
Aku \= April
Malam ini janu agak sulit kuhubungi. Saat kucoba menghubunginya lewat panggilan video, hanya bunyi tuuuut tuuuut saja yang terdengar. Lalu dia bilang kalau signal nya jelek. Lewat telepon saja. Jangan panggilan video. Tidak apa apa lah. Yang penting aku bisa menghubunginya.
"Janu, aku sedang kenapa napa."
"Ha? Memangnya kamu kenapa?"
"Rindu. Sangat melelahkan."
"Kalau begitu jangan rindu."
"Aku tidak akan rindu jika kita sering bertemu. Aku tidak akan rindu jika kamu tidak menjauh. Aku tidak akan rindu jika peluk kita saling bersentuh. Tidak akan janu."
"Hmmmm. Tapi kita sudah sering bertemu."
"Video call? Itu tidak menyembuhkan sama sekali. Tatapan mata kita disosial media itu hanya pereda, Janu."
"Baiklah. Selain bertemu apalagi yang akan kamu jadikan obat rindumu?"
"Tidak tahu. Tapi kalau sekarang. Aku sedang merindukan puisimu."
"Oh puisi ya. Aku tidak menyebut ini puisi. Tapi ini adalah apa yang ada dalam hatiku untukmu."
Rasa sendu penahan rindu
Ada seorang perempuan cantik diseberang telepon sana.
Sedang menatap rumah tetangga kesayangannya dibalik kaca jendela.
Dengan mulut yang banyak bicara, dia bilang dia rindu bersua.
Suaranya manis tapi gundah gulana.
Dia bilang tak ada yang dapat menyembuhkan rasa rindunya selain bertemu dengan penjaga hatinya.
Tapi itu baginya.
Kalau bagiku, sebaik baiknya penyembuh rindu adalah suara manisnya yang riang gembira,
Tatapan bola mata bulatnya yang penuh bahagia,
Dan senyuman dari mulutnya yang dapat mengalahkan bulan sabit paling cantik diangkasa.
Jangan ditanya. Aku meleleh dan sangat bahagia. Kata katanya menyihirku untuk memunculkan senyum paling mengembang.
"Terima kasih." Ucapnya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk senyumanmu yang mengalahkan bulan sabit diangkasa." Sial. Dia tahu aku sedang tersenyum dan bukannya melanjutkan obrolan, aku malah tersenyum terus menerus.
***
Okta mengajakku ke kafe yang kemarin. Untuk mengerjakan tugas. Tapi saat datang kerumahku, dia malah lupa membawa laptopnya. Jadi kami harus pergi kerumahnya terlebih dahulu.
Kami berhenti disebuah rumah berwarna abu abu. Dengan rerumputan hijau nan pendek dihalamannya. Saat aku masuk, ibunya Okta langsung menyambut kami berdua.
"Kamu kenapa kembali lagi? Ini siapa?:
"Mau ambil laptop. Oh iya. Bu, ini teman Okta. Namanya April." Ucap Okta dan dengan sigap aku langsung mencium tangannya.
"Oh ini yang suka kamu ceritakan. Yang foto foto liburannya sama kamu itu? Cantik ya anaknya."
"Hehe. Iya bu... eh tante...."
__ADS_1
"Tidak apa apa. Panggil saja ibu."
Okta lalu pergi mengambil laptopnya. Ibu menyuruhku duduk. Sebelum duduk, pandanganku terfokus pada pintu kaca yang menarik perhatianku. Pintu itu mengarah ketaman belakang, berada tepat lurus dihadapanku.
"Bu, itu yang dibelakang taman ya?" Tanyaku sambil berjalan perlahan.
"Iya. Itu taman Okta yang mau. Katanya dia mau suasana tenang dirumah ini. Mau kesana?"
"Boleh Bu?"
"Boleh. Ayo!"
Ibu mengantarku ketaman belakang itu. Saat pintu kacanya dibuka. Aku sangat kagum dengan apa yang ada disana. Taman itu didominasi oleh rerumputan yang hijau dengan bunga berwarna warni. Sebuah kolam ikan kecil dengan ikan yang bergerak gerak dan menimbulkan suara gemericik air. Ditengah tengah taman itu, ada sebuah ayunan berwarna putih dan juga beberapa kursi dan meja.
"Wah Bu. Ini bagus sekali." Aku sangat terkesima dengan pemandangan disini. Aku menghirup napas panjang. Udara segar masuk kedalam tubuhku.
"April...." teriak Okta. Saat tahu aku disini, dia langsung menghampiriku. "Ayo. Pergi sekarang." Ajaknya.
"Tidak mau. Mau disini saja!"
"Eh. Yasudah ayo!"
Dia mengajakku duduk disebuah kursi putih. Dan menyimpan laptopnya dimeja. Ibu mrninggalkan kami berdua disana.
"Okta!"
"Apa?!" Dia keheranan.
"Kita sudah berteman hampir dua tahun loh Okta."
"Iya. Aku tahu."
"Tapi kamu baru memberitahu rumahmu yang indah ini?!" Aku terus berbicara sambil membelakangi okta dan menatap sekeliling.
"Hmmm. Kukira kamu tidak akan mau kalau diajak kerumahku."
"Heem. Baiklah. Maaf. Nanti kita sering sering main keseini. Sekarang kerjakan dulu tugas akhirmu!"
***
Setelah mengerjakan tugas akhir ku itu. Eh sebenarnya belum selesai sih, tapi cape. Hehe. Kami duduk berdua diatas ayunan putih itu. Aku memakan cokelat yang ia berikan. Suara gemericik air yang diciptakan oleh kolam ikan membuat suasana lebih tenang.
Dengan ayunan yang bergerak dengan tempo yang tetap, dia terus menatapku dengan tatapan kosong. Entah apa artinya. Entah ia sedang memikirkan apa.
"Apa?!" Tanyaku.
"Bagaimana janu?"
"Janu? Dia baik baik saja. Dia masih tetap menghubungiku. Dia masih sama."
"Oh...." dia mengangguk.
"Kamu kenapa bertanya begitu?"
"Tidak apa apa. Hanya bertanya."
"Tentang perasaanmu. Aku belum bisa membalasnya. Dan mungkin aku tidak akan membalasnya."
"Iya. Tidak apa. Nanti saja."
"Nanti saja apanya?"
"Iya. Maksudku nanti saja kalau sudah mau, kamu boleh membalasnya."
"Hmmm. Eh cokelatnya habis. Aku mau lagi!"
__ADS_1
"Baiklah. Aku beli." Dia langsung beranjak.
"Tidak usah. Aku bercanda. Hehe." Aku menahannya sambil memegang lengannya.
"Kalau eskrim mau? Dikulkasku ada eskrim. Tapi rasa kopi. Hehe."
"Tidak usah."
"Mmmm. Kue? Kripik?"
"Tidak usah... kamu kenapa sih? Heran. Semuanya ditawarkan. Hahaha. Yang sekarang kubutuhkan cuma duduk. Oke."
Aku mencoba turun dari ayunan itu. Saat turun kakiku tergelincir. Hingga aku terjatuh. "Aduh..." aku berteriak.
"Eh. April. Kamu tidak apa apa?" Dia langsung memperhatikan tubuhku.
"Okta... tenang saja. Aku hanya jatuh kererumputan."
"Aku tidak bisa melihatmu terluka."
"Ini hanya jatuh saja. Mungkin hanya tergores."
"Justru itu. Aku harus memastikan agar kamu tidak tergores."
"Harus?"
"Iya harus katanya."
"Katanya? Kata siapa?"
"Kata ku barusan."
"Ah sudah. Ayo aku mau pulang!"
***
Dia membawaku berlalu pergi dari rumahnya menggunakan motornya. Baru beberapa saat ia pergi, ia memberhentikan motornya didepan sebuah minimarket, menyuruhku menunggu disana sedangkan ia masuk kedalam. Tak lama kemudian ia berjalan lagi keluar.
"Habis beli apa?"
"Ini. Ayo pulang!" Dia memberikan dua buah cokelat. Dan mengajakku pulang.
Astaga, dia menganggap serius ucapanku. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum karena sikapnya itu.
***
"Jangan pernah sedih ya. Jangan jatuh terus. Harus hati hati. Aku tidak suka melihatmu terluka." Ucapnya didepan rumahku.
"Iya... iya.... kamu juga harus hati hati. Kalau bawa motor jangan kayak orang kesurupan!!" Tegasku sambil memasang wajah cemberut.
"Iya. Maaf. Nanti biar pelan, motornya aku dorong dan kamu naik."
"Issssh ada ada saja. Sudah cepat pulang." Aku mengusap rambutnya cepat.
"Iya. Aku pulang sekaraaaaaang." Balasnya geregetan sambil mencubit pipiku pelan.
Pengawal setia dengan segala cara.
Hey. Dia itu siapa?
Kenapa aku bahagia saat dengannya?
Aku senang dengan caranya mengkhawatirkanku.
Aku senang dengan ketulusannya menyayangiku meski aku tidak bisa membalas perasaannya.
__ADS_1
Aku pun senang dengan caranya memperlakukanku.
Ah terima kasih tuhan. Engkau telah mengirimkan seorang pengawal setia yang benar benar menjaga dan mengawalku dengan segala cara.