Ruang Dihatinya

Ruang Dihatinya
Bab 11


__ADS_3

Purnama Tidak Selalu Indah


 


Purnama malam itu hangat, sinarnya seperti selimut untuk malam yang gelap agar saat pagi menggantikannya, ia bisa berlalu dengan tenang. Namun, malam tidak pernah tergantikan, ia akan selalu ada di belahan bumi yang berbeda.


Rumi tidak bisa tidur karena terus memikirkan saat pertemuannya kembali dengan Alza.


Ia baru saja selesai mengemas pakaian untuk menginap selama tiga hari, di pusat pelatiha pegawai Robinson Botanica, besok.


Gadis itu masih memegang ponselnya sambil berbaring, ia ragu apakah akan kembali mengirim pesan pada Alza atau tidak.


“Tuan Alza! Ayo angkat!” gumam Rumina. Seperti itulah setiap kali ia mencoba menelepon, Alza selalu mengabaikannya.


“Huh! Jangan harapkan dia lagi, kamu bukan orang penting baginya! Ingat!” Rumina menggerutu sambil menyimpan ponselnya di kasur. Ia berada dalam rumah kontrakan yang sengaja ia sewa setelah ia keluar dari apartemen Alza.


Peristiwa yang dialaminya dengan pria itu mengingatkan bahwa, ia telah membuat dirinya sendiri terlibat dengan konflik etika yang tidak masuk akal. Masih untung Alza tidak membuat Rumina langsung mengikutinya. Kalau hak itu terjadi, maka harga diri mereka berdua akan tercoreng.


Mereka tidak bertemu lagi setelah makan siang waktu itu dan Rumina hanya mendapatkan kekecewaan, setiap kali mengirimkan pesan pada Alza. Mereka hampir terputus dari segala arah. Bahkan, Rumina merasa bahwa pria itu marah.


Uang seratus juta bagi Rumina adalah jumlah yang cukup besar. Namun, belum tentu besar bagi Alza.


Oleh karena itu Alza tidak mau kalau Rumina membayarnya. Jam tangan yang seperti kemarin, ia punya beberapa di etalase walk in closed miliknya. Jadi, memberikan satu saja untuk wanita itu ia pikir tidak masalah.


Alza bukannya tidak mau kalau Rumina membayar kembali uang yang sudah ia berikan. Namun, ia punya cara lain agar gadis itu merasa terus berhutang. Dan, berusaha membayar dengan segala cara. Meskipun begitu, ia tetap memikirkan hal yang pantas dan bisa dihargai oleh semua orang.


Rumina memutuskan untuk tidur setelah tidak berhasil menghubungi bos besarnya. Ia nekat menelepon karena puluhan pesan tak ada satu pun yang dibalas.


Namun, matanya yang baru saja terpejam itu kembali terbuka saat ponselnya bersuara. Ia melihat nama yang tertera pada layar.


“Tuan Alza!” pekiknya langsung duduk dan kehilangan rasa kantuk. Ia menggeser layar dan menempelkan telepon di telinga.


“Hallo, Tuan Alza! Bagaimana kabar Anda?” serunya antusias dan tersenyum, seolah-olah pria itu ada di hadapannya.


“Apa kamu jadi pergi besok?”


“Iya, Tuan! Tentu saja, itu adalah kesempatan yang saya tunggu sejak lama, kenapa Anda tidak menjawab pesan-pesan saya?”


Rumina tahu kalau pesannya terbaca, ia merasa berhak untuk tahu kenapa Alza tidak membalas. Padahal ia tulus menawarkan diri sebagai balas jasa.


Namun, karena Alza tidak juga menjawab pertanyaannya, ia merubah topik obrolan.

__ADS_1


“Eum ... apa ada yang Tuan butuhkan dari saya?” katanya.


Alza tidak menjawab lagi dan suasana sekitar Rumina mendadak hening.


“Apa kau yakin?” Alza balik bertanya.


Rumina bingung dengan pertanyaan Alza, hingga ia kembali bertanya, “Apa maksudnya, Tuan?”


“Tidak ada, sampai jumpa besok!”


Setelah ucapan itu, telepon ditutup secara sepihak dan Rumina melihat pada layar ponselnya yang menjadi gelap.


“Apa-apaan dia? Ah ya! Dia bosnya, dia yang bisa berbuat seenaknya, apalah artinya aku? Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Tuan! Atas kebaikanmu, semoga panjang umur!” Rumina berkata seorang diri tapi masih menganggap Alza berada di hadapannya.


Ia tertidur setelah mengirim pesan, “baik terima kasih, Tuan.” Lalu, menunduk beberapa kali.


 


$$$$$$$$$$$$


 


“Aku akan membawa gadis itu besok untukmu! Aku pikir dia cocok dengan kalian!” kata Alza sambil mengusap kepala wanita itu.


“Aku percaya padamu, Sayang!” kata Megan sambil meletakkan ponsel di atas meja rias.


“Percayalah padaku setiap waktu, Megan ...!” Alza berkata sambil mengecup keningnya.


“Tapi, apa dia akan rela meninggalkan kariernya? Sepertinya bakal cemerlang! Dia lulusan bio farmasi dan mendapatkan pekerjaan yang bagus! Aku sendiri merasa sayang!”


“Apa kau tidak tega untuk itu?”


“Bukan, aku hanya membayangkan seandainya itu aku!”


Alza hanya mengangguk, “Ayo! Tidurlah! Sudah lewat tengah malam!” Ia mengangkat tubuh Megan dan membaringkannya ke tempat tidur.


“Ah, kamu juga pulangnya telat!” gerutu Megan seraya memukul punggung suaminya dengan lembut, saat ia di gendong menuju tempat tidur.


“Ya, ada sedikit masalah di ruang isolasi bahan kimia, entah bagaimana binatang pengerat itu bisa masuk dan merusak beberapa bahan di sana!”


“Apa sudah bisa di atasi sekarang?”

__ADS_1


“Sudah, makanya aku bisa pulang!”


“Oh, Tuhan! Suamiku cukup bekerja keras hari ini, berkatilah dia!”


Megan sudah dibaringkan dan Alza tersenyum mendengar doa yang setiap malam selalu dibacakan istrinya.


“Terima kasih sayang, kau selalu mendoakan aku!” Alza berbaring di sampingnya sambil memeluk.


“Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, maaf aku tidak bisa melayani sebagai istri!”


“Sudah, jangan katakan itu lagi ... ayo tidur!” Alza berkata sambil mengeratkan pelukan dan memejamkan mata.


“Aku mencintaimu!” katanya lagi.


“Aku juga!” sahut Megan, meraih tangan Alza yang ada di atas perutnya dan menciumnya.


“Semoga kau besok lebih bahagia ...,”katanya lirih hanya dengan menggerakkan bibir saja.


Sebelum memejamkan mata, Megan sempat melirik ponsel yang tergeletak di atas meja rias dan layarnya kembali menyala, ia yakin jika Rumina-lah yang mengirimi pesan pada Alza. Wanita itu selalu mengganggu suaminya malam-malam begini, pikirnya.


Sejak pulang dari kota Mayore, sebulan yang lalu, telepon genggam yang biasa dipegang oleh Alza, berada dalam kekuasaan istrinya. Oleh karena itu, setiap kali Rumina mengirim pesan, ia tidak pernah mendapatkan jawabannya. Bahkan saat gadis itu menghubungi pun begitu.


Semua karena Alza tidak mengetahuinya. Priaitu tidak pernah menyimpan rahasia di ponselnya. Jadi, wajar kalau istrinya tahu ketika membaca sebuah pesan yang dituliskan Rumina.


Alza sudah menceritakan semuanya tentang gadis yang merasa sudah berhutang Budi padanya. Padahal saai ia tahu bahwa, Rumina adalah salah satu pegawai di kantor cabangnya, Alza hanya berniat membantu.


Pria itu tidak ingin melukai hati istrinya dan meyakinkan bahwa, ia memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan wanita mana pun atau berniat untuk mencari penggantinya. Oleh karena itu ia memberikan ponselnya sebagai jaminan.


Ternyata benar, Alza tidak memiliki hubungan spesial dengan Rumina dan wanita lainnya. Megan tahu karena ia membaca setiap masuk dari Rumina dan semua rekan bisnis suaminya kapan saja.


Namun, bunyi dan ungkapan pesan perasaan wanita itu selalu sama.


 Rumina mengirim pesan itu setiap kali ia sudah pulang dari kantor.


“Hallo Tuan Alza, selamat malam!”


 


 


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2