Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 25


__ADS_3

Ibu Yang Tidak Berdaya


“Kamu pikir aku harus apa? Dia bukan anakku! Kamu saja yang menjadi Ibunya tidak melakukan apa-apa!”


Mendengar ucapan Rumina, Megan memalingkan muka, ia memang ibu yang tidak berdaya. Ia pun berkata, “Kamu tidak akan bisa bicara seperti itu kalau jadi aku!”


Rumina melihat ke Megan dari ujung kaki sampai rambutnya yang disisir rapi oleh Leni.


“Memangnya kamu kenapa? Coba katakan aku harus gimana menurutmu? Tidak ada salahnya menyekolahkan dia walau kamu tidak bisa mendampinginya! Apa kamu takut kalau terjadi sesuatu padanya?”


“Baguslah kalau kamu tahu!” Suara Megan terdengar ketus saat bicara.


“Apa bagusnya? Tidak semua orang akan punya nasib yang sama, kalau memang dia trauma seharusnya kamu berusaha menyembuhkannya, bukannya justru takut, kamu justru memperparah keadaan! Kalau kamu khawatir dengan keselamatannya, kamu lipat gandakan saja pengawalnya! Aku yakin suamimu akan memberikan semua itu! Atau—“


“Atau apa?”


“Atau kamu sendiri yang trauma?”


“Jadi, kamu tidak mau menjadi gurunya? Kalau begitu, lupakan saja soal menjadi pengasuh Isabel!” Megan tampak mengalihkan pembicaraan karena Rumina menyudutkannya.


“Ternyata kamu orang yang berpikir negatif,” kata Rumina yang sedikit kecewa karena yang ia dengar saat pelatihan, Megan termasuk wanita yang kompeten di perusahaan.


“Nyonya Megan, seharusnya kamu tidak berpikir negatif pada dirimu sendiri! Kamu tidak layak menjadi ibu bagi Isabel!”


“Jadi, siapa yang layak menurutmu? Kamu?”


Rumina tertawa.


Ia pikir Megan punya alasan kuat untuk tidak menyekolahkan anaknya, nyatanya ia hanya khawatir kalau terjadi sesuatu pada Isabel, sama seperti yang dialaminya. Alasan yang aneh. Kepintaran anak gadis itu seperti terhalang oleh kemauan sang ibu yang justru melemahkannya.

__ADS_1


“Kalau aku jadi Ibunya, apa kamu rela menyerahkan kedudukan itu? Aku pikir tidak, kan? Kamu Ibu yang aneh!” kata Rumina sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Megan diam sambil memalingkan muka dan pergi ke kamarnya sendiri melalui pintu yang terhubung dengan kamar anaknya. Ia menggerakkan kursi ke meja rias dan mengeluarkan sebuah map coklat, ia membacanya sambil berurai air mata.


“Nyonya, kalau kemoterapi ini berhasil, Anda bisa bertahan sampai dua atau tiga tahun lagi, tapi kalau gagal, Anda mungkin hanya bisa bertahan sampai tiga bulan saja!” kata dokter spesialis itu, yang selalu terngiang di telinganya, beberapa bulan yang lalu.


Ia memutuskan untuk tidak mengikuti kemoterapi karena berhasil atau tidak pengobatan itu, toh ia akan mati juga karena penyakitnya. Apalagi ia hanya bisa duduk di kursi roda, dan tidak ingin merepotkan orang lain lebih lama.


Alasan lainnya adalah, ia ingin memanfaatkan sisa hidupnya bersama Isabel dan suaminya. Mereka tidak perlu tahu alasan dibalik semua sikap keras kepalanya itu.


Ia tidak tahu kapan kematian akan datang menjemput, hingga ia tidak ingin melewatkan waktu bersama Isabela. Ia ingin melihat anak itu selama ia masih mampu melihatnya.


Dokter menyarankan agar ia berterus terang pada Alza, karena pengobatan membutuhkan dukungan dari seluruh pihak keluarga. Namun,ia melarang dokter itu membicarakannya. Ia ingin menyimpan sendiri rasa sakit itu dan pura-pura tegar menghadapinya. Selama ini ia berhasil dan tidak ada seorang pun yang tahu kalau sebenarnya ia sedang sekarat.


Leni mendekat dan membantu Megan kembali berbaring di tempat tidur. Setelah itu ia menyimpan map coklat itu kembali ke tempatnya semula. Megan tidak bisa duduk terlalu lama, bahkan saat Alza ada di rumah, ia akan terus pura-pura kuat dan memakai wig rambut.


Megan pernah beberapa kali mengikuti kemoterapi, tapi tidak berhasil. Namun, rambutnya sudah terlanjur rontok, dan wig itu untuk menutupi kepalanya yang gundul. Setiap kali melakukan pemeriksaan, ia akan meminta semua orang yang terlibat untuk tutup mulut.


“Ya. Aku tahu, bahkan aku seperti melihat potret diriku padanya! Tapi, belum saatnya ia tahu, aku akan melihat bagaimana perkembangannya sepekan ini!”


“Baiklah!”


$$$$$$$$$$$$$


Sepekan kemudian, Rumina baru saja selesai memandikan Isabel, saat ia melihat Megan yang mendekatinya dengan kursi roda.


Sementara Isabel tengah mengerjakan tugas dari sang guru pribadi. Rumina memintanya untuk menghubungkan beberapa garis putus-putus yang membentuk huruf serta angka dengan pensil pada bukunya. Gadis cilik itu menyukai tugasnya dan mengerjakannya dengan cepat.


“Kamu sudah selesai? Tunjukkan pada Mami!” kata Rumina saat Isabel menyerahkan tugas kecilnya.

__ADS_1


“Mami ...!”


Isabel tersenyum malu-malu dan memperlihatkan pekerjaan rumahnya pada Megan. Wanita itu hampir menangis melihat hasil karya anaknya.


“Apa kau ingin sekolah, Sayang?” tanya Megan.


“Apa itu sekolah?” tanya Isabel.


Rumina tidak ikut campur, tapi ia membuka internet di ponsel dan menunjukkan sebuah video pada anak perempuan itu.


“Seperti ini yang namanya sekolah!” katanya.


Isabel melihat ponsel Rumina dan berkata, “Kau mau membawaku ke sana, Rumi?”


“Kamu boleh pergi, kalau Rumi jadi Mami!” sela Megan, ucapannya membuat Rumina dan Isabel menoleh hampir bersamaan.


“Jadi Mami?” tanya dua orang itu hampir bersamaan pula. Isabel sebagai anak-anak tidak tahu maksud ibunya.


“Hmm ...,” gumam Megan sambil mengusap kepala Isabela. Anak itu diam dan melanjutkan menonton video.


Sementara Rumina tertawa, mengejek dirinya sendiri. Ia tidak tahu maksud Megan, dan menganggap majikannya itu hanya menyudutkan serta menguji kesabarannya. Tidak mungkin serius akan menjadikan dirinya sebagai mami bagi putrinya.


Sudah selama sepekan ia melihat kemesraan yang berlangsung antara Megan dan Alza, setiap harinya. Mereka bagai pasangan yang kasmaran di film romansa. Namun, di lain sisi, baik Megan atau Leni, selalu mendikte dirinya tentang apa yang tidak disukai dan disukai Alza.


Misalnya saat Rumina berlari-lari kehausan dan minum sambil berdiri, Leni yang mengetahui perbuatan itu langsung berkata, “Jangan minum seperti itu, kamu bukan unta! Tuan Alza tidak suka!”


Atau saat ia baru selesai mengeringkan rambut dan menggantungkan handuk di leher, mirip sopir bis yang kepanasan. Megan yang mengetahuinya langsung berkata, “Letakkan handukmu di tempatnya, dan bukan di leher ... Suamiku tidak suka!”


Seketika Rumina menjawab dengan kesal, “Apa lagi yang suamimu tidak suka, atau Tuan Alza tidak suka? Kalian pikir aku peduli? Dia suamimu!”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2