
Aku \= Okta
Hai. Ini okta. Tahu aku kan? Itu lho yang jadi temannya April. Yang mengantar jemput dia setiap hari. Ah mungkin dia sudah banyak bercerita tentangku. Hahaha. Percaya diri sekali. Waktu awal awal, setiap aku hendak menjemputnya, dia selalu menolak dan memasang wajah yang sangat jutek. Tapi tetap saja ajakanku diterima. Karena meski menolak, aku akan menunggunya sampai dia mau. Eh tapi tenang saja, sekarang dia jadi baik padaku entah kenapa. Dulu aku yang memaksanya untuk makan, tapi sekarang dia yang mengajakku. Ya aku senang lah. Hahaha.
Dia suka makan ayam goreng. Suka eskrim juga, suka baca buku juga. Dan aku suka apapun yang dia suka. Hehe. Bukan cuma itu, aku juga suka...... Dia. Iya, aku suka padanya. Dulu aku pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi dia menolak. Dan sekarang saat aku sangat dekat dengannya, dia sudah mempunyai pasangan.
Yasudah, mau bagaimana lagi, tapi perasaanku tidak bisa hilang. Jadi aku akan tetap menunggunya sampai dia berpisah dengan pasangannya. Sampai dia menjadi miliku seutuhnya. Intinya, sebelum dia dan pasangannya menikah, pasti ada kemungkinan mereka berpisah. Sebelum dia dan pasangannya mengikrarkan janji suci, hatinya itu masih mungkin untuk dicuri. Jadi jangan takut kalau kamu menyukai seseorang yang sudah mempunyai pasangan. Selagi dia belum dipinang atau meminang, kita semua berhak berjuang. Hahaha.
***
Sebentar lagi dia ulang tahun. Aku tahu tanggal lahirnya dari orang orang dikampus yang dekat dengannya. Hmmm aku bingung harus membeli hadiah apa. Pasokan ayam goreng seumur hidup mungkin. Tapi akan kadaluarsa. Atau setumpuk buku. Atau eskrim strawberi satu ember penuh. Aku bingung harus memberinya hadiah apa. Ah sudah pikirkan nanti saja. Aku mau berangkat kekampus. Takut telat. Tapi aku mau menjemput April dulu.
Aku bergegas pergi menjalankan motorku menuju rumah April. Rumah yang akhir akhir ini lebih sering aku kunjungi. Rumah yang akhir akhir ini menjadi pemberhentian pertamaku. Aku berhenti disebuah rumah yang lumayan besar tapi hanya ditempati tiga orang. Kadang kadang hanya ditempati April saja. Mubazir sekali rumah ini.
Saat berhenti aku biasanya membunyikan klakson dua kali dan dia akan langsung menemuiku keluar. Aku juga heran kenapa aku hanya membunyikannya dua kali. Akhirnya Dia pun keluar dengan mengenakan kemeja, celana jeans dan tas hitam yang selalu ia pakai. Tanpa basa basi ia langsung duduk dibelakangku, itu sekarang. Kalau dulu ia selalu bolak balik terlebih dahulu untuk menolak ajakanku.
Setelah berjalan agak jauh dari rumahnya, aku mengajaknya makan. Tapi dia bilang tidak mau, mau dikantin saja. Hari ini ia terlihat lesu. Cemberut. Seperti orang yang bosan hidup. Hehe.
***
"Mau makan apa?" Tanyaku padanya.
"Bakso saja. Minumnya es teh manis."
Aku lalu pergi untuk memesankannya. Setelah memesan aku duduk kembali dihadapannya.
"Kenapa cemberut begitu? Banyak tugas?"
"Tidak."
"Terus kenapa?"
Dia tidak menjawabnya. Ia hanya memegang dagu dan melamun. Hingga makanan datang, ia tidak bergerak sedikitpun.
"Dimakan dulu. Kan sudah dipesan." Ucapku saat ia masih saja terdiam kaku.
"Begini ya. Janu bilang, dia tidak akan pulang libur tahun ini. Dia akan tetap tinggal disana. Padahal aku sudah sangat rindu padanya Okta. Rindu....." Penjelasannya itu mengagetkanku hingga aku tidak berkedip. Tapi aku juga senang kalau pacarnya tidak pulang. Jadi aku bisa bersamanya lebih lama.
"Ya tidak apa apa lah. Mungkin dia juga mau liburan disana." Aku mencoba menangkannya.
"Tapi dia pernah berjanji kalau kita akan liburan ke raja ampat jika dia pulang."
"Oh begitu. Yasudah, undur saja jadi tahun depan liburannya."
__ADS_1
"Ah kamu tidak paham. Aku maunya sekarang. Tahun depan itu masih lama. Entah aku harus rindu seberapa lama dan seberapa lelah lagi sampai dia pulang."
"Memang rindu itu melelahkan, ya?"
"Iya. Rindu itu cape. Aku tidak bisa bertemu dengannya, tidak bisa memeluknya, tidak bisa digendongnya, tidak bisa jalan jalan dengannya."
"Kan ada telepon, video call dan lain lain."
"Memangnya dengan meneleponnya aku bisa memeluknya? Aku bisa memintanya menggendongku?"
"Kan ada aku." Dia lalu terdiam. Ada hening diantara kami berdua. "Sudah. Baksonya makan dulu!"
"Tidak mau. Aku mau kekelas. Kasih orang lain saja!"
Astaga. Kadang sifat kekanak kanakannya menyebalkan. Tapi lucu juga. Dia itu kalau marah malah membuatku tersenyum. Aku mengejarnya sampai kekelasnya. Lalu duduk disebelahnya. Dia pura pura sibuk dengan HP nya meski aku tahu dia itu hanya melihat lihat foto atau menggeser geser menu saja.
"Marah kenapa?"
"Karena janu tidak pulang."
"Kalau aku bawa janu pulang kesini. Marahmu akan hilang?"
"Serius?"
"Ya tidak lah. Mana mungkin aku bisa membawa janu pulang." Setelah ucapanku itu dia memukul dan mencubitku sangat kencang. "Adududuh. Sakit." Aku meracau kesakitan.
"Hehe. Maaf."
"Tidak semudah itu Okta. Harus dengan cokelat!"
"Ini!!" Aku mengepalkan tangan dihadapannya. Saat dia membukanya aku memberinya kejutan.
"Tapi bohong!"
"Sudah ya.." dia terlihat kesal dan menggebrak meja. Aku berlari keluar sambil tertawa karena takut akan dihajar. Hahaha.
***
Sampai keluar dari kelas terakhir, April tetap saja cemeberut. Tidak terlihat senyum sedikitpun diwajahnya.
"Senyum dong."
"Hmmmm." Dia memberikan senyuman sekejap, lalu cemberut lagi. Setelah menaiki motor, aku tidak segera membawanya pulang kerumah. Aku membawanya pergi jauh.
__ADS_1
"Okta mau kemana? Kenapa tidak segera pulang?"
"Ikut saja." Jawabku singkat sambil terus menjalankan motorku.
Akhirnya kami berdua sampai disebuah hutan pinus. Dia senang sekaligus heran karena aku tiba tiba mengajaknya kesini. Sampai kami berdua masuk, dia tetap diam tanpa kata.
"Kenapa?"
"Kamu yang kenapa. Kenapa mengajakku kesini?"
"Biar tenang dan tidak marah marah. Nih!" Aku memberikan sebuah cokelat padanya tapi dia malah menatapku. "Katanya kalau aku memberi cokelat marahmu bisa hilang! Cepat ambil!" Setelah kalimatku barusan, dia mengambil cokelatnya dan memakannya.
"Kenapa kamu baru sekarang mengajakku kesini? Aku suka tempat ini."
"Hey tuan putri. Dari dulu siapa ya yang selalu menolakku jika diajak pergi?" Dia lalu tertawa.
"Hehe. Iya maaf. Oke. Sekarang kamu tolong ambil fotoku!" Dia memberikan HP nya padaku.
"Iya ayo! Satu, dua, tiga. Sudah."
"Lagi!"
"Satu, dua, tiga. Sudah."
"Lagi, lagi!"
"Satu, dua, tiga. Sudah."
Setelah puluhan kali satu dua tiga sudah. Akhirnya ia berhenti memintaku mengambil fotonya.
"Ah yang ini jelek. Yang ini juga!" Ucapnya sambil memilah dan memilih foto untuk dihapus.
"Ya tuhan, dari ribuan fotomu, hanya beberapa yang kau simpan?"
"Iya. Yang tadi semua jelek. Jadi aku hapus." Astaga. Dia tidak berpikir ya betapa melelahkannya mengambil fotonya ratusan kali. Dasar perempuan!
Perempuan cantik pembuat harap.
Baru pertama kali aku begitu menaruh harapan.
Menaruhnya pun pada seorang perempuan cantik yang sudah memiliki ikatan.
Ikatan yang ia ciptakan dengan orang yang paling ia sayang.
__ADS_1
Tapi tidak apa, aku siap menunggunya dari pagi hingga petang.
Hingga ia bersedia menjadikanku sebagai tempatnya pulang.