Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 5 #2


__ADS_3

Aku \= April


Suara klakson terdengar begitu keras dari luar. Orang yang sudah kuduga adalah dia. Okta lagi, Okta lagi. Aku malas berurusan dengan dia. Kenapa ada orang seperti itu dimuka bumi. Orang yang masih saja mendekati seseorang yang hatinya sudah dimiliki. Apa dia sudah kehilangan rasa malu atau bagaimana? Saat mau turun menemuinya, kulihat ibu sedang membukakkan gerbang dan menyuruhnya masuk. Aku segera berlari dan menahan ibu.


"Eh. Bu, jangan suruh dia masuk. Kita mau mengobrol disini!"


"Didalam saja biar enak mengobrolnya." Ucap ibu. Aku melihat Okta mengangguk tapi aku segera menahannya.


"Tidak. Sudah bu disini saja. Sekarang ibu masuk saja lagi ya.." pintaku sambil membawa ibu masuk.


"Ada apa?" Tanyaku pada Okta.


"Berangkat kuliah bersama?"


"Tidak." Aku menutup gerbang. Klaksonnya berbunyi lagi. Aku membuka gerbang lagi.


"Nonton?"


"T I D A K." Aku mengeja ucapanku takutnya ia tidak mengerti kata tidak. Dia lalu turun dari motornya. Saat aku mencoba menutup gerbang, dia tiba tiba menahannya.


"Tolong bilang iya." Katanya dengan wajah memohon.


Aku menghela napas panjang sebelum bicara. Mencoba mengumpulkan kesabaran untuk menghadapinya.


"Begini. Aku TIDAK mau. T-I-D-A-K. TIDAK. Paham?"


"Tapi aku sudah membeli dua tiket."


"Cari saja orang lain."


"Tidak mau. Aku mau menunggumu saja sampai mau."


"Kenapa sih harus kesini terus?"


"Aku mau jadi teman baikmu."


"Oh...." Aku berlalu pergi meninggalkannya sendirian didepan rumahku. Aku mengambil cemilan dan kembali kekamar. Karena kelasku masih dimulai satu jam lagi, aku menunggu saja sambil makan dan membuka sosial media. Mencari meme meme lucu disosial media.


Ah membosankan, aku mau kekampus saja. Kalau dikampuskan bisa mengobrol atau apapun. Oke aku mau mandi dulu, habis itu ganti baju. Aduh cucian dirumah sudah banyak. Aku harus segera mengantarkannya ke tempat laundry. Karena disini tidak ada asisten rumah tangga, jadi ya begini. Ya sudah, sebelum kekampus aku antar dulu cucian yang menumpuk itu.


"Bu.... April kekampus!"


"Eh. Kamu bawa apa?"


"Cucian kotor."


"Oke. Sekalian punya ibu ya. Ibu sebentar lagi mau ke butik."

__ADS_1


"Baik ibu ku."


***


Setelah siap, aku keluar sambil membawa cucian. Belum sampai menuju gerbang, ada pesan di whatsapp ku, katanya hari ini dosenku tidak akan masuk. Jadi ya... aku tidak akan berangkat kuliah. Ya ampun, hidupku semakin membosankan. Saat keluar dari gerbang, aku masih melihat makhluk yang dari tadi pagi mengajakku pergi. Dia tidak ada habisanya. Apa dia tidak bosan ya menungguku hampir satu jam?


Aku berpura pura tidak melihatnya dan berjalan pergi. Tapi dia langsung menarik tanganku.


"Mau kemana?"


"Ke tempat laundry."


"Aku antar."


"Tidak usah. Dekat kok." Aku terus berjalan dan mencoba mengabaikannya. Tapi dia menaiki motornya dan berjalan mengikutiku sampai ke tempat laundry. Aku keluar dan berjalan kembali untuk pulang. Okta masih saja mengikutiku dengan motornya.


"Kenapa masih mengikutiku? Hhhhh." Tukasku kesal.


"Mau menjagamu." Aku menggelengkan kepala mendengar jawabannya. Setelah sampai rumah, aku masuk kembali kekamar dan duduk sambil mendengarkan musik.


Karena penasaran, aku mengintip dibalik jendela, aku ingin memastikan apakah Okta masih ada disana atau tidak. Astaga... ternyata dia masih saja ada disana. Lalu dia meneleponku.


"Jam berapa mau keluar dan nonton bersamaku?"


"Tidak." Aku langsung menutup teleponnya lalu duduk kembali dikasur dan membaca buku. Tidak ada kegiatan lain hari ini. Mau menelepon janu, mungkin sekarang janu belum bangun, aku tidak mau mengganggunya.


"Eh. April."


"Mau nonton kan? Ayo. Tapi filmnya terserahku." Ya... ada alasan kenapa aku menerimanya. Karena bosan dirumah. Dan aku yakin janu tidak akan marah karena hal ini. Dia bilang tidak apa apa berteman dengan Okta. Hanya berteman.


"Oh. Ayo. Ayo. Oke terserah kamu." Dia terlihat senang, seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan kesukaannya.


Kami berdua naik motor dan pergi kebioskop.


"Jangan kegeeran ya. Aku menerima ajakanmu karena sedang bosan dirumah. Bukan karenamu."


"Apapun alasannya. Aku tetap senang."


***


Karena aku sedang sangat sangat bosan, Aku memutuskan untuk menonton film komedi. Sebelum mulai menonton, aku memperingatkannya agar jangan banyak bicara. Fokus saja menonton.


Karena filmnya memang lucu, sering sekali aku tertawa sangat kencang sampai air mataku keluar. Sesekali aku melirik kearah Okta, aku tahu sepertinya dari tadi ia memperhatikanku. Aku mengangkat dagu kearahnya, menandakan pertanyaan ada apa? Dia tidak menjawabnya dan langsung memalingkan pandangannya.


Setelah filmnya selesai, aku dan Okta berjalan keluar.


"Kamu ingat tidak adegan yang karakter utamanya ngobrol sama pegawainya. Itu lucu banget hahaha." Jelasku sambil tertawa. Lalu aku lihat dia tersenyum padaku.

__ADS_1


"Eh maaf. Aku terlalu banyak bicara ya." Ucapku padanya.


"Tidak apa apa. Kalau bisa kamu bicara terus. Aku mau mendengarkan suaramu lebih sering. Mmm sekarang makan dulu ya? Aku lapar."


"Mmmm. Baiklah. Aku juga." Entah ada angin apa, kali ini ia tidak membuatku kesal. Aku malah merasa senang dan nyaman dekat dengannya.


Eh tunggu. Nyaman? Tidak, tidak, ini hanya rasa senang karena habis menonton film barusan.


***


Dia memesan dua cheese burger. Katanya itu makanan favoritnya. Saat tengah makan, dia menatapku sambil tersenyum.


"Kenapa?" Tanyaku penasaran.


"Kamu ternyata tidak judes seperti yang aku kira ya."


"Perkiraanmu sangat salah."


"Iya. Aku tahu. Ternyata kamu bisa menyenangkan dan bisa cantik juga."


"Oh. Jadi sebelumnya aku tidak cantik?"


"Tidak. Apalagi kalau sudah marah marah tidak jelas."


"Hmmmmm~."


"Tapi... kamu menyenangkan juga." Ucapku. Setelah aku sadar bahwa aku telah mengucapkan kalimat itu, dalam hati aku berkata "Astaga. Apa yang baru aku ucapkan barusan."


"Ya memang aku orangnya menyenangkan, baik, dermawan, nyaman dipeluk juga."


"Hahaha. Ada ada saja." Oke. Kali ini aku akui. Orang ini menyenangkan. Dia seperti Janu kedua dihidupku. Tapi tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan janu. Eh tapi aku tidak bermaksud menjadikan Okta sebagai pelampiasan. Kan dia juga tahu kalau aku sudah punya pacar.


***


Kami pulang menjelang petang. Dia memberhentikan motornya didepan gerbang rumahku. Sambil tersenyum dia bilang "Terima kasih."


"Iya. Sama sama."


"Pacarmu tidak akan marah?"


"Tidak. Dia tahu kalau kita itu hanya berteman."


"Teman?"


"Kenapa? Tidak mau ya berteman denganku? Yasudah. Aku masuk. Dadah!"


"Eh tidak. Bukan beg..." aku segera menutup gerbang dan masuk kembali kekamar. Entah ada apa hari ini. Aku menjadi seorang pembohong. Aku bilang benci dan tidak suka terhadap Okta, tapi yang aku lakukan adalah menyuruhnya masuk kedalam kehidupanku. Tapi tidak apalah, menjadikannya teman bukan hal yang salah untuk dilakukan.

__ADS_1


***


__ADS_2