
Hari Terakhir Bagi Seseorang
Hari Kamis adalah jadwal terakhir pelatihan di Robinson Botanica, semua peserta hadir seperti biasa setelah mengikuti sarapan pagi bersama di asrama. Biasanya di hari itulah para peserta akan mendapatkan hadiah, dan penghargaan dari perusahaan sebagai apresiasi agar lebih semangat dan lebih baik dalam bekerja. Berdedikasi tinggi dan setia pada perusahaan.
Sementara itu, Rey datang ke kediaman Alza Ayares untuk menjemputnya. Ia berwajah pucat, akibat semalaman tidak bisa tidur, begadang karena banyak pikiran. Salah satunya adalah karena Alena, gadis yang lama dikaguminya itu sekarang terang-terangan mengunggah foto dirinya dengan seorang pria keturunan yang jauh lebih tampan darinya.
Perbedaan umur baginya tidak masalah sebab bukan usia yang mempengaruhi langgengnya sebuah hubungan rumah tangga. Namun, sekarang ia mencoba mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Menyukai Rumi saja sekarang sudah tidak mungkin lagi.
“Kenapa wajahmu?” tanya Alza sambil menyesap kopinya. Ia melirik Rey dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Penampilannya biasa hari ini dengan pakaian resminya kalau bekerja.
“Tidak apa-apa, Tuan. Hanya masuk angin semalam!”
“Apa kamu begadang dengan gadis itu?”
Rey mengerutkan keningnya, lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak, Tuan. Rumi langsung saya antar ke asrama!”
Lalu, dua orang itu duduk secara berhadapan di ruang tengah, sedangkan Megan tampak masih membereskan bekas makannya sendiri. Ia berada di ruang makan yang terlihat dari tempat di mana Rey dan Alza.
“Tuan, hari ini Tuan Johan mengirimi saya pesan, kalau beliau sakit. Jadi, kalau bisa kerjasama penggalian Gunung Nanjung dibicarakan di mansion miliknya!” kata Rey sambil menyalakan ponsel dan menunjukkannya pada Alza.
“Siapa yang mau ikut?”
“Aldero, Tuan. Dia asisiten Anda di proyek nantinya!”
__ADS_1
“Ingatkan dia! Alena juga!”
“Sudah, tinggal menunggu keputusan Anda, mau berangkat jam berapa?”
“Sekarang saja!”
“Tapi pagi ini ada jadwal Anda berbicara di depan peserta pelatihan!”
Alza tertegun, memikirkan perubahan agenda yang sebenarnya sudah biasa setiap pekannya. Hal seperti ini sering terjadi. Bukan sesuatu yang aneh kalau semua agenda justru berubah dari rencana semula hanya karena satu masalah saja. Oleh karena itu ia tidak bisa berdiam diri dalam waktu lama di satu tempat saja. Bahkan, kalau tidak ada hal menyebabkan dirinya harus ke kantor Robinson, maka ia tidak akan muncul di sana.
Pria itu menunjukkan wajah malas, ia enggan berhadapan dengan mereka, agenda yang membosankan.
“Baiklah, hubungi Alena, kita ke rumah Johan setelah makan siang!”
“Baiklah!”
Megan tersenyum mendekati Alza dengan menggerakkan kursi roda elektriknya. Ia meraih tangan Alza dan menciumnya.
“Sudah mau berangkat, Sayang?”
Alza diam seraya mencium kening istrinya lembut.
“Istirahatlah, biar besok kau bisa sembuh!” katanya sambil mencolek hidung Megan.
__ADS_1
Alza berjalan keluar diikuti Rey, sedangkan Megan menatap kepergian suaminya dengan berat hati. Meskipun begitu, senyuman masih menghiasi bibirnya yang mungil. Ia hampir tidak memiliki raganya lagi, jangankan untuk melayani sekedar mengangkat tangan untuk memeluk lehernya saja ia tidak bisa.
Alza seorang Leo, pemilik zodiak dari semua bintang yang berkepribadian hebat. Hatinya hanya milik Megan seorang karena Leo bukan tipe pembagi cinta. Sampai sekarang saja ia menolak setiap kali Megan memilihkan seorang istri untuk dirinya.
Sebagai istri, tentu ia tidak ingin kalau suaminya menikah lagi, tetapi ia mengambil keputusan itu setelah ia sembuh dari komanya di rumah sakit. Ia mengetahui tidak bisa berdiri lagi, karena kerusakan di tulang ekornya.
Waktu kecelakaan itu, ia sedang bergembira karena berhasil mendapatkan tender proyek yang diinginkan Alza. Ia tak henti-hentinya berceloteh di sepanjang perjalanan hingga sopir menjadi tidak fokus. Di saat yang bersamaan, sebuah sinar menyilaukan seolah masuk melalui kaca depan, membuat pandangan kabur. Terrnyata cahaya itu dari lampu sebuah truk besar dari arah berlawanan. Kecelakaan pun tidak bisa dihindarkan. Bahkan, sang sopir tewas seketika.
Sekarang, atau tepatnya dua bulan yang lalu dokter memvonis dirinya mengidap kanker getah bening. Hancur sudah jiwa dan raganya. Bahkan ia tidak butuh kematian untuk merasakan mati. Kondisi denail yang mendera jiwanya tak terelakkan, tapi percuma saja sebab akan mati juga pada akhirnya.
Kalau ia ingin bertahan, ia harus melakukan kemoterapi hingga usianya bisa diperpanjang sampai dua atau tiga tahun lagi. Namun jika ia menolak, maka usianya mungkin hanya dalam hitungan bulan saja. Kanker akan menyebar dengan cepat.
Megan tidak mau memperpanjang usia karena ia sudah terlalu lelah setelah tujuh tahun hanya bisa duduk di kursi roda. Namun, ia tidak memberitahukannya kepada Alza, dan meminta dokter untuk merahasiakannya juga dari suaminya.
Wanita itu merasa lega setelah mendapatkan jawaban dari Rumina yang mau meninggalkan pekerjaannya. Dengan begitu, ia bisa melakukan apa yang diinginkannya. Penantian mungkin akan berakhir dan ia bisa beristirahat dengan tenang.
Megan sengaja mencari beberapa wanita yang menyukai Alza dari kalangan pegawainya di kantor. Tentu saja Ia memiliki mata-mata hingga bisa mengetahuinya. Di antara mereka ada yang memenuhi kriterianya, tapi kebanyakan tidak.
Keinginannya adalah mencari pendamping bagi suaminya dari kalangan wanita, yang mempunyai pengetahuan serta mengerti tentang perusahaannya. Ia tidak mau memilih sembarang orang, seperti salah satu pembantu di rumahnya. Mereka juga tergolong bersih dan cantik karena sebelum bekerja, Megan yang memilih. Di antara mereka juga ada yang menyukai suaminya.
Namun, Megan tidak ingin wanita yang mendampingi Alza dari kalangan mereka. Sementara kehadiran Rumina bagaikan hujan di tengah panas yang menyengat. Perempuan itu seolah sengaja melemparkan dirinya untuk menjadi umpan.
Megan meminta asisten untuk membantunya merebahkan diri di kamar. Seperti itulah kebiasaannya setiap hari setelah divonis kanker oleh dokter. Ia hanya berpura-pura kuat jika ada di dihadapan anak serta suaminya. Namun ketika Alza sudah pergi maka ia akan segera kembali ke tempat tidur. Ia tidak kuat untuk duduk terlalu lama, atau melakukan aktivitas lainnya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️