Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 9 #4


__ADS_3

Aku = April


Pulang. Untuk hari ini, pulang rasanya menyebalkan. Aku masih betah ditempat ini. Tempat sunyi yang memberi ketenangan. Bukan sebuah kota dengan hiruk pikuk keramaian.


Kapal yang kami tumpangi mulai berlayar menuju pelabuhan tempat kami pulang. Aku mangabadikan pemandangan indah ini untuk terakhir kalinya. Kunyalakan kamera ponselku dan mulai mengambil video.


***


Sekarang bandara. Aku dan Okta mulai menaiki pesawat yang akan membawa kami pulang ketempat kami berangkat. Awan awan indah itu perlahan terlihat lagi. Warnanya tetap putih dan bersih. Semuanya cukup menenangkan untuk membuatku terlelap sepanjang perjalanan.


"April. April. Bangun...." suara Okta terdengar lembut. Aku mulai membuka mata. Kepalaku masih tersandar dijendela.


"Oh sudah sampai?" Tanyaku.


"Iya. Ayo turun."


Kami berdua keluar dari pesawat. Jari telunjukku dan jari telunjukknya saling bersentuh. Lalu kami menaiki taksi, membiarkan penat yang kami rasakan luruh secara perlahan. Sekarang aku sudah berada ditempat dengan bisingnya suara klakson dikemacetan. Tak sedikit juga orang orang yang marah marah dengan kepala yang keluar dari jendela. Kepalaku pusing lagi ketika berada ditempat ini.


***


Aku masuk kerumah dan merebahkan tubuhku dikasur. Ibu belum pulang, ayah apalagi. Aku hanya terdiam sambil menatap kelangit langit kamar. Lalu sebuah pesan masuk.


"Jangan lupa mandi dulu. Jangan langsung tidur. Badanmu sudah sangat bau!!" Ucap Okta dipesan itu.


"Eh sembarangan ya." Aku lalu mencium bau tubuhku. Ternyata iya, badanku bau. Aku harus mandi.


"Hehehe. Jangan lupa istirahat yang cukup. Besok harus beraktifitas seperti biasa lagi."


"Baik. Baik. Kamu juga jangan lupa mandi!!"


"Sudah. Aku sudah mandi sebelum kamu suruh!"


"Mandi apa? Mandi keringat?"


"Iya. Itu. Hahaha."


***


Setelah hari hari itu, semuanya berjalan normal kembali. Aku kuliah, siaran dan menjadi seorang penahan rindu yang handal. Dan lagi, kuliahku hampir selesai. Sekarang aku sedang menulis skripsi.


Sekarang aku sedang berada diperpustakaan. Mulai mengetik semua hal yang sangat melelahkan ini sambil membaca buku buku yang menumpuk disebelahku. Okta menghampiriku dan duduk disebelahku.

__ADS_1


"Hey. Tenang saja. Te.... na..... ng....." ujarnya.


"Ya kamu tinggal sedikit lagi. Sementara aku? Masih jauh. Capeeeeeeee!!"


Belum selesai sampai disitu. Semua skripsi itu sangat membuatku marah. Ditambah dengan dosen pembimbing yang sangat sulit kutemui. Kadang juga dosen itu sudah membuat janji, saat kutunggui, tapi tiba tiba dia langsung membatalkan janjinya. Malas kan? Dia maunya apa sih? Rasanya sekarang aku ingin berteriak sangat kencang.


***


Malam ini Okta datang kerumah ku. Dia bilang mau mau membantuku. Ya aku tidak mungkin menolak. Karena ya, meskipun ditolak. Dia tetap keras kepala dan memaksa. Dia duduk dihadapanku yang sedang sibuk dengan laptop diatas meja. Dia meninggalkanku sejenak dan pergi kedapur, lalu dia kembali membawakan teh hangat.


"Kamu cape ya?" Dia menyingkirkan rambut rambut yang menutupi wajahku kebelakang. "Biar aku yang mengetiknya." Dia mengambil laptop yang sedang sibuk kupakai.


Perlahan waktu menunjukan pukul setengah dua belas malam. Kami sudah beberapa kali bergantian mengetik ini dan itu. Semuanya sangat melelahkan. Karena teh dan cemilan yang ada dimeja sudah habis, aku kembali kedapur untuk menyiapkan teh hangat lagi. Tapi kali ini aku lapar. Jadi aku masak mie instan dengan telur dan cabe rawit.


"Okta.... mau mie instan tidak?" Tanyaku agak berteriak. Tapi ia tidak menjawab. Ya sudah untkku saja sendiri. Aku membawa dua gelas teh hangat dan satu mangkok mie instan panas.


Saat aku kembali ke tempat ku mengerjakan tugasku tadi, Okta sudah terlelap. Mungkin dia sangat kelelahan. Padahal kan dia juga harus mengerjakan skripsinya. Tapi dia tetap saja mau membantuku.


"Haduh. Cape ya..." ucapku pelan lalu berjalan mengambil selimut.


Kututupkan selimut itu ditubuhnya. Membiarkannya merasa hangat, sebagai permintaan maaf karena membantuku ia jadi kelelahan seperti sekarang.


"Iya. April. Ada apa? Kamu belum tidur?" Tanya ibu yang sedang sibuk menggambar sebuah pakaian di kertas polos.


"Belum bu."


"Ada apa?"


"Ini, Okta. Dia ketiduran saat membantu April mengerjakan tugas. Boleh tidak dia menginap disini?" Ucapku berbisik.


"Oh. Boleh. Tapi disofa saja ya tidurnya?"


"Iya bu." Aku kembali ketempat okta lalu memakan mie instan yang tadi kubuat.


Setelah selesai makan, Aku melipat tanganku dan meletakkan kepalaku diantara lipatan tangan tangan itu. Wajahku mengarah kepada seseorang yang berada disebelahku. Perlahan lenganku menyentuh pipinya dan mengusapnya secara perlahan.


"Maaf...." aku berbisik pelan. Aku ingin meminta maaf padanya karena aku yang tidak bisa membalas perasaannya. Meminta maaf karena aku yang harus membuatnya menunggu. Dan aku meminta maaf karena aku yang membuatnya melabuhkan perasaan padaku. Ssmua itu kesalahanku. Karena aku dia jadi menanggung semua perasaan sendirian dan menunggu untuk waktu yang lama sementara yang ia tunggu hanya memberi harapan semu.


***


Pagi pagi sekali aku terbangun. Aku keluar dari kamar dan berniat melihat keadaan Okta. Saat kuhampiri keruangan tempat ia terlelap semalam, dia sudah tidak ada

__ADS_1


Entah kapan dia pulang.


"April. Makan dulu. Sarapan sudah siap!" Teriak ibu dari dapur.


"Iya....."


"Temanmu yang semalam menginap kemana?"


"Tidak tahu. Dia sudah pulang mungkin." Aku mengambil makanan sambil mengangkat bahu sejenak.


"Oh yasudah. Makan yang banyak! Biar kuat!"


"Hmmm." Aku tersenyum lebar.


***


Siang ini Okta datang kerumah. Dia bilang mau mengajakku keluar. Tapi aku menolak karena aku akan mengerjakan skripsiku. Tapi dia bilang bawa saja tugasnya. Hmmm. Mau bagaimana lagi. Jika tidak dituruti dia akan memaksakan kehendaknya. Jadi ya sudah ke kafe saja seperti katanya.


***


"Mba. Matcha late nya dua!" Pintanya memesan.


"Eh mba. Boleh minta password wifi nya."


"Baik mas. Mba. Ditunggu ya."


Saat pesanan datang, Okta lebih sering melamun dan fokus terhadap layar HP nya.


"Okta!"


"Iya."


"Kenapa?"


"Kenapa apanya? Tidak. Tidak apa apa." Balasnya gelagapan. Ada hening beberapa saat. Perlahan dia memegang tanganku yang ada diatas meja. Menatapku lembut. Lalu tersenyum.


"Hmmmm? Kamu kenapa sih? Tidak apa apa kan?" Aku meraba raba keningnya. "Tidak panas."


Lalu dia menatapku heran dan gelagapan.


"Ck. Aku tidak apa apa. Sudah ayo lanjutkan saja."

__ADS_1


__ADS_2