
Tak Selamanya Pelangi Itu Indah
“Rumi, jangan khawatir, kamu tidak akan dihukum berat!” Kata Alena setelah berada di ruangannya bersama Rumina. Ia duduk di belakang meja kerjanya, sambil menyodorkan sebuah dokumen kepada gadis itu.
“Kamu cukup tanda tangani perjanjian ini saja!” Katanya lagi.
“Apa ini?” tanya Rumina, sambil mendekat dan membuka dokumen yang ada di atas meja kerja Alena.
“Itu hukuman yang sudah disiapkan untukmu!”
“Jadi kejadian tadi hanya rekayasa?”
“Ya. Agar kau mempunyai alasan untuk tetap tinggal di sini tanpa harus merusak reputasi!”
Rumina tersenyum miring, saat mendengar Alena mengatakan bahwa, hal seperti itu tidak merusak reputasi. Padahal kejadian itu tidak ia buat sendiri, melainkan sebuah konspirasi. Namun, dibuat seolah-olah ia orang yang sangat ceroboh dan tidak tahu diri. Apalagi, disaksikan banyak orang, sungguh memalukan.
“Apa Tuan Alza tahu kalau semua itu bukan kesalahanku?”
“Jangan libatkan Tuan Alza, beliau tidak tahu apa-apa!”
Sekali lagi ucapan Alena seperti lelucon bagi Rumina, ia selamanya akan terlihat buruk di hadapan idolanya. Sementara orang yang membuatnya tersudut seperti seonggok daging di kandang serigala, akan tersenyum menyaksikan semuanya.
Ini tidak adil.
__ADS_1
Namun, Rumina sadar jika sejak awal ia bertemu Alza, dan mengikuti kemauan Akila, keadilan tidak berpihak padanya. Adil seperti kata-kata indah, tapi bagai fatamorgana di gurun Sahara.
Suasana di luar jendela tiba-tiba saja mendung. Seperti kompak merasakan hati Rumina yang sedih. Ia tak tahu lagi, apakah masih bisa melihat wajah kedua orang tuanya lagi atau tidak. Dan, sampai kapan ia harus berada dalam hukuman.
“Lalu, apa yang harus saya lakukan demi menebus kesalahan yang tidak saya buat?”
Kali ini ucapan Rumina menyudutkan Alena.
“Jangan membuat aku seperti orang yang jahat sama kamu, Rumi ... ini cuma salah satu cara biar kamu bisa keluar dari kantor dengan sebuah alasan tepat, tapi kamu masih mendapatkan gaji. Apa kau tidak puas?”
“Kenapa tidak kompromi dulu denganku?”
“Aku sudah memeriksa laporanmu sepak terjangmu bagus, kau bukan orang yang ceroboh dan suka berbuat kesalahan, sayangnya kamu bersih! Jadi, aku harus melakukannya demi keinginan Megan!”
Rumina mencebik dirinya sendiri, karena semua terdengar lucu. Pada kenyataannya orang kecil seperti dirinya akan mudah dipermainkan. Hanya untuk menuruti keinginan para pemangku jabatan di atasnya.
Lalu, sampai kapan ia harus menjalani hukumannya, ia pun tidak tahu. Tidak tertera batas waktunya di sana, kecuali kata-kata ‘sampai Nyonya Megan merasa hukuman ini cukup’.
“Baiklah! Aku harap ini sepadan!” kata Rumina seraya meraih pulpen di atas meja dan menandatanganinya.
“Tunggu di sini, Rey akan jemput kamu kalau dia sudah selesai bekerja nanti sore!”
Setelah itu, Alena meninggalkan Rumina seorang diri di kantornya hingga ia bosan dan ketiduran.
__ADS_1
Alena menemani Alza dan Rey, mendatangi seorang klien untuk bekerja sama dalam penggalian tanah yang mengandung emas di Gunung Nanjung. Semua berjalan lancar, lalu mereka pulang ke kediaman masing-masing setelah selesai karena bertepatan dengan berakhirnya jam kerja.
Sementara itu, Rey kembali memutar mobil Alza sesaat setelah pria itu sampai di rumah. Ia kembali ke kantor untuk menjemput Rumina di ruangan Alena.
“Hai! Ayo bangun!” kata Rey seraya menggoyangkan tubuh Rumina dengan kakinya. Ia merasa tidak masalah memperlakukan dengan cara kasar, sebab kata Alena, gadis itu akan segera dihukum menjadi asisten rumah tangga Alza, karena kesalahannya.
“Apa sekarang sudah pagi?” tanya Rumina saat ia membuka mata, mengusapnya kasar sambil berusaha untuk duduk.
Ia melihat sekeliling dan tampak masih ada sisa-sisa hujan di luar jendela. Semua terlihat dari bayangan lampu yang sudah mulai menyala.
Ia terkejut ketika seluruh nyawanya sudah terkumpul dan menyadari, ada pria asing berdiri sambil berkacak pinggang di hadapannya. Rumina menyesalkan tidak ada pelangi yang bisa ia lihat saat menjelang petang hari itu. Namun, percuma juga kalau hadirnya pelangi tidak indah lagi, hanya karena keadaan yang sekarang sedang terjadi.
“Sudah pagi apanya? Sekarang sudah malam!” kata Rey sambil melemparkan tas kerja Rumina. Sebenarnya maksudnya adalah, agar gadis itu cepat sadar kalau dirinya tertidur di kantor.
Gadis itu bangkit seraya menangkap tasnya dengan cekatan, ia waspada pada Rey hingga mendekap kuat tasnya di dada. Lalu, mengikutinya keluar ruangan Alena. Ia ikut masuk ke super car milik Alza tanpa banyak bicara.
Rumina masih ingat pesan Alena tadi siang padanya. Termasuk dokumen yang ia tanda tangani, guna membayar uang ratusan juta dari Alza, dengan mempertaruhkan harga diri secara suka rela. Mungkin sikap Rey hanyalah permulaan saja, sebab sekarang kedudukan mereka tidak lagi sederajat sebagai sesama karyawan, tapi ia lebih rendah. Ia harus siap dengan perlakuan buruk lainnya kalau hidup di lingkungan rumah Alza.
Setelah 20 menit dalam perjalanan yang hening, Rey memarkir kendaraan di kediaman bosnya.
Itu rumah yang pernah didatangi Rumina sebelumnya. Namun, karena sekarang ia datang dalam keadaan yang berbeda, rasanya pun berbeda pula.
Ia berjalan beriringan dengan Rey, menuju pintu rumah yang sudah terbuka. Dua pelayan menyambut di ruang tamu dan, mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1
“Rumina?” sapa seseorang dan membuat gadis itu menoleh dengan sedikit rasa terkejut.
❤️❤️❤️❤️