Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 22


__ADS_3

Rumah Ayah Dan Ibu


Rumina menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan ia pun heran mengapa Austin ada di sana. Pria itu duduk dengan tenang dan Alza ada di dekatnya.


Rey duduk lebih dahulu di dekat Austin.


Sementara Rumina tetap berdiri di dekat Rey. Ia tidak dipersilakan untuk bergabung dengan para lelaki di sana. Namun, ia maklum. Apalagi sekarang ia bukanlah karyawan yang sederajat dengan mereka.


Memang ia sudah menandatangani kontrak dengan Megan, tapi ia tetap tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Oleh karena itu ia menunggu instruksi selanjutnya.


Alza tahu kalau Austin dan Rumina memiliki hubungan saudara, dan kedatangannya kali ini adalah, untuk memenuhi undangan bos besarnya. Mereka akan bicarakan kedudukan Rumina di perusahaan cabang ke tiga.


“Kalian bersaudara, kan?” tanya Alza.


Austin dan Rumina mengangguk. Mereka saudara ipar. Mereka semua diam, tidak ada yang berani menyela ucapan Alza.


“Kau akan tetap di gaji dari kantornya!” kata Alza lagi sambil melihat Rumina sekilas. Lalu, mengambil ponsel dan membuka layarnya.


“Transfer gajinya seperti biasa ke rekeningnya, dan kirimkan buktinya padaku!” kata Alza lagi.


“Baik!” kata Austin pasrah, ia sudah mendengar tentang kesalahan yang dilakukan Rumina hingga di hukum dan tidak bisa bekerja di kantor seperti biasanya.


Perusahaan itu milik Alza, tentu saja ia bebas membuat peraturan, di mana Rumina akan bekerja di rumahnya, tapi tetap dibayar dari kantor cabang ke tiga. Selain itu, keinginan Alza adalah, ujian pertama bagi Austin. Apakah pria itu bisa dipercaya atau tidak.


“Ingat, kau hanya kepala cabang untuk sementara!” Alza menegaskan, dengan maksud agar Austin tidak lupa diri.


“Baik, Tuan!” kata Austin.


“Mulai malam ini dia akan tinggal disini, dalam waktu yang tidak bisa ditentukan!” kata Alza lagi seraya berdiri dan akan berlalu.


Namun, sebelum Alza pergi, Rumina memberanikan diri untuk bertanya, “Tuan, saya minta waktu untuk bicara sebentar dengan Austin.”


“Hmm ...!”


Alza mengangguk, lalu masuk ke ruang lain di rumahnya itu.

__ADS_1


Rumina mengajak Austin bicara di teras dan bertanya tentang kedua orang tuanya.


“Jangan khawatir, Ayah dan Ibumu baik-baik saja, Akila menjaganya dengan baik!” kata Austin datar.


“Tapi, kenapa aku tidak bisa menghubungi telepon rumah atau ponsel mereka?”


“Kalau soal itu, aku tidak tahu, tapi aku melihat mereka baik-baik saja!”


Rumina bernapas lega, walau selama beberapa hari ini ia tidak bisa menghubungi Akila dan orang tuanya.


“Apa Akila mengganti nomor lagi? Aku juga tidak bisa meneleponnya!”


“Ya. Dia punya hp dan nomor baru, dan dia tidak memberikan kepada banyak orang!”


“Oh!”


Rumina kesal dan bingung dengan alasan Akila merahasiakan nomor barunya sebab mereka bukan musuh apalagi ia hanya ingin bertanya tentang ibu dan ayahnya.


“Rumi, jangan membuat masalah lain dan kau harus membersihkan namamu dengan berbakti di sini! Ingat, baik buruknya dirimu akan mempengaruhiku! Lagipula Tuan Alza itu aneh, kamu tidak kerja padaku, tapi kenapa aku harus menggajimu?”


“Kenapa tidak tanya saja padanya?”


Rumina diam sejenak, dan berpikir, kalau ia mau melakukannya, berarti ia mau saja dibodohi oleh saudara iparnya itu.


“Aku tidak mau!”


“Kalian berdua, kau dan Akila, sama-sama keras kepala, ya? Aku menyesal dulu sempat menyukaimu karena aku kira kau penurut, tidak seperti Kakakmu yang gila itu!”


“Kalau kamu tahu dia gila, kenapa menikahinya?”


Seketika Austin terdiam, ia dulu pernah bersumpah pada Akila, akan mencintainya seumur hidup. Asalkan, ia mau membatalkan rencana bunuh diri dari jembatan penyeberangan yang paling tinggi di Mayore. Sementara di bawah jembatan itu adalah, jalan paling ramai dan banyak mobil lalu lalang dengan kecepatan tinggi. Kalau perempuan itu tetap nekat, maka sudah dipastikan ia akan tewas.


Itulah pertemuan pertama Austin dengan Akila hingga ia jatuh cinta, saat melihat air mata gadis itu meleleh deras di pipinya. Kalau bukan karena Austin yang menjanjikan akan sehidup semati dengannya, maka saat itu Akila sudah tak bernyawa.


Usaha Austin berhasil, hingga ia dapat banyak pujian dan tepuk tangan dari banyaknya orang yang menyaksikan drama bunuh dirinya Akila.

__ADS_1


Namun, lama kelamaan Austin menyadari jika rasa sukanya itu hanyalah karena kemanusiaan saja. Bahkan, ia tidak mendapatkan apa-apa dari pernikahannya dengan Akila. Walaupun, setelah menikah istrinya mendapatkan sebagian hasil dari tanah pertanian milik ayahnya, ia tetap tidak bisa bebas lagi karena sumpahnya sendiri.


Kejadian awalnya adalah, saat Akila terlihat sangat putus asa dengan penderitaan hidupnya, karena tinggal bersama paman dan bibinya yang gemar menyiksa. Oleh karena itu ia merasa jika lebih baik mati saja.


Akila merasa rugi karena hidup melayani paman dan bibi, tapi tidak mendapatkan imbalan sebagaimana mestinya. Apalagi, setelah kedua orang itu memiliki buah hatinya sendiri, ia justru dijadikan pembantu bukan lagi menjadi anak yang disayangi. Setelah paman dan bibinya meninggal Akila tidak mendapatkan apa pun, karena semua kekayaannya diserahkan kepada sang anak kandung. Lalu, di kemudian hari, anak itu mengusir Aqila pergi dari rumah yang selama ini mereka tempati.


Hal itulah yang memicu Akila untuk bunuh diri, ia bingung ke mana harus pergi sedangkan ia berprasangka jika kedua orang tuanya sejak kecil tidak pernah menyayanginya. Ia tidak tahu bahwa, sebenarnya kedua orang tuanya selalu memberikan biaya yang cukup untuk kehidupan Aqila.


Namun, semua uangnya digunakan untuk hal lain oleh paman dan bibinya, yang merupakan kakak dari kedua orang tuanya. Begitu juga dengan kedua orang tua Akila, mereka pun tidak tahu kalau uang mereka itu, tidak pernah diberikan kepada anaknya.


Setelah menikah dengan Austin, dan karena paman dan bibinya sudah meninggal, Akila jadi punya alasan tinggal di rumah kedua orang tuanya sendiri. Rumah yang berukuran sedang walau tidak mewah, tapi tempat itu sangat layak untuk mereka tinggali karena tidak harus menyewa.


Apalagi tanah di sekitar rumah masih sangat luas, tentu hal itu menguntungkan. Akila berniat menjualnya suatu saat nanti kalau orang tuanya sudah tiada. Soal Rumina, adalah hal mudah untuk menyingkirkannya. Begitu pikir mereka, sebab selama ini ia sudah mendapatkan kasih sayang ayah dan ibu.


Austin mengembalikan kesadarannya kembali dan mendekati Rumina seraya menyeringai.


“Aku akan menyiksa Ayah dan Ibumu kalau kamu nggak mau lakuin apa yang aku mau!” katanya, sambil mencengkeram bahu adik iparnya secara kasar.


“Apa yang kamu lakuin, Austin!” kata Rumina dengan suara rendah dan menahan sakit, ia tidak ingin di tuduh berbuat mesum dan berusaha mundur, sebab Austin saat ini begitu dekat.


“Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau sama kamu, adik ipar!” Austin berkata sambil menggerakkan tangan ke bagian bokong dan bagian depan tubuh Rumina.


Plak! Terdengar suara tamparan di pipi.


Rumina bergerak secepat angin melindungi diri dengan menampar kakak iparnya sendiri.


“Jangan kau pikir aku lemah!” katanya seraya meninggalkan Austin sambil berkata, “Tidak masalah kamu mau membayar ku atau tidak sebab aku yakin tidak akan kelaparan di sini!”


“Kalau begitu, jangan harap bisa melihat Ayah dan Ibumu lagi!” kata Austin sambil berjalan ke luar halaman dan menaiki mobilnya, lalu pergi dari sana.


Rumina berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya berguncang karena menahan tangis agar suaranya tidak keluar.


“Masuklah! Kalau mau menangis, jangan di sini!” Rey berkata sambil mengulurkan tisu.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Hai, hai, hai, semua pembaca sekalian, maaf ya, baru update lagi, jangan lupa like, komen dan tinggalkan jejak kalian ya!


Salam manis dariku, El Geisya! ❤️


__ADS_2