
Aku = April
"Ini kue~." Lalu aku membukanya.
"Ih gosong ya kuenya. Mba kurang jago memasak."
"Hahaha. Mas, tolong ya, ini kue rasa cokelat. Warna nya memang begini!"
"Oh rasa cokelat toh. Kalau rasa sayang ada?" Ucapnya sambil memakan kue yang kubawa.
"Ada. Tapi saya simpan."
"Kenapa?"
"Iya. Itu punya pacar saya. Jangan sampai diambil orang lain!"
"Mmmmm." Dia mengangguk. "Pacarnya dimana sekarang?"
"Dia ada didepan saya. Kami sedang berbincang panjang. Tentang hal hal yang tidak penting tapi begitu menyenangkan. Sekarang dia memberikan senyuman. Senyuman yang paling saya rindukan. Saya memberikannya kue rasa cokelat, tapi dia menanyakan tentang kue rasa sayang. Dia tidak tahu kalau kue cokelat yang saya buat itu dengan rasa sayang. Tapi sebentar lagi dia pergi. Kedimensi yang jauh. Meninggalkan saya sendiri disini. Tapi dia selalu bilang. Kemanapun dia pergi, dia selalu ada untuk saya." Aku menatapnya sambil tersenyum dengan mata berkaca. Aku ingin sekali menangis kencang sekarang.
"Hey...." dia memegang pipiku dengan kedua tangannya menatap kedua mataku dalam dalam. "Ih aku baru tahu." Lanjutnya yang membuatku penasaran.
"Baru tahu apa?"
"Kamu kalau dilihat dari dekat begini, cantiknya bertambah." Aku ikut memegang pipinya. Lalu kutekan pipinya hingga mulutnya terlihat seperti bebek.
"Apa? Mau apa?" Tanyanya dengan pelafalan yang tidak jelas tapi bisa kupahami.
"Tetap jadi janu yang seperti ini ya? Jangan buat waktu mengubah segalanya darimu kecuali penampilan. Jangan buat jarak diantara kita membuatmu jadi orang lain." Dia mengangguk cepat.
"Lepas dulu." Ucapnya kesusahan.
"Hahaha. Iya."
__ADS_1
"Huh...." dia menghela napas sambil menggerak gerakan rahangnya. Dia mengubah posisi duduknya menjadi kedepan. Akupun sama. "Kalau waktu mengubahku. Jangan pergi, buat aku kembali menjadi aku yang dulu. Jika jarak membuatku jadi orang lain, tolong peluk aku dan perkenalkan aku dengan janu yang kamu kenal." Jelasnya sambil mengalihkan pandangannya kearahku.
"Malam ini aku berharap waktu berhenti untuk waktu yang lama. Biar bisa bersamamu terus." Aku menyandarkan kepalaku kebahunya.
"Jangan bersamaku terus. Nanti bosan. Sesekali kita perlu memisahkan diri. Untuk tahu apakah hubungan kita didasari karena saling mencintai, atau karena kita tak suka hidup sendiri."
"Kamu benar. Dan ketika berpisah denganku. Apa yang kamu rasakan?"
"Kamu sudah tahu jawabannya."
***
Janu mengantarku kekampus. Seperti kebiasaannya dulu. Tapi kali ini dia tidak ikut tinggal, dia langsung pulang kerumah.
"Cepat lulus! Tidak bosan ya kuliah terus?"
"Coba tanyakan dulu pada diri sendiri. Tidak bosan ya kuliah terus? Jauh pula."
"Hahaha. Sudah, aku pulang. Hati hati, jangan sampai ada apapun yang menyentuhmu termasuk debu."
"Belajar yang benar!" Dia mengusap kepalaku lalu berlalu pergi.
Sambil berjalan masuk melewati gerbang, aku melihat kanan kiri, mencari pria yang beberapa hari ini tak kutemui. Okta, dimana dia? Kenapa dia jadi jarang datang kerumah? Dia bilang sibuk. Tapi sibuk apa?
"Okta!" Aku berteriak saat melihatnya berjalan menuju kantin. Dia menengok kearahku dan melambaikan tangannya. Aku lekas berlari menemuinya. "Kemana saja? Tidak datang kerumah?"
"Eh. Ini. Ada kesibukan aja."
"Ah sok sibuk!! Padahal waktu itu sempat sempat saja."
"Ah sudah. Jangan dipikirkan. Ayo kita makan kekantin!"
***
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum."
"Gimana janu?" Ia bertanya sambil memakan roti cokelat yang ia beli.
"Janu? Dia baik baik saja. Tapi dia akan pergi lagi minggu ini."
"Oh... tentang ke raja ampat gimana? Jadi?" Dia lalu menyodorkan rotinya kearahku. Dan aku memakannya. Entah kenapa kami berdua jadi tidak ragu untuk melakukan apapun. Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri.
"Harus jadi. Itu kan hadiah ulang tahun darimu. Mana mungkin aku menolaknya." Ucapku tidak jelas sambil mengunyah roti.
"Tapi aku hanya memberimu tiket ya, untuk penginapan dan uang jajanmu aku tidak ikut urusan."
"Iya. Tenang saja tenang. April juga punya banyak uang, kok. Hahaha."
"Hmmm. Baik, baik, aku percaya. Hahaha."
Setelah makan kami pergi ke kelas masing masing. Dan ya, melakukan hal yang membosankan.
***
"Aku pulang ya...!" Ucapku pada Okta saat menaiki motor Janu. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tapi senyumannya berbeda dari yang biasanya. Senyumnya seperti orang yang kelelahan. Apa dia sakit ya? padahal tadi dia baik baik saja.
Aku makan siang diempat biasa, tapi dengan menu yang berbeda. Sekarang aku sedang ingin cheese burger. Baru saja aku selesai memesan dan duduk, aku melihat seseorang masuk dan hendak memesan.
"Okta. Sini, Ta. Makan bareng!!" Ajakku pada okta.
"Eh april." Dia lalu memgampiriku dan duduk disampingku dan janu. Kami bertiga duduk dan makan bersama.
"Uhuk.... uhuk....." aku tersedak makanan yang sedang aku makan. Dengan sigap kedua laki laki yang sedang bersamaku menawarkan minum. Astaga, aku ambil saja secara acak. Intinya aku hanya ingin minum.
Bukan hanya itu saja. Waktu minuman ku yang diatas meja tumpah mengenaiku, dengan sigap mereka berdiri dari kursinya dan menyiapkan sapu tangan. Duh. Aku hanya kebingungan melihat mereka berdua. Lalu beberapa saat kemudian aku tertawa.
__ADS_1
"Hahaha. Kalian ini. Kompak!" Ucapku sambil terus tertawa.
Kali ini Okta tak banyak bicara. Sesekali ia hanya menanyakan tentang tugasku. Kenapa saat ada janu, rasanya Okta semakin menghilang. Semakin tidak menjadi Okta yang kukenal. Ucapan dan sikapnya seperti kawan biasa. Bukan seperti sahabat baik yang selalu menemaniku. Ah aku terlalu memikirkannya. Lalu sebuah pikiran terbersit dikepalaku begitu saja. "Apa mungkin ia cemburu?" Ah tidak mungkin. Mana mungkin dia cemburu, dulu kan dia bilang dia hanya ingin menjadi teman baikku. Tidak, tidak. April, tenang. Sudah ya... jangan dipikirkan lagi. Hhhhhhh.