Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 6 #2


__ADS_3

Aku \= April


Pagi ini suara video call dari janu membangunkanku. Dengan sigap aku langsung mengangkatnya. Dan tentunya, wajahku masih sangat semrawut karena baru bangun.


"Ada apa?" Tanyaku. Lalu secara tiba tiba dia mengambil screenshoot. "Ih janu....~"


"Hehe. Kamu sudah bangun juga. Cepat sarapan!"


"Nanti. Eh tapi, kamu tidak tidur? Disana kan masih dini hari!"


"Lupa."


"Baru tahu ada orang lupa tidur."


"Aku juga baru tahu kalau ada orang yang cantik meski baru bangun."


"Iya. Iya... rayuanmu tak pernah habis."


"April... sarapan." Ibu berteriak dari ruang makan.


"Ibu manggil. Sudah dulu ya. Jangan lupa tidur! Iya bu.... dadah Janu!"


Aku berlari cepat menuju ruang makan. Ibu dan ayah sudah ada disana-sedang duduk berdua dan mengobrol.


"Ayah sudah pulang?" Tanyaku sambil menggeser kursi dan mendudukinya.


"Sudah. Tadi jam dua pagi."


"Hmmmm." Aku mengangguk angguk. Kami bertiga pun makan sambil mengobrolkan banyak hal. Tapi ada satu pertanyaan yang datang dari ibu. Yang membuatku agak kaget.


"April, laki laki yang waktu itu kesini siapa?" Oke. Aku kaget. Aku mengumpulkan nyawaku terlebih dahulu sebelum bicara.


"Eh. Itu Okta, teman bu..." aku menjawab gelagapan karena takut jika ibu akan menyangka hal yang tidak tidak.


"Oh teman. Ibu harap, kamu jangan terlalu dekat sama dia. Jangan buat janu kecewa ya..."


"Iya bu."


"Iya loh. Mentang mentang janu tidak ada, jangan cari cari kesempatan buat dekat sama laki laki lain. Hahaha." Jelas ayah meledek sambil tertawa.


"Eh mana ada. Anak kalian ini sangat setia. Jadi tenang saja tena...ng." ucapku sambil menggerak gerakkan tanganku kedepan yang membuat ibu dan ayah tertawa.


Ditengah tengah obrolan itu, ada suara klakson terdengar dari luar. Kami bertiga menatap kearah luar secara bersamaan.


"Tuh. Sekarang saja sudah ada yang mau menjemput. Mungkin kalau dikampus april sudah dikerubungi buat dimintai tanda tangan, Bu." Ucap ayah menyindir.

__ADS_1


"Ih tidak ya..." aku memasang wajah agak cemberut.


"Ah kalian ini. Sudah. Ayah juga. Lihat April jadi ngambek seperti itu. Hahaha. Sudah kamu keluar, lihat itu siapa." Ibu mengangkat wajahnya kedepan.


Saat aku keluar, sudah dapat ditebak bahwa itu adalah Okta. Dia itu kenapa ya? Tidak ada capenya dengan sikapku. Aku sudah sering mengatakan tidak, tapi ia tetap saja datang kerumahku.


"Ayo berangkat kuliah."


"Aku belum mandi. Duluan saja. Lagipula kelasku masih satu jam lagi."


"Aku tunggu."


"Iyalah terserah."


Hhhh. Kepalanya keras. Eh maksudku dia keras kepala. Aku yakin dia pasti benar benar akan menunggu. Yasudah aku segera mandi saja. Saat berjalan masuk, ibu memberikan pertanyaan.


"Dia siapa april?"


"Teman bu. Yang kemarin itu."


"Tidak disuruh masuk?"


Aku berhenti sejenak lalu membalikkan wajahku kearah ibu dan ayah "Tidak. Katanya mau menunggu diluar. Dia mau melihat lihat pagar rumah kita. Designnya bagus katanya." Aku berjalan pergi mengambil handuk lalu kekamar mandi.


"Ada ada saja." Aku mendengar suara ayah pelan dari kejauhan.


***


"Yah, belum berangkat kerja?"


"Sekarang ayah cuti. Soalnya kemarin kan baru dari luar kota. Jadi sekarang waktunya istirahat."


"Yasudah. April berangkat. Assalamualaikum." Ucapku sambil mencium tangan ayah. Okta pun melakukan hal yang sama. Dengan gegas aku menarik tangan Okta agar segera pergi. Kami berdua segera pergi kekampus dan pastinya aku akan banyak bertanya saat dijalan. Hahaha.


"Kenapa kerumah?"


"Buat menjemputmu, masih saja bertanya."


"Iya. Kenapa menjemputku?"


"Kita kan berteman. Lupa? Kemarin kamu yang bilang loh."


Ah aku menyesal kemarin berkata kalau aku dan Okta berteman. Akhirnya jadi seperti ini, kan.


"Oke. Kita lupakan itu. Tadi membicarakan apa dengan ayahku?"

__ADS_1


"Membicarakanmu."


"Hah?"


"Iya. Membicarakanmu yang kalau bangun suka kesiangan, kadang malas mandi, pintar memasak, cerewet dan masih banyak lagi. Hahaha."


"Iya. Iya. Sudah ya, kamu jangan mengantar jemputku lagi."


"Tidak mau. Kan kita sudah berteman. Jadi boleh dong aku mengantar jemputmu setiap hari."


"Tapi aku tidak mau membuat pacarku cemburu."


"Biar aku meminta izin padanya. Kamu tenang saja."


Ditempat parkir kampus, Okta meminta ponselku untuk ia pinjam, aku mengernyitkan dahi karena merasa heran.


"Sudah. Berikan saja, sebentar." Paksanya. Lalu aku memberikan ponselku dan ia langsung menghubungi seseorang melalui video call. Menghubungi janu tepatnya.


"Tidak mungkin diangkat. Kalau disini setengah sepuluh, disana masih subuh." Ucapku. Dia lalu membuka kamera dan mengambil fotonya sendiri. Lalu ia mengirim pesan pada Janu. Karena penasaran, aku melihat ia mengetik sambil menjinjitkan kaki karena ia terlalu tinggi.


"Ini temennya April, mau izin buat antar jemput dia setiap hari. Jangan marah kedia, gue yang mau. Ini foto gue, kalau mau menghajar tinggal cari aja orang ini. Tenang, gue hanya ingin menjaga April sebagai teman, gue pastikan April tidak akan tergores sedikitpun." Ucapnya dipesan itu. Dengan santai dia memberikan ponselku yang sudah ia pakai itu.


Dalam waktu yang agak lama, Janu membalas pesan itu. Dia bilang "Iya. Tolong jaga dia baik baik. Jangan buat dia merasa kesepian dan temani dia jika dia mau makan eskrim." Janu... ketika kamu mengatakan itu, mungkin kamu percaya sepenuhnya padaku bahwa aku akan menjaga hati. Dan aku akan melakukannya.


***


Setelah hari itu, hari hari berikutnya Okta mulai sering mengantar jemputku setiap aku kuliah, kadang meskipun ia tidak ada kelas, ia akan tetap mengantarkanku. Sesekali ia juga mengajakku menonton. Ia juga mulai tahu makanan kesukaanku. Semua tentangku ia tahu. Oh iya, ada hal yang mengejutkan. Waktu itu dia mengantarkanku siaran, setelah sampai distasiun radio, ternyata semua orang yang ada disana mengenalnya. Dan aku baru tahu kalau dia ternyata salah satu produser disana. Astaga April, kamu kemana saja?


"Kok kita tidak pernah ketemu?"


"Iya tidak mungkin. Kamu siaran senin sampai jumat. Sedangkan aku jadi produser hanya sabtu dan minggu."


"Kenapa tidak pernah memberitahuku?"


"Kalau aku memberitahumu, nanti kamu marah dan tidak mau siaran disini. Hahaha."


"Ih. Sekarang kan beda ceritanya. Kalau dulu..."


"Kalau dulu?"


"Aku membencimu!!"


"Kalau sekarang apa?"


"Masih benci. Tapi berkurang sedikit."

__ADS_1


Okta sudah seperti janu keduaku, Janu yang mengantarku kekampus, Janu yang menemaniku makan, Janu yang sering membuatku kesal, sepertinya semua yang ada dalam diri Janu ada juga padanya. Yang membedakan antara dia dan Janu hanyalah sebagai apa dia dihidupku. Itu saja dan Aku hanya menganggap Okta sebagai teman biasa. Pengganti raga janu, bukan pengganti janu seutuhnya.


Tapi aku tidak serta merta menerimanya, setiap ia mengajak kemanapun aku selalu menolaknya terlebih dahulu. Jika ia masih memaksa untuk menunggu, aku akan menerimanya karena kasihan. Bukannya apa-apa, aku hanya ingin menganggapnya sebagai teman yang hanya aku kenal saja tidak lebih. Bagaimanapun juga, aku tetap ingin menjaga hati janu. Tidak ingin terlalu dekat dengan lelaki manapun.


__ADS_2