
Rambut Yang Sama
Plak!
Suara itu terdengar sekali lagi. Artinya kedua pipi Rumina kanan dan kiri sudah merah akibat, tamparan dari Megan yang cukup keras.
Saat itu juga Rumina tersentak sekaligus heran karena wanita yang cacat itu masih mempunyai tenaga yang cukup kuat untuk menampar pipinya. Rasanya pun begitu menyakitkan, panas dan perih yang pasti wajahnya sudah bengkak. Namun, rasa sakit yang wajar demi uang seratus juta dan jam berlian.
Ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Megan padanya. Bahkan, ya mungkin harus rela mengorbankan kariernya yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun. Semua hanya karena Akila. Oh, bukan. Ini demi ibu dan ayahnya.
Baiklah, tidak masalah.
Rumina masih berlutut dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, lalu menangis memohon maaf pada Megan. Ia sadar sudah menjadi penggoda bagi suaminya. Namun, ia mengakui bahwa ia sama sekali tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga ataupun untuk mengambil Alza darinya.
Dari kejadian itu Rumina tahu, kenapa selama ini ia tidak pernah mendapatkan jawaban dari setiap pesan atau panggilan sebab yang menerima atau menguasai ponsel Alza adalah istrinya. Dia juga yakin jika Megan pasti tahu latar belakang dibalik semua perbuatannya.
“Sesungguhnya saya hanya ingin membalas budi kebaikan Tuan saja, Nyonya! Jadi, maafkan saya!”
“Apa ucapanmu bisa dipercaya?”
“Tentu, apa yang harus saya lakukan agar Anda percaya, Nyonya?”
“Tinggalkan kariermu dan layanilah aku!”
Ucapan Megan bukanlah tawaran ataupun sebuah perjanjian melainkan ultimatum yang mau tidak mau harus dilakukan oleh Rumina. Walaupun, ia sudah memikirkan sebelumnya tentang meninggalkan karier, tapi ketika kenyataan itu terjadi sekarang, rasanya berat sekali untuk melakukannya.
Tidak mudah bagi setiap orang jika dipaksa menunggalkan apa yang sudah ia capai selama ini.
“Baiklah!” Rumina berkata dengan terpaksa suaranya lirih dan ia tetap menunduk.
Tiba-tiba Megan tertawa keras hingga Rumina mendongak karena heran.
“Apa kau pikir aku sejahat itu?” kata Megan. Ia melihat Rumina dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Dalam hati ia berpikir bahwa tidak mungkin potongan gadis seperti ini bisa menggoda suaminya, ia lebih mirip kutu buku. Ia tersenyum sinis.
Rumina tidak merespon.
“Jangan kuatir, aku akan membuat sebuah insiden di kantor, agar kamu bisa keluar dari sana dengan dimaklumi!”
Setelah berkata seperti itu ia pun berbalik, tapi di saat yang sama seorang anak kecil berambut ikal dengan warna sedikit pirang bercampur coklat yang lucu, berlari ke arahnya.
“Momy!” seru gadis kecil itu, sambil memeluk Megan dan duduk di pangkuannya.
“Hai, Isabel Sayang! Sudah bermainnya?” kata Megan sambil mengusap lembut rambut anaknya.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, ayo tidur!”
Rumina melihat Mengan sedikit meringis menahan sakit saat melakukannya. Ia merasa trenyuh dan tersentuh hingga secara refleks ia menahan kursi roda Megan, lalu kembali berlutut di hadapannya. Seketika dua orang ibu dan anak itu melihat ke arahnya, sedangkan ia hanya tersenyum pada Isabel.
“Hai! Namamu Isabel? Cantik sekali ... kenalin, dong! Namaku Rumi!”
Mata Isabel tampak berbinar saat melihatnya, tapi tidak serta merta menerima uluran tangan Rumina. Ia melihat ke arah rambut, mereka warna rambut yang sama dan bergelombang juga. Hanya saja rambut Rumina lebih pendek sedangkan rambut Isabel panjang sampai sebatas pinggangnya.
“Jangan ganggu bukan hakmu untuk menyentuhnya sekarang, dia tidak terbiasa dengan orang asing!”
Rumina sedikit tidak memedulikan ucapan Megan karena ia melihat Megan masih saja menahan rasa sakit terlihat dari kerutan di keningnya serta di sudut bibirnya.
Iya tetap menoleh pada Isabel dan berkata dengan senyum ramah, “Apa kau mau berteman denganku?” katanya sambil mengulurkan jari kelingking dan menggerakkannya.
Lagi-lagi Isabel diam ia menatap antara Rumina dan ibunya lalu ia mengundurkan pelukannya di leher Megan.
“Mami ...,” katanya
“Kalau kau mau berteman dengannya terimalah!” kata Megan, sambil menatap anaknya dan masih menahan sakit yang luar biasa di sekitar paha dan pinggangnya.
Isabel ragu-ragu ia melihat tangan dan wajah Rumina secara bergantian.
“Apa kau teman Mami? Kau tidak pergi, kan?” tanya Isabel
“Tentu saja tidak! Kita teman! Kalau teman sejauh apa pun pergi, dia akan memberimu kabar!” jawab Rumina.
“Siapa temanmu itu, ceritakan padaku!” kata Rumi, ia bermaksud agar anak itu mau digendong oleh dirinya.
Isabel diam lagi tidak serta-merta mau berbicara dan kembali melihat pada ibunya. Ia menyandarkan kepala di dada Megan dengan manja.
“Mami!” kata Isabel lagi. Ia terlihat sudah mengantuk dan tidak berminat pada Rumi.
Tanpa berbicara lagi Megan menggerakkan kursi roda elektriknya masuk ke sebuah kamar. Meninggalkan Rumina yang sendiri kemudian dua orang pelayan pun mempersilahkan gadis itu untuk keluar.
Rumina menghela napas berat sambil menoleh ke mana Megan pergi. Saat berada di luar rumah itu, hari sudah gelap. Ia bingung bagaimana akan pulang. Ia kemudian melihat ponselnya dan berjanji tidak akan menghubungi Alza apa pun yang terjadi. Ia pun menghubungi Rey.
Saat ia menekan nomor ponsel pria itu, mendengar suara telepon berdering tak jauh dari posisinya berdiri.
Seorang pria muncul dari arah samping, dengan senyum masam di wajahnya.
“Rey! Kau mengagetkan saja!” gerutu Rumina sambil mematikan telepon pintar di tangannya.
Rey menghampiri Rumina, sambil mengangkat kedua bahunya dan berkata, “Aku pikir kau akan menginap!”
“Tidak mungkin! Aku bukan siapa-siapa di sini!”
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan ke tempat parkir yang berjarak beberapa meter dari teras rumah itu.
“Jadi, kau mau pulang ke asrama lagi?”
“Menurutmu? Kau mau, kan, mengantarku?”
Rey mengangguk, ia terus berjalan melewati mobil yang tadi dipakainya bersama Alza dan berhenti di mobil yang model dan warnanya berbeda. Itu mobil biasa miliknya. Walaupun, kendaraan seperti itu tergolong berharga tinggi, tapi tetap kalah jauh di bandingkan mobil yang ia sopiri saat bersama bosnya.
“Ya, ke asrama itu lebih baik!” katanya sambil membuka kunci mobil pribadinya.
“Ahk, kau pria baik-baik rupanya, aku pikir kau akan mengajakku bermalam di rumahmu!”
“Diam! Dan masuklah!”
“Kenapa? Apa kau takut Bos marah?”
Mereka masuk mobil secara bersamaan. Bahkan, obrolan dan gaya mereka seperti teman akrab.
“Bukan begitu, tapi aku kuatir kamu tidak bisa mengendalikan diri kalau melihatku!”
Mobil berjalan seiring dengan suara tawa Rumina di dalamnya. Gadis itu baru saja selesai memasang sabuk pengamannya.
“Bukannya ke balik, biasanya pria yang tidak bisa menahan diri kalau melihat wanita?”
“Tapi, aku berbeda! Sebenarnya, para wanita lebih tertarik padaku dari pada Tuan Alza. Tuan sudah menikah tapi aku masih lajang dan kaya! Apa kamu juga tertarik?”
“Rey, terserah!”
Rey tersenyum masam. Ia hanya memancing atau melihat bagaimana reaksi Rumina bila diajak bicara hal-hal tersebut.
Sesampainya di depan asrama, Rey menghentikan mobil tapi tidak keluar atau mematikan mesin. Ia melihat di kejauhan.
“Untuk apa dia di sini?” tanyanya seperti bergumam seorang diri.
“Siapa?” tanya Rumina, seraya melempar pandangan ke arah yang sama dengan Rey.
“Alena!”
“Oh!” Rumina bergumam, sambil berusaha membuka sabuk pengaman, ia menoleh pada Rey, karena pintu mobil terkunci otomatis, “Buka pintunya!”
Gadis itu turun dan menghampiri Alena, dengan mengabaikan Rey yang tetap memperhatikannya dari balik jendela mobil.
“Kamu yang bernama Rumina, kan?” tanya Alena, setelah mereka saling berhadapan. Posisi Alena waktu itu berdiri tepat di pintu gerbang asrama.
“Ya, Bu Alena, ada apa ya?” Rumina balik bertanya, “Apa Anda sengaja menunggu saya di sini?”
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️