Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 24


__ADS_3

Ibu Yang Tidak Berdaya


 


“Ya, masuklah!” kata suara dari dalam kamar Isabel. Sebuah suara yang tidak cocok dengan anak umur tujuh tahunan terdengar mengusik indra pendengaran Rumina.


Meskipun, sedikit ragu karena takut salah tempat, Rumina akhirnya masuk dengan rasa percaya diri. Kalau saja ia salah, maka yang harus disalahkan adalah Bibi Leni, sebab wanita itu yang menunjukkan di mana kamar Isabel berada.


Betapa terkejutnya gadis itu ketika sudah membuka pintu dan berada di dalam. Ia melihat Isabel, dan Alza tidur di ranjang yang sama sambil berpelukan. Laki-laki itu sedang mengusap punggung anaknya yang terlihat masih sesenggukan habis menangis. Rumina belum tahu kebiasaan Isabel setiap baru bangun, ia akan merengek mencari orang yang paling terakhir ia lihat sebelum memejamkan mata.


Isabel terbangun di tengah malam dan secara kebetulan Alza yang baru selesai di ruang kerja, melihat anaknya. Kemudian ia menidurkannya kembali dengan cara mengusap punggungnya. Oleh karena itu, saat Isabel kembali terbangun, ia mencari ayahnya itu. Tentu saja Ayah satu anak itu mengetahui semua kejadian tadi malam, ia masih berada di ruang kerja, sampai memastikan Rumina memasuki kamarnya sendiri dalam keadaan baik-baik saja.


Rumina melihat ke sekeliling kamar untuk menaruh nampan di tempat yang tepat, yaitu di meja kecil di samping tempat tidur. Ia heran, kenapa bubur sarapan Isabel harus di bawa ke sana.


Alza duduk sambil memegang kening Isabel, lalu melirik Rumina sekilas, seraya berkata, “Suapi dia!”


Dari sini Rumina tahu kalau Isabel sedang tidak enak badan hingga ia harus makan di kamar.


Rumina mengangguk hormat, ia canggung karena berada dalam satu kamar dengan sang idola. Walaupun, mereka pernah dalam keadaan lebih intim dari sekarang, tapi berada di rumah itu bersamanya adalah, pengalaman yang baru dan unik baginya. Sungguh ia tidak pernah menduga kalau takdir akan membawanya seperti sekarang, menjadi pelayan anak semata wayang bosnya.


Alza kemudian mengusap punggung Isabel sambil berkata, “Bangunlah kalau kau mau sarapan, ada yang mau menyuapimu sekarang!” Suaranya lembut, membuat anak gadis itu menoleh pada Rumina.


“Dia bukan Bibi Len?” Isabel bertanya sambil beringsut lebih dekat pada ayahnya, memeluk pria itu dengan ekspresi ketakutan.


“Bukan, Bibi Leni masih pekerja, Ayah juga mau ke kantor dan Ibu masih tidur, apa kamu mengerti?”


Isabel diam, enggan melepaskan pelukannya pada Alza.


“Dia tidak akan memukulmu, percayalah pada Ayah!” Alza berkata sambil mengusap kepala anak dalam pelukannya.

__ADS_1


Isabel menoleh pada Rumina yang tersenyum dan menatap wajahnya lebih lama. Lalu, ia menggelengkan kepala.


Romina merasa gemas ia membuang kecanggungan, lalu duduk di sisi tempat tidur kalau iya gugup mungkin masalah antara dirinya dan Isabel tidak akan selesai dengan cepat.


“Hai cantik! Aku sendiri yang membuat bubur ini, apa kau mau mencicipinya? Makanlah sedikit saja ... kalau kamu tidak suka aku akan pergi! Coba dulu, oke?”


Ruminan berkata dengan lancar sambil tersenyum ramah pada Isabel. Ia memberanikan diri untuk menyentuh kepala anak itu dengan lembut. Masih terasa sedikit panas di telapak tangannya, pasti karena masih sakit.


Rumina bukan pembantu rumah tangga. Jadi, tidak harus memposisikan dirinya terlalu sopan ataupun sungkan dengan keadaan mereka saat itu. Ia pikir, dirinya memang harus bekerja sebagai teman bagi Isabel. Dengan begitu, ia tak perlu canggung walau, ada Alza di sana. Dan, tidak akan memakan waktu lebih lama untuk membujuk.


Gadis itu menanamkan dalam dirinya bahwa, ia adalah orang yang harus bekerja demi hutang budinya, sekaligus membayar kesalahan yang sudah dibuatnya. Itu saja.


Isabel masih terlihat enggan, ia melihat antara bubur tangan Rumina dan wajahnya. Lalu, ia mendekati dan memakan sedikit dari sendok yang terulur padanya. Saat mengunyah, gadis kecil itu mengecap rasa yang cocok di lidahnya.


Setelah itu ia turun dari pangkuan Alza dan duduk di dekat Rumina.


“Kita pernah bertemu sebelumnya, ingat? Kita teman!” kata Rumina lagi sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Melihat hal itu, Alza beranjak dari tempat tidur dan pergi meninggalkan dua wanita itu tanpa berkata-kata lagi. Sudah seharusnya ada seseorang yang membantunya meringankan masalah anak dan istrinya.


Hidupnya dikelilingi wanita yang sakit.


Mengurus perusahaan dan semua permasalahannya saja sudah membuat pikirannya lelah, ditambah dengan keluarga yang bermasalah. Ia harus menjadi pria kuat yang sesungguhnya, agar pikirannya tidak meledak dalam kebekuan.


Pria yang serius dan fokus tidak akan meleburkan diri dalam canda dan humor tidak bermutu. Sebab ada banyak hal yang ia pikirkan.


Hati dan tubuhnya telah ditempa dengan berbagai masalah selagi usianya masih 20 sampai 35 tahun. Hingga diusianya yang lebih dari 37 tahun ia sudah menjadi pria yang matang.


Sungguh jarang ada pria yang sukses di usia muda kecuali orang tua mereka kaya raya.

__ADS_1


Alza tidak mendapatkan semuanya dengan mudah karena ada persaingan antar semua anggota keluarga yang menginginkan posisinya. Berkat sang ayah yang sudah tiada, ia bisa mewujudkan impiannya dan membangun kerajaan bisnis itu sesuai keinginannya. Tidak lagi harus menuruti kemauan para petinggi perusahaan. Ibunya pun berjasa besar dalam keluarga, namun ia wanita yang tidak berusia panjang. Sang ibu meninggalkannya lebih dulu bahkan sebelum ia menikah dengan Megan.


Pertemuannya dengan Megan adalah anugrah terindah yang membuatnya lengkap dan bahagia. Ia wanita yang tidak banyak menuntut, meskipun mereka kaya raya. Istri Alza adalah wanita paling kompeten di Robinson saat itu dan karena ia pulalah, perusahaan bisa memiliki beberapa cabang dengan gemilang.


Alza kembali ke kamarnya melalui pintu yang terhubung dengan kamar anaknya. Ia akan pergi bekerja dengan tenang setelah melihat interaksi Rumina dan Isabel. Jadi, ia tidak perlu mengkhawatirkannya.


Sementara itu, Rumina sudah selesai menyuapi, karena bubur buatannya ternyata cocok dilidah Isabel. Kegiatan sarapan mereka diiringi dengan bercerita hingga tanpa terasa mereka menjadi akrab.


Setelah itu Rumina mengajak Isabel belajar membaca dan menulis. Walaupun, ia bukanlah seorang guru dan tidak berbakat menjadi pengajar, ia mengikuti cara bagaimana sekolah di taman kanak-kanaknya dulu.


Seharian mereka melakukan banyak kegiatan, dan hampir membuat gadis cilik itu melupakan ayah dan ibunya. Biasanya, Isabel hanya sebentar bermain dengan Leni, lalu kembali mencari sang ibu karena wanita lebih dari paruh baya itu harus menyelesaikan pekerjaan lainnya. Sementara anak majikannya itu tidak mau bermain dengan asisten rumah tangga lainnya.


Diakhir hari, Rumina mengajak Isabel mandi dan memilih pakaian manapun yang ia sukai. Bahkan, Rumina membuatkan gadis itu membongkar semua isis lemari hanya untuk bersenang-senang. Setelah puas memilih baju, anak itu justru tertidur karena kelelahan.


Rumina membereskan kembal8 pakaian Isabel satu persatu ke tempatnya semula.


“Kau senang membuat berantakan seperti ini?” kata sebuah suara dan Rumina segera menoleh ke belakang. Ada Megan yang duduk di kursi roda tengah memperhatikannya.


Rumina tahu kalau seluruh aktifitasnya bersama Isabel hari itu, tidak lepas dari pengamatan Megan, entah dari balik jendela atau dari beberapa kamera pengawas yang tersebar di sana.


“Jangan kuatir! Aku akan bertanggung jawab dan membereskannya!” sahur Rumina datar. Lagi-lagi ia tidak perlu merasa sungkan, sebab Megan bukan pula atasan atau bawahan, mereka sama-sama sebagai orang yang mencoba bertahan hidup.


“Apa yang kamu rencanakan untuk bermain dengan anakku besok?”


“Entahlah, aku belum merencanakannya, aku belum tahu apa kebiasaannya dan kesukaannya, apa yang aku lakukan mengalir saja!”


“Apa kamu tidak berencana membuat Isabel tumbuh lebih baik?”


Rumina terkekeh dan berbalik, ia tinggalkan sebagian pakaian yang masih berantakan. Ia melirik Isabel yang tertidur pulas lalu menoleh pada Megan. Ia duduk di sisi tempat tidur.

__ADS_1


“Kamu pikir aku harus apa? Dia bukan anakku! Kamu saja yang menjadi Ibunya tidak melakukan apa-apa!”


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2