Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
BAB 3 #2


__ADS_3

Aku \= April


"Ibu~" aku berteriak dari luar rumah janu sambil menekan bel.


"Iya..." jawabnya sambil berjalan keluar lalu membukakan pintu.


"Eh April, ayo masuk."


Akupun masuk. Ibu menawarkanku minum tapi aku menolak. Setelah ibu duduk dihadapanku, aku memberikan oleh oleh yang kemarin dibawa oleh ibuku.


"Bu. Ini ada oleh oleh dari rumah nenek. Kemarin malam ibu baru pulang kerumah.


"Wah terima kasih." Ibu lalu membuka apa yang tadi aku berikan. "Ini berondong sama dodol ya... kesukaan Janu."


"Iya bu. Andai aja Janu ada disini."


"Kamu kangen ya sama dia?"


"Iya bu. Padahal baru beberapa hari. Hehe."


"Ibu juga. Kalau bukan karena pendidikannya, ibu akan menyuruhnya tetap disini saja. Lalu menikah sama kamu."


"Ibu~ ada ada saja. Aku juga masih kuliah. Hehe." Kami mengobrol agak lama tapi sangat menyenangkan. Setelah waktu menunjukkan pukul sembilan, aku berpamitan karena harus kekampus.


***


Saat tengah dikampus setelah kelas selesai, aku duduk dikantin dan mengerjakan tugas dilaptopku. Tugas yang sangat banyaaaaaaak sekali. Saat sedang pusing pusingnya mengerjakan tugas, tiba tiba ada video call dari Janu. Dengan cepat aku mengangkatnya.


"Halo. Eh kok kamu gitu sih?" Janu membuatku kaget.


"Ih ada apa? Aku kenapa?"


"Kok makin cantik... sudah kubilang jelek saja, biar aku saja yang menyukaimu."


"Aduuuuh. Baru juga sapaan pertama. Janu. Boleh tidak aku suka pada pria lain?" Tiba tiba saja pertanyaan itu terlintas. Aku menanyakan hal itu karena teringat dengan ucapan tukang ojek kemarin. Jadi aku berpikir apakah ia akan merasa marah jika aku menyukai pria lain?


"Kenapa tiba tiba tanya begitu?"


"Jawab saja..."


"Boleh."


"..."


"Asal pria lain itu aku."


"Selain kamu boleh?"


"Boleh. Asal pria yang menjadi tetanggamu didepan rumahmu. Yang sering mengantar ke kampus itu loh.. "


"Baik. Laksanakan!"


"Semangat mengerjakan tugasnya!"

__ADS_1


"Kok tahu?"


"Iya. Kan kalau dikantin biasanya kamu mengerjakan tugas. Karena kalau makan harus denganku. Hehe."


"Iya. Iya.... Tugasku banyak. Pusing!"


"Ya sudah. Lihat aku. Biar pusingnya hilang."


"Iya. Pusingnya hilang. Tapi sayangnya malah bertambah! Hehe."


"Hahaha. Sudah pandai merayu."


"Kamu kok sudah bangun? Disana kan masih pagi."


"Pusing. Banyak hal yang kulakukan dari semalam."


"Lihat aku. Biar pusingnya hilang!" Aku mengulang kalimat yang diucapkannya.


"Iya. Pusingnya hilang. Tapi sayangnya malah bertambah!" Kami lalu tertawa bersamaan.


***


Sekarang banyak tugas. Sangat melelahkan. Kalau sedang banyak tugas begini, rasanya malah mau berhenti kuliah. Tapi kalau memikirkan masa depan, langsung rajin lagi. Hahaha. Perasaan manusia memang tidak bisa ditebak. Sekarang aku malah berpikir apa yang sekarang sedang janu lakukan disana. Karena kalau aku bertanya saat ditelepon. Jawaban dia selalu aneh "sedang berbicara denganmu." Hmmm. Dasar. Ah tiba tiba aku jadi mau eskrim. Sore sore begini kan enak. Hmmm. Oke, aku pergi saja sekarang.


Seperti biasa, aku akan pesan ojek. Oh iya aku belum jelaskan. Aku itu tidak suka mengendarai motor sendiri, aku lebih senang dibonceng. Hehe. Dulu juga ayah sempat bertanya apakah aku membutuhkan kendaraan atau tidak. Aku tidak mau karena ada janu yang akan selalu mengantarku. Eh ternyata sekarang dia tidak ada. Tapi sampai sekarang aku tetap saja lebih suka dibonceng. Hahaha.


Dengan masih menaiki ojek, aku membeli eskrim di drivethru setelah selesai aku mencari tempat duduk. Sebuah bangku yang muat untuk berdua, tapi hanya kuisi sendiri. Hmmm cukup menyebalkan. Aku mengambil foto eskrim rasa strawberi kesukaanku itu lalu mengirimkannya pada janu.


"Eskrim strawberi sekarang tidak ditemani eskrim cokelat." Jelasku di pesan itu. Ia hanya membacanya, tak langsung membalasnya. Beberapa saat kemudian ada video call masuk. Itu dari janu, aku mengangkatnya.


"Eh kamu beli eskrim dulu tadi. Hahaha."


"Kan biar eskrim strawberi ditemani eskrim cokelat."


"Ada ada saja."


"Jangan merasa sendiri ya. Aku ada kok. Meski jauh, tapi ada. Meski tidak disampingmu, tapi ada. Meski tidak memegang tanganmu, tapi ada. Meski tidak dapat memelukmu, tapi ada. Kamu tidak sendiri."


"Iya. Kamu ada. Aku tidak sendiri. Kamu selalu ada meski tidak disampingku, meski tidak memegang tanganku, meski tidak dapat memelukku. Terima kasih karena ada. Terima kasih karena tidak membuatku merasa sendiri." Aku tersenyum, dia juga tersenyum.


Percakapan kami terhenti. Aku menyimpan HP ku kedalam tas lalu berdiri dari tempat duduk itu dan menabrak seseorang.


"Aduh. Mas kalau jalan jangan sambil main HP!" Dia terus saja menunduk pada HP nya.


"Eh maaf." Dia menatapku. "Eh. April. Apa kabar?"


"Okta? Baik. Aku baik baik saja." Ah dia Okta. Seseorang yang pernah memberiku minuman rasa cokelat ketika patah hati. Yang dulu pernah memberikan surat padaku melalui janu. Dan dia langsung menyatakan perasaannya padaku melalui whatsapp entah darimana dia dapat nomorku. Tapi aku menolaknya dan memblokir nomornya. Jahat sekali ya. Haha.


"Mau kemana?"


"Pulang. Sudah dulu ya..." aku berlalu pergi. Aduh. Ojek yang ku pesan belum datang juga. Aku tidak mau lama lama mengobrol dengannya.


"Eh. Tunggu." Dia mengejarku dan berdiri disampingku. "Kita... makan?"

__ADS_1


"Tidak. Aku sudah kenyang." Ucapku sambil sesekali menengok ke arah kiri dan kanan mencari ojek yang aku pesan. Tapi dia terus menatapku.


"Kok nomor whatsapp mu tidak bisa dihubungi?"


"Sudah ku block nomormu." Balasku singkat. Dia tidak juga pergi dan malah mengikutiku menengok ke arah kiri dan kanan. Aku menatap heran padanya lalu menggelengkan kepala. Akhirnya si abang ojek sampai juga. Aku lekas naik dan menyuruhnya cepat pergi.


"Ayo bang. Cepat!"


"Kalau sekarang tidak bisa, besok saja makannya!" Okta berteriak keras tapi aku tidak memedulikannya.


***


Trrtt... trrtt.... HP ku bergetar karena ada panggilan.


"Ah pasti janu!" Aku mengambil HP ku dari tas. Ternyata nomor tidak dikenal. Aku mengangkatnya.


"Halo..." ucapku.


"Jadi kapan kita bisa makan berdua?"


"O... Okta?"


"Iya. Jadi kapan kita bisa makan berdua?"


"Sudah. Tiap hari aku sudah makan!" Aku langsung menutup teleponnya. Lalu ada panggilan lagi. Ah dia tidak ada bosan bosannya!


"Apa?!" Aku menggertak.


"Eh. Kenapa? Tiba tiba marah."


"Janu... hehe. Tidak apa apa." Aduh. Apa aku harus menceritakan perihal Okta atau tidak ya pada janu? Tapi aku takut dia marah. Dia cemburu lalu tidak mau menghubungiku lagi. Eh april... pikiranmu terlalu jauh!


"Coba cerita. Kenapa?"


"E... ini... tadi... ada Okta, Janu."


"Oh.... terus?"


"Terus dia tiba tiba mengajak aku makan. Dia terus meneleponku sampai aku sangat marah."


"Kenapa? Orang mengajak makan kok ditolak?"


"Kamu tidak cemburu?"


"Tidak. Untuk apa cemburu? Kamu kan sudah menjadi milikku."


"Tidak takut kehilangan?"


"Tidak. Buktinya sekarang kamu masih ada dihadapanku."


Ah terus saja dia membuatku tersenyum dengan setiap kalimat yang diucapkannya. Itu bukan rayuan, tapi kejujurannya.


"Baik, bos. Terus aku harus bagaimana? Dia pasti akan meneleponku lagi."

__ADS_1


"Kamu terima. Terus kamu bilang, kamu disuruh oleh pacarmu ini untuk menerima ajakannya."


Janu... kuharap kamu yang langsung mengatakan hal itu dihadapannya. Tapi dengan begini pun aku sudah merasa dijaga. Kamu itu manusia kan? Bukan malaikat yang menyamar menjadi manusia? Atau jangan jangan, diam diam kamu selalu berada disampingku untuk menjagaku. Sudah April. Jangan mengkhayal terus. Hehe.


__ADS_2