Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 1 #2


__ADS_3

Aku \= April


Aku adalah sebuah ruang tunggu.


Dimana rindu rindu yang menumpuk itu ingin segera menjadi temu.


Kuharap waktu berjalan ribuan kali lebih cepat.


Karena menunggumu pulang,


Adalah hal paling menyebalkan.


Setelah hari apa ya? Hari jadian mungkin? Ya sebut saja begitu. Setelah hari jadian kami malam itu. Esoknya janu akan wisuda. Aku bersiap untuk pergi ke kampus. Rasanya aku tidak sabar melihat wajah tampannya saat mengenakan toga. Untuk bertemu dengannya kali ini, ada perasaan lain, karena aku bukan hanya seorang sahabatnya. Aku juga tidak menyangka kemarin ia akan mengatakan hal itu. Mengutarakan tentang semua perasaannya padaku. Dan sebenarnya, aku sudah menunggunya mengatakan hal itu. Dulu aku sempat mencoba memberikan hatiku pada lelaki lain, tapi tidak ada yang membuatku nyaman seperti saat dengannya. Aku mencoba membicarakan lelaki lain dihadapannya agar ia cemburu. Tapi aku tidak berhasil. Semua usahaku gagal. Akhirnya aku menyerah. Aku hanya menunggu ia akan mengatakan perasaannya. Akhirnya saat itupun datang juga. Kemarin kemarin juga dia sempat mendekati Feby, tapi katanya Feby menolaknya entah karena apa.


Ah kemarin malam. Hal itu adalah hal paling menyenangkan yang ku rasakan. Hal paling luar biasa sejauh ini. Ketika dia berkata bahwa dia mencintaiku, lalu aku memeluknya erat saat itu, aku menjwabnya bahwa aku juga mencintainya. Ah sudah. Kita kesampingkan cerita kemarin.


Aku bergegas pergi kekampus. Naik ojek online karena janu sudah lebih dulu pergi bersama keluarganya. Tadinya aku mau ikut dengannya. Tapi aku terlambat bangun. Iya maaf. Aku memang perempuan yang agak pemalas. Saat aku datang kekampus, acaranya belum dimulai. Huh. Tidak terlambat ternyata.


***


Satu persatu nama orang yang diwisuda dipanggil. Semuanya tampak terharu. Ada yang sampai menangis juga. Huh. Andai aku juga lulus secepat itu. Tidak apa apa, mungkin aku akan menyusul tahun depan. Saat nama janu dipanggil, aku mengambil gambarnya. Saat itu air mataku ikut keluar, tapi aku lekas menghapusnya. Aku sedih, sedih karena tidak bisa bersamanya ketika dikampus. Makan bersama dikantin. Ah.... Janu. Baru saja kemarin aku dibuat bahagia. Sekarang sudah bersedih lagi.


"Selamat!" Ucapku padanya. Lalu kami berdua berfoto bersama. Dari ekspresi wajah sangat baik sampai sangat gila. Tiba tiba, dia memegang kedua tanganku. Kami berhadapan dan saling menatap mata masing masing. Dia tersenyum padaku.


"Terima kasih sudah menerimaku. Terima kasih sudah menemaniku. Terima kasih sudah menjadi teman terbaik. Terima kasih karena tidak pernah menjauh. Terima kasih untuk segalanya."


Aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya itu.


"Terima kasih karena telah melakukan hal yang sama." Jawabku lantang.


Perasaan itu mengherankan. Bisa tumbuh dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Sekarang aku bersyukur. Karena perasaanku tumbuh ditempat yang tepat, diwaktu yang tepat dan kepada seseorang yang tepat. Dia orangnya. Dia yang menemaniku dari sejak awal kami bertemu. Kuharap dia tetap begitu. Takkan pergi ataupun menjauh. Takan mencari pengganti ataupun meninggalkanku.


***


Usai hari hari wisuda itu, kini dia hanya mengantarku pergi kekampus lalu pulang lagi setelah itu. Dia juga mengantarku siaran dan menjemputku pulang. Kegiatan kami sama seperti biasanya, makan bersama, pergi ketoko buku, makan eskrim, kadang kadang kami juga menonton. Tak ada yang berbeda. Hanya saja dia semakin sering membuatku tersenyum akhir akhir ini.


Malam malam, dia datang kerumahku. Mengajakku pergi berjalan jalan. Aku mengiyakan ajakannya.


"Tunggu sebentar ya..." aku segera bersiap siap. Aku pergi kekamarku dilantai dua, sementara dia menunggu diruang tengah. Beberapa saat kemudian dia berteriak.

__ADS_1


"Sudah belum?"


"Belum. Sebentar berdandan dulu.." balasku.


"Tak perlu. Sudah cantik. Jangan jadi makin cantik!" Ah dia membuatku tersenyum lagi.


"Ih... ada ada saja!"


"Sudah cepat!!"


"Iya. Iyaaaaaa...." aku segera menemuinya. Dia terlihat tidak senang.


"Yah....." keluhnya


"Kenapa?"


"Sudah dibilang jangan dandan. Malah makin cantik jadinya!"


"Gombal terus. Dulu tidak pernah begini!" Aku menepuk jidat karena heran dengan sikapnya akhir akhir ini.


"Sudah! Sudah! Berangkat. Jangan gombal terus!" Aku menarik tangannya agar segera pergi. Aku kira dia akan berhenti bicara dan fokus dengan motornya. Ternyata tidak, dia terus berkelakar.


"Kenapa?"


"Biar makin gemuk dan jelek."


"Ih. Kok gitu?"


"Biar aku saja yang mau denganmu. Kalau cantik nanti banyak orang yang suka!"


"Sudah deh."


"Hahaha." Dia tertawa. Tapi rasanya menyenangkan juga. Meski itu hanya gombalan tapi bagiku itu lebih dari sekedar gombalannya. Tapi hal yang akan ia buktikan. Ia ingin aku hanya menjadi miliknya, jadi seseorang yang disukainya. Bukan jadi seseorang yang disukai banyak orang diluar sana.


***


Usai gombalan gobalan recehnya itu, kami berdua sampai dipasar malam. Tempat yang dulu sering kami kunjungi. Kadang biasanya kami makan permen kapas. Atau kerumah hantu yang hantunya sama sekali tidak menyeramkan.


"Kenapa kesini?" Aku bertanya heran.

__ADS_1


"Mau main aja. Seru!"


"Oke. Tapi beli..."


"Permen kapas?"


"Nah itu dia. Masih ingat juga!" Kami mencari pedagang permen kapas lalu membelinya. Membeli permen kapas ya, bukan membeli pedagangnya.


"Sekarang apa lagi?" Tanyaku.


"Mmmmm. Nah.... ini!" Dia menunjuk ke salah satu permainan. Permainan melempar bola untuk menjatuhkan kaleng. Kami tidak menang, tapi kami senang. Yang penting bukan apa yang kita lakukan, tapi dengan siapa kita melakukannya. Usai bermain lempar bola, kita juga bermain mengail bebek, masuk kerumah hantu yang hantunya tidak seram itu loh..... padahal kalau mau seram tidak usah pakai rumah hantu, pakai rumah mantan juga bisa. Eh ngelantur. Sekarang kami sedang mainaiki bianglala. Melihat seisi kota dari atas. Menyenangkan sekali.


"Aduh. Capek juga ya berkeliling." Ucapku sambil bersandar dibahunya.


"Menyenangkan ya...." dia menatap keatas sambil tersenyum.


"Selanjutnya kita akan kemana?"


"Mmmm. April. Ada yang mau aku bilang."


"Oh. Mau bilang apa?" Tanyaku penasaran. Mungkin dia mau bilang tentang hal luar biasa yang sedang ia alami.


"Begini. Jadi...." bruk. Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, bianglala itu berhenti. Kami memutuskan untuk turun dan mencari tempat duduk. Kami duduk di tempat penjual sosis bakar.


"Apa yang tadi mau kamu bilang?" Aku bertanya penasaran.


"Begini...."


"Pakai mayo mba?" Tanya pedagang yang sedang sibuk menyiapkan sosis bakar.


"Oh tidak usah pakai. Saos saja!"


"Huh...." dia menghela japas panjang.


"Jadi apa janu....?"


"Begini. Minggu depan aku akan..." ada jeda sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Aku akan pergi ke jerman. Melanjutkan studi S2 ku." Apa yang ia ucapkan membuatku agak sesak sejenak. Rasanya kebahagiaan yang tadi kita bangun runtuh seketika. Senyum yang baru saja mengembang, menghilang seketika.


Ketakutanku benar. Ketika pertama kali ia menyatakan perasaannya aku bilang padanya agar tidak pergi kemana mana. Tapi ternyata dia malah akan pergi. Bahkan lebih jauh dan lebih lama dari yang aku kira. Bukan hanya pergi ke minimarket atau pergi ke luar kota. Dia akan pergi keluar negara. Tempat dimana kata "saling mengunjungi" hanya omong kosong belaka.

__ADS_1


__ADS_2