
Aku \= Okta
Siaran radio April sudah mau selesai. Semuanya bersiap siap. Untuk memainkan drama hahaha. Sambil menunggu waktu, aku bersembunyi untuk melihat kondisi yang terjadi.
"April, untuk rekaman cerita horor, bisa tidak dilakukan sekarang?"
"Yah mas vin. Kok sekarang? Bukannya besok?"
"Sekarang aja. Soalnya besok pada sibuk."
"Yaudah deh."
Vino membawa April pergi untuk merekam suaranya. Aku lalu keluar. Berdiskusi dengan semuanya.
"Lo meledakkan confetti ya, lo main gitar. Lo ambil video sisanya nyanyi. Tunggu gue mau bawa kue dulu. Tenang aja masih lama. Masih satu jam setengah lagi. Kalian berperilaku normal aja dulu."
***
Jalanan begitu macet meski sudah larut malam. Aku butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke toko kue. Setelah pesananku dibawa dan dibayar, aku bergegas kembali. Mau setergesa apapun, jalanan tetap tak bersahabat. Sesekali lancar, sesekali tersendat. Yang marah marah tak bisa bersikap ramah. Intinya, macet adalah jebakan paling menyebalkan dimana kita terkurung bersama manusia manusia penekan.
Pulang tak selalu lebih cepat, aku sudah melewatkan waktuku lebih dari tigapuluh menit. Sebuah pesan masuk. Katanya April sudah mau selesai. Padahal belum masuk pukul dua belas. Tapi dia tetap akan segera pergi keluar. Apa boleh buat, kami segera menyiapkan kejutannya. Konfetti, penyanyi, pemain gitar dan aku memegang kue. Semuanya sudah siap. April berjalan keluar, kami menunggu didepan pintu, disamping kiri dan kanan pintu. Dia kalu keluar dan konfetti mulai diledakkan disertai ucapan selamat ulang tahun.
"Happy birthday April!!!! Whuuuuu!!" Lagu selamat ulang tahu teriring. Dia tersenyum lebar menatapku yang memegang kue cokelat dengan lilin diatasnya. Sangat meriah.
Tiup lilinnya, tiup lilinnya~
Malam itu begitu membahagiakan bagiku dan baginya.
"Kukira kamu tidak tahu."
"Perkiraanmu salah!! Ayo tiup lilinnya jangan banyak bicara."
"Iya." Dia mulai menarik napas.
"Jangan lupa berdoa dulu." Aku menyelanya.
"Iya." Dia menarik napas lagi.
"Berdoa yang baik baik saja untukmu." Aku menyela lagi.
"Okta, kapan aku meniup lilinnya?" Tatapannya kesal.
"Oke. Oke. Sekarang!" Dia mulai menarik napas lagi. "Eh. Eh tunggu." Tahanku.
"Apal lagi. Ck." Dia mulai ingin marah.
__ADS_1
"Tidak. Ayo tiup." Pintaku paksa. Dia mencubit perutku kencang sekali. Antara kesakitan dan ingin tertawa. Dia membuatku merasakan kedua hal itu.
Dia lalu meniupnya. Setelah itu tersenyum lebar. Semuanya memberi selamat. April mulai membagikan kue. Potongan pertamanya untukku. Setelah itu semuanya berpamitan pulang. Menyisakan aku dan April berdua. Kami duduk disebuah bangku. Duduk bersila sambil berhadapan. Dia menadah dagunya dengan kedua tangannya. Lalu kami berbincang.
"Maaf ya. Aku tidak merayakan ulang tahunmu tepat pukul dua belas."
"Tidak apa apa."
"Eh iya. Tadi berharap apa saat tiup lilin?" Tanyaku penasaran.
"Mau tahu?"
"Mau lah. Makannya tanya."
"Berharap Janu pulang...." dia tersenyum. Pandangannya berpindah kearah lain seperti sedang membayangkan janu kesayangannya ada disana.
"Aku belum memberi hadiah." Aku mencoba mengalihkan perhatian agar pembicaraan tentang janu yang membuatku sakit itu segera dihentikan.
"Tidak usah. Kejutan tadi saja sudah sangat membahagiakan."
"Mau tidak?"
"Yasudah. Mau, mau. Hahaha."
"Buat apa?"
"Cepat! Jangan banyak tanya."
Aku lalu mengotak atik HP nya. Mencari sesuatu yang pasti kutemukan. Setelah cukup lama mencari, akhirnya kutemukan juga.
"Nah. Ini yang mau aku berikan." Ucapku sambil memperlihatkan sebuah foto.
"Foto?"
"Bukan.... ketempat yang ada difoto!" Dia menatapku serius. Mencoba mencerna apa maksudku.
"Serius? Kesana? Ke Raja Ampat? Aaaa." Dia berteriak lalu tanpa sadar dia memeluk perutku erat sekali. Lalu ada suara motor terdengar. Entah itu motor siapa. Kami mengabaikannya.
"Terima kasih, Okta..." ucapnya sambil terus memelukku erat.
"Sudah. Aku kesulitan bernapas." Suara klakson motor berbunyi nyaring. Kami berdua menatap kearah bunyi itu berasal. Mata april mulai berair. Dia segera berlari menghampiri motor itu, tepatnya seseorang yang berada disana.
"Janu...." teriaknya kencang lalu memeluk Janu kesayangannya yang sudah pulang. Aku hanya menatapnya sambil tersenyum paksa. Janu tidak membalas pelukan itu. Secara tiba tiba dia malah melepaskan pelukan yang diberikan April padanya.
"Tadinya aku mau memberimu kejutan. Tapi pelukanmu padanya lebih mengejutkanku, April."
__ADS_1
"Tapi Janu, itu tidak seperti kelihatannya. Aku bisa jelaskan." Tanpa mendengar, janu menjalankan motornya berbalik arah.
"Janu... Janu... Aku bisa jelaskan... tolong dengar dulu..." ia terus berteriak tapi sia sia. Dia tidak didengar. Dia kembali berjalan padaku. Matanya masih berkaca kaca tapi dia tersenyum. Dan aku tahu senyumannya kali ini adalah kebohongan paling besar yang ia ciptakan.
"Ayo pulang!" Pintanya sambil mengusap kelopak matanya.
"Kita makan ayam goreng dulu bagaimana? Atau eskrim? Kamu mau eskrim?" Aku mencoba menghiburnya sebisaku.
"Pulang. Aku cuma mau tidur."
Saat ini aku tidak mau membicarakan tentang masalahnya. Dia pasti tidak akan mau membicarakannya. Aku mencoba mengalihkan pikirannya sebisa mungkin.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang!"
Aku memboncengnya. Tapi bukan untuk kerumahnya. Untuk pergi kesebuah kafe agar ia bisa menenangkan diri.
"Kita kok kesini, Okta? Aku maunya pulang!"
"Sebentar saja..."
Aku memesan matcha late dua dan duduk berdua disebuah meja dekat jendela. Tanpa diduga hujan turun, membasahi semua yang ada dibawahnya. Mata April ikut melakukan hal yang sama, menurunkan hujan. Menghilangkan wajah cantiknya.
"Maafkan aku...." ucapku. Aku yakin ini semua salahku. Coba saja jika aku langsung melepas pelukannya, mungkin tidak akan seperti ini.
"Ini bukan salahmu. Ini salahku." Ucapnya sambil terus menunduk.
"Dia cemburu. Berarti dia sangat menyayangimu."
"Dia cemburu. Mungkin saja dia ingin aku pergi dari hidupnya."
"Kenapa bilang begitu?"
"Karena dia bilang. Dia tidak akan cemburu, karena aku sudah menjadi miliknya. Jadi jika ia cemburu, apakah aku ini masih menjadi miliknya?"
Aku bungkam. Tapi tetap erusaha bicara sebisa mungkin.
"Tidak seperti itu...." ucapku ragu.
"Lalu bagaimana?" Balasnya cepat.
"Dia itu mencintaimu..."
"Aku mau pulang. Tidak perlu diantar. Aku mau naik taksi saja." Dia pulang membawa kenangan paling pahit yang ia buat. Meskipun aku menginginkan mereka berpisah, tapi bukan berarti aku ingin melihat April bersedih seperti itu. Aku ingin ia pergi dari kekasihnya karena keinginannya. Jika mereka semakin jauh tapi hati April masih pada janu kesayangannya, sekeras apapun aku mencoba dekat, semuanya sia sia.
Karena janu mu sudah pulang, untuk sekarang aku mundur dulu senjenak untuk mengambil ancang ancang. Jika dia pergi lagi, nanti kucoba mendekat lagi. Aku tak ingin menyerah terlalu mudah. Karena memilikimu adalah harapan terindah sekaligus janji yang harus kutepati pada diri sendiri.
__ADS_1