Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 28


__ADS_3

Melihat Cinta Yang Luar Biasa


Melihat panggilan di teleponnya itu, Alza segera pulang dan Rey mengendarai mobil bosnya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di rumah Alza langsung menemui Megan di kamarnya. Begitu masuk, ia langsung duduk di sisi tempat tidur di mana perempuan itu tengah terlelap.


Leni ada di sana, baru selesai menyelimuti majikannya, saat Alza menanyakan keadaan istrinya. Pria itu terlihat sangat khawatir dan memegang tangan Megan dengan lembut karena takut membangunkannya.


Leni menceritakan bahwa Megan ingin pergi ke dokter dengan ditemani Alza karena kali ini batuknya berdarah. Namun, wanita paruh baya itu tidak memberitahu Alza tentang penyakit Megan yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak berhak untuk membuka rahasia itu, meski ia ingin, sudah sewajarnya seorang suami mengetahui keadaan istrinya.


Pikiran Megan berbeda karena ia wanita yang keras kepal, dengan merahasiakannya ia berpikir akan jauh lebih baik bagi Alza.


“Suamiku butuh ketenangan saat menjalankan usahanya aku tidak ingin dia terganggu dengan hal-hal kecil yang berurusan denganku, aku tidak ingin dia khawatir padaku!” Itu Alasan Megan yang ia katakan pada Leni.


“Bibi ... aku merahasiakan semuanya, bukan hanya demi Alza tapi demi diriku sendiri! Aku juga tidak ingin hidup lebih lama lagi karena aku tidak ingin merepotkan kalian ... seandainya aku mengatakan soal penyakitku, maka dia akan berusaha untuk menyembuhkan aku dan membawaku berobat ke luar negeri tetapi aku tidak mau! Itu akan sangat merepotkan ...,” kata Megan lagi.


Oleh karena itu, Leni yang setia pun tidak mengatakannya pada Alza, ia hanya mengatakan tentang batuk berdarah yang dialami Megan saja.


Namun, Megan tidak kecewa saat menghubunginya, tapi tidak mendapatkan jawaban dari Alza. Perempuan itu sangat maklum dan akhirnya ia memilih untuk diperiksa oleh dokter keluarga.


Alza menyesali kenapa ia tertidur di saat Megan membutuhkannya, tapi setelah tahu kalau istrinya sudah diperiksa dan diberi obat oleh dokter pribadinya, pria itu punerasa lega.


“Maafkan aku!” hanya itu yang bisa ia katakan dengan lembut dan penuh rasa bersalah di hatinya, sambil kembali menciumi punggung tangan istrinya.


Megan sebenarnya tahu kalau Alza ada di dekatnya dan bisa mendengar semua yang dikatakannya, tapi ia sangat lemah untuk merespon dan tidak kuat hanya untuk membuka mata. Dokter telah memberinya obat tidur hingga ia seperti wanita yang mati saja.


Walaupun, saat menghubungi Alza tadi Megan sedikit curiga--karena panggilannya tidak di angkat, tapi bukan masalah.


Percuma saja marah karena kesalahan sebenarnya ada pada dirinya yang tidak berdaya.


Lalu, ia memutuskan untuk memanggil dokter keluarga demi meredam kekhawatiran Leni. Aisiten rumah tangga itu begitu menyayanginya dan tidak ingin terjadi sesuatu padanya.


Sekarang, Leni yang melihat ketulusan Alza pun kembali terharu karena pria itu memang setia. Meskipun istrinya tidak berdaya, ia tidak mencari wanita lain untuk dinikahi atau dijadikan pelampiasan demi dirinya sendiri.


Namun, kehadiran Rumina adalah harapan besar baginya, terutama Megan demi mengembalikan kesempurnaan keluarga yang membutuhkan kehadiran seorang istri yang sepadan dengan Alza.

__ADS_1


Baik Leni maupun Megan berharap jika wanita yang sekarang mengurus Isabel itu bisa menggantikan peran seorang ibu yang sesungguhnya.


Leni pergi dari kamar setelah menjelaskan semuanya pada Alza.


Lalu, laki-laki itu mengganti pakaian setelah mencuci kaki dan tangannya di kamar mandi. Ia terkejut begitu keluar dari ruang ganti karena melihat Megan yang sudah terbangun dengan menyunggingkan seulas senyum di bibirnya.


“Kenapa kamu bangun?” tanya Alza penuh emosi yang hampir keluar dari sudut matanya, ia tadi khawatir setengah mati jika terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, begitu melihat wanita itu baik-baik saja, ia pun hampir menangis dibuatnya.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya lagi.


“Iya ... ada yang ingin aku bicarakan denganmu!” katanya masih dengan senyum, tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali dari tempat tidur.


“Kamu bagaimana? Apa ada yang sakit?” tanya Alza, sambil mendekat dan mengusap mukanya.


Megan menggelengkan kepalanya, “Aku sudah baik sekarang,” katanya.


“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Alza. Ia duduk di sisi istrinya sambil bersandar di kepala tempat tidur.


“Apa maksudmu harus menikahi wanita itu?”


“Kamu harus menikahi wanita itu demi diriku.”


“Kamu ini aneh,” kata Alza, ia memalingkan pandangan dan tersenyum samar.


Alza sudah sering melihat upaya Megan untuk menjodohkan dirinya dengan wanita lain, hanya karena kelumpuhannya. Padahal semua itu bukan masalah yang berat. Sebagai suami ia tahu kalau istrinya merasa tidak berdaya karena tidak mampu melayani, tapi soal hubungan suami istri sebenarnya bukan masalah lagi, karena ia sendiri tidak bisa.


Dua manusia itu saling merahasiakan apa yang mereka alami.


“Aku tidak masalah kamu seperti ini, apa kamu tidak takut aku menyukai wanita lain?” tanya Alza, tubuhnya melorot dan berbaring miring menghadap istrinya.


“Sayang, aku sudah melihat perkembangan Isabel akhir-akhir ini!” kata Megan semangat. Ia mengalihkan pembicaraan Alza agar tidak terfokus pada dirinya karena khawatir rahasianya terbongkar sebelum waktunya.


“Ya. Lalu?”

__ADS_1


“Dia gadis yang baik, cuma dia yang mampu memenuhi syarat untuk menjadi penggantiku bagi ibu Isabel kalau aku ingin istirahat. Kamu tahu? Kan, selama ini Isabel selalu memaksaku ikut bermain padahal aku lelah?”


“Cuma karena itu? Dia sudah cukup jadi pembantu!”


“Aku ingin hubungan yang baik, seandainya aku tidak melayanimu dan ada wanita lain yang bisa menggantikan aku, kenapa tidak?”


Alza diam sambil berpikir, ia merubah posisi berbaring dengan telentang dan menatap langit-langit kamar, dan mengingat Rumina. Gadis itu memang tidak biasa, tapi ia masih sangsi apakah ia akan mampu memahami Isabel dan istrinya. Namun, bukan hanya itu saja, naluriahnya sebagai lelaki selalu merasa tertarik jika berpapasan dengannya. Itu adalah rasa yang sama seperti saat ia pertama kali menyukai istrinya.


Dua rasa bebeda itu tengah bergelut dibenaknya.


Rumina memang sangat baik dalam mengasuh Isabel dan tidak banyak membuat masalah. Ia juga sopan dan tahu batasannya hingga sama sekali tidak berusaha menggoda bosnya. Namun, hal itu pulalah yang membuat Alza semakin penasaran saja.


Meskipun begitu, ia tetap bisa mengendalikan diri demi harga diri dan juga kewarasan.


Mengetahui kalau Megan memintanya menikahi Rumina, tiba-tiba saja jantungnya berdegup cukup keras. Ini tidak biasanya.


“Kamu sendiri tahu bagaimana kisah pertemuan mu dengannya, kenapa harus ragu? Anggap saja kamu menuruti kemauanku, bukan karena penyakitku!” kata Megan lagi.


Setelah beberapa saat lamanya diam, Alza menoleh dan menarik napas panjanga.


Ia pun berkata, “Baiklah kalau kamu yang minta!”


Megan tersenyum lalu, memejamkan mata dan tidak bicara lagi setelah itu.


Sementara itu, di luar rumah Rumina sedang duduk di sisi kolam renang sambil melipat lututnya. Ia baru saja melihat pemandangan yang tidak biasa di dalam kamar bosnya. Ia secara tidak sengaja melihatnya saat melintas dan Leni baru saja keluar dari sana.


Di dalam kamar itu, Alza duduk di samping tubuh Megan sambil menggenggam tangannya. Ia melihat seseorang yang memiliki cinta luar biasa..


“Ngapain kamu di sini? Ayo ikut! Aku mau bicara!”


Rumina menoleh untuk melihat siapa yang tiba-tiba bicara di belakangnya.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2