Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 8 #4


__ADS_3

Aku \= April


Aku beristirahat dipenginapan, sebenarnya Okta sudah mengajakku berkeliling desa tapi aku tidak mau. Nanti mungkin. Aku menghubungi janu dengan panggilan video. Dia mengangkatnya. Tadinya aku mau menceritakan tentang apa yang Okta katakan. Tapi tidak usah lah.


"Ada apa?"


"Hmmm. Ada apa ya? Tidak apa apa. Rindu saja."


"Baik, baik. Rindu apa? Rindu ini?" Dia memperlihatkan ayam goreng yang ada dimeja."


"Janu~."


"Iya. Maaf. Tapi ini enak loh."


"Januuuuuu~."


"Iya. Iya. Maaf. Hahaha."


"Eh iya. Kemarin aku mendengar sebuah lagu yang bagus."


"Lagu? Lagu apa?"


"Judulnya itu one only. Liriknya begini


Start countin' all the days


Forever i will stay with you


With you one only you


Go far and roam about


Comeback and callin' out to me


To me one only me."Aku bersenandung saat memberitahu lirik lagu itu pada janu.


"Oh begitu..... mmmm 'and I will stay with you to. With you one only you.'" Balasnya sambil tersenyum dan membuatku tersenyum.


Dipenginapan mulai bosan, aku berjalan keluar untuk menghirup udara segar. Dari jauh aku melihat Okta sedang bermain dengan anak anak dengan riang gembira. Aku tersenyum melihat hal itu. Perlahan aku mengampirinya. Lalu ia menatap kearahku, mengetahui keberadaanku. Ia bergegas berjalan kearahku.


"Kamu mudah dekat dengan anak anak ya..."


"Hehe. Iya. Habisnya anak anaknya menyenangkan!" Ujarnya penuh semangat. "Sudah makan? Kamu lapar tidak?" Lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Belum."


"Eh disini ada makanan unik. Katanya enak!"


"Makanan apa?"


"Sini!" Dia menarik tanganku dan mengajaku kesuatu tempat. Tempat makanan unik itu.


Dan benar, makanannya unik. Sangat unik. Sate ulat sagu. Astaga. Melihat ulat yang ditusuk tusuk berjajar begitu sangat jijik. Okta tertawa melihatku yang mengernyitkan dahi.


"Kamu harus coba!" Seru nya.


"Tidak. Tidak!" Aku menutup mulut.


"Coba dulu. Enak!" Dia terus memaksa. Aku tahu, dia tidak mungkin berhenti sebelum aku mengucapkan iya.


Perlahan kuberanikan diri untuk memakan ulat itu. Kubuka mulut dan mulai memasukkan ulat yang sudah dibakar itu. Dan ulat itu masuk kedalam mulutku. Kugigit dengan terpaksa. Badanku bergoyang seperti sedang kerasukan. Aku memegang telingaku dan memaksa menelan ulat itu. Dan Okta, dia hanya tertawa tawa. Setelah makan itu, kami berjalan pergi. Aku menatapnya sinis.


"Iya. Maaf."


"Maaf. Maaf. Tadi kenapa memaksaaaaaa." Hardikku dengan gigi yang rapat sambil mencubit pinggangnya.


"Oke. Aku bawa ke tempat makab enak. Serius." Dia mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.


"Serius ya. Ini enak!"


Kali ini ia mengajakku makan ketempat makanan enak. Dan benar, ia mengajakku menyantap ikan bakar yang ikannya sangat segar. Baru ditangkap katanya. Hmmm. Bukan hanya keindahan tempat ini saja, makanannya pun membuatku ingin tinggal lebih lama.


"Kalau makan itu pelan pelan." Ucapku padanya yang sedang makan dengan lahap. "Sama seperti menaruh perasaan."lanjutku.


"Hah?"


"Iya. Makan dan menaruh perasaan itu sama. Kalau makan terlalu cepat nanti berujung menyakitkan yaitu tersedak. Menaruh perasaan juga begitu. Kalau terlalu cepat bisa berujung menyakitkan yaitu ditolak." Ujarku dengan wajah datar.


"Kalau tersedak tinggal minum air. Kalau ditolak itu urusan takdir. Bisa jadi yang menolak itu yang suatu saat akan dikalahkan takdir secara telak. Dan ia akan berjodoh dengan seseorang yang ia tolak." Jelasnya tak mau kalah.


***


Menikmati sore terakhir di Raja Ampat. Duduk berdua dengan pengawal setia. Dia meletakkan tangannya kebelakang saat duduk diujung jembatan kayu itu.


"Kalau kata anak anak zaman sekarang, senja itu harus ditatap sambil menyesap kopi." Ucapku sambil mengarahkan pandangan kearahnya.


"Kalau senja ditatap sambil menyesap kopi, nanti malam tidak bisa tidur nyenyak. Lagipula, kopi itu pahit!"

__ADS_1


"Lalu baiknya bagaimana?"


"Lebih baik senja itu ditatap bersama dengan orang yang manis sambil minum teh tawar hangat."


"Teh tawar juga kan pahit."


"Tapi kan ada orang yang manis." Tatapannya hanya terfokus kearahku sambil tersenyum. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan kebelakang. Menatap langit sambil menadah kepala dengan kedua tangan.


"Sebenarnya tidak penting mau menatap senja ditemani apapun. Karena senja hanya datang untuk pergi. Bukan untuk diam dan berbangga diri. Bisa jadi senja itu pemalu, tak suka ditatap makannya ia tidak menetap."


"Justru, senja itu memberitahu sesuatu. Bahwa sesuatu yang sangat indah dan yang diharap akan menetap juga bisa pergi." Ucapku sambil menatap wajahnya.


"Dan senja juga memberitahu, bahwa yang pergi juga bisa kembali suatu saat meski tidak memberi keindahan dan harapan yang sama. Begitupun dengan orang disebelahku. Dia bisa pergi kemanapun. Tapi aku yakin suatu saat dia akan kembali meski tidak memberi rasa yang sama."


Aku lalu ikut merebah disampingya. Menatap langit yang perlahan mulai gelap. Lalu kami berdua saling menatap. Dia memberi senyum dan aku membalasnya. Sekarang aku tidak peduli terhadap perasaan apapun kepada siapapun. Karena keyakinanku saat ini adalah menjaga hati seseorang yang jauh disana. Aku tidak peduli orang yang bersamaku sekarang sedang menyukaiku atau tidak. Karena yang aku pedulikan adalah perasaanku pada seseorang yang paling aku sayangi; Janu. Kalaupun Okta suka terhadapku, itu urusannya. Asalkan ia tidak menjauh walau ia tahu perasaanku hanya untuk Janu.


"Aku akan menunggu sampai kamu mau." Tuturnya lembut. Kali ini aku tidak bisa diam saja. Aku harus memberinya jawaban.


"Maaf jika aku tidak peduli dengan tunggu mu."


"Tidak apa apa. Aku akan menunggu sampai kamu mau selama apapun itu. Kecuali jika takdir mengubah arah perasaanku pada orang lain." Ucapnya yakin. "Dan kecuali. Jika kamu dan Janu menikah dan mempunyai seorang anak yang cantik atau tampan. Aku akan berhenti menunggu. Dan aku ingin dipanggil paman saja oleh anak anakmu." Lanjutnya.


"Baiklah. Kalau begitu. Bagiku, sekarang kamu adalah kakak laki lakiku. Jangan bosan denganku. Jangan jadi orang lain meski aku tidak bisa menyamakan perasaanku dengan perasaanmu."


"Baik. Tuan putri sekaligus adik perempuanku untuk saat ini. Tidak tahu kalau nanti." Ujarnya tetap berharap.


***


Perasaan tak pasti untuk yang sedang menanti.


Sekarang aku tahu jika ia sedang menunggu.


Menunggu temu antara dua hati yang sebenarnya semu.


Dia menggangtungkan harapan padaku, sementara aku menggantungkan hati pada seseorang yang kepulangannya sedang kutunggu.


Dia bilang akan tetap menunggu selama apapun itu.


Aku meminta maaf jika aku tidak peduli pada apa yang ia tunggu.


Dia tetap bersikeras. Dia bilang penantiannya akan berhenti, jika takdir melabuhkan perasaannya pada orang lain selain aku.


Takdir..... buatlah perasaannya berlabuh pada hati yang lain selain aku.

__ADS_1


Buatlah hal itu segera. Agar ia tidak menunggu hal semu yang tak bertuju.


Tulisku di notes ruang tunggu.


__ADS_2