Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 3 #5


__ADS_3

Aku = April


Ya sendirian.... sekali kali mungkin harus kucoba untuk melakukan hal hal yang kusuka sendirian. Mungkin akan sama menyenangkannya. Atau justru akan lebih menyenangkan.


"Mas, saya mau ayam gorengnya ya satu saja!"


"Baik, mba..."


Aku berjalan ketempat duduk untuk menunggu pesananku. Jariku mengetuk ngetuk meja. Entah kenapa aku jadi merasa sangat gelisah. Tenang April, kamu bisa melewati semuanya. Pasti bisa. Aku menghela napas panjang.


"Ini mba pesanannya."


"Oh iya. Terima kasih mas."


Usai pesanan itu datang, aku segera manyantapnya. Lalu sebuah wajah muncul secara tiba tiba dihadapanku. Mataku hanya tertuju padanya. Ia sedang makan dengan lahap dan tersenyum padaku.


"Janu...." aku berbisik pelan. Aku tersadar dari lamunanku dan menggelengkan kepalaku keras. "April... kamu ini kenapa sih?!"


Agar aku bisa tenang, aku segera memesan eskrim dan pergi keluar. Berdiam diri disini malah terus membuatku mengingat kenangan yang sedang ingin aku lupakan.


"Mas eskrimnya dua. Strawberi satu, cokelat satu." Ucapku tanpa sadar. "Eh mas. Maaf. Satu aja, rasa strawberi!" Lanjutku membatalkan pesanan. Astaga... kenaoa eskrim cokelat malah muncul begitu saja dalam ingatanku?!


Yasudah lah. Jalan jalan sebentar mungkin bisa membuatku senang. Mmm mau apa ya? Mal! Itubdia. Aku mau ke mal saja. Aku berjalan menuju mal karena cukup dekat. Sambil berjalan, aku memainkan ponsel ku.


Bruk... aku menabrak seseorang.


"Aduh! Maaf ya..." aku menatap orang yang baru saja aku tabrak. "Okta....!"


"Mba... mba..." orang dihadapanku itu melambaikan tangannya tepat didepan wajahku.


"Eh. Mas. Maaf ya...."


"Iya. Tidak apa apa."


Ya tuhan... aku kenapa? Kenapa janu dan okta ada dimana mana? Kukira usai raganya menghilang, bayang bayang mereka juga akan hilang. Ternyata tidak. Sudahlah! Aku mau pulang saja. Berjalan jalan tidak membuatku melupakan mereka berdua!


Baru kali ini aku merasa sangat kesulitan melupakan seseorang yang membuatku terluka. Kalau dulu, hal ini sangat mudah. Beberapa hari atau satu minggu saja aku bisa langsung lupa. Kenapa sekarang tidak bisa?! Mungkin ini kutukan karena aku telah menyayangi dua orang yang juga menyayngiku. Ah tapi aku sudah menyuruh Okta untuk menjauh tapi dia tetap saja mendekat. Berarti ini salahnya...


***


"Terima kasih ya pak..." ucapku pada bapak ojek online yang baru saja mengantarku.

__ADS_1


Saat masuk aku melempar tas yang kubawa dan pergi kedapur. Kuambil sebuah mi instan di rak makanan dan mulai merebusnya. Stelah matang aku membumbuinya dan menambahkan cabai rawit merah.


"Hmmm. Wanginya enak."


Kubawa mangkok berisi mi instan itu keruang tengah. Kunyalakan TV dan mencari acara musik. Lagu yang terputar saat itu lagu Tanpa Tergesa dari Juicy Luicy. Aku mendengarkan lagu, memakan mi instan sambil ikut bernyanyi.


Sebuah panggilan masuk ke HP ku. Panggilan dari nomor tak dikenal. Aku angkat saja siapa tahu itu panggilan penting.


"Halo... ini siapa ya?" Aku menyapa sambil terus mengunyah. "Halo... mas, mba? Siapa ya. Saya tutup ya?"


"Tunggu...." pintanya. Ada rasa kaget yang tiba tiba muncul.


Uhuk... uhuk.... aku tersedak dan langsung mengambil minum.


"Ja.... Janu...?"


"Iya. Ini aku." Tanpa basa basi aku langsung menutup teleponnya.


Panggilan itu masuk lagi. Terus berulang tapi tetap tidak kujawab.


"Jawab April tolong... aku mau bicara...." sebuah pesan masuk.


"Baiklah jika kamu tidak mau bicara. Aku akan bicara disini saja. Aku mau minta maaf. Aku sudah salah paham. Kamu mau kan memulai semuanya dari awal?" Pesan pesan itu terus bermunculan tapi aku tak menghiraukannya.


Sakit sebelumnya masih kurasa


Beri waktu hingga aku mampu lupakan semua.


Lagu itu mengalun. Menjelaskan apa yang kurasakan tanpa harus kuucapkan. Aku butuh waktu Janu. Rasa sakit itu masih belum bisa kulupakan. Luka itu tak juga reda. Dan itu karenamu. Setelah rasa sakit itu, dengan mudah kamu meminta maaf dan berkata ingin mengulang semuanya dari awal? Semuanya sudah runtuh dan hancur berantakan Janu. Tidak perlu disusun kembali.


Kucoba untuk tidak menangis bagaimanapun caranya. Jangan cengeng, April. Jangan cengeng. Tanpanya aku bisa.


***


Saatnya siaran. Tapi pikiranku masih menuju panggilan tadi. Panggilan dari seseorang yang sedang ingin kulupakan. Apa aku harus memaafkan dan mengulang lagi cerita dengannya dari awal? Ah april. Ingat! Dia sudah membuatmu sakit seperti sekarang. Jangan melakukan hal hal yang cukup bodoh. Jangan mengulang kesalahan yang sama dua kali.


Aku berjalan menuju tempat siaran dengan bapak ojek yang cukup ramah. Dia mengajakku mengobrol.


"Mba kenapa? Dari tadi murung?"


"Tidak apa apa pak. Hmm." Jawabku dilanjutkan dengan senyuman.

__ADS_1


"Lagi berantem sama pacarnya ya?"


"Saya sendiri pak. Tidak punya pacar."


"Wah. Perempuan cantik seperti mba tidak punya pacar? Banyak yang mau pasti sama mba."


"Ah bapak bisa aja."


"Saya serius loh mba. Eh tapi sekarang susah ya mau nyari yang serius? Banyakan malah bikin sakit hati terus...."


"Iya pak. Benar." Ucapku setuju pada apa yang diucapkannya.


"Kira kira mba nya mau memaafkan orang yang udah menyakiti mba?"


"Kurang tahu. Saya sakit hati banget soalnya."


"Maafkan saja mba... jangan diingat ingat terus. Itu masa lalu..."


"Hehe." Aku hanya tersenyum meski terpaksa.


Aku pun sampai dan turun dari motor. Kuberikan helm pada si bapak ojek. Sambil mengucapkan terima kasih.


"Makasih ya pak.... saya sudah kasih bintang lima." Ucapku sambil berlalu pergi tapi lenganku malah dipegangnya erat.


"Mba. Tunggu sebentar."


"Kenapa pak?"


Si bapak itu membuka helm dan masker yang ia pakai. Lalu tersenyum manis padaku.


"Okta?! Hhhhhh." Aku segera pergi dari sana.


"April! Tunggu sebentar!" Ia berteriak tapi tidak kupedulikan. Saat aku baru masuk, ia sudah berada dihadapanku. "Tunggu...."


"Mau apa lagi?"


"Mau menjadi temanmu lagi."


"Menjadi temanku lagi? Lalu menghancurkan hubunganku lagi, begitu?" Tukasku sambil berjalan pergi. Dia tetap saja menahanku dan menariku hingga aku menghadap kearahnya.


"Tolong maafkan kesalahanku, ya? Aku menyesal. Sungguh, aku tidak ingin melihatmu bersedih terus. Tolong maafkan aku..."

__ADS_1


"Aku butuh waktu!!!" Aku langsung pergi dan tidak menghiraukannya.


Kenapa mereka berdua tidak menghilang saja dari semesta? Biar hidupku tenang. Tak ada gangguan dari mereka berdua. Aku ingin bahagia meski sendirian, Tuhan.... itu saja. Tolong kabulkan.


__ADS_2