebih banyak, karena tadi saya melihat mulut Anda berdarah, Nyonya. Jangan pikirkan tentang perasaan saya!” Rumina berkata sambil menutupi kaki Megan dengan selimut. Ia masih panik dan kasihan padanya.
“Apa yang kamu rasakan pada suamiku akan mempengaruhi kebahagiaanku!” kata Megan, ia mengabaikan kekhawatiran Rumina, seolah biasa dengan darah yang keluar dari mulutnya.
“Sungguh?” Rumina tersenyum sambil menyusun makanan di piring untuk diberikan pada Megan. Majikannya itu terlihat tenang, hingga ia pun ikut tenang.
“Jangan terlalu banyak berpikir ... makanlah, Nyonya! Tadi, Leni meminta saya menyediakan ini untuk Anda,” katanya lagi. Lalu, Rumina duduk di sisi tempat tidur dan menyuapi Megan makan.
“Aku tidak kuatir, aku sudah biasa dengan penyakitku dan aku sudah berdamai dengan keadaan. Aku tidak merasa denail lagi!”
Selama makan, sesekali Megan menceritakan bagaimana ia bisa celaka. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana truk besar yang kehilangan kendali menghantam satu mobil di depannya, lalu mobil itu terpental hingga menabrak mobilnya. Kejadian itu seolah menjadi trauma.
Lalu, ia sedikit mengeluhkan penyakitnya dan ia ingin penderitaannya segera berakhir. Namun, ia tidak bisa pergi dengan tenang kalau belum melihat suami dan anaknya bahagia, dengan wanita yang baik menurut pandangannya.
Megan tidak bermaksud menambahkan penderitaan Rumina. Ia sengaja memberi beberapa tes untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa, orang yang ia percaya, pantas berada di sisi suaminya. Dari semua wanita yang mendapat ujian yang sama, hanya Rumina yang sukses, dan Megan sangat puas dengan hasilnya.
Rumina baru menyadari bahwa, kecerewetan Leni dan Megan adalah cara mereka menyampaikan ujian padanya. Semua terkait tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh, atau sesuatu yang disukai dan tidak di sukai Alza. Selama ini ia bersabar karena dianggapnya sebagai bentuk kesopanan semata. Walaupun setiap hari adalah hal yang paling menjengkelkan, tapi setelah mengetahui alasannya, ia pun mengerti.
__ADS_1
Akhirnya Megan mengatakan satu penyakitnya yang membawanya di ambang kematian. Oleh karena itu ia mencari wanita yang sudah mengenal anaknya dengan baik, sebagai pendamping untuk suaminya.
“Jadi, karena itu Tuan semalam melamarku?” tanya Rumina sambil menyimpan piring di meja.
Tanpa terasa makanan sudah habis dan Megan makan dengan porsi besar kali ini. Ia begitu nyaman bercerita dengan gadis di depannya. Padahal Rumina mendengarkan semua ceritanya nyaris tanpa ekspresi. Wajahnya datar seperti biasa mendengar keluhan seseorang.
Dari awal bertemu Megan dan tinggal di rumahnya sampai sekarang, Rumina sudah menduga kalau ada sesuatu yang disembunyikan majikannya. Jadi, saat mendengar semua pengakuan ini, ia merasa wajar kalau Megan begitu naif, mencari istri bagi suaminya.
“Baiklah, kalau memang pernikahanku bisa membuatmu tenang, Nyonya, tapi ... apa Anda tidak cemburu kalau aku nanti melayani dan mesra pada Tuan Alza di rumah ini? Atau apa Anda tidak sakit hati, Nyonya, saat ternyata aku hamil? Apa Anda tidak takut kehilangan?” Rumina menyampaikan segala perasaan di benaknya.
“Aku sudah memikirkan semuanya ... aku ingin bertanya padamu, apa ada manusia yang tidak pernah kehilangan? Tidak ada! Apa ada wanita yang tidak pernah sakit hati sepanjang hidupnya? Tidak ada! Kalau pun kamu hamil dan melayani suamiku, itu wajar, kamu istrinya! Lagi pula saat semua itu terjadi, mungkin aku sudah pergi!”
“Oh, ya? Bagaimana kalau ternyata belum? Bukankah umur manusia bukan kita yang menentukan?”
Megan diam.
“Apa yang membuatmu memilihku, apa hanya karena aku lulus ujian? Aku tidak cantik dan tidak kaya, aku juga bukan wanita yang pantas dibanggakan seperti dirimu?”
Rumina diam memikirkan masalah namanya yang memang sedikit kampungan. Dahulu, saat ibunya melahirkan, yang ada dalam pikirannya hanya tentang gadis desa lugu dan kelak akan mengurus kebun dan pertaniannya. Ia tidak membutuhkan gelar dan kecantikan, yang perlu di miliki oleh anak gadisnya adalah keterampilan dan ketekunan. Ia tersenyum mengingat cerita ibunya itu.
“Aku ingin mengajukan syarat, apa boleh?” tanya Rumina saat pertanyaan yang tadi tidak segera dijawab Megan.
“Katakan saja?”
Saat berkata, Megan sudah siap dengan permintaan seputar uang dan harta. Namun, jika tebakannya benar bahwa, watak Rumina bukanlah orang yang rakus. Ia tidak akan meminta hal seperti itu sebagai persyaratannya. Hal ini pula yang membuat Megan tersentuh hatinya, karena Rumuna sama sekali tidak pernah menggunakan barang brended selama di rumahnya. Jadi, bisa dipastikan kalau gadis itu bukan penyuka foya-foya.
“Aku tidak ingin tinggal di sini lagi, kalau aku menikah nanti ... aku akan datang di saat Isabel bangun dan pulang saat ia sudah tidur, itu demi privasi, sebab aku seorang wanita bersuami, dan aku ingin libur dua hari dalam sebulan,” kata Rumina dengan tenang. Sebenarnya ia sudah memikirkan beberapa hal itu, kalau ia memang dipaksa untuk menikahi Alza.
__ADS_1
“Itu mudah!” sahut Megan sambil menarik napas lega dan memejamkan matanya. Rumina seperti dugaannya, ia tidak menginginkan kekayaan suaminya.
Rumina kembali membantu untuk mengubah posisi Megan kembali berbaring, dan menyelimutinya agar ia lebih nyaman untuk tidur. Wanita itu terlihat sudah lelah, padahal baru duduk sebentar saja.
“Lakukan secepatnya, sebelum semuanya terlambat!” katanya lagi sebelum kembali tidur seperti orang yang tak sadarkan diri.
Rumina hanya mengangguk, “Baiklah!”
$$$$$$$$$$$$$$
Di kantor, Alza melihat panggilan yang hanya sebentar, ia begitu antusias saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya, sebab sudah lama gadis itu tidak melakukan kontak dengannya.
Namun, ia kecewa karena baru saja akan mengangkat ponsel, tapi panggilan itu berhenti. Ia berusaha memanggilnya kembali tapi tidak direspons oleh orang yang melakukan panggilan tadi. Hatinya tiba-tiba gelisah. Lalu, ia melihat ke arah para peserta rapat yang memperhatikan. Biasanya pria itu tidak pernah merespon apa pun notifikasi dari telepon genggamnya di saat mereka tengah melakukan rapat penting seperti ini.
Meskipun, penasaran dengan apa yang terjadi di rumah, Alza tetap tenang. Rumina tidak akan melakukan panggilan padanya kalau tidak penting. Namun, ia tetap sabar dan melaksanakan rapat sampai selesai. Setelah itu ia menghubungi Leni. Dari asisten istrinya itu, ia tahu bahwa keadaan rumah baik-baik, Megan tengah istirahat dan Isabel tidur, sementara para asisten lain sibuk dengan tugasnya masing-masing. Begitu juga dengan Rumina, gadis itu membuat model pembelajaran yang harus diberikan pada Isabel, untuk beberapa hari ke depan.
Sore harinya ia sampai di rumah, dan benar-benar mendapatkan keadaan keluarga seperti ucapan asistennya jika semuanya baik-baik saja.
Leni yang menyambut kedatangan majikannya pulang seperti biasa. Wanita itu mampu bersandiwara dengan baik, padahal ia tahu persis apa yang terjadi pada Megan dan Rumina tadi. Namun, ia tetap mengatakan bahwa, Megan baik-baik saja. Di sisi lain ia khawatir jika Rumina lancang mengatakan apa yang selama ini Megan rahasiakan pada suaminya.
Leni pergi ke dapur setelah menyimpan sepatu Alza di tempatnya.
Rumina muncul dari kamar Isabel saat anak kecil itu sudah tidur, ia berpapasan dengan Alza yang hendak ke kamar kerjanya. Dalam hati ia heran karena majikan laki-lakinya pulang cepat, mungkin ia begitu penasaran.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️