
Obrolan Di Malam Hari
“Hallo, Tuan!” suara Rumina rendah, ia menahannya agar tidak terdengar teman lainnya, sekaligus menahan suara bising agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.
“Kamu masih di mana?” suara Alza di seberang sana terdengar tegas.
“Saya masih di stasiun, Tuan! Ad—“
“Kirimkan fotomu!”
“Apa itu diperlukan?”
“Ya!”
“Baik, tunggu sebentar!”
Rumina tetap menurut walau sedikit bingung dengan ucapan Alza, ia pikir memang seperti itulah seharusnya karena hal ini yang pertama baginya. Ia pun membuat foto diri yang berdiri tak jauh dari teman-temannya. Mereka tengah menunggu bis yang akan menjemput mereka di stasiun kereta. Setelah itu ia mengirimkannya tanpa mematikan panggilan.
Begitu pesan diterima, barulah Alza memutuskan teleponnya.
Rumina menjadi masam, ia pikir Alza akan membicarakan alasannya meminta foto, menanyakan hal lainnya atau setidak-tidaknya mengucapkan terima kasih. Lagi-lagi gadis itu mengabaikan perasaannya sendiri yang berada antara ironi dan harapan, serta khayalan dan kenyataan.
Ia hanya gadis biasa dan harus tahu diri serta batasan hingga ia tidak akan berharap lagi pada Alza. Ia akan fokus mengumpulkan uang untuk menabung dan membayar hutangnya. Sebenarnya ia tidak berniat berhutang! Tiba-tiba ia menyesal. Seharusnya ia menjual diri saja hingga tidak harus berhutang budi seperti sekarang.
Ini bukan kesalahannya, melainkan kesalahan Alza. Salah sendiri ia tidak mau tidur dengannya malam itu. Kenapa?
Pikiran itu muncul bersamaan dengan rasa kecewa yang baru saja datang. Ide menyalahkan orang lain adalah salah satu cara menghibur diri yang sempurna. Tidak ada seorang pun di dunia ini berharap melakukan kesalahan.
Sekali lagi dirinya tak bersalah, jadi, untuk apa merasa berhutang budi dan ingin membalas jasanya? Tidak perlu!
Tak lama setelah itu, terlihat sebuah bis kecil dengan tulisan PT. Robinson Botanica mendekati rombongan pelatihan yang ada di sana, termasuk Rumina. Di dalamnya sudah ada peserta lain dari cabang kedua. Total peserta dari empat kantor Robinson di berbagai kota, semuanya berjumlah 20 orang.
Pelatihan itu diadakan dua kali dalam setahun. Bertujuan untuk meningkatkan kinerja serta dedikasi semua pegawai yang setia pada Robinson botanica. Rata-rata mereka sudah bekerja cukup lama di sana. Selain mendapatkan ilmu dan pengarahan untuk menjadi pegawai lebih baik, mereka juga akan mendapatkan penghargaan. Pada kesempatan itulah perusahaan akan memberikan reward ataupun hadiah. Mereka yang ikut dalam rombongan itu merupakan pegawai yang sudah dipilih oleh masing-masing kantor. Hal itu diperoleh dari penilaian kerjanya selama enam bulan ke belakang.
Ketika di dalam bus itu semua peserta diminta untuk menandatangani sesuatu dalam sebuah kertas yang sudah diberi cap serta logo perusahaan. Adapun isi dari apa yang mereka tandatangani itu tidak boleh dibuka ataupun di baca.
Tentu saja hal itu sangat mencurigakan bagi Rumina. Gadis itu penasaran hingga Ia membuka amplop yang tersegel di dalam map. Lalu, ia mencoba mengintip dan membaca apa yang ada di dalam amplop.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan kenapa tidak kau tandatangani saja?” kata seorang pria yang duduk di sisi Rumina mereka berdua duduk paling belakang dalam bus karena hanya itulah bangku yang tersisa.
“Tidak, aku hanya penasaran saja, coba tutupi aku jangan sampai terlihat!”
Begitu ia berhasil membuka sedikit bagian dari amplop itu ia tercengang demi mengetahui bacaan di dalamnya. Ia merasa bahwa dirinya dan juga seluruh peserta yang ada, terlibat dalam sebuah penipuan tetapi ia tidak tahu apa-apa. Jadi ia memilih untuk tidak menandatanganinya.
Setelah itu ia menghubungkan dengan apa yang diminta oleh Alza untuk mengirimkan fotonya ketika berada di stasiun kereta.
“Apakah kamu sudah selesai memberikan tanda tangan?” tanya temannya lagi.
“Euhm!” Rumina bergumam, sambil memberikan ketenangan pada temannya itu.
Sesampainya di perusahaan mereka dibawa ke tempat yang disediakan, untuk para peserta latihan beristirahat. Itu adalah bangunan permanen berbentuk memanjang yang cukup bagus dan terawat begitu bersih.
Ternyata mereka tidak perlu membersihkan area dan juga kamar, karena semua sudah bersih. Tahun ini mereka mendapatkan mess yang istimewa karena baru direnovasi. Masing-masing ruangan pun cukup nyaman dan di gunakan untuk empat orang.
Saat mereka tiba di sana hari sudah menjelang sore hingga seorang penanggung jawab asrama diminta mereka untuk istirahat dan bersiap pagi-pagi sekali untuk keesokan harinya.
Rumina mendapatkan teman satu kamar yang menyenangkan walaupun, itu dari cabang serta divisi yang berbeda. Justru di itulah keasyikannya karena mereka bisa bertukar pengalaman serta cerita yang berbeda-beda.
Hanya satu dari kesamaan semua wanita itu yaitu, mereka sangat penasaran dengan Alza sebagai pemimpin utama dari keempat cabang perusahaan yang ada. Tentu saja dari masing-masing cabang mendapatkan porsi yang sama, soal kunjungan Alza. Yaitu satu kali dalam setiap bulannya.
“Ya, ya,” kata teman yang lain menyetujui sambil tersenyum malu-malu.
Hanya Rumina yang bersikap biasa saja karena ia tidak ingin menampakkan diri bahwa ia tidak sama seperti mereka. Ia sudah tidak seanntusias dulu lagi soal Alza dan fokus untuk membayar hutangnya. Oleh karena itu ia harus bekerja keras.
“Tapi kehidupan manusia memang seperti itu, kan?” kata seorang teman Rumina, ia terlihat yang paling dominan di antara tiga orang lainnya.
“Apa maksudmu tiba-tiba bicara seperti itu?” tanya Rumina sambil memasukkan kacang goreng ke mulutnya.
“Tuan Alza!” kata wanita yang pertama bicara.
“Kenapa dengan dia?” tanya wanita lainnya.
“Biasanya, manusia itu hanya bisa saling pandang dari kejauhan, melihat hidup orang lain enak dari kita atau melihat orang lain lebih beruntung dan kita ... padahal belum tentu seperti itu, kita tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh orang itu hingga dia menjadi beruntung dan hidup nyaman iya kan?”
Tiga wanita lainnya menganggukkan kepala tanda setuju.
__ADS_1
“Ya! Apa maksudmu Tuan Alza?” tanya teman yang duduk di sebelah kiri Rumina.
Wanita yang pertama bicara pun mengangguk.
“Memangnya ada apa dengan Tuan Alja?” kata Rumina penasaran.
“Memangnya kamu belum tahu?” kata wanita itu.
“Dia kita lihat orang yang sempurna, tampan, kaya terhormat, keluarganya juga terpandang, tetapi menurutku dia orang yang perlu dikasihani! Bahkan, kemungkinan dia tidak bahagia!”
Teman yang lain menganggukkan kepala mereka sama-sama menikmati camilan kacang goreng yang dibawa oleh Rumina.
“Ya, dia punya istri yang cacat seumur hidup!” kata wanita tadi.
Tiba-tiba Rumina diam dan mematung, sedangkan teman-teman yang lainnya masih terus berceloteh.
“Ya, lebih baik seperti kita sederhana ... biasa-biasa saja, tapi kita lebih bahagia, iya, kan?”
“Betul-betul!” yang lain ikut menimpali.
“Hei! Apa kalian tidak ada yang mau mendaftar jadi istri kedua, hah?”
“Hai, jangan mimpi kita bukan levelnya!”
“Siapa tahu di antara kita ada yang beruntung?”
“Mungkin saja dia sudah memuaskan dirinya dengan banyak wanita di luar sana!”
“Tidak mungkin ... aku dengar orang-orang seperti Tuan Alza itu, adalah orang-orang yang menjaga harga diri dan nama baik keluarga!”
Mendengar ocehan teman-temannya itu tiba-tiba Rumina tersedak kacang goreng yang dimakannya.
“Hai, Rumi! Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba tersedak?”
“Tidak, tidak apa, aku hanya butuh minum!” katanya sambil mengambil air mineral dalam kemasan yang tersedia di kamarnya.
Dalam hati ia sebenarnya kikuk. Ia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Alza di kamar hotel yang sudah dipesan waktu itu. Ia memikirkannya! Jika benar laki-laki itu sengaja menyewa wanita yang bersih. Kemungkinan hanya satu bahwa, pria itu ingin menjaga diri serta sudah tidak kuat lagi untuk, menanggung hasratnya yang tidak tersalurkan karena kondisi sang istri.
__ADS_1
Rumina segera beranjak untuk mengambil ponselnya di dalam tas.
❤️❤️❤️❤️