
Aku \= Okta
Untuk hari ini, tuan putri yang sering minta digendong itu tidak mau kuantar kekampus. Katanya sedang sakit. Ini pasti salahku karena mengajaknya hujan hujanan naik motor. Coba saja kalau aku punya mobil, dia mungkin tidak akan sakit seperti ini. Setelah tahu dia sakit, aku meminta maaf padanya. Tapi dia bilang "tidak apa apa. Menyenangkan. Aku hanya tidak enak badan biasa." Aku segera pergi kerumahnya, sebelum itu dia memberi satu pesan padaku.
"Aku mau bubur."
"Mau bubur apa? Bubur kacang hijau? Bubur ayam? Bubur ketan hitam? Bubur sum sum? Atau bubur apa?"
"Bubur apapun yang sedang ada dipikiranmu. Jangan membuatku kesal!"
"Hehe. Iya maaf."
"Mau bubur, bukan maaf." Balasnya yang membuatku tertawa.
"Iya. Iya...." aku segera bergegas menuju pedagang bubur ayam. Memesan satu porsi dibungkus. Setelah pesanan selesai, aku membayarnya dan segera pergi menuju rumah April.
Dirumahnya sepi seperti biasa. Sebelum masuk aku menekan bel tapi tidak ada yang membuka pintu. Aku mengirim pesan pada April.
"Aku sudah dirumahmu, tapi tidak ada yang membuka pintu."
"Masuk saja. Tidak ada siapa siapa."
Aku segera masuk mencari kamar april dimana sambil terus mengiriminya pesan. Aku pun sampai disatu kamar. Aku agak ragu untuk masuk. Tapi april langsung berteriak. "Masuk saja.."
"April, aku boleh meminjam HP mu?" Tanyaku saat menghampirinya.
"Untuk apa?"
"Pinjam saja." Dia memberikannya. Aku mencari nomor telepon ibunya dan menrleponnya.
"Halo, tante."
"Halo. Ini siapa ya?"
"Ini Okta."
"Iya Okta. Ada apa?"
"Begini Tante, april katanya sakit. Boleh tidak kalau Okta menjaganya dirumah."
"Oh boleh. Bagus malahan. Tante titip April ya..."
"Baik tante. Terima kasih."
"Kalau ada apa apa, langsung telepon tante saja."
"Baik tante."
Telepon itu ditutup, aku segera memberikannya pada April. Dia menatapku heran.
"Kenapa harus meminta izin segala?"
"Nanti dikira lancang masuk kerumah orang tanpa izin."
"Kan sudah kuizinkan."
__ADS_1
"Kan aku maunya oleh ibumu."
"Oke. Oke."
"Eh iya. Ini buburnya. Aku bawa bubur ayam. Sebentar." Aku menyiapkan bubur itu lalu kembali kehadapan april. Memberikan bubur itu padanya. Lalu wajahnya berubah menjadi kesal.
"Kamu tahu kalau aku itu sakit kan?"
"Iya. Tahu."
"Suapin."
"Hmmm." Aku tersenyum. "Aku belum mendapat izin darimu. Jadi takut kamu marah."
"Iya. Sekarang diizinkan untuk menyuapi ku."
"Baik. Tapi diaduk atau jangan?"
"Jangan."
"Padahal bubur itu enaknya diaduk lho."
"Enaknya tidak."
"Enaknya diaduk April jadi merata."
"Mau menyuapiku atau mau berdebat?"
"Hehe. Bercanda... Aaa." Aku menyuruhnya membuka mulut. Ia makan dengan sangat lahap sampai bubur itu habis.
"Obat?"
"Iya. O B A T." Aku mengeja hurufnya satu persatu.
"Obat apa?"
"Dari dokter lah." Dia menggelengkan kepala.
"Kamu belum diperiksa?"
"Belum." Ucapannya itu membuatku menepuk jidatku sendiri. Dia sakit tapi tidak diperiksa itu bagaimana? "Aku cuma tidak enak badan." Lanjutnya.
"Tidak enak badan itu juga sakit, April."
"Tapi aku tidak butuh dokter. Hanya butuh istirahat."
"Oh baiklah. Kamu istirahat. Aku akan menunggumu disini. Kalau butuh apa apa bilang saja." Aku segera berjalan menjauh menuju meja tempatnya belajar. Dia menatapku sambil tersenyum.
"Katanya mau istirahat, tapi malah melihatku terus." Ucapku ketus.
"Kamu tetap duduk disini. Biar aku tidak perlu bicara terlalu kencang untuk memanggilmu."
"Oke. Oke." Kakiku berjalan menghampirinya lagi, lalu duduk kembali disampingnya. "Oke. Istirahat." Karena duduk dikursi terlalu tinggi, jadi aku duduk dilantai, melipat tanganku diatas kasur April. Tepat disebelahnya. Melihatnya terlelap dengan nyenyak. Meski tidur begitu, wajah cantiknya tak pernah hilang. Aku memegangi pipi dengan tangan kananku sambil terus menatap wajahnya.
Sudah hampir tiga puluh menit April tertidur. Aku sudah bermain game, membuka instagram hingga twitter untuk mencari hiburan. Tapi aku tetap bosan. Tadinya aku mau keluar. Tapi tidak tega meninggalkannya sendirian disini. Takut ia membutuhkan sesuatu dan aku tidak ada. Lama kelamaan, tanpa sadar aku ikut terlelap dengan kepalaku bersandar diatas lipatan tanganku..
__ADS_1
Sebuah tangan menyapu rambutku. Aku merasakannya tapi mataku masih tertutup. Pelan pelan kubuka mataku dan terbangun. Dihadapanku April sedang terbangun dan tersenyum. Sapuan tangan dirambutku mulai berhenti.
"Eh. April. Maaf ya aku ketiduran. Kamu mau apa? Makan? Minum?"
"Ini sudah siang. Kamu tidak ada kelas?"
"Untuk sekarang tidak dulu. Sampai kamu sembuh. Menjagamu lebih penting."
"Eh. Aku tidak apa apa. Jangan bolos kuliah."
"Kan sudah kubilang untuk sekarang tidak ada kelas dulu."
"Hmmm. Terserah kamu saja. Aku mau eskrim." Ucapnya tiba tiba.
"Lupa ya kalau sedang sakit?"
"Tapi mau."
"Begini. Aku belikan susu atau yougurt yang rasa strawberi saja ya?" Ia mengangguk.
Entah kenapa, aku selalu ingin melakukan apa saja untuknya asalkan ia bahagia. Dia bukan siapa siapaku, tapi aku berharap menjadi siapa siapanya. Seperti saat ini, kalau bukan dia yang sakit, mungkin aku tidak akan mau menungguinya istirahat, membelikan apapun yang ia mau. Karena menurutku, saat ini dia adalah seseorang yang paling harus kuutamakan dan harus kujaga. Sekarang dia satu satunya untukku. Tapi bukan hanya aku, dia juga satu satunya untuk janu kesayangannya.
Setelah membeli yougurt strawberi dari minimarket terdekat, aku kembali menuju rumah April, kulihat dia sedang saling mengobrol melalui video call. Sudah dapat ditebak ia mengobrol dengan siapa.
"Hahaha." Dia tertawa bahagia.
"Jaga diri baik baik ya. Jangan sakit terus. Aku sangat khawatir disini." Ucap seseorang dibalik video call. April mengangguk dan tersenyum. Setelah ia melihatku datang, ia menyudahi obrolannya. Aku menghampirinya dan memberikan yougurt yang kubeli. Ia meminumnya habis dalam sekejap.
"Kalau minum bisa rapih tidak?" Aku tersenyum sambil mengusap bibirnya yang penuh yougurt dengan jariku.
"Mmmmm." Keluhnya saat aku mencoba membersihkan mulutnya.
Sudah menjelang sore. April menyuruhku segera pulang meski aku tidak mau. Tapi dia memaksa. Katanya aku sudah sangat bau, harus segera mandi. Agar ia tidak mencium bau badanku terus, aku harus pulang dan mandi.
"Oke. Aku pulang. Nanti aku kesini lagi ya?"
"Tidak usah. Nanti ayahku mungkin pulang dari kantor. Hari ini ia tidak keluar kota."
"Kalau besok."
"Besok aku kuliah lagi."
"Eh."
"Iya. Aku yakin besok sembuh."
"Oke. Besok sembuh. Janji ya. Tos dulu." Aku membuka telapak tanganku kearahnya.
"Hmmmm." Dia lalu menepuk tanganku dan tersenyum.
"Aku pulang."
"Iya. Sampai jumpa." Dia melambaikan tangannya. Aku membalasnya dilanjutkan dengan menutup pintu.
Pulang dengan rasa senang usai menjenguk tuan putri yang katanya tak enak badan. Dia masih mau eskrim meski sedang sakit. Dasar. Dia perempuan paling kekanak kanakan yang pernah aku kenal. Tapi aku suka sifatnya itu. Lucu. Saat aku tidak sengaja terlelap disampingnya, dia mengusap kepalaku, menyapu rambutku yang membuatku sangat bahagia luar biasa. Kamu bukan siapa siapaku, tapi aku tetap akan menunggu untuk menjadi siapa siapamu. Sampai hal hal menyenangkan itu akan kita lakukan setiap detik. Sampai waktu juga bosan dengan kebahagiaan kita. Tapi itu masih harapan, masih dalam ruang tunggu. Masih semu dan tak tentu.
__ADS_1
"Okta, aku mau kepasar malam." Ucapnya dalam sebuah pesan.