
Aku \= Okta
"Sering sering ajak aku ke tempat seperti ini ya." Ucapnya sambil memakan cokelat saat kami berjalan.
"Oke. Oke."
"Aduh aku pegal nih."
"Jangan minta gendong ya..."
"Yah okta. Sekali saja sampai tempat duduk sana." Ucapnya sambil menunjuk kesebuah kursi kayu.
"Hmmmm. Iya. Iya..." dia pun langsung meloncat keatas punggungku tanpa aba aba apapun. "Eh. Eh. Eh." Aku oleng dan hampir jatuh karena ulahnya. Sementara dia malah tertawa melihatku yang sibuk menjaga keseimbangan.
Karena waktu sudah hampir sore, aku memutuskan mengajaknya pulang. Dia pun mengiyakannya karena sudah lelah. Meskipun lelah, diperjalanan pulang mulut april terus saja mengoceh. Tidak bisa diam.
"Kamu suka tempat sepi begitu ya?"
"Hmmm. Bisa dibilang begitu."
"Oh." Lalu dia diam beberapa saat. Tapi tidak berhenti sampai disitu.
"Eh. Ada pasar malam, Okta!!" Dia menepuk nepuk pundakku sambil menunjuk kesebuah pasar malam.
"Iya. Iya. Aku juga lihat."
"Besok kita kesana ya?"
"Hmmm." Jawabku malas. Sekarang aku sedang sangat cape. Tapi dia, baterai nya tidak habis habis apa ya? Bisa bicara terus begitu.
"Okta. Bla bla bla."
"Okta. Bla bla bla."
"Okta. Bla bla bla." Dia terus menerus mengoceh sepanjang perjalanan astaga.
Semakin sering aku melewati hari hari bersamanya, semakin besar juga rasa nyamanku bahkan mungkin rasa suka ku. Tapi aku tidak bisa mengutarakannya sekarang. Belum saatnya. Dia masih menjadi milik orang lain entah sampai kapan. Tapi aku masih bersedia menunggunya berpisah. Tidak peduli seberapa lama aku harus menunggunya. Dan Aku akan berhenti menunggu jika ia menikah dengan pasangannya itu.
"Mau langsung pulang? Tidak mau mampir dulu?" Tanya nya.
"Tidak usah. Terima kasih. Aku pulang ya... sampai nanti.." ucapku smbil tersenyum
"Iya.."
***
Duduk didepan jendela kamar, memandang keluar saat rintik hujan sedang turun dari langit sambil sesekali menyentuh jendela kamarku. Malam ini sendu sekali. Dari radio yang sedang kudengarkan, April membicarakan topik kesana kemari dan aku hanya tersenyum mendengar suaranya. Lalu sebuah lagu yang berjudul kutunggu kau putus terdengar dari radio. Astaga... kenapa lagunya harus tepat seperti ini? Seperti keadaanku yang sedang menunggu seseorang berpisah dengan pasangannya meski kemungkinannya hanya sebesar biji kacang tanah.
Hp ku berdering, menandakan sebuah telepon masuk. Itu dari April. Aku bergegas mengangkatnya tanpa banyak berpikir.
__ADS_1
"Apa kabar?" Pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu rasanya membuatku bahagia. Baru kali ini dia menanyakan kabarku.
"Baik. Ada apa? Sudah selesai siarannya?"
"Sudah. Tapi belum pulang. Hujan."
"Mau aku jemput?"
"Iya. Tujuanku meneleponmu untuk itu. Maaf merepotkanmu. Kira kira boleh tidak?"
"Boleh. Sangat boleh. Tunggu ya..." setelah April menutup telepon, aku bergegas mencari jas hujan dan menaiki motorku menuju stasiun radio tempat April siaran.
Semakin lama hujan semakin deras. Lalu punggungku terasa basah. Aku berhenti sejenak untuk memeriksa. Dan sudah dapat diduga, jas hujanku robek. Sial, aku tidak memeriksanya terlebih dahulu karena terburu buru. Dengan jas hujan robek itu, aku tetap melanjutkan perjalanan untuk menemui April.
Sesampainya disana, April sedang duduk disebuah kursi, mamandangi HP nya dan terlihat sangat resah.
"Hei!" Aku menyapanya sambil mengangkat tangan. Dia menatapku dan berjalan menghampiriku.
"Maaf ya. Aku merepotkanmu."
"Tidak apa apa. Terima kasih."
"Terima kasih?"
"Iya. Terima kasih sudah membuatku senang karena direpotkan."
"Kita ngopi dulu ya? Dingin..."
"Iya. Ayo."
"Tunggu, aku ambil jas hujan untukmu dibagasi motor." Aku lalu berjalan untuk mengambil jas hujan dan memberikannya pada April.
"Punggungmu basah. Jas hujanmu sobek."
"Iya. Aku tahu. Ini kamu pakai."
Kami berdua menaiki motor dan berhenti disebuah kafe. Aku memesan sebuah matcha late dia juga sama. Kami duduk berhadapan. Aku sibuk melihat leihat kebelakang punggungku yang basah, sementara April sibuk tertawa melihat tingkahku.
"Hahaha. Jas hujan sobek kok dipakai."
"Aku terburu buru."
"Kenapa?"
"Khawatir. Takut kamu tersambar petir."
"Hahaha. Okta, kamu ada ada saja." Dia tertawa kencang. Aku tersenyum lebar melihat tawanya itu, begitu menghangatkan meski aku sedang kedinginan.
"Silahkan mas, mba matcha late nya." Ucap seorang pelayan sambil menyimpan dua gelas mattcha late.
__ADS_1
"Sedang memikirkan apa?" Aku bertanya padanya setelah meneguk minuman digelas.
"Eh. Tidak ada kok."
"Jangan bohong. Aku tahu."
"Janu tidak menghubungiku. Ditelepon juga tidak diangkat."
"Mmmmm. Sibuk mungkin."
"Tapi biasanya dia sempat."
"Itu biasanya. Tapi tidak sekarang."
"Iya. Mungkin kamu benar." Dia tersenyum sambil menatap kearah minuman yang dari tadi tidak juga ia minum.
Kapan kamu merasa ingin pergi dari janu mu itu, April? Aku tidak mau terus mendengar cerita tentangnya.
"Glek.... glek.... ah... sudah. Ayo pulang!" Ucapnya setelah menghabiskan minumannya.
"Sebentar. Belum dibayar."
"Oh iya. Lupa. Hehe. Kamu yang bayar ya?"
"Hmmm."
Kami berdua lalu keluar setelah membayar minuman tadi. Hujan sudah mulai reda, kami mulai berjalan pulang mengendarai motorku. Baru setengah jalan kami pergi, hujan muncul lagi lebih deras dari sebelumnya.
"Mau pakai jas hujan?" Tanyaku agak berteriak karena suaraku tertimpa oleh suara riak air hujan.
"Terlambat. Semua tubuhku sudah basah!" Balasnya berteriak juga. Hujan tidak bisa diajak kompromi. Sekarang malah ditambah dengan suara gemuruh dan kilatan petir. Tapi karena itu april jadi bersembunyi dibalik punggungku karena ketakutan.
"Jangan takut pada petir. Takut itu pada penciptanya." Aku menjelaskan sambil tertawa kecil.
"Tapi petir juga bisa membuat kita bertemu dengan penciptanya. Mau?" Balasnya ketus yang membuatku sedikit tertawa.
***
"Kamu tidak mau mampir dulu?" Katanya saat kami sampai didepan gerbang rumahnya.
"Tidak mau."
"Kenapa? Bajumu basah loh."
"Justru karena bajuku basah aku tidak mau mampir. Nanti rumahmu becek."
"Hahaha. Iya juga ya. Maksudku tidak mau mengganti bajumu? Ada punya ayahku kalau mau."
"Tidak perlu. Dadah~." Aku segera menjalankan motorku untuk pulang kerumah. Mambawa kenangan yang baru saha aku buat. Kenangannya sederhana, hanya sebuah cerita perjalanan melewati hujan disertai percakapan percakapan konyol. Tapi bagiku itu berharga.
__ADS_1